
KEDIAMAN GARANDRA, 19.20.
Ruangan itu tampak sangat sunyi, padahal ada banyak orang tengah berkumpul dan duduk di sofa ruang keluarga. Saat ini tengah berada di kediaman Garandra. Wisma Garandra beserta istrinya Lina Afitri Garandra sedang menatap anaknya beserta seorang wanita dengan pakaian yang bisa dibilang seksi dan terbuka itu tajam.
"Kamu itu sudah tua! Sudah punya anak juga, masih berani main gila dengan wanita tak tahu diri ini!!"
Wisma berkata dengan nada penuh amarah kepada anaknya yang tengah bersujud di hadapannya. Bisa-bisanya anak satu-satunya itu berbuat hal sememalukan ini.
"Pa, aku sangat kesepian! Diana tidak bisa memberiku keturunan dari rahimnya. Jadi, untuk apa aku mempertahankannya! Lebih baik aku mencari wanita lain, wanita yang lebih muda dan bisa memberiku keturunan." Ucap Darda Fernanda Garandra.
"Mas, kamu kok bisa bilang begitu sih? Apa Gavina tidak cukup untukmu mas?!" Diana menatap suaminya penuh emosi. Sudah ketahuan selingkuh malah menyalahkannya lagi. Enak saja.
"Aku mau anak laki-laki! Bukan perempuan yang tidak bisa apa-apa itu selain hanya bisa melahirkan anak, memangnya perempuan bisa apa?!"
"DIAM!!"
Lina berdiri dan menunjuk Darda dengan tatapan yang amat sangat marah. "Jika kau masih memandang aku sebagai ibumu, tarik kata-kata mu tadi." Sambungnya masih menatap tajam putranya itu.
Wisma memijit pangkal hidungnya. Diumur nya yang sudah tua ini dan sudah punya cucu yang sekarang sudah dewasa juga sudah berumur 27 tahun. Haruskah ia menerima kekacauan dan ulah putranya yang membuat ia sangat malu.
Bahkan dulu, Darda dan Diana menikah di usia yang terbilang masih muda. Masih masa-masa SMA. Penyebabnya jangan ditanya lagi, itu benar-benar membuat keluarga kaya itu malu dan sangat malu. Dan lahirlah anak tak diharapkan itu, Gavina Aleksa Garandra.
"Ma, tapi itu memang kenyataannya!"
"Darda!!"
Kini Wisma yang meneriakinya. "Usiamu itu bukan lagi anak remaja, kau tidak lihat anakmu yang sudah besar!" Sambungnya penuh emosi. Dosa apa yang telah ia perbuat sampai-sampai memiliki seorang putra yang tidak bisa diandalkan seperti itu.
"Hahaha."
Mereka yang ada di ruangan itu sontak menoleh melihat ke arah wanita yang baru saja tertawa itu.
"Apakah dramanya sudah selesai?" Sambung wanita itu dengan tersenyum menyerigai.
"Gavina, kenapa kau berbicara seperti itu?" Tanya Darda tak menyangka dengan anak perempuannya yang biasanya ia kenal sebagai wanita baik-baik dan lemah lembut serta penurut itu mendadak berubah menjadi orang lain.
"Aku? Memangnya apa yang kubicarakan?"
"Kau, kau tidak sopan Gavina!"
"Hahaha, lihatlah dirimu ayah, kau juga melakukan hal yang sama tadi." Ucap Gavina tajam tepat sasaran.
Darda terdiam ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Awas saja! Nanti akan ku kasih pelajaran ke anak kurang aja itu!
Ucap Darda di dalam hati. Ia tak mengubris Gavina, Darda kembali menatap sang ayah yang kini umur nya sudah sangat tua itu dengan tatapan memelas atas kesalahannya.
__ADS_1
"Pa, izinkan aku menikah dengan Claresa. Kami—kami berdua saling mencintai pa." Ucap Darda memohon sembari menangkupkan kedua tangannya.
"Darda, jangan keterlaluan kamu!" Wisma benar-benar tak menyangka ini akan terjadi dalam hidupnya. Malaikat kecil yang dulu selalu ia timang dan sayang bersama istrinya Lina menjadi seperti sekarang.
Lina mengelus punggung milik Wisma dengan sayang. Seakan menghantarkan sebuah kata-kata agar suaminya itu bersabar dalam menghadapi anaknya.
