
‘Astaga kaget aku’ Roy terkejut dan mundur beberapa langkah.
Bergetar pulah dengkul si Roy saat lelaki berkumis itu keluar dan menatapnya dengan tajam, ingin kabur takut dibilang pengecut. Ingin berhadapan langsung takut Roy kencing celana saking takut
“Adanya yang aku bilang tadi Tulang, kalau tidak ada , pulanglah aku.” Roy memilih berbalik badan.
“Bang Roy!” Marni baru pulang dari pasar ia menenteng kantong belanjaan.
“Ada apa Bang?” tanya Marni dengan wajah merona.
Melihat Bapak Marni yang masih berdiri di depan pintu, Roy hanya bisa menelan ludah dengan gugup, niat ingin meminta makan urung ia lakukan. Ia takut dijadikan saksak tinju sama bapak Marni.
“Kagak jadi Deh, kayaknya kamu lagi sibuk,” ucap Roy dengan ragu, perut yang keroncongan tidak tertahankan lagi, sepertinya cancing dalam perutnya sudah pada demo. Mungkin mereka dalam perut Roy bawa golok, bawa kampak, soalnya perut Roy terasa perih dari dalam.
“Apa Bang, katakan saja,” ujar gadis yang mengenakan rok bunga bermotip bunga-bunga tersebut, sambil mengulum senyum malu-malu. Ia paling senang melihat Roy mendatangi rumahnya apa lagi dimintai tolong. Kalau Roy yang minta apapun ia jabanin, dah…
Melihat Marni mengobrol dengan Roy pemuda pengangguran di kampunya. Bapak Marni mendekat, ia pura-pura mau memotong rumput. Tadinya hanya pegang cangkul sekarang ia memegang golok besar, sembari berkeliling-keliling di dekat Roy. Roy menelan ludah dengan susah payah saat Bapak marni sedang mengecek ketajamana golok yang dipegang sembari melirik Roy dan menguping pembicaraan anak gadisnya.
‘Astaga, lebih baik aku mati kelaparan dari pada dijadikan daging cincang sama Tulang ini’ Roy membatin.
“Apa Bang?” tanya Marni.
“Tadinya aku ingin mengajak kamu bikin konten sama Gembul,” ucap Roy dengan asal.
“Benarkah? Aku masuk ke Youtubemu.” Marni melompat kegirangan.
‘Mati aku, aku mau minta makanan, bukan mau ngajak Marni kolab’
Tidak ada niat sama sekali niat ingin mengajak Marni, hanya karena ia takut melihat golok ditangan lelaki berkumis itu, akhirnya ia berbohong.
*
Seiring berkembangnya jaman, semua sangat berbeda, saat ini sulit membedakan yang mana realita dan konten. Sebab banyak orang memanfaatkan sebuah kejadian nyata menjadi sebuah konten. Hal itu juga yang terjadi pada Roy apa-apa dijadikan konten, hingga orang tidak percaya lagi dengannya.
“Bul, aku pulang dulu, dada rasanya sakit ini,” ujar Roy bergegas memakai sendal jepit yang sudah kehilangan pesonanya sebagai sendal. Sebab sebab sebelah sandal jepit itu disandingkan yang bukan pasangannya, satu sendal berwarna hijau pudar dan satu warna kuning telur yang warnanya sudah pudar juga.
“Iya, nanti aku datang.” sahut gembul dari dalam rumah sembari menarik selimut untuk membungkus tubuhnya agar lebih hangat.
Pulang dari rumah Gembul, ia berjalan sembari ngevlog, ia mengoceh sepanjang jalan menceritakan kegiatannya hari itu walau tidak ada yang menarik dalam kegiatannya, tetapi ia tetap setia menceritakan semuanya. Namun, tanpa terduga ia merasa ulu hatinya sakit. Awalnya ia jingkrak-jingkrak melawan rasa sakit yang ia rasakan. Tiba-tiba tubuhnya jatuh dan kejang-kejang di tanah, orang melihat ia pikir Roy sedang melakukan tarian ala-ala tiduran di tanah. Walau ia hampir mati tidak ada yang menghiraukannya.
__ADS_1
“Astaga, konten apa lagi yang dibuat dia hari ini?” ucap seorang bapak yang duduk di kedai kopi, padahak Roy saat itu sudah hampir diambang ajal.
