
Orang-orang yang didominasi ibu-ibu itu masih berkumpul. Mereka ibu -ibu satu kampung yang mudah termakan hasuhatan. Wanita kalau uang belanja tidak lancar otaknya akan muda bergosip dan mudah dipropokasi
“Itu tidak bagus ini, bahaya si Uti kalau masih ada dikampung ini. Kalau dia berani merayu si Sebon suami kita juga pasti dia rayu,” ujar Bu Ida. Mulai mulut kompornya meyemburkan gosip.
Padahal malam itu si Uti dan Sebon tidur di rumah masing-masing dan memeluk bantal masing-masing pula. Tapi karena mulut Marni mereka jadi dituduh merusak kebun jahe Bu Ida. Lagian kalau mereka menjadikan di kebun jahe Bu Ida tempat selingkuh, masa satu ladang rusak ? Mereka berhubungan badan atau main guling-gulingan. Iya begitulah gosip, hanya tercipta untuk kebalikan faka.
Janda gatal, wanita bahenol sudah jadi hal yang menakutkan untuk para ibu-ibu di desa tempat Roy tinggal. Setiap kali ada wanita yang menjanda di kampungnya mereka langsung memberi lebel. Wanita perayu suami orang, walau sebenarnya tidak semua wanita yang tak bersuami genit, hanya mungkin sebagian orang saja.
“Lalu Bagaimana dong Kak?” tanya Mitha Ibu muda yang baru menikah. Jika ada janda muda dan anak gadis cantik ia langsung takut dan curiga sama suaminya.
“Mit, kamu harus jaga suamimu, jangan sampai dia bertemu Uti nanti minta dihangatkan dia,” ujar Bu Ida mulai memanas-manassi.
“Kenapa harus minta Bang Beny kan, ada kompor di situ,tinggal panaskan.” ujar Marni.
“Kompor kurang hangat Marni.”
“Kalau kurang hangat tambahin lagi dengan selimut tebal,” ujar Marni. Wanita polos yang mengakui dirinya gadis tercantik sejagat raya . Walau aslinya memang cantik bila dilihat dari lubang sedotan. Wanita ini selalu saja lari kilometernya bila diajak bicara. Makanya ibu-ibu menyebut Marni Telmi atau telat mikir.
Mendengar itu para ibu-ibu hanya bisa tertawa. Saat ibu-Ibu bergodi, Mitha ternyata ia benar pulang ke rumah, lalu mengeluarkan motor bebeknya ia menemui suaminya ke pasar. Beny suami Mitha jualan sayur-sayuran di pasar. Cemburu terkadang membuat seseoramg lupa diri dan tidak punya rasa malu. Mitha berniat akan mengawal suaminya dari juala pagi sampai tutup, agar Beny tidak kecantol sama janda pirang yang rumahnya tepat di sebelah lapak sang suami
Mitha kakak perempuan Roy.
Mendengar Uti suka menggoda suami orang. Mitha langsung panas, ia memacu motor bebeknya ke pasar ke tempat suaminya jualan sayur.
Mitha berniat akan mengawal suaminya dari jualan pagi sampai tutup agar Beny tidak kecantol sama janda pirang yang rumahnya tepat di sebelah lapak sang suami, terlalu curiga dan cemburu sama pasangan akan menyusahkan diri sendiri.
“Ngapain kau ke sini Dek? Kenapa tidak di rumah saja.”
“Eee. Gak senang abang aku ke sini? Biar bebas abang lihat lihat cewek cantik di pasar ini?” mulai nyerocos.
__ADS_1
“Abang kan cuman nanya.”
“Kalau istrimu datang ke sini, tidak usah tanya untuk apa datang. Abang cukup kasih senyum saja untukku,” ucap Mitha lalu duduk di dalam lapak jualan sang suami.
“Kamu kenapa?” tanya Beny bigung melihat sikap istrinya, masih pagi tapi mukannya sudah seperti keset kaki sebulan tidak dicuci.
“Apa benarAbang juga suka sama Si Uti itu?”
“Si Uti siapa?”
“Ah, gak usah abang berlagak tidak tau. Namboru Ida bilang semua laki-laki di kampung kita tertarik dengannya, mau yang muda maupun yang tua, berarti abang masuklah di dalamnya ya kan?”
‘Ah mulai lagi dah … capek menghadapinya kalau sudah seperti ini mendingan aku diam saja’ Beny menghiraukan Mitha yang mengoceh seperti burung beo.
Lelalaki itu serba salah, diam salah menjawabpun salah.
“Abang diam berarti benar kata si Marni.”
“Kamu dari rumah si Uti malam minggu.”
