
KEDIAMAN LAIN GAVINA, RUANG BAWAH TANAH, 14.25
Ruangan besar bernuansa temaran dan lampu kekuning-kuningan itu tetap saja masih terlihat mencekam. Gavina duduk tenang di sofanya sembari memainkan sebuah pisau lipat di tangannya. Mata tajamnya tak ia lepaskan dari pemuda yang bernama Devan Agiswara Hanurta itu.
"Sima, bagaimana kamu bisa menemukan orang ini?" tanya Gavina datar, Sima mendekat agar lebih memperjelas perkataannya nanti.
"Saya dan Han datang ke club dan tidak sengaja tertarik dengan pemuda ini Nona. Saat itu, kami melihat dia sedang bermesraan dengan seorang wanita dewasa. Saat dia mabuk dan pulang sendirian kamu meringkusnya dan dibawa kemari." Ucap Sima menjelaskan dengan nada pelan dan sopan.
Gavina terkekeh singkat, "Ternyata kamu masih sama yah, seperti dulu," ucap Gavina menatap nyalang pada Devan. "Kamu bangunkan dia!" Sambung Gavina dengan nada agak meninggi.
"B-baik Nona." Asisten wanita itu segera melaksanakan perintah majikannya. Sama seperti yang kemarin ia lakukan menyiram sang korban dengan seember air dingin yang sudah dilarutkan dengan garam. Dingin dan pedih, sensasi yang entah bagaimana tidak bisa dijelaskan. Bahkan jika sudah kering pun akan terasa lengket.
Gavina berdiri dan berjalan mendekati Devan tak lupa pisau lipat yang dimainkan diletakkan kembali pada tempatnya. Ia sangat menanti saat kelopak mata itu perlahan terbuka. Benar saja, secara perlahan kelopak mata itu terbuka. Devan mengerjap memperjelas penglihatannya. Ia juga meringis kesakitan dengan adanya perih yang menusuk-nusuk luka barunya. Ditambah dinginnya air es yang tiba-tiba saja menusuk-nusuk tulang-belulangnya.
Devan masih menunduk, ditatapnya sepatu hak tinggi berwarna hitam tengah berdiri di hadapannya. Devan pun mulai mengalihkan perhatian kepada wajah si pemilik sepatu itu. Gavina menunduk menubrukkan tatapannya pada mata hitam legam milik Devan.
"Ciluuuk baaa! Hehehe..."
Mata Devan terbelalak melihat wanita yang ada dihadapannya. Mulutnya terngangah, sekelebat bayangan tentang masa lalu kembali melintas di ingatannya. Wanita ini adalah korban pertama atas tipuannya.
"K-kamu..." Devan keluh tidak tahu harus mengatakan apa. Gavina menikmati raut wajah Devan yang seperti itu. Perlahan tangannya terangkat membelai lembut pipi Devan dan merayap menyentuh hidung dan berakhir di pinggir bagian bawah mata Devan, Gavina mengelus pelan disana.
"Apakah kamu ingat, aku?" Gavina bertanya setengah berbisik. Devan terdiam, ia masih terhanyut menatap mata terang milik Gavina. Mulutnya seakan terkunci, tentu saja ia tidak tahu harus mengatakan apa tentang kesalahannya dulu yang pernah menyakiti Gavina.
"Devan sayang, kamu ngak ingat aku, hm?" kembali bertanya, kali ini elusan di bawah mata Devan berubah menjadi rasa sakit karena Gavina menekannya kuat-kuat. Devan tersadarkan, ia mengerakkan sudut bibirnya. "Kamu, Gavina?" hanya balasan seperti itulah yang bisa ia loloskan dari mulutnya.
Gavina melepas tangannya dari wajah Devan, ia tersenyum sangat manis namun sarat akan rasa benci. "Ah, baguslah jika kamu ingat. Aku tidak perlu repot memperkenalkan diriku." Gavina berdiri tegak dari posisi menunduknya.
Devan menatap gadis itu yang hendak berbalik badan menuju sofa empuk kesayanganya. "Bagaimana kabarmu? Ssssttt..." Tanya Devan sembari meringis menahan rasa perih yang masih mengerayangi seluruh badannya.
Gavina berbalik dengan menatap tajam Devan dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Plak!
Plak!
Plak!
Suara tamparan keras itu menggema seisi ruangan. Yang melihat kejadian itu ada yang biasa saja dan ada yang menatap ngeri pada majikannya. Selesai menampar Gavina meraih kedua sisi wajah Devan dan menekannya kuat-kuat membuat darah yang mengalir dari sudut bibirnya semakin deras.
