
Sebelumnya diruangan lain. Seorang Gadis berjalan keluar dengan kursi roda yang ia dorong sendiri menggunakan kedua tangan nya menuju ke halaman rumah sakit. Dia adalah Cana, gadis yang tinggal di rumah sakit, selalu merenung di depan air mancur. Tak punya siapa siapa selain kursi rodanya yang selalu menemaninya. Tak lama kemudian dia tak sengaja menatap ke air mancur tepat dimana Edam berada. Edam juga menoleh pada nya alhasil mereka aling menatap. “[Gadis itu... lumpuh]” Edam melihat kaki Cana lalu mendekat membuat Cana terkejut.
“[A-apa...Kenapa lelaki tampan itu mendekat]” Cana panik sendiri dalam hatinya. Kebetulan samping kursinya ada tempat duduk. Edam mendekat dan duduk di sampingnya. “Huf...Ini benar benar melelahkan.”Ia melepas tongkat sikunya, lalu melirik ke Cana yang menatapnya.
“Oh- halo...” Edam tersenyum tulus pada nya. Membuat hati Cana luluh dan wajahnya menjadi memerah. “Ha-halo...”
“Kau sudah lama disini?” Tanya edam.
“Aku...Selalu disini.” Cana menjawab membuat Edam berwajah agak bingung.
“M-maksudku, a-aku tinggal disini karena ibu ku juga bekerja disini”
“Ouh, begitu, itu berarti kau tak bisa keluar?”
“. . . Aku-belum pernah keluar.” Kata Cana.
“[Be-belum pernah keluar...Seperti apa kehidupan nya?!]” Edam menjadi terkejut di dalam hatinya.
“Em..Anu-aku tak terbiasa mengobrol dengan orang lain, jadi aku akna perg-...
“Tunggu...” Edam menyela dan menahan tangan Cana membuat Cana salah tingkah tersentuh olehnya. “I-ini pertama kalinya aku tersentuh lelaki.” Cana memerah sambil menundukan wajahnya.
“Oh-maaf.” Edam melepas tangan nya. “Sebenarnya aku bosan berada di dalam dan kau hanya satu satunya yang terlihat normal disini”
“[Hah..Apa-apa yang dia bilang tadi]”
“Jadi...Aku ingin mengoberol denganmu, aku yakin kau juga merasa kesepian...” Kata Edam. Tapi tiba tiba cana menangis. “Hiks...Hiks..” Dia menangis ditengah perkataan Edam. Edam yang melihat itu tentu saja terkejut.
“Ah-maaf, kenapa ku menangis, apa aku menyakitimu?” Dia panik sendiri.
“Ti-tidak, aku hanya ingin...Te-terima kasih hiks...” Kata Cana, namun hal itu malah membuat edam kurang mengerti dan terdiam.
“Kau-orang pertama yang bilang aku normal, aku sangat senang, terima kasih.” Cana menambah.
Lalu Edam tersenyum kecil memberikan nya sapu tangan. “[Tentu saja, dia Gadis yang lumpuh. Pastinya tidak akan teranggap normal]”
Edam menatap ke kaki Cana. Lalu kembali terdiam dan berpikir. “[Kenapa kau tidak operasi saja?, ah aku lupa menanyakannya sesuatu]...Siapa namamu Gadis?” Edam menatap lalu cana terdiam.
“Aku Edam, senang bertemu denganmu.” Tambah Edam.
“Em...Aku- Cana”
“Cana...Itu nama yang cantik. Jadi, apa kau punya teman?” Edam menatap.
__ADS_1
“. . . Tidak, aku tidak punya teman sama sekali, kakak ku hanya bekerja sementara disini dan pekerjaanya sangat sibuk. Rumah sakit ini juga tak begitu banyak menerima pasien.”
“. . . Kalau begitu, aku akan menjadi teman untukmu.” Edam mendekatkan wajahnya ke wajah Cana membuat Cana terkejut. Edam juga memegang kedua tangan Cana membuatnya semakin memerah.
Tak lama kemudian seorang pria besar berpakaian penjaga datang mendekat. “Tuan...”
Edam menengada dan langsung berubah ekspresinya menjadi ekspresi membosankan. “Baiklah, Cana ...aku kembali ke tempatku dulu” Dia berdiri.
“Ah-baik.” Cana membalas dengan salah tingkahnya membuat Edam tersenyum kecil dan berjalan pergi bersama pria tadi yang mengikutinya dari belakang.
“[Siapa sebenarnya dia]” Cana menatap dari jauh dia sendiri tak tahu siapa itu Edam.
