
“. . .Wajah mu imut saat marah.” Edam tersenyum padanya.
“He-hentikan itu, aku sedang tidak marah, kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Aku hanya ingin menyembunyikan ini.” Kata Edam. Lalu Cana memberikan suapan pada Edam yanng bingung. “Ini- Tanda maafku.” Kata cana. Lalu edam tersenyum kecil dan memakanya dari suapan Cana. I
Hari keempat Edam berada di rumah sakit. Ia membaca bukunya di ranjang dengan duduk di samping dinding atas. Lalu ia menutup bukunya dan menoleh ke jendela halaman rumah sakit. Ia menatap jam dan berjalan keluar dengan tongkat sikunya. Di lobby ia bertemu salah satu perawat. “Tu-tuan edam, anda tidak bisa keluar dengan kondisi anda.” Dia menatap panik. Tapi ia sendiri teridiam melihat Edam yang bersikap sehat sehat saja.
“[Ti-tidak mungkin, seharusnya patah tulang itu sakit untuknya]” Perawat itu terkejut dalam hatinya.
“Apa ada masalah?” Edam menatap bingung.
“Ah-tidak, maafkan aku.” Perawat itu menunudukan badan. Lalu pergi dan berjalan melewatinya, dia berhenti di tempat biasanya ia akan bertemu Cana. Tapi di tempat duduk biasanya, Cana tak ada di sana dengan kursi rodanya. “[Dimana dia?]” Ia bingung lalu berniat menunggu dan duduk di air mancur.
Ia mungkin sedikit menunggu lama dan beberapa menit kemudian Cana datang berhenti di tempat biasanya. “[Oh...itu dia] Cana..” Edam berjalan mendekat.
“Ah-halo...”
“kau agak terlambat, apa sesuatu terjadi padamu?” Tanya edam.
“Ah-tidak, aku hanya baru saja selesai belajar di ruanganku.”
“Ruangan?, Apa itu juga salah satu ruangan rumah sakit?”
“Ya, karena aku tak punya kamar sendiri.”
“. . . Bisa aku mengunjungimu.”
“Saat setelah anda sehat, anda boleh mengunjungiku.” Kata Cana.
“[E..apa maksudnya, dia tak membolehkanku]” Edam menjadi terkejut.
__ADS_1
Mereka terus mengobrol di 3 hari kedepan. Hingga waktu seminggu adam sudah habis dari ayahnya.
Terlihat Cana menatap air mancur duduk di kursi rodanya. “ibu ku, bilang kau akan pergi hari ini” Kata Cana. Dengan adanya Edam yang mendorong kursi rodanya. “Ya...” Edam membalas dan sepertinya kakinya sudah sembuh berkat perawatan yang diminta Ayahnya yang tidak main main.
“Begitu ya, kalau begitu...Hati hati.” Cana menambah. Edam terkejut mendengarnya lalu berjalan didepan Cana dan berlutut di depan nya membuat Cana terkejut. “A-apa yang kau lakukan...”
“Cana, apa kau sedih aku pergi?”
“Eh...Tidak, aku akan senang jika kau bisa kembali ke kehidupanmu, selama disini kau juga selau menemuiku dan menerima kekuranganku sebagai teman mengobrol, terima kasih untuk semuanya” Cana tersenyum manis.
Edam yang melihat itu sama sekali tak tersenyum dan menjadi memegang kedua tangan Cana.
“Aku janji, aku akan kembali padamu Cana, karena aku pergi sekarang juga soal pekerjaan” Kata Edam. Lalu Cana mengangkat kelingkingnya. “Berjanjilah...Edam”
Lalu Edam mengangkat jari kelingkingnya sambil tersenyum kecil. “[Dia memang tak sama seperti gadis lain yang selau kutemui, tentu saj itu karena dia tak tahu siapa aku saat pertama kali bertemu. Reaksinya pun tak seperti mereka yang langsung tergila gila padaku.
