
Paginya cana terbangun, ia melihat corvin tak ada di sampingnya.
“[Dimana dia, apa dia tidak membangunkanku]” Ia berjalan keluar ranjnag dan rupanya corvin memasak sarapan di dapur. Dia menoleh pada cana.
“Cana...Kau sudah bangun,, aku baru saja membuat sarapan untukmu”
“Kenapa kau tidak membangunkanku?”
“Aku tak tega melihatmu yang tertidur sangat pulas, kau tidur sangat imut”
"Apah....Berisik, ini semua juga salahmu kan”
“Tak apa cana, aku senang bisa membagi ranjang bersamamu”
“Cih...Kau terlalu aneh”
“Ngomong ngomong cana, aku tidak akan masuk hari ini, jadi aku tidk bisa pergi ke kampus menangantarmu” Kata corvin.
“Eh kenapa, apa ada sesuatu?”
“Yah begitulah, ayahku memanggilku soal perusahaanya”
“Perusahaan, apa kau akan meneruskan itu?”
“Yah...Aku akan meneruskanya di los angeles, setelah...Lulus nanti”
Mendengar itu cana menjadi terdiam, ia mengepal tangan.
“Cana, kenapa ku diam, apa kau baik baik saja?” Tatap corvin.
__ADS_1
“Aku baik baik saja, aku bisa makan nanti, aku akan pergi” Cana berjalan mengambil barangnya dan akan pergi.
“Cana...Tunggu, apa yang kau lakukan, kau harus sarapan terlebih dahulu” Corvin mendekat menahan lenganya.
“Aku tidak bisa, pergilah menemui ayahmu itu, aku akan terlambat jika diisni” Cana membalas dengan wajah yang dari tadi menunduk, lalu berjalan pergi setelah melepas tangan corvin. Corvin menjadi terdiam tak percaya. “[Apa yang baru saja kukatakan, apa aku membuatnya marah]”
Cana berjalan dengan kesal. “[Si bodoh itu, dia pikir dia bisa apa, mendekatiku hanya untuk perasaaan sementara, meneruskan perusahaan kalau begitu untuk apa dia kuliah di sana, lebih baik langsung pergi saja, aku tidak butuh dia sama sekali, semoga cepat pergi]”
Di tempatnya cana menatap kapur hitam yang di berikan corvin padanya saat itu. “[Jika di lihat lihat kapur ini sangat menawan dengan warna gelapnya]” Dia terdiam. Lalu melihat jam dinding dan menjadi terkejut. “Astaga...Aku akan terlambat” Ia menjadi buru buru menyiapkan dan berlari keluar untuk ke kampus.
Tapi di jalanya dia benar benar teringat kejadian tadi pagi. Ia menjadi lebih sadar dengan perlakuanya. “[Apa yang sebnarnya kulakukan tadi, aku benar benar tidak mengerti, apa aku terlalu menyakitinya, apa dia marah padaku]” Dia berhenti berjalan sambil melihat langit biru yang cerah.
Lalu ingat pada akpur hitam itu. “[. . . Aku...Kenapaa ku terpikirkan kapur itu, sebenarnya apa yang di maksud kapur hitam itu, kenapa dia memberikanya padaku, dia tidak bercanda kan. . .]” Ia terdiam.
Di kelas pun ia mendengar banyak siswa yang mengobrol dan membicarakan corvin.
“Kenapa corvin tidak datang, dia tak pernah bolos sebelumnya”
“Padahal dia selalu sennag apalagi terlihat bersama guru cana” Kata mereka. Meskipun mereka berbisik itu pun tetap terdengar cana yang sedang menulis di papan tulis, cana terdiam mendnegra itu tadi dengan wajah bersalahnya.
