
Suasana di kampung Roy lebih hening dari biasanya, mungkin karena hari itu tanggal tua . Orang lebih memilih tidur di rumah dari pada pergi ke kedai tuak. Biasanya kalau tanggal tua kedai Bu Ida di larang ngutang. Mengutang diperbolehkan kalau sudah lunas hutang pertama. Mungkin juga penyebab suasana sepi di kampung itu karena tadi sore habis di guyur hujan dan mereka lebih suka kelenonan.
Tapi entahlah.
Gembul yang sakit perut masih berjongkok di belakang rumah mengeluarkan ampas di dari dalam perutnya. Penyeba ia sakit perut tak lain karena rakus kebanyakan makan jengkol tadi siang . Si Gembul ini tidak bisa melihat yang berbau gratis, saat Bu Rosa ibu kepala desa menyajikan semur jengkol untuk orang yang kerja bakti. Gembul langsung pegang cankul biar dianggap ikut kerja bakti. Baru cangkul lima kali ia sudah istirahat dan makan semur jengkol habis pula satu piring. Sakit perutlah dia.
Saat sedang jongkok di belakang rumah, segala bulu dalam tubuhnya ikut berdiri karena takut.
“Ih!” Gembul bergelidig, ia mendekat kearah Roy sembari buang ampas di dekat Roy . Ia tidak memperdulikan orama jengkol yang menyeruak sampai ke planet mars.
“Bang gelap ni … Mana daun buat cebok!”
“Gunakan apa sajalah cepat!”
“Bodoh amatlah.” Gembul yang sudah ketakutan mengarahkan bagian belakangnya di pohon kurus panjang di samping pohon mangga, ia menggunakan batang itu untuk cebok atau disebut juga mangasilat. Tetapi saat ia cebok menggunakan pohon kurus tersebut, tiba-tiba batang pohon tinggi itu bergerak dan melangkah maju.
“Amang oi amang! Ah … begu ganjangnya kau rupanya!” Gembul terjatuh ke belakang dengan posisi dududk terlentang dan telapak tangannya mendarat tepat di kotorannya sendiri, ia mundur dan berlari. Bahkan celananya belum sempat ia naikkan ke atas. “Be-begu ga-ganjang!” teriaknya sembari lari.
“Ah, tidak ada begu ganjang,” seru Roy.
“Kau tengok saja ke belakang!” teriak Gembul.
Roy menoleh ke belakang sepasang sosok tinggi kurus, setinggi pohon kelapa berdiri di belakang mereka. Sosok menyeramkan itu mengarahkan tangannya ingin mencekik Roy. Konon katanya kalau bertemu begu ganjang tidak boleh menatap matanya. Ia akan mempengaruhi pikiran lalu mencekiknya sampai mati.
“Ayo lari!” si gendut gembul menyeret tangan Roy membawanya berlari .
Namun sosok tinggi kurus itu mengejar mereka, dengan langkah panjang tubuhnya yang tinggi bahkan melewati pohon di sekitarnyanya. Kedua sahabat itu berlari menerjang gelapnya malam. Tapi gembul yang tubuhnya agak berisi tidak bisa berlari.
“Naikkan celanamu, Bodat!” teriak Roy berlari dengan posisi celana masi di mata kaki dan lonceng Gembul berayun ke kanan kekiri mengikuti gerakan tubuh gendut itu.
__ADS_1
“Lari Bang Roy!”
“Ngapain lari,” sahut Roy, tapi saat ia mengarahkan hidungnya ke tangan ternyata bau kotoran gembul menempel di telapak tangannya, ia mual sembari mengumpat marah. “Gembul kurang ajar! Tanganku bau taaik!”
“Maaf Bang tadi aku terjatuh ke kotoranku!” ucapnya sambil berlari setelah mengangkat celananya, saat ia menoleh ke belakang ternyata Roy menantang si begu ganjang untuk duel.
“Apa? Kau mau mencekik aku. Ini makan ini taik si gembul. Ia mengoleskan tangannya pada jari-jari panjang menyeramkan itu. Wajah begu ganjang itu langsung kaget saat Roy memngoleskan tangannya dengan selai jengkol beraroma taik. Mahluk menyeramkan itu berhenti dan mengenduskan hidungnya ke tangan.
