GAVINA

GAVINA
Episode 7


__ADS_3

Gavina melirik arloji yang melekat cantik di pergelangan tangannya. Sesekali ia melirik lampu merah yang masih menyala pertanda kendaraan roda dua dan empat yang parkir sejenak tersebut belum boleh melanjutkan perjalanan.


Pandangan mata tajamnya terarah kepada bocah kecil yang memegang gitar kecil sembari mulutnya berkomat-kamit menyanyikan lagu yang kurang enak untuk di dengar. Gavina juga melihat para pengemis yang bertengger rapi memenuhi trotoar jalanan kota. Hal biasa yang sering ia lihat. Dan Gavina hanya memberikan senyuman tak peduli.


Gavina kembali melajukan mobil mewahnya, menyisiri jalanan kota yang padat kala itu, sebab hari yang sudah siang.


"Devan, mulai hari ini. Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku lagi." Gumam Gavina sembari membayangkan pertemuan tak sengajanya dengan Devan kala itu.


Mobil hitam mewah itu pun memasuki sebuah gerbang besar. Gavina melangkah turun. Hari ini ia mengenakan baju terusan panjang berwarna hitam dan memperlihatkan sebelah paha nya yang putih mulus. Tak lupa warna lipstik yang semerah darah itu menghias bibirnya yang sensual. Ditambah dengan rambut hitam bergelombang yang tertata dengan amat menawan. Anggun dan menawan itulah penggambaran yang pas untuk Gavina saat ini.


Ia melangkah masuk, dari kejauhan dia sudah melihat Han, Sima, dan Devan di tengah-tengah asistennya itu. Gavina terdiam sesaat melihat penampilan pemuda yang akan menjadi calon suaminya itu.


Sangat tampan. Batin Gavina puas dengan hal itu.


Gavina mendekat, ditatapnya pemuda itu. Tangannya terangkat menyentuh bagian bawah ujung mata Devan. "Tatap aku." Ucap Gavina pelan.


Mata yang tadinya hanya menatap ke bawah itu, perlahan terangkat dan menatap mata tajam nan cantik milik Gavina yang kini memperlihatkan senyum kemenangan.


"Lakukan saja seperti kita pernah ber-pa-ca-ran dulu. " Ucap Gavina sembari tangannya beranjak dan menyentuh bibir Devan. Devan mengangguk pelan. Dan dengan cepat Gavina menurunkan tangannya.


"Baiklah! Ayo kita pergi." Setelah mengatakan itu Gavina melangkah keluar dari kediaman itu dan diikuti oleh Devan di belakang.


...***...


"Eh, cucu Oma sudah datang!" Sambut Lina melebarkan senyum ramahnya. Ia berdiri dan menyambut kedatangan Gavina penuh bahagia. Gavina menyalim tangan Oma nga penuh khidmat semetara tangan tua itu mengelus puncak kepala Gavina penuh sayang.


"Duh, Oma tuh sudah dari tadi nunggu kamu..." Ucapan Oma nya terhenti saat lirikan matanya menatap pada satu orang yang berada di belakang Gavina. Seorang pemuda yang sangat tampan. Sang Oma berkedip dan balik lagi menatap Gavina, cucu kesayangannya. "Itu calon suami kamu ya," sambung Lina sengaja mengoda Gavina.


Gavina menunduk tersipu, "Ah, Oma bisa aja." Balas Gavina diiringi sebuah senyum.


"Ayo sini, ajak calon suami kamu itu duduk bareng sama kakek dan Dokter Andika. Kebetulan hari ini, dokter Andika mampir mau menjenguk kakek sama oma di sini." Ucap Lina meraih tangan Gavina dan menyeretnya untuk duduk di sebelah Lina.


Melihat itu Devan mengikutinya saja. Ia sempat binggung ingin duduk dimana. Namun setelah Wisma, kakek Gavina memberinya isyarat untuk duduk di sebelah Andika saja.


"Wah, mereka sama-sama ganteng, ya." Lina memberi komentar atas dua mahakarya yang luar biasa tengah tersaji dihadapan mereka. Andika dan Devan. "Betul itu. Gavina, kamu tidak ada niatan begitu mau memperkenalkan calon suami kamu ini ke Kakek dan Oma, hem?" Wisma menimpali dengan pertanyaan.


"Ah, iya lupa. Oma sih dari tadi ngajak Gavina bicara terus kan jadi lupa, buat ngenalin dia," Ucap Gavina memandang Oma nya jengkel. "Kenalin namanya Devan Agiswara Hanurta. Calon suami Gavina, untuk cicit-cicit kakek sama Oma kelak. Gimana?" sambung Gavina menyombongkan dirinya.


