Gara-gara Konten Begu Ganjang

Gara-gara Konten Begu Ganjang
Pura-pura Mati


__ADS_3

Mendengar teriakan Gembul   Pak Rudi dan istrinya ikut bangun membawa senter ke samping rumah menemukan Roy dan Gembul.


“Apa ada?”


Gembul langsung berdiri. “Tulang ada begu ganjang di belakang itu,” ucap gembul dengan napas tereengah-engah. “Roy mati.”


Pak Rudi dan gembul mengotong tubuh Roy ke rumahnya , dengan cepat gembul menutup tubuh Roy dengan kain  sebagai petanda lelaki itu sudah mati. Beruntung Mama Roy yang sudah tua lagi pergi ke rumah anaknya yang di kota, kalau  melihat Roy mati bisa-bisa dia sport jantung dan mati benaran. Saat tubuh Roy ditutupi kain rupanya ia tertidur pulas. Padahal kalau ia sudah tidur tidak akan ada orang yang bisa membangunkannya.


Mendengar Roy meninggal seluruh desa datang berbondong-bondong. Roy dan Gembul sudah dikenal semua warga desa, baik desa tetangga. Sementara Uti dan Gembul terus merekam. Sebon mengamankan boneka kayu yang dibuat Dias.


“Aduh Roy, jantung hatiku. Kenapa kamu cepat mati,” ujar Marni, wanita perawan tua itu memang cinta mati sama si Roy sayangsi Roy tidak pernah menanggapi cintanya, karena Roy selalu mengatakan kalau otak Marni lari satu amper menyebabkan cara berpikir wanita itu jadi eror.


Orang-orang pada datang melayat.


“Roy  benaran meninggal atau bagaimana?” tanya Kepala Desa.


“Benar Tulang, tadi pagi dia melihat begu ganjang di jalan. Lihatlah ini .” Gembul memperlihatkan setan tinggi buatan Dias anak kepala desa.


Kepala Desa itu menyengitkan Alisnya dan pulang, dia menemui putranya yang bernama Dias.


“Apa kau yang menakut-nakuti si Roy ?”


“Maafkan kami Pak hanya bercanda.”


“Gara-gara kalian dia mati.”


Dias dan  kedua temannya datang melayat.


“Roy, maaf kami gara-gara kami kau jadi mati,” ujar Dias menyesal.


“Kami minta maaf,” ujar seorang lagi.


Tiba-tiba kain itu bergerak dan terbuka,” Tidak apa-apa aku maafkan”


“HAAA!”

__ADS_1


Dias dan ketiga temannya terjungkal ke belakang saking paniknya.


“ROY!!! INI KONTEN LAGI?”


Semua orang yang datang melayat  berreaksi, mereka mengejar Roy membawa sapu, golok, kampak, sendok pengorengan dan peralatan lainnya mereka mengejar Roy.


“Kurang ajar Kau, orang tua kau permainkan. Mati benaran kau nanti,” teriak seorang bapak yang sempat sedih karena kepergian Roy.


“Anak ini, kapan dewasanya. Kami sudah jauh-jauh datang, ternyata bohongan,” ujar paman Roy.


“Roy, nanti kalau kamu dapat masalah, tidak ada orang yang mengangap kamu serius, karena hidupmu penuh sandiwara,” ujar Bu Ida, wanita yang pohon jahenya hancur keinjak-injak Roy hanya karena konten. Untungnya ia belum tahu kalau pelaku perusakan itu  Roy.


Orang-orang bukannya marah, mereka malah tertawa terbahak-bahak  dengan akting Roy dan gembul yang bisa  berhasil sampai bisa mengumpulkan banyak orang yang melayat


                         *


Setelah beberapa hari menghilang Roy dan gembul bersembunyi di rumah Sebon. Di sana mereka mengedit video tersebut dan dipublikasikan di canel youtubenya.


Judul konten baru yang dirilis  Roy ternyata   sukses, ditonton sampai jutaan kali. Apa lagi saat melihat Dias dan teman-temannya yang terkejut saat melihat Roy hidup.


