
RUMAH SAKIT SUDIRMAN, 21.02
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?"
Seorang wanita baru saja menerima telepon, ia terdiam mendengar perkataan dari orang di seberang telepon sana.
"Ya, ya, saya akan segera kesana. Kamu urus dan jaga orang itu."
Setelah mengatakan itu, wanita itu mematikan sambungan telepon. Ia menghela napas sejenak dan menoleh menatap seorang wanita cantik yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Selang infus juga terpasang di punggung jari tangannya.
Tak berapa lama pintu terbuka, menampilkan sosok pria tampan dan gagah berusia 28 tahun. Ia baru saja pergi ke ruang administrasi untuk membayar biaya yang dikeluarkan untuk merawat pasien. Tak lupa juga ia menenteng sekantong buah-buahan.
Wanita yang tadinya menunggu di sebelah kursi ranjang melirik pria itu. "Tolong jaga dia. Sahabat saya ini sudah mempertaruhkan nyawanya demi menolong saya. Saya sudah memperketat keamanan disekitar sini. Saya pergi dulu, jika dia bangun tolong kabari saya, ya." Ucap Gavina kepada suami Miska, yang bernama Hendra itu.
Hendra meletakkan kantong buahnya di atas nakas. Dia menoleh menatap Gavina yang saat itu menatap istrinya sedih. "Baik, saya akan menjaganya." Ucap pria itu singkat. Gavina mengangguk dan mengelus puncak kepala Miska. "Cepat sembuh ya." Bisiknya pelan, dapat terdengar oleh Hendra.
Saat itu demi melindunginya sahabatnya itu tanpa pikir panjang langsung menghadap peluru itu begitu saja. Gavina panik melihat Miska yang bersimbah darah. Cepat-cepat ia membawanya ke rumah sakit dan menghubungi Hendra suami Miska.
Aku akan mencari pelakunya! Siapa sebenarnya orang yang menginginkan kematianku?!
Batin Gavina mengepalkan kedua tangannya saat keluar dari pintu ruangan Miska dirawat. Langkah kaki jenjang nan anggun itu melangkah mantap keluar dari rumah sakit.
...***...
KEDIAMAN LAIN GAVINA, 22.10
Gavina membuka kasar pintu kamar bernuansa hitam dan abu-abu itu. Dilihatnya tajam pemuda yang kini bersandar di kepala ranjang dengan kedua tangan yang di borgol kanan dan kirinya di tiang kepala ranjang.
Gavina langsung menghampirinya, dengan sangat emosi ia mengangkat tangan setinggi mungkin.
Plak!
"Kamu mau kabur?!" Tanya Gavina keras. "Katanya kamu mau berusaha mendapatkan maaf dariku. Tapi apa ini? Kabur? Hahaha..." Gavina tertawa frustrasi. "Kelakuan kamu sama saja ya seperti dulu, suka kabur." Sambungnya mendudukan diri di pinggir ranjang.
Devan menunduk mendengar itu. "Maafkan aku, Gavina. Sungguh kesalahan itu, akan aku tebus bagaimana pun caranya." Ucap Devan menatap wanita yang kini membelakanginya.
"Aku tidak perlu omong kosongmu. Aku perlu bukti!"
Tegas Gavina, kini ia pun tidak lagi membelakangi Devan. Gavina mendekatkan wajahnya dengan mata tajam yang ia hujamkan kepada Devan.
"Aku akan melakukan apa pun yang kamu inginkan. Asal kamu memaafkanku." Pinta Devan penuh harap. Ia tidak ingin membuat wanita itu marah lagi kepadanya.
Gavina memiringkan kepalanya, "Apapun?" Tanyanya sembari tersenyum tak memercayai akan hal itu. Devan mengangguk yakin. "Nikahi aku! Bisa kamu melakukan itu?!" Tegas Gavina membuat Devan membuka rahangnya tak menyangka.
Matanya sayu, sedang kepalanya menggeleng pelan. "Aku tidak bisa." Ucap Devan akhirnya menuntaskan perkataan yang ingin ia keluarkan dari mulutnya. Gavina menarik wajahnya kembali, ada perasaan tak senang diam-diam merayap ke dalam hatinya.
__ADS_1
"Kenapa? Kau punya kekasih? Atau kau sudah punya istri?" Tanya Gavina datar. Devan menghembuskan napasnya pelan.
"Aku..."
