
“Gawat, Aku akan terlambat.” Seorang wanita berlari buru buru dengan pakaian dosen.
Dia adalah Cana, guru wanita baru yang terlihat sempurna dengan tubuhnya yang selalu terpandang lelaki. Memiliki kulit putih yang manis, hal itu tidak lah masalah dengan warna rambutnya yang berwarna biru gelap dan panjang.
Meskipun begitu dia memiliki sikap yang tidak mudah percaya pada orang lain. Tinggal bersama ibunya yang menderita penyakit tua seperti selalu lupa bahkan rumah Cana harus di kunci agar neneknya tidak berkeliaran di luar.
Cana berlari hingga tak sengaja menabrak Lelaki bertubuh besar. “Ahk...” Ia menabrak dan akan jatuh. Untungnya Lelaki tadi menahan punggungnya agar tidak jadi jatuh.
“Kau baik baik saja?.” Dia menatap.
Cana membuka mata dan melihatnya, tatapna Lelaki itu membuat nya terpesona dengan wajah tampan Lelaki itu hingga Ia sendiri berwajah memerah. “A...Aku baik baik saja- maafkan Aku, aku terburu buru.” Kata Cana sambil menundukkan badannya dan segera berlari meninggalkan lelaki itu.
Rupanya Cana hampir terlambat di hari pertamanya mengajar menjadi profesor di sebuah kampus ternama.
"Maafkkan Aku, Aku benar benar terlambat.” Cana menundukan badanya pada kepala sekolah.
“Tidak apa apa, hanya lewat 20 detik saja.”
“Heh...Kalau begitu jam ku memanglah rusak.” Cana terkejut sambil melihat jam yang di pakai di tangannya sendiri.
“Ehem...Sebaiknya Kau mengajar sekarang.” Kata Kepala sekolah.
“Ah baik, permisi.” Cana kembali menundukan badanya dengan sopan dan berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah.
“Hm...Untuk wanita sepertinya, tubuhnya tidak main main.” Kepala sekolah memikirkan tubuh Cana, sepertinya Dia juga tertarik pada tubuh Cana yang tentunya bukanlah murahan.
Terlihat Cana masuk di sebuah kelas dengan sudah adanya banyak mahasiswa menunggu di meja mereka. Cana berjalan dan berhenti di depan mereka. “Selamat pagi, namaku Cana Seon, mulai hari ini Aku mengajar di kelas fisika bersama kalian. Mohon bantuannya.” Kata Cana dengan senyuman cantiknya.
“Dia cantik juga, kulitnya manis dan terlihat subur.” Kata lelaki lelaki yang memandanginya. Cana melihat papan tulis dan Ia terkejut karena papan tulis itu untuk papan tulis kapur dan ukuranya juga tidak main main.
Lalu jam istirahat datang, Cana berhenti menulis di papan tulis kapur itu. Dia meletakan kapur nya namun Ia terdiam melihat tangnya putih terkena kapur tadi. “[Haiz...Aku akan mencuci tangan]” Ia menghela napas. Tapi tiba tiba ada seseorang yang memberikan sapu tangan. Cana terkejut dan menoleh dengan mengada karena orang itu tinggi, rupanya orang itu adalah lelaki yang Ia tabrak tadi pagi, seketika Cana terkejut lagi.
“Pakailah ini untuk membersihkannya.” Kata Lelaki itu dengan senyuman ramahnya.
“E...Terima kasih [kenapa Dia ada disini, Aku benar benar tidak sadar]” Cana menerimanya lalu lelaki itu tersenyum kecil dan berjalan pergi.
“Em...Tunggu.” Cana memanggil lalu Dia menoleh dengan bingung.
__ADS_1
“Anu...Soal tadi pagi, Aku benar benar minta maaf telah menabrakmun.” Kata Cana dengan wajah sedikit merah.
“Tidak masalah.” Lelaki itu membalas lalu berjalan pergi lagi.
“[Eh...Aku belum tahu namanya]” Cana terdiam memandangnya sudah jauh, lalu Cana melihat sapu tangan cantik itu.
Saat di kantor, Cana berhasil menemukan biodata lelaki tadi. “Oh...jadi ini Dia.” Kata Cana. Bernama Corvin Charlies.
“Namanya seperti...Aku seperti pernah membaca sebuah buku nama ini memiliki arti, pemilik istana putih dan hitam]” Cana terdiam.
“Sedang apa profesor?” Tiba tiba ada seseorang yang berbisik di belakangnya.