"Menikah kamu bilang mas?! Terus aku mau kamu kemanakan, heh?!" Kini Diana yang ikut bersuara. Air matanya pun mulai jatuh perlahan. Tapi itu air mata palsu.
Lagian dia tidak pernah mencintai Darda, bahkan Diana juga mempunyai selingkuhan. Dia hanya ingin meneruskan drama ini, berpura-pura bahwa ia yang tersakiti.
Gavina hanya diam menyaksikan pertengkaran itu. Dia sudah terbiasa dengan itu, buat apa pula ia harus terkejut. Sebentar lagi, kalian akan terusir keluar dari kediaman Garandra ini, hehe. Ucap Gavina dalam hati, ia menyerigai penuh kelicikan.
"Diam kamu! Kamu pikir aku tidak tahu, kamu juga berselingkuh dari aku." Darda membalas ucapan Diana, mendadak Diana menjadi gelagapan. Bagaimana Darda bisa mengetahuinya? Namun tak lama ia kembali tenang.
Dengan air mata yang bertambah deras, sederas air hujan yang berjatuhan ke bumi. Diana mengerakkan kedua sisi bibirnya. "Mas, sejak kapan aku mengkhianati kamu? Meskipun kamu tidak mencintaiku, tapi aku tidak pernah berpikir untuk selingkuh dari kamu. Aku setia sama kamu mas, hiks hiks..." Diana menangis tersedu-sedu.
"Kamu pikir dengan kamu menangis seperti itu, orang-orang akan mengasihanimu? Jangan bermimpi kamu," ucap Darda menatap istrinya itu jijik. Darda mengeluarkan beberapa lembar foto dan melemparkannya ke Diana. "Kamu lihat sendiri, apa yang sudah kamu lakukan?" Sambungnya.
Diana mengambil foto-foto yang berserakan di lantai itu dengan tangan gemetar. "Bu-bukan, bukan begini..." Mulutnya mendadak keluh.
Itu fotonya bersama selingkuhannya beberapa hari yang lalu. Diana menutup mulutnya menggunakan tangannya, ia terkejut ketika melihat salah satu foto yang menampilkan dirinya tidak mengenakan sehelai benangpun tengah menindih sang kekasih simpanannya.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa seseorang memotret bagian ini?! Diana membantin penuh pertanyaan, siapa yang sudah menguntitnya sampai sejauh itu.
"Pa, percaya sama aku, i-itu bukan aku. Mah, percaya ya sama aku..." Diana menangis sambil bersujud memegang kedua tangan Lina mertuanya. Namun, Lina hanya diam. Entah apa yang salah ia tidak tahu, dan ia benar-benar tidak sanggup menghadapi kenyataan tentang anak dan menantunya.
"Sabar sayang, mungkin mbak Diana hanya tertekan karena kamu jarang memberinya kasih sayang," Kini Claresa ikut berbicara, wanita itu mengelus punggung Darda dengan lembut namun tatapannya ia jatuhkan pada Diana dan ia tersenyum singkat.
"Diam kamu wanita jalang! Harusnya kamu tuh sadar diri, dasar *****or tak tahu malu!!" Diana marah.
"Heh, kamu yang seharusnya diam, sudah selingkuh masih saja menyalahkan orang lain!" Ucap Darda emosi tak terima jika kekasih gelapnya dihina.
Diana terkekeh singkat, "sadar diri mas, kamu juga selingkuh." Ucapnya membuat Darda mengeram tertahan.
"Diam kalian semua!"
Itu suara Wisma, ia terlalu marah dan lelah untuk mengatasi masalah ini.
"Jika hari ini Gavina tidak membongkar semua kebusukan kalian, Papa masih mengira jika rumah tangga kalian itu baik-baik saja," ucap Wisma sembari menatap cucu satu-satunya itu dan kembali menatap ketiga orang yang tengah berlutut di hadapannya dengan tajam.
"Mulai hari ini semua aset serta perusahaan yang telah Papa berikan ke kamu akan Papa tarik kembali." Sambung Wisma yang membuat Darda merosot lemah, bak disambar petir ia sungguh sangat tak menyangka jika Papanya mengambil keputusan itu.
"Pa, kenapa papa melakukan itu?" Darda bertanya lemah, ia beringsut memegang tangan papanya. "Pa, apa salah aku pa?" Kembali Darda bertanya, membuat Wisma menggeleng tidak menyangka, bahkan saat begini pun anaknya belum menyadari apa salahnya.