Kyut..


Tiba-tiba Oma nya menyubit pipi Gavina. "Aw, sakit Oma. Aku bukan anak kecil lagi masa di cubit pipi." Ringis Gavina sembari mengelus pipinya yang merah.


"Kamu sih, sengaja jahilin Oma." Setelah mengatakan itu Wisma dan Lina tertawa puas.

__ADS_1


Sementara Devan tersenyum kecil melihat interaksi itu. Ia seperti melihat Gavina yang dulu lagi. Gavina yang sering tersenyum, tertawa bahkan bercanda. Andika sendiri memilih diam, entah mengapa ia kurang menyukai jika laki-laki disebelahnya ini menjadi calon suami Gavina.


...***...


KEDIAMAN PANDERAKA, 13.05


"Sayang, kapan kamu akan membalaskan dendamku?"


Ucap suara itu manja, tak lupa jari jemari lentiknya bermain liar di atas dada bidang milik pria yang ada disebelahnya. "Aku pengen banget loh, lihat dia menderita. Masa kamu tega sama aku." Sambung wanita cantik yang kini tak mengenahkan busana apa pun itu dengan cemberut.


Pria itu diam menyeringai, lalu ia lanjut bersuara. "Kamu tenang saja cantik, aku sudah melakukan hal yang ingin kamu lakukan." Pria itu menangkap tangan nakal wanita itu. Lalu mengecupnya penuh napsu. Padahal mereka berdua baru saja menyelesaikan pergumulan hebat mereka.


"Benarkah? Apa itu?" Sahutnya seketika bahagia. Mendadak senyum kecut itu berubah menjadi senyum lebar.


"Kamu lihat saja nanti." Balasnya menantap wanita seksi di sebelahnya penuh hasrat. Matanya kini kembali berkabut gairah.


"Stevan! Kamu jangan bikin aku penasaran dong." Kesal wanita itu memukul dada bidang itu pelan. Pria yang namanya baru saja di sebut itu tertawa ringan. Lalu tangannya kembali menangkap tangan mungil itu dan lanjut mencumbuinya.


"Aku akan membuat kamu terkejut." Bisiknya di sebelah telinga wanita itu di iringi pula dengan gigitan ringan di sana membuat wanita yang di sebelahnya terkikik kegelian.


"Benarkah? Aku akan menantikan kejutan itu." Balas wanita itu senang. Dia pun menghentikan aktivitas Stevan, membuat Stevan mengeram kesetanan.


Stevan pun beralih menindih wanita itu, kini ia sudah berada di atasnya dan mengurung wanita nakal yang berani-beraninya sudah membangunkan harimau tidur yang ada pada dirinya. "Tenang saja, sayang. Kejutan itu pasti akan datang." Ucapnya menunduk dan mengecapi leher jenjang nan putih mulus milik wanita itu.


Wanita itu mengerling jahil pada Stevan. Stevan pun menarik wajahnya.


"Claresa..." Ucapnya terdengar sensual dan sangat seksi, membuat wanita yang berada di bawahnya tersenyum puas. Ia pun mengalungkan kedua tangannya pada Stevan.


Stevan yang melihat lampu hijau itu kembali menyala melanjutkan perjalanan penuh fantasi yang ingin segera ia tuntaskan. Lagi, dan lagi.


...***...


CAFETARIA MALAKA, 15.34


"Kenapa tidak dimakan?"


Tanya Gavina dingin. Ia masih menatap pada Devan yang setia menundukkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkan otak pemuda itu.


Ya, mereka baru saja tiba di cafetaria itu. Setelah seharian diajak Kakek dan Oma nya berkeliling kompleks perumahan sembari bercengkrama ala-ala pemandu parawisata, dengan menunjuk tempat-tempat yang menurut kedua orang itu indah dan bagus sebagai tempat tongkrongan anak muda.


Gavina sih, sudah terbiasa dengan tempat-tempat itu. Tapi tidak dengan dokter Andika dan Devan. Andika malah sangat bersemangat dan membalas ucapan-ucapan kakeknya dengan wawasannya yang luas. Membuat mereka berdua bisa langsung mengakrabkan diri, di tambah lagi sang kakek bernostalgia masa mudanya dengan kakeknya Andika. Menambah suasana akrab itu terasa nyata.


