
KEDIAMAN GARANDRA, 08.25
Meja makan masih menampakkan kesunyian. Wisma dan Lina masih belum merelakan kepergian anaknya. Disisi lain mereka juga menyesal, tapi kembali lagi jika mereka tidak seperti itu bagaimana anaknya itu bisa berubah.
"Gavina, Kakek mau bicara sesuatu sama kamu." Akhirnya Wisma memecah keheningan itu, ia menatap cucu perempuan satu-satunya itu.
Cucu perempuan yang selama ini ia kenal sangat baik, penurut, dan sederhana. Namun, Wisma juga tak menyangkal penampilan Gavina saat ini tidak lah seperti yang ia gambarkan tadi. Mungkin, semua itu terjadi berkat didikan anak dan menantunya. Entah apa saja yang kedua orang itu lakukan pada Gavina, sehingga cucunya tidak seperti dulu lagi.
Gavina yang tadi menyantap makanan dalam diam menoleh menatap sang kakek.
"Ada apa, kek?"
Wisma menghembuskan napasnya perlahan. "Kakek sudah berdiskusi dengan Omamu tadi malam. Perusahaan Ayahmu, akan Kakek berikan ke kamu." Ucap Wisma mantap menatap Gavina yang tampak tidak terkejut sama sekali.
Gavina mengangguk, "Kakek yakin, ingin memberikan perusahaan itu padaku?" tanya Gavina kembali menyantap makanannya dalam tenang.
"Iya, Gavina. Tapi, Kakek juga ingin kamu segera menikah. Agar ada yang membantumu mengurusi perusahaan itu. Itu syarat yang Kakek berikan padamu," Wisma menunduk lalu menoleh menatap sang istri dan kembali menatap cucunya itu. "Kakek sudah tua, sudah tidak bisa membantumu dalam mengurusi semua itu." Sambungnya.
Lina membelai kepala cucunya yang ada disebelahnya. "Jika kamu belum menemukan calon suaminya, Kakek sama Oma sudah ada calon untukmu. Mau ya?" tanya Lina lembut kepada Gavina yang mendadak terdiam.
Menikah? Yang benar saja. Tapi, demi perusahaan Kakek aku akan menikah, sekalian buat pamer sama Ayah dan Ibu, biar mereka tambah sakit hati, hehehe...
Gavina tersenyum manis dan penuh arti kemudian.
"Oma, aku sudah ada kekasih dan jika Oma sama Kakek tidak keberatan apakah boleh aku menikah dengan pilihanku sendiri?" tanya Gavina membuat Wisma dan Lina berpikir agak lama. Karena sebenarnya mereka sudah menyiapkan calon yang sangat baik, dan itu seorang dokter sekaligus cucu dari teman lamanya.
"Apakah kamu tidak mempertimbangkan nya dulu Gavina? Kakek sudah ada calon yang sangat baik untukmu, mungkin kamu mau bertemu dengannya dulu?"
Gavina menggeleng dengan cepat. "Tidak kek, aku dan kekasihku saling mencintai. Aku tidak ingin membuat kekasihku terluka dan sakit hati gara-gara aku tinggal nikah." Jawab Gavina membuat Wisma dan Lina saling tatap, kemudian mereka berdua mengangguk.
"Baiklah jika itu sudah keputusanmu, Kakek sama Oma akan mendukungmu." Lina tersenyum melihat senyum lebar sang cucu, Gavina terlihat sederhana dengan senyuman itu.
"Terimakasih Kek, terimakasih juga Oma," Gavina menunduk dan tersenyum malu menatap Wisma dan Lina bergantian. "Oh ya, Kek, aku selesai dulu ya makannya. Aku ada urusan sama temen aku. Udah janjian bentar lagi mau ketemuan. Permisi Kek, permisi Oma." Gavina berdiri dan memberi hormat kepada kedua orang tua itu.
Lina mengangguk, "Hati-hati ya sayang." Ucapnya melihat kepergian Gavina.
Setelah melewati pintu utama kediaman Garandra senyum manis dan malu-malu Gavina seketika berubah menjadi datar dan serius. Ia mengambil benda pipih yang ada di dalam tas mahalnya dan menelepon seseorang.
"Han, kamu dan Sima tolong carikan aku lelaki yang sangat tampan dan yang penting bisa aku atur sesuka hatiku. Paham?" Ucap Gavina.
"Dan, sebentar lagi aku akan tiba di kediaman. Aku ingin mengeksekusi tiga orang tidak tahu diri itu!"
Setelah mendapat jawaban dari seberang telepon, Gavina segera mematikan panggilan nya untuk kedua anak buahnya yang paling setia.