"Pah, Mah, a-aku jangan diusir ya. Aku tidak mau hidup susah Pah, Mah...hiks hiks..." Diana juga ikut memegang kembali tangan Lina. Lina terdiam ia menangis menyaksikan hal ini. Tapi, apapun keputusan suaminya ia akan selalu mendukungnya. Perlahan Lina melepaskan Diana, Lina hanya menggeleng mengatakan bahwa ia juga tidak mampu berbuat banyak.
Claresa mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak mau hidup susah bersama Darda. Lagi pula dia mendekati Darda karena dia kaya. Di umurnya yang masih 21 tahun terlalu disayangkan untuk disuguhkan bersama om-om bangkotan tua miskin seperti itu.
__ADS_1
Cih, mas Darda sudah jatuh miskin, lebih baik setelah ini aku tinggalkan saja dia. Batin Claresa tersenyum miring.
"Pah, jangan lakuin ini ya pah?!" Mohon Darda ia tidak bisa membayangkan kehidupannya nanti.
Namun Wisma perlahan melepas tangan anaknya itu. Mungkin ini keputusan yang paling baik, agar anak nya nanti bisa berubah. Wisma juga menyalahkan dirinya sendiri, sedari kecil ia terlalu memanjakan anak semata wayang mereka membuat anaknya itu tidak bisa membedakan mana benar dan salah. Bahkan hingga sekarang.
"Rey!" Panggil Wisma kepada bawahannya yang sedari tadi berdiri di sampingnya."Usir mereka bertiga keluar." Perintah Wisma tegas.
Rey bersama anak buahnya pun dengan sigap menuruti perintah sang majikan. Ia memerintahkan anak buahnya untuk menyeret paksa ketiga orang itu.
Darda berteriak memanggil Wisma, begitu pun Diana yang juga berteriak memanggil kedua mertuanya. Sedangkan Claresa hanya diam mengikuti pengawal dengan tenang.
Wisma pun mengajak Lina menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ia menahan tangisnya melepas anaknya pergi. Sebenarnya ia juga tak tega, tapi tak ada cara lain, ia harus melakukannya. Lina tetap mengelus sang suami dengan sabar, ia sudah terisak sejak tadi.
Sedangkan Gavina mengikuti ketiga orang yang diseret paksa itu sampai ke depan gerbang.
"Dasar anak kurang aja! Awas saja kamu, akan kubalas perbuatanmu!!" Ancam Darda menatap penuh emosi pada Gavina.
Gavina membalasnya dengan tersenyum miring. "Akan aku tunggu Ayah tercintaku," ucap Gavina tenang.
"Gavina, pasti kamu kan yang menguntitku?!" Diana menatap nyalang anaknya itu.
"Hahaha, ternyata ibuku sangat cerdas," Gavina tertawa renyah tapi itu menyeramkan."Benar, benar sekali ibuku tersayang." Sambungnya tersenyum amat sangat manis.
"Awas kamu! Aku akan membalas semua penghinaan ini!"
"Aku akan selalu menunggunya ibu." Ucap Gavina sedikit berbisik.
Lalu Gavina menatap Claresa yang juga tengah menatapnya dengan senyuman penuh arti. Tentu saja Gavina juga membalasnya dengan tersenyum miring.
"Pengawal! Tendang mereka keluar sekarang!" Senyuman manis yang terhias tadi seketika berubah menjadi datar dan serius.
"Selamat jalan, orang tua ku yang paling baik hati, hahaha!" Tawa Gavina amat sangat mengerikan seakan tersimpan kebencian yang tak berkesudahan. Membuat para pengawal merinding mendengarnya.
Setelah pintu gerbang kediaman Garandra tertutup. Gavina pun menelepon seseorang.
"Kamu urus mereka bertiga. Bawah mereka ke ruang bawah tanah. Tunggu aku sampai ke kediaman nanti."
Setelah itu ia memutuskan sambungan telepon itu. Wanita dengan kecantikan yang luar biasa namum berbahaya itu menyerigai dengan apa yang akan ia lakukan nanti.
"Yang tadi cuma permulaaan." Ucap Gavina setengah berbisik penuh kekejaman.
......- BERSAMBUNG -......
Wah Gavina kejam ternyata yaah, hehehe... bagi yang suka sama ceritanya silakan klik fav dan jangan lupa kasih like nya biar author semangat duoong 🤣🤣...
Nantikan update selanjutnya.....
__ADS_1