"Jika iya, aku minta kamu putusin dia, atau jika dia istrimu kamu ceraikan dia!" Ucap Gavina segera memotong ucapan Devan yang bahkan belum terucap semuanya.
"Aku tidak bisa!" Devan menatap kedalam bola mata Gavina dengan yakin. Ia tidak akan mengambil keputusan itu.
"Tidak bisa?" Gavina tersenyum penuh arti, entah apa yang ada dipikiran wanita itu. "Han! Bawa barang itu kemari!" Teriak Gavina kepada asistennya yang sudah siap siaga berjaga di depan pintu kamar dengan seamplop coklat yang entah apa isinya.
Merasa namanya dipanggil, Han pun memasuki pintu kamar itu. Ia berjalan sopan ke arah Gavina yang masih terduduk anggun di pinggir ranjang. Segera saja Han menyodorkan amplop coklat itu kepada Nona nya.
Gavina menerima itu dengan senyum senang. Ia mengibaskan tangannya, mengisyaratkan agar asistennya itu pergi dengan segera meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Perlahan jari-jemarinya membuka amplop itu dengan cantik. Gavina menarik selembar foto dari dalam amplop itu.
Devan melihat hal itu, entah mengapa perasaannya mulai tidak enak. "Benarkah, kamu tidak bisa melakukannya?" Gavina kembali bertanya kepada Devan, ditatap nya pemuda itu dengan senyum jahat.
"Apa yang akan kamu lakukan?!"
Mendengar itu Gavina terkekeh pelan. "Alina Riaska Mavinda. Gadis malang yang sudah ditakdirkan penyakitan, dan aku sangat yakin jika dia mengetahui bahwa kekasih tercintanya ini pernah selingkuh berkali-kali. Jantungnya pasti akan segera membuat nya mati. Hahaha..." Ucap Gavina diiringi dengan tawa yang menyeramkan. Ia juga melempar foto itu di hadapan Devan.
Dirinya tadi sudah meminta dokumen dari Han tentang informasi mengenai Devan. Dan Gavina sedikit terkejut jika Devan memiliki kekasih yang saat ini tengah berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit. Dan kekasihnya itu mengidap penyakit jantung bawaan.
Devan tercengang mendengar ucapan yang baru saja keluar dari bibir Gavina.
"J-jangan kamu sakiti dia! Aku mohon jangan sakiti dia, aku akan melakukan apa pun! Aku mohon..." Pinta Devan, kini air matanya sudah keluar. Dia benar-benar sangat mencintai Alin. Apa pun akan ia lakukan agar gadis itu baik-baik saja. Bahkan ia rela menipu para wanita kaya yang kesepian agar ia bisa membiayai pengobatan Alina. Karena dengan cara seperti itu Alin akan cepat diselamatkan.
Gavina tersenyum puas melihat reaksi itu. Tangannya terangkat dan mengusap air mata Devan dengan lembut dan pelan. Mereka berdua bertatapan, Gavina bisa melihat kesedihan di wajah itu. Tapi ia tidak peduli, yang terpenting ia akan membuat Devan menderita baik di sisinya atau pun tidak di sisinya. Perlahan usapan itu turun ke bibir Devan.
"Aku akan membuat kamu selalu berada di sisiku, Devan." Bisik Gavina, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Devan. Setelah itu ia tertawa santai seolah sedang tidak terjadi apa-apa barusan. Mendapati perlakuan tadi, Devan. mematung terdiam kaku. Kembali pula ia menunduk pasrah.
"Aku akan datang lagi besok. Nanti asistenku akan mengatur semuanya. Kamu harus bisa berperan sebagai pacar idamanku." Ucap Gavina, ia pun berdiri dari duduknya dan merapikan rambut serta kemeja polos berwarna gray dan melihat rok pensil hitam nya sebentar. Ia kembali menoleh menatap Devan yang tertunduk.
"Eheem," Dehamam Gavina membuat Devan menatapnya. "Aku akan berusaha mencari dokter terbaik untuk si siapa...." Gavina menjeda kalimatnya berpikir.
"Alina..." Devan menjawab cepat. Gavina mengangguk, "Ah, iya. Alina!" Sambar Gavina. "Aku akan berusaha mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan, Alina." Ulang nya lagi. Hal itu membuat sedikit binar di mata Devan bercahaya.
"Setelah kita menikah, ya." Sambungnya lagi, membuat binar mata itu segera redup. Setelah mengatakan itu Gavina melenggang pergi menuju pintu, dan menghilang di sana menutupnya kembali.