--
“Kondisi anda tidak akan memungkinkan untuk tugas selanjutnya.” Kata Pria tadi yang berdiri di depan Edam yang duduk di samping ranjang tempat tidur.
“Aku sudah tahu itu, memangnya jika ditunda aku akan kemana nantinya?”
“. . . Tuan Besar berkata bahwa anda akan dikirim ke luar negri langsung tanpa menjalankan apa yang Beliau minta untuk anda disini...Beliau juga hanya memberi anda waktu satu minggu untuk memulihkan sendiri.” Tambah Pria tadi. Lalau edam terdiam dingin. “Kemana dia akan mengirimku?”
“. . . New york untuk 5 bulan.” Pria itu membalas. Seketika Edam terkejut.
Hari selanjutnya mereka bertemu lagi. Kali ini Cana membawa sebuah buku dan membacanya didepan air mancur. Lalu Edam terlihat datang. “Halo lagi Nadia”
“Huf...Ini melelahkan”
“. . .Kau seharusnya beristirahat saja.” Kata Cana.
“Yeah...Tapi aku ingin disini karena didalam membosankan. Ngomong ngomong buku apa yang sedang kau baca?”
“Ah, aku membaca novel hibernasi ini.” Cana menunjukan buku yng ia bawa. Lalu Edam tersenyum kecil setelah melihatnya. “Itu milikku.”
“Eh-apa.” Cana bingung.
“Lihat, nama penulisnya sudah tertera disini.” Edam menunjukan nama miliknya yang ada di buku itu.
“Eh-ke-kenapa aku bisa tidak tahu.” Cana menjadi terkejut.
“Yeah...Aku hanya membuat satu buku saja dan tak disangka semua orang menyukainya. Termasuk Cana yang sekarang membacanya”
“Em...yeah- apa kau menulis buku lain?”
“Tidak, aku sudah bilang hanya menulis satu buku...Itu pun saat aku tulis ketika sedang tak ada kerjaan. Lagipula pekerjaanku bukan menulis novel.....Ngomong ngomong apa cita cita mu...cana?" Kata Edam.
__ADS_1
"um... Ini cita cita yang aneh aku tak mau membicarakan nya."
"owh ayolah tak apa"
"Um..... Aku ingin menjadi dosen"
"Serius? Itu hebat Cana" Edam ikut senang.
"Ehehe Terima kasih"
“Hm...Tunggu...Apa saat kau pertama kemari kau juga kesepian?” Edam menatap.
“. . . Em...Aku selalu sendirian mungkin aku sudah terbiasa dengan hal yang seperti ini”
“[Kenapa dia tenang menutupi semua kesedihan nya]...Hei Cana -berapa umurmu?” Tanya Edam. Lalu Nadia terdiam sebentar dan mengatakan umurnya. “Umurku...16 tahun”
“[Umurnya bahkan lebih muda 5 tahun dari aku]” Edam terkejut mendengarnya. “Oh-ngomong omong, apa keinginanmu jika ingin keluar nanti Cana?.”
“Eh-keinginanku...Em mungkin bukan sesuatu yang menarik.”
“Ayolah, beritahu saja aku.” Edam memaksa.
“Em-aku hanya ingin melihat pantai.” Kata Cana membuat Edam tercegang.
“Ibu kubilang dia pernah ke sana sekali dan pemandanganya sangat bagus. Aku juga ingin melihatnya tapi, mungkin nanti saja, itu hanya sebatas keinginan.” Cana menambah. Lalu Edam terdiam merasa kasihan.
Tiba tiba datang perempuan mendekat. “Cana...Ini bekal untukmu.” Dia memeberikan kotak makan siang pada Cana.
“Terima kasih ibu" Cana menerimanya.
“Ya-dan siapa ini.” Perempuan itu menatap ke edam.
“Salam kenal aku teman Cana” Edam tersenyum menyapa. Seketika perempuan itu terkejut melihat wajah Edam. “Se-sepertinya aku mengenalmu...Hah...Kau maksudku...Anda putra dari tuan besar. Maafkan ketidak sopanan ku.” Dia menundukan badan. Sementara Cana terkejut baru tahu.
“Ah-tak apa, aku juga tak bermaksud untuk memberitahu.” Kata Edam.
“Baiklah, aku pergi dulu...Permisi” Ibu Cana berjalan pergi.
“Huf..Itu hampir saja, aku akan dikeroyok nantinya.” Kata Edam, lalu dia menoleh ke Cana yang diam saja menundukan wajahnya.
“can--“
“Kenapa kau tidak memberitahuku?.” Cana menyela sambil menatap nya.
__ADS_1