Garis Kapur Hitam

Garis Kapur Hitam
Chapter 2 (Kotak Kapur Hitam)


__ADS_3

“cih...baiklah aku akan pergi.” lelaki tadi dengan kesal meninggalkan mereka. Seketika Cana mendorong Corvin dan mengambil tisu dari sakunya mengusap bibirnya sendiri dengan tisu itu di depan corvin sendiri. "prrofeso-“


“Maafkan aku.” cana menyela dengan menundukan badan didepanya, membuat Corvin menjadi bingung.


“Maafkan aku, aku benar benar tidak sopan menciummu, aku mohon lupakan ini.“ cana menambah. Lalu ia akan berjalan pergi tapi corvin menhan tangnya.


“Tunggu, kita harus makan malam, aku tidak keberatan dengan hal tadi...aku hanya ingin, makan malam bersamamu.” Kata Corvin dengan wajah ibanya. Cana terdiam lalu menoleh.


“Baiklah.”


-


“Ngomong ngomong apa hobimu profesor?” Tanya Corvin saat di meja restoran.


“Em...Aku hanya suka bersantai.”


“Bersantai? Kalau begitu kau suka pantai.”


“Ya aku sangat suka, sayangnya aku tak bisa.”


“Kenapa?”


“Aku tak bisa ke pantai sendirian dan juga masih ada banyak pekerjaan jadi itu harus kutunda dulu.” kata Cana.


“Jangan khawatir profesor, aku akan membawamu saat lulus nanti."


“. . .pf...apa yang kau bicarakan, sudah jelas kau harus fokus pada pekerjaanmu nanti hanya tinggal 2 bulan lagi kau lulus bukan." Mana menatap. Lalu Corvin terdiam membuat Cana menjadi bingung.


“Profesor, sebenarnya, saat aku lulus nanti aku akan di ambil oleh ayahku mengurus sebuah sahamnya, aku akan pergi di luar kota selama beberapa tahun, maukah profesor tetap mengingatku?”


“Mengingatmu?”


“Ya, paling tidak untuk waktu 2 bulan itu.” Kata Corvan lalu Cana tersenyum dewasa. “Ya-corvan.”


“. . . Benarkah, kalau begitu apa profesor bisa jadi pacarku." Corvan menatap seketika cana terkejut.


“A..apa yang kau bicarakan...”


--


“Baiklah, materi berikutnya akan kusampaikan besok.” kata cana yang selesai mengajar di kelas hari ini. Ia juga mnghapus catatanya di papan tulis kapur itu. Namun yang membuatnya terganggu dari tadi adalah Corvan yang terus saja mengamatinya dengan tulus dengan adanya bekas tanda tamparan di pipi corvan. “[Cih...dia benar benar aneh, untungnya aku cepat cepat kabur darinya tadi malam]” Cana masih mengingat bagaimana dia menampar Corvan dan segera pergi karena tawaran tiba tiba dari Corvan saat itu.


“[Haiz..Kepalaku benar benar pusing, inilah kenapa aku butuh liburan dan bersantai]” Cana berjalan keluar dari kelas yang telah kosong. Namun tak disangka sangka corvan ada didepanya memberikanya sebuket bunga.


“Profesor, jadilah pacark—“


“Sust...” Cana menjadi menutup mulut nya. “Apa yang kau bicarakan, banyak orang disini, di kelas saja.” kata Cana.


“Hehe ok..” Corvan menyetujuinya.

__ADS_1


Sesampainya di kelas Corvan memberikan sekotak kapur hitam pada cana yang bingung.


“Erm..bisa kau jelaskan apa maksudnya ini?” Cana yang membuka kotak itu menjadi bingung karena isinya hanya kapur hitam.


“Simple saja, jik akau bosan dengan warna putih pada kapur papan tulis kau bisa mengganti warnya uhuy....” Kata Corvan dengan bodoh. Hal itu membuat Cana kesal dan menjadi menamparnya lagi, setelah itu dia berjalan keluar dari sana.


“Ek...profesor tunggu, kau belum bilang ingin menjadi pacarku.” Corvan mengejarnya.


“haiz...dengar Corvan kau dan aku hanyalah murid dan guru, lagipula kau juga akn pergi kan setelah lulus nanti jadi ini hanya akan sia sia.” Kata Cana.


“Ini tidak akn sia sia jika kau setuju dari sekarang. Temani waktuku disini atau aku yang menemanimu profesor." Corvan mendekat. Mendengar ketulusan itu cana menjadi terdiam dan tak sadar bahwa ia terpojok Corvan di tembok.