“Konten, tidur-tiduran di tanah,” sahut bapak yang satu lagi.
“Kenapa dia tidak cari pekerjaan yang lebih masuk akal,” sahut yang lainnya.
Orang-orang sekitar mengabaikan Roi yang terkapar ditanah, sebab mereka mengira ia hanya membuat konten tiduran di tanah sembari menatap langit, sepuluh menit, lima belas menit. Gembul datang ingin belanja ke warung.
“Bang, konsep apa itu?” tanya pria gemuk itu mendekati tubuh sang sahabat.
Awalnya ia juga mengira Roi lagi bikin cerita yang lebih menarik, tetapi setelah ia panggil beberapa kali tidak ada sahutan ia mendekat dan menepuk wajah Roi. Setelah melihat bibirnya yang membiru ia baru sadar kalau itu bukan konten.
“Bang,
“Tolong! Tolongin! Bang Roi pingsan,” teriak Gembul dengan panik.
“Kau bikin sandiwara apa lagi sekarang,” ujar yang punya kedai.
“Ini benaran Bu, Bang Roi pingsan,” ujar Gembul.
Barulah orag-orang yang dikedai menolong Roi, begitulah akibatnya jika semua hal di jadikan main-main, sampai ia sakit nyaris mati dipikir orang hanya setingan.
“Makanya jangan semua hal dijadikan konten dan main-main!” bentak seorang Ibu.
Rupanya keberhasilan Roy membuat Deas jadi Iri, ia pulang ke kampung mengajak dua rekannya dan berniat mengejai Roy.
“Gue sangat yakin, kalau begu ganjang itu tidak ada,” ujar Deas.
“Bagaimana kalau kita kerjai si Roy,” usul Toga.
Rasa iri dengki akan melahirkan niat jahat, melihat konten Roy berhasil Deas teman masa kecilnya jadi iri.
*
Roy dan gembul baru tiba di rumah, setelah beberapa jam bekerja keras membuat konten.
Auaang …!
Auaaang …!
__ADS_1
Auaaaang …
Suara longgonan panjang anjing menggema, Gembul menarik selimut menutup tubuh gemuknya sampai kepala, angin malam yang masuk dari celah dinding papan, serasa menusuk ke tulang-tulang.
Ia semakin tersiksa saat pangilan alam menganggu, ia ingin buang air besar. Tubuhnya semakin meringkuk menahan guncangan dalam perut.
Tuuut …
Gas dalam perut melenggang bebas tidak bisa hentikan.
“Gila … bau kampret.” Roy menendang bokong Gembul.
“Gara-gara makan Jengkol tadi… temanin aku berak, Bang.”
“Makanya jangan kebanyakan makan jengkol, bodat,”rutuk Roy kesal.
“Maaf, besok gak lagi.”
Dikampung gembul belum ada kamar mandi saat itu, jadi untuk buang ampas dari perut harus berdamai dengan alam, mereka akan membuang kotoran di balik pohon mangga besar di belakang rumah.
Roy menggunakan senter ponsel ditangannya untuk membantu Gembul memberi pupuk kompas ke pohon mangga.
“Tidak ada air untuk cebok di situ Bang?” tanya Gembul sembari memegang perut.
“Tidak ada, gunakan daun mangga saja cepat!”
Tidak mau berdebat panjang lebar lagi Gembul berjalan ke belakang rumah panggung tepatnya di bawah pohon, tanpa babibu lagi ia menurunkan celanannya ke bawah dan dia jongkok mengeluarkan semuanya dibalik pohon mangga.
“Jangan jauh Bang, Aku takut.”
“Gila si dodol ini, masa aku haru mencium aroha jengkol dari perutmu,” balas Roy ia berdiri agak jauh dari pohon manga, melihat kanan kiri hanya ada beberapa rumah saja, lampu penerangan di luar rumah juga kurang sudah seperti kampung mati, apa lagi sejak sore kampung tersebut baru diguyur hujan.
“Hotop kaluarhon temi bodat, nungga mabiar au.”
(Cepat keluarkan berakmu itu monyet, sudah ketakutan aku) ujar Roy.
“Sabarlah Bang, sebentar lagipun masih mulas perutku,” ujar Gembul dengan suara tercekak karena ia mengedan kuat.
“Auuuang …!
__ADS_1
Bersambung
Berikan like, komentar ya