“[Ini benar benar aneh...aku terlalu menekan egoku, aku masih belum tahu apa yang terjadi...Corvin masuk ke kampus ini menjadi murid baru tapi dia sudah bisa menguasai semua yang di lakukan di sini, itu seperti dia sengaja masuk ke mari bukan untuk menjalani kehidupan kuliah, nilainya selalu baik dan tak ada yang meleset dari apapun. Terlihat suka mmebantu profesor lain tapi kenapa aku senidir yang berpikir bahwa dia bodoh, bukan karena si fatnya yang terlalu ke kanakan di depanku, aku menjadi berpikir dia mulai menggunakan sikap itu hanya untukkku]”
“[Aku juga berpikir dia menjadi sangat dewasa seperti bisa menggunakan mobil, memasak dan terlihat membaca buku dengan menawan saat aku tidak ada. Aku penasaran dengan siapa dia....Setiap kali aku mencari iodata diri dan keluarga miliknya. Tapi aku masih belum mengerti hanya dia yang bisa mengatakan itu padaku, tapi kenapa...kenapa ini sangat menggangguku...sangat]” Cana terdiam berhenti menulis dengan masih berdiri menekan kapurnya di papan tuliss.
Semua orang memandnaginya dengan bingung. Cana juga menekan bibirnya dan kapur yang masih menempel ujungnya di papan, dan seketika kapur itu patah membuat can terkejut. “[Aku....Harus bertanya padanya langsung]”
Cana menatap ponselnya yang ada di meja kantor miliknya. Ia ragu akan menghubungi corvan. Lalu menghela napas panjang dan mengambil ponselnya.
"(Aku bebar bebar sangat takut.... Apa yang harus kulakukan... Bagaimana jika dia marah padaku, aku benar benar menyesal menghindarinya tadi)" Ia menjatuhkan kepalanya di meja sambil memegangnya dengan tanganya sendiri. Ia setres hanya karena corvan tidak berangkat.
__ADS_1
"(Mungkin ini memang pilihan bagus, aku dan corvin sudah setuju menjalani hubungan selama 2 bulan, tapi setelah 2 bulan apa yang harus kulakukan, dia akan pergi meninggalkanku, corvan lelaki baik, tampan dan dia punya segalanya. Tapi aku takut saat dia nanti tak lagi mencintaiku secara serius.... Tapi kenapa aku memikirkan ini, aku juga tidak mencintainya dengan serius. Hanya sebatas mengajak saja.)" Dia memutuskan menghubungi corvan. Tapi corvan sama sekali tidak mengangkatnya membuatnya semakin khawatir.
"(Apa yang harus kulakukan, dia sudah pergi)" Cana kecewa dan mulai menangis.
Tapi tiba tiba pintu terbuka membuatnya terkejut dan menoleh. Dan rupanya itu corvin dengan napas yang cepat. "Profesor"
"Corvin.... Kau" Cana terkejut langsung berdiri.
"Huf... Maaf kan aku... Aku ikut rapat bersama ayahku jadi tak bisa mengangkat ponselmu, maaf kan aku yah" Kata cirvin dengan tatapan lembut. Seketika membuat Cana menangis.
"Jhah... Profesor.... Jangan menangis, aku benar benar minta maaf" Cirvan menjadi panik.
Tapi mendadak Cana berkari memeluknya. "Kenapaa ku sangat bodoh!" Teriak Cana membuat corvin terkaku dengan katanya.
"Aku seharusnya yang minta maaf telah meninggalkanmu, aku takut kau akan pergi corvin... Aku mohon... Cintai aku lagi" Cana mengatakannya dengan menangis di pelukan corvin.
Corvon menjadi terdiam lalu mengangkat kedua lenganya memeluk Cana.
"Tak apa Profesor, aku bisa mencintaimu setiap hari"
"Corvin.... Kenapa kau tidak memanggil namaku?'
"?.... Kau bilang kita adalah guru dan murid jadi mungkin tidak cocok jika aku memanggil namamu"
"Tak apa.... Aku mohon panggil dengan namaku" Cana mendekat laku corvin terdian dan tersenyum kecil. "Baiklah... Cana" Corvin membelai kepala Cana membuat Cana terdiam memerah.
"C... Corvin... Aku ingin... Cium... " Tatap Cana. Corvin kembali terdiam lalu tak lama kemudian mendekat dan mencium bibir Cana.
Masalah benar benar terselesaikan dengan suatu ciuman.
__ADS_1
"(Dekat dengan Corvin seperti ini memang sangat aneh untuk ku karena sebelumnya aku tak pernah merasakan hal ini, tapi mau bagaimana lagi... Aku mulai menikmati hal ini, sangat senang sampai aku ingin menunjukan nya pada semua orang, entah mereka akan percaya atau tidak)"