Sejak dua tahun lalu, diam-diam Gavina memulai perubahannya dan membangun sebuah tempat dimana ia tengah merekrut orang-orang yang mau dibayar dan diperintah olehnya. Uang darimana? Tentu saja ia juga diam-diam membangun sebuah perusahaan yang bahkan mampu menyaingi perusahaan Ayahnya itu. Dan itu, berkat bantuan seseorang yang membuat Gavina berubah menjadi seperti sekarang. Ia menyusun segala rencana untuk membuat Ayah dan Ibunya merasakan apa yang ia rasakan dulu.
"Aku akan membuat Ayah dan Ibu menderita."
...***...
KEDIAMAN LAIN GAVINA, 10.05
Tap
tap
tap.
Langkah kaki dengan hak tinggi itu menggema di dalam ruangan temaram yang hanya disinari lampu kekuning-kuningan. Membuat suasana sunyi yang sudah mencekam semakin mencekam.
__ADS_1
Gavina berhenti menatap tiga orang duduk di kursi dan sedang diikat. Tak lama ia juga ikut duduk di sofa empuk yang sudah disediakan anak buahnya. Gavina melirik Han dan Sima yang ada disebelahnya.
"Bagaimana dengan orang yang satunya lagi?" tanya Gavina dingin. Ia juga memerintahkan Han dan Sima untuk menangkap satu orang lagi. Dan itu selingkuhan Ibunya.
Han maju selangkah, "maaf nona, tadi Segi sudah mengabari saya, katanya tadi mengalami kesulitan saat penangkapan. Jadi akan terlambat sedikit." Ucap Han sopan sembari menundukkan kepalanya.
Gavina mengangguk berulang kali. "Sedikit ya?" tanya seakan ia sedang marah.
Han dan Sima menelan salivanya dalam-dalam. "I-iya, nona." Jawab Han keluh. Ia paling tahu, nonanya ini tidak suka keterlambatan.
"Baiklah, nanti kamu beri Segi hukuman yang paling mengerikan menurutmu."
"Ta-tapi..."
Gavina menatap tajam pada Han yang tengah menunduk takut. "Oh, apa perlu diriku untuk menghukumnya sendiri?" Pertanyaan dari Gavina semakin membuat Han takut.
"B-baik nona, akan saya lakukan." Jawab Han kembali melangkah mundur. Ia sangat tahu, jika nonanya yang sudah bertindak jangan bertanya lagi hukuman yang ia berikan akan terasa sangat menyakitkan dan akan diingat seumur hidup.
"Sima, bangunkan mereka bertiga. Sepertinya mereka sudah tidur sangat nyenyak ya." Perintah Gavina menyerigai menatap pada ketiga orang itu.
Sima langsung menuruti perintah nonanya. Ia memerintahkan anak buah yang ada di sekitar mengangkat ember yang sudah berisi air dingin dan sudah ditaburi banyak garam itu ke tiga orang yang masih pingsan itu.
Dinginnya air yang sudah membasahi serta perihnya garam yang meresap masuk melalui luka-luka kecil yang mengenai mereka saat mencoba melarikan diri membuatnya terasa sangat perih. Mereka bertiga mulai terbangun dengan meringis merasakan perih yang luar biasa. Ditambah dingin yang membuat tubuh mereka mengigil.
"Hahaha!" Mereka bertiga sontak menatap suara tawa itu.
"Ga-gavina!" Teriak Darda tak menyangka dengan apa yang menimpa dirinya, dan ternyata anaknya sendirilah yang melakukan penculikan ini sendiri.
"Wah, apa kabar Ayah? Baru beberapa jam, aku udah kangen banget loh sama Ayah." Ucap Gavina tersenyum manis dan itu tidak ada bagus-bagusnya, menyeramkan.
Gavina melirik Ibunya yang meringis sambil menatap Gavina tajam. "Ah, Ibu aku kangen banget loh sama Ibu. Ibu sehat kan?"
Diana mengeram menatapnya, "anak durhaka, tidak pantas kamu memperlakukan Ibu yang melahirkanmu seperti ini!" ucapnya emosi.
"Gavina, kenapa kamu juga menangkapku?" itu suara Claresa si wanita kotor pengoda para pria kaya, dan Ayahnya juga salah satu korban dan sasaran. Ck, kasihan sekali ayahku sayang ayahku malang. Batin Gavina prihatin.
"Oh, aku cuma mau membasmi kotoran." Jawab Gavina enteng, dan itu membuat Claresa mengeram kesal. Bisa-bisanya dia dihina seperti itu.
"Awas kau!" teriak Claresa keras.
Gavina memberi tatapan pada Sima, "Sima tolong kamu kasih vitamin sehat buat si kotor itu," ucap Gavina tersenyum menyeramkan. "Yang banyak yah." Sambungnya membuat Sima meneguk ludah lamat-lamat.