__ADS_1
"Kamu ngak lihat seperti apa aku sekarang?! Lihat baik-baik! Seperti inilah aku sekarang, hahaha!" Ucap Gavina diiringi tawa keras yang terdengar menyeramkan sekaligus frustrasi di dalamnya. Gavina melihat air mata laki-laki yang dulu pernah ia cintai mengalir. Segara ia menghapus dari kedua sisinya membiarkan darah segar Devan juga tertempel disana. "Kenapa kau menangis?! Hahaha... harusnya aku yang menangis! Bukan kau!!" Ucapan itu terdengar sarat akan rasa yang menyakitkan.
Devan menatap Gavina yang masih menatap tajam pada dirinya, dimata gadis itu ia menemukan perasaan yang menyakitkan tergambar jelas. "Maaf...." Hanya kata itulah yang mampu ia loloskan, terlalu malu jika ia mengatakan banyak hal.
Kedua tangan Gavina kini kembali mengapit kedua sisi wajah Devan. Ia terkekeh pelan, "Maaf kamu bilang?!" Tanya Gavina yang kini kembali pada posisi berdirinya.
"Maaf saja ngak cukup, Devan!!" Teriak Gavina keras.
Plak!
Plak!
Plak!
Kembali ia memberi tamparan yang keras. Rasanya ia ingin sekali melampiaskan emosinya saat ini. Ia melihat Devan yang tertunduk. "Aku tahu aku salah, maafkan aku Gavina." Ucap Gevan pelan, ia sungguh menyesal pernah menyakiti gadis sebaik Gavina.
Gavina yang mendengar itu terkekeh. Ia mengulurkan tangan kanannya pada sang asisten. "Ambilkan aku pisau yang paling kecil!" Tegas Gavina membuat Sima buru-buru menuruti Gavina. Ia bergegas memberikan apa yang Nona nya itu inginkan.
Gavina mengitari Devan dan berakhir di belakang pemuda itu. Ia pun mulai merobek baju kemeja yang dikenakan oleh Devan membiarkan punggung laki-laki itu terbuka. Dengan amarah yang masih terkumpul Gavina segera mengoreskan hurus G pada punggung sebelah kiri bagian atasnya.
Devan berteriak kesakitan dengan apa yang dilakukan Gavina, ia menahannya kuat-kuat.
"G-gavina, apa yang kamu lakukan?" dengan bibir gemetar menahan rasa sakit Devan pun meloloskan sebuah pertanyaan.
Devan menikmati rasa sakit dari goresan pisau itu tertahan. Ia tak menyangka gadis yang dulu ia kenal sangat baik, lemah lembut dan penuh kasih sayang itu telah berubah menjadi wanita yang sangat kejam tak berperasaan.
Gavina tersenyum puas pada karyanya yang melekat di sana. Dia melempar pisau itu ke sembarang arah. Lalu berjalan kembali dan menunduk menatap Devan yang juga menatapnya penuh sesal. Gavina kembali mengangkat kedua tangannya dan memegang kedua sisi wajah Devan kembali. Ia mengelus nya pelan disana.
"Aku salah, aku minta maaf. Aku tau maaf saja belum cukup untukmu. Tapi..."
Gavina menyudahi ucapan Devan dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir laki-laki itu. "Sssssstttt...." Perlahan Gavina juga menghapus darah yang keluar dari sudut bibir Devan akibat tamparan kerasnya tadi. Dilihatnya air mata Devan yang kembali mengalir, dimata itu tersimpan rasa sesal dan permintaan maaf berulang kali.
Dia dulu hanya seorang remaja nakal yang berusia 19 tahun dan baru saja melarikan diri dari rumahnya. Dia dulu yang hanya tahunya berfoya-foya bahkan menipu wanita hanya untuk mengerus kekayaan dan melarikan diri untuk bersenang-senang. Dan kini, ia menyesal pernah menipu gadis sebaik Gavina dulu. Harusnya ia menipu wanita yang bukan wanita baik.
"Jika kamu mau aku memaafkanmu, tergantung usahamu nanti, Devan." Kini Gavina beralih mengelus bibir Devan menggunakan jempolnya yang sudah berdarah.
Perlahan wajah Gavina mendekat dan berbisik pelan di sebelah telinga Devan. "Tapi jika usahamu gagal, aku akan menghancurkan kehidupanmu dan orang-orang terdekatmu." Ucap Gavina membuat Devan terbelalak kaget. Jantungnya seketika berdegup kencang. Karena ia masih mempunyai seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Seseorang yang ia cintai dan sayangi.
Devan menggeleng setelah Gavina berdiri dari posisinya. "Aku akan berusaha." Ucapnya kemudian.
