
KARTINI MALL, 10.30
Pagi menjelang siang kali ini Gavina pergi bersama sahabat baiknya ke pusat perbelanjaan. Pagi-pagi sekali Miska meneleponnya ingin ditemani berbelanja. Dan Gavina yang kebetulan tidak terlalu sibuk mengiyakan ajakan Miska tersebut. Dan kini sampailah mereka berdua di tempat yang sudah ramai pengunjung.
"Vin, ini bagus ngak sih buat aku?" Tanya Miska antusias tatkala ia mencocokkan baju terusan sampai lutut berwarna gray dan menunjukkannya kepada Gavina.
Gavina mengamati, ia menggeleng tanda tak setuju. "Aku lebih suka yang warna ini deh Mis," ucap Gavina menunjuk baju terusan yang berwarna ungu violet. Dan hal itu membuat sang sahabat mencebik. "Vin, aku tuh belum janda tauk!" Kesalnya pada Gavina.
Gavina terkekeh mendengar hal itu. "Yaudah deh, kali ini aku serius. Bagaimana dengan yang ini?" Tunjuk Gavina pada baju terusan yang berwarna navy karena bagi Gavina warna ini sangat cocok untuk Miska. Miska tersenyum puas ia sangat menyukai pilihan sahabatnya itu.
"Lah, terus kamu gimana? Tidak pilih-pilih juga gitu?" Tanya Miska, menurutnya sejak tadi Gavina belum membeli apa pun, ia hanya mengekori Miska tanpa memilih apa pun. "Baju aku masih banyak di rumah, hehehe..." Jawab Gavina membuat Miska mencebik.
"Dih, sombong sekali!" Ketus Miska bermaksud bercanda. Ia mana sampai hati marah pada Gavina.
Mereka pun melanjutkan acara pilih memilih itu dengan perasaan gembira. Ketika sampai pada stand aneka jam tangan, mulai dari yang limited edition hingga ke yang biasa dan pasaran. Gavina berhenti sejenak, terpikir di benaknya bagaimana jika ia membeli jam tangan untuk di hadiahkan kepada Devan. Tapi hal itu ia tepis, buat apa pula ia perhatian kepada laki-laki yang sudah menyakitinya.
Pada akhirnya Gavina tidak membeli apa pun dari sana. Mereka akhirnya pergi ke kasir untuk membayar belanjaan. Ketika mereka sudah sampai di lantai satu dan hendak menuju lobi utama supermall Miska mendadak merasa ada yang tak beres. Ia melihat ke sekelilingnya, dan matanya membulat sempurna tatkala ada seorang pria tua sedang mengarahkan pistol kepada sahabatnya, Gavina.
"GAVINA!!" Teriak Miska keras. Membuat Gavina terkejut lantas menoleh menatap sahabatnya itu.
Dor!
Tumbanglah tubuh cantik seorang wanita itu. Ia meringis merasakan rasa sakit yang baru saja ia terima tepat di bagian bahunya. Darah segar mulai merebes ke baju dan mengenangi lantai. Para pengunjung yang melihat kejadian itu berteriak histeris dan berlarian menyembunyikan diri, ada pula yang cepat-cepat datang membantu. Para pengawal Gavina yang mengawasi diam-diam Gavina dan Miska telah lalai dalam tugas mereka. Penyamaran pria tua tadi sungguh sudah sangat menipu mereka.
...***...
KEDIAMAN LAIN GAVINA, 11.12
Di dalam kamar bernuansa hitam dan abu-abu, terduduk gelisah seorang pemuda. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan, gelisah. Ada seseorang yang tengah ia pikirkan. Devan berdiri sembari menatap pintu kamarnya yang terkunci dari luar. Dia tidak mungkin bisa melarikan diri melalui itu. Devan harus menemui seseorang dan memastikan bahwa orang itu baik-baik saja.
"Semoga dia baik-baik saja." Gumam Devan merasa cemas sekaligus khawatir.