“Aku paling malas kalau dicurigai seperti ini, mau cari uangpun jadi gak semangat lagi aku. Ayo tutup saja kaupun yang kupeluk-peluk satu harian ini biar puas kau. Makanya jangan banyak bergosip kamu sama ibu-ibu itu. Hancur rumah tangga kalau kau seperti itu.” Beny kesal karena istrinya selalu dengar kata ibu-ibu di kampunyanya, ia menutup lapak sayur miliknya gara-gara istrinya selalu curiga padanya.
Gara-gara kabar mulut ke mulut masalah Osbon dan Uti menjadi ramai, banyak ibu ibu di kampung tersebut untuk sepakat mengusir Uti dari kampung. Mendengar ada berita baru di kampungnya Roy dan Gembul dengan cepat datang ke lokasi untuk merekam kejadian yang lagi heboh itu. Padahal awal petaka karena mereka berdua, membuat konten dan merusak jahe Bu Ida hinga terjadi gosip.
“Kita mau ngapain ke sini Bang Roy,” tanya Gembul sembari mengunyah kerupuk jange di tangannya.
“Ini perselingkuhan akan jadi berita besar, bisa viral nanti. Jangan lupa rekam ya.” Roy menyodorkan cameranya ke Gemmbul.
Tetapi gosip hanyalah gosip belum ada yang pernah melihat mereka bersama kecuali Marni. Gadis yang otaknya sedikit bergeser, setelah berkumpul banyak orang untuk mempertanyakan gosip yang beredar, Marni jutru tidak kelihatan batang hidungnya.
__ADS_1
“Memangnya siapa sih yang melihat Kak?” tanya Roy mulai mewancai Mitha sang Kakak.
“Marni.”
“Oooh dia …,” seketika raut wajah orang-orang langsung berubah. Kalau nara sumbernya Marni sudah pasti mumet urusannya, Roy memilih pulang ke rumah.
“ Tolong panggil Marni ke sini Lae,” ucap Beny.
Saat ingin ditanya gosip antara Beny dan Uti, Marni mendadak menghilang entah kemana, semua orang akhirnya bubar. Padahal pada dasanya Marni tidak menyebut Beny sama Uti. Wanita itu hanya menyebut Uti sama Osbon, ya begitulah gosip si A bilang ini sampai ke si B sudah beda lagi, ujung-ujungnya ribut.
Roy mengedit vidio hasil rekaman malam itu. Ia menambah efek seram dan menambah suara-suara menyeramkan ke dalam vidionya, setiap kali mengedit vidio Roy butuh suasan tenang dan hening, jadi ia masuk ke kamarnya dan mengunci dari dalam. Saat sedang fokus tiba-tiba suara keras Bu Lince membuyarkan konsentrasinya.
“Ngapainya kau di dalam! Ayo kita ke ladang panen cabe,” ujar Bu Lince mengedor pintu putra bungsunya.
“Ribut kalipun Mamak Ini. Pergilah sendiri, malas aku,” sahut Roy dari dalam kamar sembari bersungut-sungut.
“Jangan kau minta uang rokok sama Mama nanti,” ancam Bu Lince.
“Iya.”
“Gak aku tinggalin nasi samamu, kubawa semua ke ladang,” ujar wanita tua itu sembari berjalan ke arah ladang, tidak lupa ia membawa anjing kesayangannya menemaninya ke ladang. Hewan berbulu yang diberi Bulbul itu selalu setia menemaninya setiap saat. Baik dikala senang maupun susah. Baik dikalah banyak uang maupun disaat tidak punya uang, pokoknya setia bangat dah. Wanita berambut beruban itu pergi sendiri menuju ladanngnya. Saat sedang dikamar perut Roy ternyata keroncongan, ia menuju dapur. Benar saja semua makanan yang dimasak Mamanya diangkut ke ladang tujuannya agar Roy ikut bersamanya.
“Astaga, lapar aku.” Saat tidak ada makanan di rumah, hal pertama yang ia ingat rumah Marni.
Setiap kali ia butuh bantuan ia akan ke rumah gadis polos itu, tetapi hanya saat ia butuh saja. Tetapi urusan hati tidak ada. Ia bergegas menuju rumah Marni hanya berjarak dua ratus meter dari rumah Roy.
“Marni! Ito Marni,” panggil Roy mulai mode merayu.
“Tidak ada Marni ada apa rupanya? “ Tiba-tiba bapak Marni keluar dari rumah , lelaki bertelanjang dada itu keluar dari rumah sembari memutar-mutar kumis melintang miliknya.
__ADS_1
Bersambung
Like, komen dan berikan komentar jika kalian suka dengan karya komedi ini ya Kakak