GAVINA

GAVINA
Episode 2


__ADS_3

MANDALIKA CAFFE, 09.35


Suasana yang begitu tenang menyelimuti isi caffe. Pasalnya sangat sedikit orang yang duduk hanya sekedar meminum ataupun memakan cemilan kesukaan. Dikarenakan hari yang masih pagi. Gavina menatap jejeran bunga yang berbaris rapi melalui jendela kaca yang transparan. Ia merenung memikirkan kembali kejadian-kejadian yang dia alami. Tentang dirinya yang sangat kejam pada orang tuanya. Yah, mau bagaimana lagi, jika ia menggunakan perasaan maka ia akan terus tersakiti.


"Woi! Kamu ngelamun apaan sih Vin?"


Itu suara sahabatnya, Miska Dindanaya Ferkardja, cewek cantik berpenampilan feminim yang kini sudah berusia 27 tahun sama dengan dirinya. Bedanya Miska sudah dua tahun yang lalu menikah dengan orang yang dicintainya. Dan memiliki seorang putri yang cantik juga.


Gavina menghembuskan napasnya pelan, "Biasa mikir hidupku yang kelamaan jomblo ini, hehehe..." Ucapnya membuat sang sahabat mengerucutkan bibirnya. Gavina tak ingin membahas masalah ia yang sudah mengurung orang tuanya pada Miska, bisa-bisa ia diceramahi dari pagi sampe subuh besok.


"Makanya, waktu kuliah kamu sih ngak mau pacaran! Sekarang apa? Udah kek perawan tua tauk, ngak laku." Ucap Miska tepat sasaran pada Gavina.


"Kamu kan tau sendiri, aku trauma masalah begituan." Balas Gavina menunduk mengingat dirinya pernah sangat mencintai seseorang, tapi ternyata dirinya telah ditipu mentah-mentah oleh laki-laki itu.


Miska merasa tak enak hati, ia lantas mengenggam tangan Gavina menyalurkan kehangatan yang ia punya pada sahabatnya agar dirinya tenang. "Sabar Vin, mungkin belum berjodoh saja denganmu. Nanti, pasti Tuhan mengantikannya dengan yang terbaik ya." Ucap Miska menyakinkan Gavina.


Gavina menatap sahabatnya, "Makasih Mis, selalu ada buat aku." Ucap Gavina tersenyum pada Miska. Satu hal yang Gavina tahu, sahabatnya sangat baik. Sangking baiknya ia tak ingin membagi penderitaan yang ia punya kepada Miska. Ia menyembunyikan tentang dirinya yang sudah lama terjun ke jurang yang salah. Jika tidak, sang sahabat pasti akan mencegah dirinya.


Miska mengangguk, ia melepas genggaman tangan dan beralih meminum Jus Avocado yang telah ia pesan. Ia tersenyum menatap Gavina.


Drrrrtttt


Drrrrtttt...


Benda pipih yang ada di atas meja bergetar, dan itu milik Gavina. Gavina melirik panggilan tersebut. Tertera nama Han di layar panggilan. Segera saja ia mengangkat telepon itu.


"Baik, aku akan segera kesana nanti."


Gavina mematikan panggilan itu. "Dari siapa, Vin?" Miska bertanya karena penasaran saja. Gavina menjawabnya terlalu cepat dan itu cuma sekali jawab saja.


"Ah, dari karyawan kantorku. Bentar lagi aku ada urusan, kamu ngak apa-apakan aku tinggal?"


Miska cemberut, "yah, padahal aku mau ngenalin kamu sama seseorang," ucap Ibu beranak satu itu kesal.


Gavina terkekeh, "Udah, besok-besokan masih bisa." Balas Gavina segera memasukkan handphone nya ke dalam tas. Dan ia berdiri lalu meminum sebentar minuman yang telah di pesannya. "Bayarin yah, hehehe..." Gavina lantas langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan Miska yang semakin cemberut dibuat tingkahnya.


"Iiih, Gavina! Dasar nih orang dari dulu minta dibayarin mulu." Ucap Miska kesal, tapi meski begitu ia tetap menyanyangi sahabatnya itu.


...***...


KEDIAMAN GARANDRA, 11.04


Gavina memasuki kediaman utama Garandra. Baru saja ia hendak pergi ke kediaman lainnya. Tapi malah mendapat telepon dari Omanya. Ia pun terpaksa memutar balik mobilnya, menunda keinginan untuk memilih kandidat yang bagus untuk dijadikan suami sementara atau pura-pura? Agar Kakek dan Omanya tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya yang sudah lama menyendiri.


"Oma..." Panggil Gavina saat sudah mencapai ruang keluarga dimana dia melihat Lina sedang duduk sendirian sambil menikmati tontonan televisi yang menampilkan berita.


"Eh, cucu Oma sudah datang." Lina menyambut kedatangan Gavina dengan senang ia pun langsung mematikan televisi yang menyala itu. Gavina tersenyum singkat dan langsung duduk bersebelahan dengan Omanya. "Ada apa Oma? Udah kangen ya sama Gavina? Kan baru sehari Gavina pergi." Ucap Gavina.