Devan berjalan kearah jendela, ia melihat ke bawah dan ternyata ketinggiannya lumayan. Tapi di bawah sana sudah berjaga dua orang pengawal yang tampak mondar-mandir memperhatikan jendela kamarnya. Devan kembali menutup korden yang terbuka itu. Ia menyugar rambutnya frustrasi, harus bagaimana agar ia bisa melarikan diri dan menemui seseorang yang berarti bagi hidupnya.
Kini dengan terpaksa Devan kembali mendekati pintu kamar. Ia mengetuk pintu tersebut kuat. Tak lama muncullah dua orang pengawal berbadan tegap membukakan pintu. Pengawal itu bertanya 'Ada apa?' Kepada Devan. Devan menyuruh pengawal itu mendekatkan telinganya.
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Satu bogeman mentah mendarat di pelipis pengawal itu di susul dengan pukulan di tengkuknya sebanyak dua kali membuat pengawal berbadan tegap itu tumbang. Devan melirik satu pengawalnya lagi ia pun langsung melancarkan aksinya hingga membuat pengawal itu juga tumbang.
Devan memang pandai berkelahi, hal itu ia dapatkan dari ajaran kakeknya terdahulu. Sebelum kakeknya tiada, mengingat itu Devan sedikit menghembuskan napasnya. Ia pun mencoba menuruni anak tangga menuju lantai satu, namun lagi-lagi pengawal berpakaian hitam kembali menghadangnya. Kali ini sekitar tiga orang.
"Jangan kabur, kamu!"
Salah satu berteriak ke arah Devan. Mereka mulai mengitari Devan, sedangkan Devan sendiri sudah siap siaga memasang posisi waspada.
"Hiiaat!"
"Ha!"
Bugh!
"Uhuk!"
Salah satu pengawal terbatuk ketika pukulan Devan berhasil mengenai ulu hatinya. Devan menangkis serangan dari pengawal yang ada disebelahnya, dan memberi serangan berupa pukulan bawah mengenai perut si pengawal. Menoleh ke belakangannya dengan cepat Devan mengelak ketika pukulan hampir saja mendarat mengenai bahunya.
Pengawal itu masih meluncurkan serangan gesitnya. Mulai dari pukulan atas, bawah, bandul, dan menyerang menggunakan kaki. Tapi tetap saja, Devan mampu menahan dan mengelak dari serangan itu. Devan menahan dan menarik satu pergelangan tangan pengawal itu, ia memelintirnya ke belakang. Tak lupa Devan menendang kaki pengawal itu sehingga membuat pengawal itu berlutut. Dan serangan terakhir Devan menggunakan siku-siku yang ditekuk lalu menghantamnya ke bahu pengawal itu membuatnya tak sadarkan diri lagi.
Ketika melihat Devan yang hendak menuruni anak tangga. Tiga orang pengawal menghadangnya segera di anak tangga itu. Terjadilah perkelahian disana. Tentu saja Devan berhasil mengalahkan anak buah itu.
"Aku harus keluar dari sini!" Gumam Devan cepat-cepat mendaratkan kakinya dilantai satu dan kembali memulai perkelahian dengan lima orang pengawal.
"Aaarrghh!"
Teriak salah satu pengawal kesakitan saat Devan berhasil memukul ulu hatinya dan menendang kakinya hingga terasa sangat sakit. Devan belum menyerah meski kini badannya sudah terasa tidak sanggup lagi. Apa pun yang terjadi dia harus bisa kabur. Dia harus memastikan seseorang terlebih dahulu. Seseorang yang kini terbaring lemah di rumah sakit.
Devan berhasil mencapai pintu utama setelah mengalahkan lima orang pengawal tadi. Namun pintu itu terkunci rapat ia berusaha mendobraknya dan belum berhasil juga. Devan menoleh ke belakang, dilihatnya sudah ada belasan pengawal dan ada juga Sima yang datang ketika mereka mendengar ada suara keributan. Han sendiri, sedang mengawasi Nona nya bersama temannya Miska.