Selama ini aku punya banyak teman namun mereka bahkan tak pernah membuatku merasa menjadi teman mereka. Mereka hanya melihat uang dan martabatku tak seperti Cana, dia tak memandangku seperti itu, benar benar gadis yang menarik. Saat aku selesai dengan urusan ini aku akan menemuimu dan membawamu ketempat yang kau inginkan yakni pantai]”
“Hm...” Edam berpikir lalu ia melepas sebuah kalung yang ia pakai. Kalung itu berhias satu kristal cantik bertuliskan nama Edam disana. Edam meletakanya di tangan Cana.
“Apa ini-“ Cana terkejut.
“Kalung ini milikku, jika kau merasa ingat padaku maka lihatlah kalung ini yang berukir namaku. Kau juga bisa memakainya.” Kata Edam.
“Terima kasih.” Cana tersenyum haru.
---
Terlihat Edam keluar dari mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh supir dari luar. Edam berjalan masuk ke toko kalung besar lalu seorang pelayan menyambutnya. “Tuan edam, ada yang bisa dibantu?”
“Kau masih ingat kalung yang aku beli dari sini?” Tanya edam.
__ADS_1
“Tentu tuan, kalung itu adalah kalung kristal real 6xI yang anda beli dengan harga selangit.”
“Haiz...Aku tak butuh detailnya, aku ingin mmesanya lagi namun dengan nama yang berbeda.” Kata Edam lalu pelayan itu menjadi bingung.
Terlihat Cana menatap air mancur dengan masih menggenggam kalung yang diberikan Edam. Ia melihat langit dan menatap pesawat terbang. Ia tersenyum kecil. “Selamat tinggal...”
“Cana" Ibu nya datang lalu Nadia menoleh. Cana terdiam lalu mengangguk padanya. Entah apa maksud mereka.
5 bulan berlalu, sebuah pesawat mendarat di bandara dan turun Edam sambil melihat kalung kristal yang ia pakai bertuliskan nama Nadia. “Aku kembali...” Ia tersenyum kecil.
Sepertinya tugas yang diberikan Ayahnya sudah ia kerjakan lalu pergi kerumah sakit tepat dia dan Cana dulu bertemu. Namun sepertinya di jam biasanya Cana tidak datang, Edam terus menunggu lama di air mancur hingga ia harus bertanya pada perawat sekitar. “Apa aku bisa bertanya, kemana cana sekarang?”
“Oh-dia sudah pergi 4 minggu yang lalu.” Kata Perawat yang ia tanyai. Seketika Edam terkejut.
“Kemana dia pergi?”
“Entahlah tuan, mungkin tak akan terlihat lagi.”
“[Ini tidak mungkin]” Edam menjadi terdiam. Saat itu juga ia menjadi putus asa karena tak bisa memenuhi janjinya dengan nadia saat itu. Alhasil dia akan lebih fokus pada pekerjaanya.
“[Kita sudah berjanji untuk kembali bertemu lagi...tapi kenapa rasanya sangat aneh...sungguh, ini antara dia atau aku yang mengikari janjinya]” Edam mengalamun di meja sebuah kantor pribadi. Lalu ia melihat jendela kaca besar di belakangnya. Ia memutar mutar kursinya dengan rasa gabut, lalu mengambil kalung yang ia pakai dan melihatnya bertuliskan Cana. Dia bahkan masih memakai kalungnya.
“Haiz... Dimana kau... Aku sangat merindukanmu... Kau gadis yang manis menurutku” Kata edam sambil menghela napas putus asa. Hingga saat itu hubungan mereka tak terhubung lagi. --- Begitulah masa lalu dari Cana dan edam. Kini semua tahu apa yang sebenar nya terjadi pada hubungan mereka berdua.
Dan sekarang mereka berdua saat ini sedang menatap masih di festival itu.
"Aku bahkan masih menyimpan ini.... Cana" Edam menunjukan kaling kristal bertuliskan nama Cana di sana. Seketika Cana benar benar terkejut.
"(Di.... dia masih menyimpan nya..... )Tapi bagaimana bisa.... kupikir kau sudah melupakan ku...." Tatap Cana.
"Mana mungkin aku lupa pada mu.... Sekarang katakan pada ku.... Kemana kau selama 10 tahun terakhir itu.... Kau tidak mungkin meninggalkan ku begitu saja kan cana?" Edam menatap serius. Hal itu membuat Cana terdiam tak tahu harus berkata apa.
__ADS_1