__ADS_1
Gavina mengulurkan tangannya pada sang asisten. Dan Sima yang mengerti kode itu segera mengambil sapu tangan hitam yang terletak di atas nakas buru-buru namun tidak meninggalkan kesopanan nya. Setelah menerima itu, Gavina mengelap sisa-sisa darah yang menempel di jari-jari tangannya. Ia pun memberikan sapu tangan itu pada Sima kembali.
"Kurung dia!"
Perintah Gavina berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Gavina! Aku akan berusaha! Gavina!" Teriak Devan dari dalam ruangan. Namun Gavina hanya diam melanjutkan langkah kakinya. Han yang sedari tadi diam mengikuti Nona nya.
"Han, kamu cari informasi Devan secara lengkap!" Perintah Gavina pada Han tegas. Han yang mendengar itu segera membungkuk hormat dan mengikuti Gavina sampai keluar kediaman. Tak lupa ia juga membukakan pintu mobil dan mempersilakan Nona nya melaju keluar dari gerbang utama kediamannya.
...***...
KEDIAMAN UTAMA GAVINA, 16.04
Gavina memejamkan matanya, merasakan sensasi aroma mawar yang menyeruak masuk ke indra penciumannya. Ia sedang berendam di dalam bathup setelah baru saja tiba di kediaman utamanya. Kediaman yang hanya ia gunakan sebagai tempat beristirahat dan melakukan aktifitas keseharian yang penting-penting saja. Kediaman yang dulu nya milik Ayah dan Ibunya. Kediaman yang menyimpan banyak kenangan penuh luka.
Kelopak mata wanita cantik itu perlahan terbuka pelan. Mengerjap sebentar, ia menerawang jauh kembali pada pertemuannya tadi dengan Devan. Mantan kekasih hati yang pernah ada dalam hidupnya. Seseorang yang pernah membuatnya tertawa meski dibelakang pundak gadis itu tertanam kesedihan yang luar biasa. Namun, berkat pertemuannya dengan Devan. Gavina seperti menemukan cahaya kebahagiaan.
Namun hatinya hancur dan sakit ketika mengetahui sang kekasih pergi begitu saja tanpa kabar dan tidak diketahui keberadaannya. Setelah Gavina percaya untuk membuat kekasihnya itu bangkit dari keterpurukan dan membangun impian pemuda itu. Ia rela menyisikan uang tabungannya untuk diberikan pada Devan. Tapi apa? Laki-laki itu malah kabur entah kemana.
Gavina menyudahi acara ritual mandinya. Ia keluar kamar setelah berganti pakaian menjadi lebih santai. Kecantikan wanita itu akan sangat bercahaya tanpa polesan make up yang membuat nya terkesan sangat dewasa. Gavina berjalan menuruni tangga dan berakhir di ruang tamu.
Disana sudah ada asisten pribadinya khusus di kediaman ini. Namanya Marvin, asisten yang ia rekrut sendiri dan tentu saja lebih ia percaya. Berbeda dengan Han dan Sima, orang yang dikirim oleh orang itu.
"Marvin, apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" Gavina bertanya setelah duduk nyaman di sofanya.
Marvin yang berada di sebelahnya maju selangkah. "Maaf Nona, tadi saya menemukan ini di depan gerbang pagi-pagi sekali." Ucap Marvin memberikan sebuah amplop berwarna putih polos kepada Gavina.
Gavina menerima dengan santai. Ia sudah tahu siapa pengirim surat itu. Dengan pelan Gavina merobek amplop itu dan mendapati sebuah foto dan secarik kertas di dalamnya.
Temukan gadis hilang itu....
Itulah isi pesan singkat yang tertera di sana. Gavina menghela napas pelan. Ia pun mengambil foto itu dan memperhatikan lamat-lamat. Disana ada seorang anak gadis remaja kira-kira berusia 16 tahun sedang tersenyum.
"Baiklah. Marvin, kamu telusuri dulu siapa gadis ini dan kapan terakhir kali hilang." Perintah nya pada Marvin dan mendapat anggukan singkat dari Marvin. Setelah itu Gavina mengibas tangan menyuruh Marvin meninggalkannya sendiri.
Gavina memegang keningnya. "Melelahkan..." Ucapnya lantas berdiri dan kembali menaiki anak tangga dan menuju kamar miliknya. Gavina ingin beristirahat ia lelah kali ini.
...- Bersambung -...
__ADS_1
Siapa ya sosok yang memerintah Gavina, sepertinya sangat dihormati Gavina.. hem hemm...
Nantikan update selanjutnya.....