...***...
"Han, hukum semua pengawal yang lalai dalam tugasnya tadi!" Tegas Gavina marah, ia benar-benar tak menyangka para pengawalnya itu tidak becus dalam melindungi.
Padahal gaji sudah ia beri secara cuma-cuma asal kerjaan mereka benar dan tanggung jawab. Tapi apa? Jika saja Miska tidak menyelamatkannya, mungkin saja yang terbaring di rumah sakit adalah dia.
"Dan, kamu juga Han. Hukum diri kamu sendiri!" Ucap Gavina menatap tajam kepada Han yang menunduk takut.
__ADS_1
"Untuk masalah hari ini, kamu juga harus selidiki siapa dalang dibalik kejadian itu. Sima, kamu juga ikut menyelidiki. Jika kalian tidak bisa menyelesaikannya, aku akan kembalikan kalian kepada tuan kalian. Paham?!"
Mendengar hal itu Han dan Sima segera saja bersujud mematuhi perintah majikannya. Apa pun caranya, mereka tidak mau kembali kepada tuan mereka. Karena tuan mereka yang sebenarnya lebih mengerikan dari Gavina.
......***......
PERUSAHAAN PANDERAKA GRUP, 22.30
Prang!
Pecahan gelas kaca bening yang harganya mahal itu, dengan naas membentur lantai ketika tangan cantik wanita itu menghempaskannya begitu saja.
"Apa kamu bilang?!" Tanya wanita itu berteriak kepada seorang pengawal yang kini bersujud takut kepada wanita itu.
"Ga-gavina, masih hidup," jawabnya terbata, takut saja jika wanita yang kini tengah memelototinya tajam melakukan hal diluar dugaan.
"Masih hidup kamu, bilang?!"
Dengan takut pengawal naas itu menggerakkan kedua sudut bibirnya. "I-iya, nona." Bahkan bibirnya saja ikut bergetar.
Wanita itu mengeram kesal. Ia pun menoleh menatap pria yang terduduk santai sembari menghisap cerutu rokok itu dengan tenang. Tak lupa kedua kalinya juga terangkat di meja.
"Sayang, kamu hukum dia dong!" Rengek wanita itu menghentakkan kakinya kesal sembari satu tangan nya menunjuk ke arah pengawal itu.
Dengan pelan ia mengangkat cangkir yang berisikan kopi espresso itu tenang dan menyeruputnya sebagian. Setelah selesai dilihatnya wanitanya masih memanyunkan bibirnya. Ia lun beralih pada pengawal yang masih tertunduk itu.
"Angkat kepalamu." Perintah pria itu datar, dingin dan sarat akan intimidasi. Dengan takut-takut pengawal itu mengangkat kepalanya menatap sang majikan prianya.
Prang!
"Aku tidak menyuruhmu menatapku, bodoh!"
Dengan di iringi suara itu terlempar juga cangkir coffe mengenai kepala pengawal membuat darah bercucuran dari sana. Pengawal naas itu diam menahan rasa sakitnya.
"Ferik, bunuh semua mata-mata yang kamu kirim itu. Lain kali tidak ada kesalahan seperti ini lagi." Ucap tuannya dingin nan datar. "B-baik, tuan." Ferik menjawab dengan cepat. Ia tidak ingin disalahkan lagi.
"Jika sampai ada kesalahan. Kamu tahu kan, keluargamu ada dalam genggamanku." Ucapan itu membuat Ferik merosot sempurna. Alasan ia berusaha melakukan yang terbaik selama ini, adalah karena nasib istri dan anaknya ada dalam genggaman pria itu. "Pergilah." Ucap tuannya kembali meresapi cerutu rokok kesayangannya.
Ferik lantas cepat-cepat beringsut mengundurkan diri. Wanita yang tadinya sempat cemberut itu, kini kembali semringah tersenyum bahagia. Ia pun berlengak-lengok berjalan anggun nan mengoda ke arah pria itu. Berjalan ke belakangnya dan berhasil mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.
"Sayang. Makasih ya, aku sayang deh sama kamu." Bisiknya di dekat telinga pria itu.
...- Bersambung -...
Wah, siapa sih wanita uler yang gatelnya kek ulat bulu itu? Sok berkuasa sekali ya dia... hehe :)
__ADS_1
Nantikan Update Selanjutnya....