Sedangkan Devan? Gavina selalu mengkode nya untuk berusaha merebut perhatian kakek dan Oma nya. Devan lebih banyak diam, tersenyum, dan menanggapi seadanya. Malah Andika lah yang menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


"Devan," panggil Gavina, Devan mengangkat kepalanya. Mata cemas dan penuh kesedihan itu baru lah terlihat oleh Gavina. "Kenapa, kamu?" Gavina bertanya dengan menautkan kedua alisnya.


"Aku ingin melihat Alina." Jawab pemuda itu, tersirat perasaan memohon dari nada bicaranya.


Gavina meletakkan sendok dan garpunya, ia pun mengambil Jus Lemon pesanannya dan mengambil selembar tisu untuk mengelap bibirnya.


"Makan dulu, baru pergi," ucap Gavina menatap tajam pada Devan. Devan masih diam belum juga menyentuh makanan mewah yang terhidang di depan matanya. "Apa perlu, aku yang suapin?" Sambung Gavina melihat gelagat Devan yang tak mau makan itu.


Mendengar itu Devan dengan segera menyuap makanan itu ke dalam mulutnya cepat-cepat. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk melihat Alina kali terakhirnya. Sebelum ia menikahi wanita dihadapannya ini, wanita yang umurnya jauh lebih tua dari dia.


Melihat itu Gavina terkekeh. "Segitunya kamu khawatirkan Alina." Ucap Gavina membuat Devan berhenti melirik sebentar dan kembali melanjutkan makan.


"Jika kamu nurut aku akan sembuhkan kekasih kamu itu. Tapi jika tidak, aku akan bunuh dia." Ancam Gavina dingin nan datar.


"Uhuk..Uhuk...."


Devan terbatuk saat mendengar ancaman itu. Apa pun yang terjadi Alina tidak boleh mati itu pikirnya. Karena dia sangat mencintai gadis itu.


"Apa pun itu, akan aku lakukan." Ucap Devan yakin. Gavina menganguk, tangannya bergerak mengambil tisu dan perlahan tangan cantik itu mendarat di bibir Devan, perlahan menghapus sisa makanan yang tertempel karena Devan baru saja terbatuk.


"Minum." Perintah Gavina, dan tangan itu pun turun kembali ke atas meja. Devan menurut dengan apa yang diperintah kan tadi.


"Setelah kita menikah, apa pun yang aku inginkan dan perintahkan, kamu harus menurutinya. Dan apa pun yang aku lakukan terhadap kamu, jangan pernah sekalipun kamu bertanya apalagi membantah. Paham kamu?" Mendengar itu Devan hanya bisa mengangguk pasrah. Sejak bertemu dengan Gavina kembali, tentu saja ia sudah harus siap menerima konsekuensinya.


Tiba-tiba saja benda pipih yang ada di atas meja bergetar. Segera saja Gavina menyambarnya dan mendekatkan benda tersebut ke dekat telinga.


"Ada apa, Marvin?"


Gavina mengangguk serius saat mendapati jawaban dari seberang telepon sana. "Jadi, kamu sudah melacak keberadaan gadis remaja yang hilang itu?" Tanya Gavina pada sang asisten pribadinya.


"Lanjutkan ketika saya nanti sampai di kediaman."


Klik.


Panggilan pun berakhir. Setelah memasukkan benda pipih itu ke dalam tas mahalnya, Gavina melirik Devan yang baru saja curi dengar pembicaraan tadi. Namun Gavina tak peduli apa pendapat Devan mengenai percakapan nya barusan.


"Baiklah. Ayo pergi." Ajak Gavina sembari berdiri, tak lupa ia juga pergi ke kasir dan membayar semua pesanan yang sudah ia pesan tadi.


Gavina melangkah keluar cafetaria, dilihatnya Devan sudah berdiri di sana. Pemuda tampan itu menatap Gavina dari kejauhan, dan ia pun memberikan sebuah senyuman kepada Gavina. Sebuah senyuman manis yang kembali membuat Gavina teringat masa-masa mereka berpacaran dulu. Senyuman mentari terbit dari barat itu, akan selalu Gavina ingat.


Gavina pun datang, ia langsung menggandeng lengan Devan dan berjalan menuju parkiran. Anggap saja mereka berdua sedang bernostalgia pada masa lalu. Meski dalam kenyataan nya sudah berbeda dan tidak sama seperti dulu lagi.


...***...

__ADS_1


Looooh.... jadi si wanita ulet bulu yang kegatelan sama Stevan itu si Claresa toh... heeem... wajar aja dia dendam ya kan? Hehe :v


__ADS_2