Oma nya tersenyum dan mengelus puncak kepala Gavina dengan sayang. "Oma mau bicara sama kamu," ucap Lina melepaskan elusan itu dan menatap Gavina lekat.

__ADS_1


"Apa itu, Oma?"


"Kapan kamu mau membawa calon suamimu kesini? Perkenalkan sama Kakek dan Oma ya." Ucap Lina membuat Gavina terdiam sejenak.


Duh Oma, tadi baru aja aku mau jemput calon suami tapi malah dicegat sama Oma.


Batin Gavina, dan ia tersenyum paksa menatap Omanya itu. "Nanti ya Oma, kapan-kapan aku kenalkan dia sama Kakek dan Oma," balas Gavina menyakinkan. Soalnya baru direkrut Oma. Ucap Gavina dalam hati, ia terkekeh sendiri. Memilih suami harus seperti itukah?


"Jangan lama-lama! Oma udah ngak sabar pengin lihat cucu Oma menikah dan punya cicit yang lucu dan mengemaskan," ucap Lina membuat Gavina meringis menahan tawanya.


"Hahaha, Oma bisa aja deh. Masa udah mau nimang cicit aja sih..." Akhirnya ia pun melepas tawa itu juga. Lina cemberut kesal menatap cucunya yang masih asik menertawai keinginan nya itu.


"Iya, iya. Nanti Gavina kasih cicit cucut ke Oma yang banyak ya." Ucap Gavina berusaha menyembunyikan tawanya.


"Inget ya! Awas kalau enggak Oma tidak mau ketemu sama Gavina lagi." Ancam Lina membuat Gavina menggeleng tak menyangka. Omanya ini jika sedang marah persis seperti anak kecil. Maklum, umurnya sudah tua.


"Iya, Oma. Gavina janji."


...***...


KEDIAMAN LAIN GAVINA, 13.45


Setelah selesai dari kediaman Garandra dan berbicara cukup lama untuk membujuk Oma nya, dan sempat diajak makan pula. Barulah Gavina bisa melanjutkan pergi ke kediaman lain yang ia punya. Kediaman yang dia khususkan untuk menahan tahanan dan melakukan hal-ha kejam lainnya.


Ia pun melangkah anggun memasuki pintu utama dan disambut oleh Han dan Sima serta pengawal dan beberapa pelayan di sana. Mereka semua menunduk hormat menyambut kedatangan sang Nona.


Gavina sedikit terperangah. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ruang bawah tanah. "Lima? Itu terlalu banyak Han, saya cuma butuh satu." Ucap Gavina datar.


Han kembali bersuara, "Saya takut Nona tidak puas jika saya memilih satu, maka dari itu saya menyediakan lima kandidat untuk Nona pilih." Balas Han membuat Gavina tersenyum miring. Asistennya ini begitu memahami dirinya ternyata.


Mereka pun sampai diruangan tersebut. Sudah ada lima pria yang terikat dan berlutut dengan wajah yang ditutupi kain hitam semua. Ada dari mereka yang bergerak mencoba melepaskan diri namun di tendang oleh pengawal yang mengawasi mereka.


Gavina menatap Han yang menunduk hormat, "Kenapa wajah mereka kamu tutup semua?" tanyanya membuat Han mengangkat kepala menatap lima pemuda naas yang mereka tangkap hanya karena wajah mereka yang kelewat rupawan.


"Eee, saya hanya ingin memberikan kejutan pada nona." Jawab Han sambil tersenyum singkat dalam tunduknya itu.


Gavina tersenyum puas. "Baiklah gaji kamu akan saya naikkan." Ucapnya membuat Han menatap Gavina dengan raut semringah, ia pun mengucapkan terimakasih berulang kali.


Gavina melirik Sima disebelah Han, "Sima, kamu buka yang nomer satu itu. Saya penasaran seperti apa wajah mereka semua." Sima pun mengangguk dan melepas perlahan kain penutup kepala itu. Muncul lah wajah pemuda yang begitu tampan.


Penasaran, Gavina melangkah pelan, tak lupa ia membawa pisau lipat yang ia ambil baru saja di atas nakas sebelah sofa tempat duduknya. Ia memainkan pisau itu dengan wajah yang menyeramkan dan seringaian yang tiada cantiknya.


"Ma-mau apa, kamu?" Pemuda itu bertanya gemetar, air mata dari pelupuk matanya sudah mengalir deras.


"Lah, kok nangis sih. Aku kan belum ngapa-ngapain kamu." Ucap Gavina menempelkan pisau lipat itu pada rahang sang pemuda membuat nya memejamkan mata ketakutan.