"Kamu sebaiknya menyerah saja. Nona kami akan sangat marah jika kamu sampai kabur dari sini!" Tegas Sima menatap tajam Devan yang kini menatapnya berang.
"Aku ingin pergi!" Balas Devan dengan sengit.
"Ck, kami hanya tidak ingin kau terluka. Jika sampai kau terluka, Nona kami akan menghukum kami. Berkerjasama lah dengan kami." Kini Sima kembali berbicara. Asisten cantik itu tersenyum simpul kepada Devan yang menggeleng pertanda ia tak akan menyerah. Ia pun mengisyaratkan agar para bawahannya mengepung Devan.
Devan memasang sikap siaga ketika belasan pengawal itu maju bersama-sama untuk menyerangnya. Kembali perkelahian itu terjadi.
__ADS_1
Syuut!
Devan mendadak terhenti dari perkelahiannya. Ia menoleh menatap Sima yang memasang senyum kemenangan. Perlahan tangan Devan terangkat menyentuh tengkuknya, disana sudah tertancap sebuah jarum kecil. Jarum yang sama, saat digunakan Sima ketika meringkusnya saat itu. Perlahan pandangan Devan kabur dan tubuhnya tumbang seketika. Itu jarum bius!
"Tahan dia di tempat semula, bila perlu borgol kedua tangannya!" Perintah Sima tegas kepada para bawahannya itu.
"Baik! Akan kami lakukan." Jawab mereka serempak.
...***...
PERUSAHAAN PANDERAKA GRUP, 12.13
"Bagaimana dengan yang sudah saya perintahkan, Ferik?"
Seorang pria berusia 35 tahun tengah bertanya kepada pengawal kepercayaannya. Pengawal bernama Ferik itu menunduk hormat sebelum mulai berbicara.
"Menurut informasi mata-mata yang sudah saya kirimkan, katanya pria tua itu sudah berhasil menghabisi target." Jawab Ferik yakin.
Pria itu mangut-mangut puas dengan kinerja bawahannya. "Kamu kirimkan sejumlah uang untuk pria tua itu." Perintahnya kepada Ferik dengan wajah tersenyum senang.
"Baik, tuan." Ferik pun melangkah mundur dan segera menghilang di balik pintu untuk melaksanakan tugasnya.
Pria itu menoleh menatap ke arah sofa, disana tengah duduk santai seorang wanita cantik dengan gaya yang sangat sensual. Wanita itu tersenyum puas menatap pria yang juga menatapnya itu.
"Bagaimana sayang? Apakah kamu suka?"
Tanya pria itu kepada sang kekasih yang baru beberapa hari ia kenal itu dengan lembut. "Tentu saja aku sangat puas!" Ucapnya sembari berdiri dan menghampiri prianya. "Aku bahkan tidak menyangka, jika Gavina bisa secepat itu mati. Hahaha..." Sambungnya perlahan dan mendudukan dirinya di pangkuan pria berusia 35 tahun itu.
"Makasih ya sayang. Aku sayang banget deh sama kamu." Wanita itu kini mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu, ia menatap sensual pria yang kini menatapnya dengan kabut gairah.
Dengan cepat pria itu menyambar bibir seksi kekasihnya dengan lahap. Semenit kemudian ia melepaskannya, ditatap nya sang kekasih. "Apa pun untukmu sayang." Kembali ia hendak menyambar bibir seksi itu rakus namun dihentikan dengan jari telunjuk kekasihnya.
"Ssssttt...Pelan-pelan sayang." Ucap wanita cantik itu sembari mengedipkan matanya. Tak lupa ia juga mengigit jari telunjuknya sendiri dengan sensual. Pria itu mengeram menatap tingkah genit kekasihnya. Kembali ia melakukan aksinya. Membuat wanitanya tertawa kegelian.
...- Bersambung -...
Siapa ya mereka? Hehehe...
Nantikan Update Selanjutnya....
__ADS_1