“Ah...” Cana terkejut sambil menoleh, Ia seperti terkejut setengah mati dan rupanya itu lelaki yang bernama Corvin.
“I...Ini...ini bukan apa apa.” Cana menymbunyikan biodata tadi dengan keringat dinginya.
“Profesor, Apa Kau penasaran denganku?” Corvin menatap dengan mata khas sipitnya.
“E..ti-dak...Lagipula kenapa Kau ada disini, Kau tidak mengetuk pintu sama sekali.”
“Ara ara...Maaf profesor, Aku hanya mengantar kertas di setiap Profesor.”
“. . . Apa- kenapa.” Corvin menjadi sedikit terkejut.
“Lain kali ketuk pintu.” Cana membalas sambil membuang muka.
“Baiklah, maafkan Aku.” Corvin menunduk seperti anjing yang memelas.
“. . . Em ngomong ngomong ini sapu tanganmu, terima kasih untuk tadi.” Cana mengembalikan sapu tangan. Corvin akan mengambilnya dari tangan Cana tapi tak disangka Corvin malah mencium tangan Cana.
“Eh...Apa yang kau lakukan?” Cana terkejut.
“Profesor, Kau benar benar cantik ya, bagaimana jika makan denganku?” Tawar Corvin yang masih memegang tangan Cana.
“Eh...makan malam...dengan [Dengan lelaki tampan sepertinya, ini pertama kalinya Aku merasakan sesuatu yang membuat hatiku berdegup kencang...padahal sudah banyak lelaki yang kutolak, kenapa bersamanya seperti...]” Cana menatap Corvin yang membalas dengan
senyuman manis membuat Cana memerah. Lalu Ia mengambil tanganya dan mundur selangkah.
__ADS_1
“Ehem..Jika tidak ada kerjaan, Aku bisa makan malam denganmu.”
“Baiklah terima kasih Profesor.” Kata corvin lalu Ia menundukan badan dan berjalan pergi keluar ruangan itu. Sementara Cana masih terdiam bingung. “[Secepat-itu kah?]”
Malamnya Cana berlari terburu-buru. “[Gawat, Aku akan terlambat]” Ia menatap jam tanganya yang telah di perbaiki tapi di jalan Ia bertemu dengan seorang mahasiswa atas sendirian saja menghadangg Cana. “Hei Profesor, kenapa Kau terburu buru?” Dia menatap dengan wajah arogannya.
“. . . Aku harus pergi sekarang.”
“Tunggulah sebentar Profesor, bolehkan Aku mengatakan sesuatu, Kau benar benar wanita cantik.” Dia mendekat perlahan ke Cana yang terdiam kaku tak bisa apa apa, hanya kakinya saja yang bisa gemetar.
“[Siapapun tolong]”
“Kau tidak keberatan jika Aku menganggapmu ******, maukah kau melayaniku hng...” Lelaki itu semakin dekat.
“Hiz...tidak.” Cana dengan berani mendorongnya.
“Berhentilah menyentuhku dasar kau brengsek.”
“Woho, kuat juga jangan jangan sudah banyak lelaki yang kau tolak, tapi kau tak bisa menolakku.” Lelaki itu akan menyerangnya membuat Cana terkejut. Tapi mendadadk saat Ia membuka mata pukulan lelaki tadi berhenti karena di tahan oleh kepalan tangan Corvin yang di samping Cana sambil merangkul pinggangnya.
“[Corvin]” Cana menatap Corvin yang memasang wajah serius pada lelaki itu.
“Siapa kau?” Lelaki itu menatap menantang.
“Aku, ..” Corvin terdiam membuat Cana bingung.
“. . .Entahlah, Aku hanya menjemput Profesor karena Aku sudah menunggu lama.”
“Hah...” Cana terkejut mendengarnya dengan sekaligus bingung.
“Ho...Jadi kau pacarnya?” Tatap lelaki itu.
“. . .Pacar?” Corvin menjadi bingung. Tapi tiba tiba Cana menarik kerah Corvin membuat Corvin mendekat padanya.
“Ya, Dia adalahpacarku.” Kata Cana seketika Corvin terkejut.
“Buktikan padaku.” Lelaki itu masih belum percaya.
__ADS_1
“[Cih...Dasar..Apa yang harus kulakukan]” Cana terdiam dengan kesal lalu Ia menatap Corvin yang memasang wajah polos. Seketika Cana mencium bibir Corvin membuat Corvin kembali terkejut.