"Han," panggil Gavina. Han menghampiri nya dengan tergesa-gesa. "Suruh pengawalmu buang pemuda cengeng ini ke tempat asalnya." Ucapan itu membuat Han meneguk saliva dalam. Ia pun mengintruksikan pengawal disekitar untuk membawa pemuda itu keluar dari kediaman tanpa diketahui pemuda itu sendiri jalannya menuju kediaman ini.


"Yang kedua, Sima." Perintah Gavina, dengan segera Sima menurutinya.

__ADS_1


Setelah penutup kepala itu terbuka, Gavina langsung mengarahkan pisau nya ke mata si pemuda. Membuatnya melotot ketakutan.


"Eeuuu, bau apa ini, Han?" Gavina menutup hidungnya ia pun melirik kebawah mendapati genangan air berwarna kekuningan tengah mengambang di lantai, dan itu berasal dari si pemuda yang kini mengigil ketakutan.


"Bereskan dia!" Gavina marah, ia pun menjauhi pemuda itu. Ia tampak kesal sekali. Memilih calon suami haruskah sesulit ini?


Han pun kembali memerintahkan pengawal yang lain untuk menendang pemuda yang berlabel kedua itu keluar kediaman. Han juga takut gajinya yang baru saja dinaikan malah akan dipotong, cuma gara-gara pekerjaan nya yang kurang becus.


"Han, gaji kamu saya potong boleh,kan?"


Deg


Pertanyaan itu memang terdengar datar tanpa amarah. Tapi rasa intimidasinya sangat terasa. "Bo-boleh, nona." Terpaksa ia mengatakan itu. Jika tidak entah apa yang akan dilakukan nonanya.


"Yang ketiga." Gavina mulai bosan sendiri. Jadi ia lebih memilih duduk di sofa saja. Sima membuka penutup kepala pemuda itu.


Gavina mengeryit, menatap pemuda yang balik menatapnya dengan berani. Hem cukup menarik. Batin nya tersenyum singkat. Tak berlama-lama Gavina kembali memerintahkan Sima untuk membuka penutup kepala yang ke empat. Dan dilihat Gavina lamat-lamat.


"Hehehe..." Pemuda itu malah terkekeh menatap Gavina. Tak sampai disitu saja pemuda itu bahkan semakin tertawa terbahak-bahak melihat sekelilingnya. Gavina mengeram kesal ja memijit pangkal hidungnya yang mendadak pusing mendengar tawa yang tak mengenakkan itu.


Dasar gila.


Batin Gavina kesal. Ia melirik Han yang semakin menunduk takut. "Han! Kamu lempar orang gila ini ke lautan sana!" Tegas Gavina membuat sang asisten buru-buru memerintahkan pengawalnya menarik paksa pemuda yang masih tertawa terbahak-bahak itu paksa.


Han ini bagaimana, masa mencari orang pada ngak benar semua. Wajah nya memang tampan, tapi tingkahnya ngak waras!


Batin Gavina melirik satu-satunya pemuda yang belum ia ketahui bagaimana wajahnya. Ia menghela napas kesal, bahkan sudah tak berminat untuk melanjutkan acara mencari kandidat suami pilihannya.


Ia mengibaskan tangannya, "Sudah, kamu buang saja yang itu." Tunjuk Gavina menggunakan dagunya pada pemuda yang masih tertutup kepalanya.


"Nona, ini satu-satunya pemuda yang saya temukan. Saya harap nona mau memeriksanya." Itu suara Sima, asisten wanita Gavina itu membuka penutup kepala yang menutupi sang pemuda.


Gavina yang kesal lantas terpaksa menoleh menatap pilihan Sima. Ia menyipitkan matanya melihat pemuda yang masih memejamkan mata dan tertunduk itu lamat-lamat. Gavina berdiri menghampiri pemuda itu agar lebih jelas melihatnya. Diangkat nya kasar rahang pemuda itu agar lebih jelas ia melihat.


Gavina mendelik, matanya melotot menatap wajah itu. Wajah yang masih terlelap entah apa yang dilakukan Sima hingga pemuda itu belum sadar juga. Raut sedih pun tergambar jelas di wajah cantik Gavina. Gavina melamun sebentar mengingat kejadian dua tahun yang lalu.


Namun itu tak berlangsung lama. Ia pun menyerigai telah menyusun sebuah rencana, wajahnya kini berhias senyuman yang terlihat menyeramkan.


"Sima, kamu buang saja yang ke tiga itu. Aku pilih yang ini." Dengan wajah senang Sima menyanggupi suruhan Nonanya. Ia senang, nona memilih pilihan yang ia bawa. Gajinya bisa-bisa dinaikkan.


Gavina mendekatkan wajahnya pada pemuda itu, "Devan, sudah lama yah. Kita tidak bertemu, hehehe..." kekeh Gavina membuat seisi ruangan ikut meremang mendengarnya. Entah apa lagi yang akan dilakukan majikan kejamnya itu.


...- Bersambung -...


Waah waah... Gavina mau ngapain Devan ya kira-kira, hehehe :v


Penasaran kagak?


Nantikan update selanjutnya....

__ADS_1


__ADS_2