Garis Kapur Hitam

Garis Kapur Hitam
Chapter 5 (Kamu Bukan Kekasih Pertama)


__ADS_3

Festival tahun baru akan datang malam ini. Cuaca di luar sudah sangat dingin untuk menyambut salju turun. Cana memegang selembaran festival tahun baru di tangannya, dia saat ini memandang jendela di dalam rumahnya melihat suasana luar.


"(Aku memutuskan untuk terus bersama corvan hingga dia pergi, karena itu adalah perjanjian kita, meskipun hanya dua bulan aku benar benar tidak tahu kami akan bertahan selama itu. Aku takut dia meninggalkanku atau aku yang meninggal kannya, Semoga saja tak terjadi apa apa... Saat salju turun nanti aku akan membuat permintaan untuk terus bersamanya.)" Dia terdiam lalu ponselnya berbunyi membuatnya melihat ada pesan masuk dari corvan.


\=Cana, bersiaplah... Aku akan datang\=


"(Dia terlalu cepat, aku bahkan belum apa apa)" Cana membuka lemari. Ia menjadi terdiam mengambil setelah baju yukata. Tapi ia menjadi ragu.


Tak lama kemudian corvan sudah sampai di depan rumahnya, dia mengetuk pintu dan Cana sendiri yang membukanya. Corvan menjadi terkesan melihat baju Cana.


"waw..... Kau sangat cantik Cana" Tatap nya dengan terpesona.


"Te... Terima kasih, bisa kita mulai?" Tatap Cana.


"Ya tentu" Corvan mengangguk, lalu mereka berjalan bersama ke festival.


Di festival itu sangat lah unik banyak kekasih yang muncul membuat suasana cana dan corvan semakin manis.


"(Aku sangat senang memiliki lelaki seperti corvan.... Aku juga berharap dia tak seperti seseorang)" Cana berpikir dan menjadi terdiam.


"Cana?.... Cana?" Panggil corvan membuat Cana tersadar.


"Aku memanggil mu beberapa kali... Ada apa... Kau lelah?" Tatap corvan dengan khawatir.


"Aku.... Aku baik baik saja" Tatap Cana.


Tapi tiba tiba ada yang memanggil dan mendekat. "Cana... Itu kah kau?" Seseorang itu semakin dekat dan mereka berdua menoleh. Seketika Cana terkejut tak berkutik karena itu adalah seorang lelaki yang hampir sama seperti corvan. "Cana.... Kau susah bisa berjalan kah?" Lelaki itu menatap dengan wajah senang.


"E..... Edam!!!"

__ADS_1


"Siapa dia cana?" Tatap corvin dengan curiga.


"Siapa lelaki ini.... Apa kalian teman.... Cana?" Lelaki itu menatap corvan. mereka berdua saling melirik demi mendapatkan jawaban Cana.


"Ke.... kenapa kau ada di sini... E... Edam?" Tatap Cana dengan gemetar tak percaya.


"Aku tahu kau suka festival mulai saat itu aku mencarimu lewat festival dan rupanya benar"


"(Siapa lelaki ini.... Kenapa dia tahu soal Cana?)" Corvan menjadi curiga. Lalu Cana membalik badan dan menoleh ke corvan yang menatap bingung.


"Corvan... Maaf kan aku berbohong... Kau bukan kekasih pertama ku.... Dia alh yang menjadi pertama untukku" Kata Cana.


Seketika corvan sangat terpukul dan terkejut seperti tersambar petir yang besar.


---10 Tahun yang lalu Seorang lelaki berjalan sambil melihat ke ponselnya terus menerus. Lalu dia mendengar suara kaki seseorang menghampiri. Orang itu membungkukan sedikit badanya dengan sopan. “Tuan muda, mobil anda sudah siap.” Dia menunjuk ke mobil hitam didekat mereka. Lalu lelaki itu berjalan kemobil dan masuk dengan orang tadi membukakan pintu untuknya. Rupanya orang tadi adalah supirnya.


Tanpa melihat apapun, dia hanya melihat keponselnya. Terus mengetik dan saat si supir masuk menemudi untuknya, dia hanya terus fokus ke ponselnya.


“Ya...” Lelaki itu menjawab lalu si Supir mulai menjalankan mobilnya.