“[Apa yang..] hei hentikan ini”


“. . . Setelah ini semua terpenuhi, aku akan membiarkanmu menhancurkan hatiku.” kata corvan yang mendekat dan mencium bibir Cana. “[dan begitulah, ciuman kedua dari hubungan sementara]”


Di saat itu juga hubungan kami begitu manis dan aku juga tak terganggu dengan corvan, tapi aku masih penasaran dengan arti nama miliknya, sama sekali belum mengetahui keluarganya Corvin.


“Cana-apa kau ingin ke festifal bersamaku malam ini?” kata Corvan yang berbicara lewat ponsel.


“Festifal?” Cana menjadi bingung sambil merajut sesuatu di sofa rumahnya.


“Ya, malam ini akan ada festifal kembang api di dekat kota jaing, apa kau mau kesana?”


“Entahlah, Corvin, aku harus menemani ibuku?”


“Ibu, kau punya ibu?”


“Kalau begitu, berikan aku alamat rumahmu, aku akan kesana.”


“Hah, apa...kau akan kemari, di-disini berantakan.”


“Tidak apa apa, sampai jumpa.” Corvin menutup ponselnya, seketika cana terkejut dan langsung beranjk. “Oh...Tidak dia akan kesini, apa yang harus kulakukan....Tidak...” Ia mencoba memebereskan rumahnya yang berantakan, lalu muncul seorang wanita tua berjalan menatapnya.


“. . siapa kau?”


Cana menoleh dan mendekat iba. “Ibu...aku anakmu.”


“Anakku?”


“Ya...[ibu memang sudah berumur, aku harus tabah menjaganya]”


“Kenapa kau terlihat panik?” Tanya ibunya.


“Em...Teman laki lakiku akan kemari, apa ibu tidak keberatan?” Cana menatap. Lalu ibunya terdiam dan berjalan meninggalkanya pelan pelan. Cukup sulit menerima pertanyaan dari seseorang untuk ibunya.


Tak lama kemudian bel pintu berbunyi, cana menjadi terkejut. “I-itu Corvin.....Apa yang harus kulakukan” ia mulai panik dan akahirnya membuka pintu. Tapi itu bukan corvin melainkan wanita cantik.


“Apa disini rumah nona cana?”

__ADS_1


“. . .E...ya, apa ada yangbisa di bantu?”


“Aku akan menjaga ibu anda agar anda bisa pergi bersana tuan charlese.”


“Ha...Kau siapanya dia?”


“Aku pelayan umumnya”


“[Pe-pelayan umum...Secantik ini]” Cana menjadi terpelongoh.


“En...Apa kau baik baik saja?” Tanya wanita itu.


“Ah tidak terima kasih, baiklah aku pergi, apa dia sudah menunggu?”


“Ya, selamat menikmati perjalaannan malamnya.” wanita itu menundukan badan membuat Cana menjadi tidak nyaman.


Terlihat corvin duduk di bangku jalan di malam hari, ia terlihat seperti lelaki ganteng pada umumnya karena terus saj di lirik perempuan yang lewat tapi dia pura pura tak tahu dengan wajah polosnya.


Tak lama kemudian cana berlari mendekat. “Huf....maaf kan aku.” Ia terengah engah.


“Untuk apa?” Tanya Corvin.


“Aku benar benar terlambat datang."


“Tidak apa apa, ngomong ngomong kau benar benar sangat cantik sekali malam ini.” Corvin berdiri merangkul pinggang Cana.


“Hentikan itu, ini di depan pulik!!” cana mendorongnya.


“Ouh....kau masih tetap saja menolakku...apa aku harus kembali memanggilmu profesor di di depan publik.” Tatap Corvin dengan mata anak anjingnya.


“Haiz...” Cana menghela napas lalu mendadadk memakaikan syal di leher corvin yang terkejut.


“Hari ini begitu dingin."


“. . . Ini, apa kau merajutnya sendiri...sangat imut.” Kata Corvin, seketika Cana menjadi memerah.


“Ngomong ngomong cana- kau ingin berjalan kaki atau naik mobil.”


“Em...jalan jaing itu jauh, mungkin kita bisa naik bus setelah ini.”


“Tidak perlu, aku bisa mengendarainya sendiri.” corvin menarik lengan cana ke samping mobil mewah yang ada di pinggir jalan. Awalnya cana masih bingung dan hingga akhirnya ia terkejut karena kunci mobil itu di bunyikan oleh tangan corvin. “Ayo masuklah" Kata Corvin sambil membuka pintu.


“K-kau pemiliknya?!?!"


“Ya, apa itu bagus?”


“Em...kau mengendarainya sendiri, apa kau bisa menyetir?”


“Tentu saja. ”

__ADS_1


“Tapi-“


__ADS_2