Jadi warga tidak membenci keduanya hanya saja tidak suka dengan ide-ied konten yang selalu Roy lakukan. Melihat keduanya mengingatkan saya dengan Sopo dan Jarwo kartun anak-anak .


Setelah beberapa hari  melakukan ide pura-pura mati itu, kini keduanya muncul kembali ke permukaan. Orang -orang hanya bisa menggeleng melihat ulah keduanya.


“Roy!” panggil kepala desa tetangga rumahnya.


“Iya Tulang.”


“Begini Roy, besok akan ada bidan baru dan mahasiswa dari Medan mau KKN di kampung kita. Saya minta tolong aula desa dibersihkan ya,” ujar Kepala Desa.


“Baik Tulang.”


“Ini buat beli makan kalian berdua.” Lelaki berkumis itu menyodorkan uang pecahan lima puluh ribuan pada Roy. Hanya melihat uang warnai biru saja keduanya sudah semangat.


Dari dalam rumah tampak Dias dan kedua kawannya menatap Roy dengan tatapan dendam.

__ADS_1


“Kau yakin kita anak baik-baik saja Bang,” ujar Gembul, ia menyadari tatapan tajam anak kepala desa.


“Tidak apa-apa, ayo kita selesaikan dan pergi dari sini.” Roy memang senang membantu orang.


Lalu keduanya masuk ke dalam aula desa membersihkan gedung tersebut sesuai pesan kepala desa. Saat sedang bekerja Dias datang dengan kedua rekannya. Semi dan Toga bahkan memegang kayu. Gembul sudah ketakutan pengen berak celana saking takutnya.


“Puas kau Ya, ngejai aku,” tuduh Dias menendang air berisi air, alhasil air itu tumpah membanjiri lantai.


“Kamu yang duluan, kan,” sahut Roy dengan tenang.


“Masih berani menjawab kau rupanya, dasar pegangguran! Sekolah kau sikit biar ada otak kau, biar hanya bikin konten pembodohan yang bisa kau bikin,” ujar Dias.


“Tidak apa-apa  yang penting banyak yang nonton dan bisa memghibur orang. Dari pada  bikin video banyak-banyak tapi gak ada yang nonton , kan, capek.”


Merasa tersindir emosi pria pun tersulut, “Nanti kalau kamu  makan di rumah ini akan aku kasih racun tikus biar mati kering kamu,” ancam Dias.


, ia ingin memukul Roy dengan balok kayu. Tidak ingin sahabatnya terluka sang aktor jago akting  itupun kembali berakting.


“Aduh! Tolong Aduh! Sakit!” teriak Gembul.


“Lo, kenapa Gila,” hardik Dias melihat Gembul


Kepala desa dan istrinya  yang sedang di belakang  rumah berlari. Melihat Dias, Toga, Semi memegang  batang kayu. Sementara Gembul yang jago akting memegang perut berganti jadi memegang kepala, lalu badan seolah-olah ia habis digebuki pakai kayu.


“Dias! Apa yang kamu lakukan! Kayak pereman kulihat kau, ya.” panggil Pak Binsar.


“Tidak Pak, aku hanya mengajari si Dodong ini untuk kerja.”


Dias anak  seumuran dengan Roy, lelaki itu sangat membenci Roy dari dulu sampai sekarang, karena kedua orang tuanya selalu membela Roy di depannya. Walau lelaki bertato itu sarjana tetapi tidak lantas membuatnya  mendapat pekerjaan yang menetap. Ia masih suka berganti-ganti pekerjaan.


“Kalau kamu ingin mengajari, ayo bantuin! Kamu bagian ngepel,” suruh Pak  Binsar.


Gembul tidak menyia-nyiakan kesempatan , saat Pak Binsar meminta ketiga orang itu membantu dengan sigap ia menyodorkan kain pel  ke tangan Dias  lalu  kain lap dan sapu lidi ke tangan kedua rekan Dias. Ketiga orang itu menatap gembul dengan attapan tajam tapi tidak berani membantah sebab ada Pak Kepala Desa.


Bersambunng

__ADS_1


Bantu like, komen dan berikan hadiah terimakasih


__ADS_2