“Ueeek.” mahluk itupun mual, ia menatap jari-jarinya dengan jijik .
“Makan itu kotoran si gembul. Ini aku oleskan lagi ke kakimu yang kurus ini.” Roy bukannya takut ia mengarahkan tangannya ke kaki begu ganjang dan mengoleskan kotoran Gembul ke dua kakinya. Seketika begu ganjang kehilangan harga diri sebagi hantu. Ia mengeluarkan suara aneh seperti tangisan, lalu berjalan ke arah pohon sembari menangis dan menghilang.
“Woi begu ganjang sekali lagi kita bertemu aku akan kasih kau kotoran si Gembul satu ember. Maka jangan coba-coba muncul di depanku lagi! “ teriak Roy.
Gembul yang melihat itu langsung terplonggo. Roy memang di kenal tengil dan tidak pernah takut sama apapun. Justru setan yang takut sama dia.
“Ngapain takut, harusnya setan yang harus takut pada kita karena derajat kita lebih tinggi dari mereka,” ujar Roy.
*
Malam itu
Mitha sang kakak mengeluh kalau pohon besar di belakang rumahnya kerap melihat kuntilanak duduk di sana dan tertawa terkekeh. Roy yang mendengar itu langsung memanjat ke atas pohon besar, malam itu malam jumat kliwon konon katanya setan kerap keluar di malam jumat.
“Roy kamu mau ngapain?” tanya Mitha dan suaminya .
“Bang Roy mau kenalan katanya sama kuntilanak yang di sana itu Kak,” ujar gembul .
“Kenalan sama orang kenapa sama setan,” protes Mitha sang kakak.
__ADS_1
“Aku mau ajak dia menikah. Ajak manusia menikah mahal harga sinamotnya, ajak setan sajalah. Roy duduk di dahan di tempat si kuntilanak biasa duduk.”
Kuntilanak yang biasa nongkrong di sana tidak mau kehilangan rumah dan tidak mau rumahnya didatangi manusia. Alhasil ia meminta bantuan teman sebangsanya Jin, gendrouo, tuyul. Tapi yang terjadi Roy malah mengajak mereka curhat.
“Pusing aku sebenar Om Jin jadi manusia, pengen kayak kalianlah biar gak di hina,” ujar Roy.
“Nasip kami juga tidak enak Bang,” balas gendreruwo yang badannya besar berbulu lebar mirip kera dan tidak pernah keramas dan tidak pernah sisiran alhasil rambutnya kayak sarang tawon.
“Kami para hantu juga kesepian Bang, makanye sering gangguin manusia,” sahut Jin.
“Aku apalagi aku, sering tidak pakai baju dan kepalaku botak dan sering masuk angin,” ujar Jin wajahnya yang ngeselin makin ngeselin saat ia curhat.
Gendrerowu juga curhat sambil nangis-nangis bagaimana nasipnya selama jadi gendreruwo . Tuyu menambahkan curhatnya bagaimana manusia memperbudaknya untuk mencuri uang. Jin juga cerita kenapa ia bisa berubah jadi Jin. Bukannya mengusir Roy ,mereka malah saling curhat ngerok dan ngopi bersama.
“Makanya aku mau nikah sama tente kunti sajalah, biar bisa bebas seperti kalian,” ujar Roy.
“Bangke ni anak ajak gue menikah,” ujar Kuntilanak langsung meinggat
Mendengar dirinya mau diajak nikah seketika kuntilanak itu mengungsi dan tidak mau muncul lagi di sana.
Menikah satu kali saja sudah membuat dirinya mati dan bolong di punggung belakang . Apalagi menikah dua kali, bisa-bisa tubuhnya bolong depan belakang. Alhasil ia mengunsi dari sana mengangkat barang-barangnya dari pohon besar itu, ada kulkas, televisi, kasur kwkw canda.
Buk
Roy terbangun dari mimpinya setelah terjatuh dari dahan pohon besar itu. Rupanya ia tertidur di sana semalaman.
Bersambung
Bantu like, komen ya kakak karya baruku terimakasih
__ADS_1