“[Semuanya terus saja mengetik pesan]” Batin lelaki itu yang melihat ke ponselnya yang rupanya banyak sekali pesan pesan yang terus muncul membuatnya harus membalas pesan pesan itu satu persatu. Dia adalah Edam putra pertama dan satu satunya konglomerat paling berpengaruh didunia. Namun dia selalu terlihat biasa saja dan tak mau terlalu menonjolkan kehidupanya. Wajar saja jika semua orang suka padanya dan ingin mengobrol lewat pesan ponsel.


“[Tuan muda, terlihat tidak baik.]” Si Supir melihatnya dari kaca namun tak disangka sebuah truk besar melaju didepan mereka. “Hah...astaga” si Supir terkejut dan refleks membanting setir ke kiri namun malah berakhir jatuh di jurang yang dalam. Mereka berdua mengalami sebuah kecelakaan.


Terlihat edam terbangun di ranjang ruangan rumah sakit.


“Kau sudah bangun.” Seseorang ada disampingnya, seorang Pria yang ia panggil sebagai. “Ayah...”


Edam bangun duduk sambil memegangi kepalanya yang sakit. “Apa yang terjadi...”

__ADS_1


“Kau sudah tidur selama 3 hari setelah kecelakaan itu, semuanya mencemaskanmu. Syukur saja Supir tak berguna itu mati di tempat dan kau hanya mengalami patah kaki saja.” Kata Ayahnya dengan nada dingin sambil menuangkan gelas air padanya.


“Jangan paksakan dirimu dulu.” Dia menatap lalu berbalik akan pergi.


“Tu-tunggu...Bagaimana dengan bisnis nya...” Edam menatap. Lalu Ayahnya terdiam dan berbalik. “Tunda sampai kau sembuh, saat kau sembuh jalankan semuanya.”


Edam menjadi terdiam melihati gelasnya yang belum ia minum di tanganya. Lalu ia menoleh ke ponselnya yang sudah mengalami layar pecah. “Sebegitu parahnya kah...” Ia mencoba membuka hpnya dan rupanya semua isi di dalamnya hilang.


“Cih...Terserah, intinya aku terbebas dari pesan pesan itu.” Edam membuang ponselnya dan melihat ke jam dinding menunjukan pukul 8 pagi. “[Haiz...Aku akan bosan disini]” Ia menghela napas putus asa dan melihat ke kaki kananya yang terbalut.


Waktu berjalan sangat lama. Ia berbaring sambil membaca buku yang ia bawa. Hingga ia sendiri merasa bosan sambil meletakan bukunya. “Sigh...Aku benar benar bosan...” Edam menoleh ke jendela yang memperlihatkan halaman dalam rumah sakit. Ia tertarik untuk keluar lalu berjalan menggunakan kedua tongkat siku alat bantu berjalanya.


Di sisi lain beberapa perawat sedang mengobrol di kantor registrasi tepatnya di depan pintu dalam rumah sakit. Mereka sepertinya sedang mengobrol karena rumah sakit sedang sepi. Menerima pasien. “Hei, aku tadi melihat putra dari tuan besar konglomerat ada disini, dia ada diruangan 56.” kata salah satu dari mereka.


“Eh...Beneran, aku pengen bertemu dia.”


“Dia mengalami patah tulang kaki pastinya sakit tak bisa berjalan.” Mereka membicarakan Edam. Tapi tak disangka Edam berjalan mendekat ke meja mereka. Mereka perlahan menoleh dan menjadi terkejut. “Tu-tuan edam...” Mereka terkejut sambil memerah.


“Oh, halo...Aku ingin bertanya sesuatu pada kalian.” Kata Edam.


“Be-bertanya...Silahkan saja.” Mereka mendekat.


“Aku hanya ingin tahu dimana jalan agar aku bisa kehalaman dalam sini?”


“Oh...Anda tinggal belok ke kiri dari sini.” Mereka membalas.


“Terima kasih, aku pergi dulu.” Edam kembali berjalan dengan tongkat sikunya.


“Bagaimana bisa, dia benar benar punya tubuh yang kuat.” Mereka membicarakanya lagi sambil terkesan dalam hati mereka sendiri.

__ADS_1


Sesampainya di halaman rumah sakit. Edam berhenti berjalan saat didepan air mancur yang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil untuknya. “Huf...Ini sama saja membosankan, aku pernah melihat lebih besar dari ini.” Ia menghela napas kecewa. Tapi sesuatu telah membuatnya menatap ke air mancur itu. Tepat di pancuran batasan air ia melihat seorang gadis berada disisi lain air mancur.


“[Seorang...Gadis]” Ia menoleh ke gadis itu.


__ADS_2