Kasihan sekali wanita itu.
Batin Sima merasa agak kasihan. Sima berjalan ke nakas yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia mengeluarkan sebuah pil dari dalam botol sebanyak tiga biji. Gavina melihat itu ia pun mengerahkan sudut bibirnya. "Sima tambah lagi ya vitaminnya, takut si kotor itu kekurangan, hihihi..." ucapan Gavina membuat bulu kuduk Sima meremang.
"I-iya, nona."
Claresa yang melihat gelagat itu menjadi khawatir dan gelisah. "A-apa yang akan kau lakukan padaku?" ia menatap Gavina agak takut. Anak dari Darda ini terlihat sangat menyeramkan.
Sima yang hendak berjalan menghampiri Claresa dihentikan Gavina. "Tunggu, Sima," perintahnya. "Aku mau bicara sebentar dengannya." Sambungnya lagi kembali menatap Claresa yang tampak mulai ketakutan.
"Apakah kamu sangat mencintai Ayahku?" tanya Gavina serius.
Claresa mengangguk cepat, "tentu saja! aku sangat mencintai mas Darda!" jawab Claresa meyakinkan.
Gavina tersenyum lagi, ia mangut-mangut sangat senang. Ditatapnya sang Ayah yang kini tengah menahan senyuman dibalik ringisan perih yang ia rasakan.
"Baiklah. Han lepaskan wanita itu." Perintah Gavina yang langsung dituruti oleh Han. Claresa yang sudah terlepas dari ikatan langsung beringsut berlutut dikaki Gavina.
__ADS_1
"Gavina, terimakasih telah melepaskanku. A-aku sangat berterimakasih!" Ucap Claresa memegang kaki Gavina erat.
Awas saja kau gadis sialan! Setelah ini aku akan membuatmu mampus sampai mati, hahaha...
Batin Claresa, ia berpura-pura patuh karena jika ada kesempatan ia akan melukai Gavina dan pergi melarikan diri. Rencana yang bagus bukan? Tapi rencana hanya tinggal rencana.
"Jika kamu sang-at mencintai ayahku, kamu cium ayahku dong. Kamu tidak lihat Ayahku sampai tersipu malu begitu." Ucap Gavina membuat Claresa menatap Darda dan ia merasa sangat jijik ketika melihat om om itu menyerigai menatap balik padanya.
Gavina, kamu sangat pintar ya!
Puji Darda dari dalam hatinya. Pasalnya selama menjalani hubungan dengan Claresa, Darda tidak pernah berhubungan sangat intim dengan sang kekasih. Claresa selalu menolaknya dengan berbagai alasan yang selalu nya masuk akal.
"I-itu... a-aku.." Claresa gelagapan mencari alasan.
"Ah, jadi kamu tidak mencintainya ya."
Claresa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dasar sial! Makinya dalam hati. "Tentu saja aku sangat mencintainya! Kau ingin aku melakukan itu kan? Baik, aku akan melakukannya!" ucap Claresa lantas ia berjalan menghampiri Darda dan langsung menyambar bibir besar pria itu dengan cepat dan ganas.
Tunggu saja pembalasanku! Aku akan membalas penghinaan ini. Ini lagi om-om tua bangkotan menjijikan!!
Claresa menahan kekesalannya. Ia menyudahi ciuman itu, jika tidak Darda pasti akan menggunakan kesempatan ini berlama-lama. Enak saja, diakan masih muda. Diana yang menatap itu merasa jijik, bukannya cemburu atau apa ia malah merasa geli sendiri.
Prok!
Prok!
Prok!
Itu suara tepukan tangan Gavina yang mengema di dalam ruangan itu. "Wah, pertunjukan kisah cinta yang sangat romantis ya." Ucapnya tersenyum puas.
"Bagaimana Gavina? Kau sudah percayakan, padaku?"
Gavina melirik Sima kembali. "Sima, tolong kamu beri vitamin itu ke dia!" perintah Gavina dengan suara tegas. Membuat Claresa mundur dengan takut. "A-apa itu Gavina? Kamu sedang tidak macam-macam bukan?" tanyanya mendadak gemetar. Dia kan sudah melakukan apa yang Gavina mau.
Sima memerintah kan pengawal yang berjaga disekitar untuk memegang kedua tangan Claresa. Dan ia memaksa Claresa untuk memakan pil yang berjumlah lima butir itu ke dalam mulut Claresa sampai wanita itu benar-benar sudah menelannya.
"Gavina! Apa yang kamu lakukan ke Claresa!?" Darda emosi jika melihat sang kekasih simpanan di apa-apakan oleh Gavina.
Gavina berkedip imut menatap Ayahnya. "Ayah, aku hanya sedang bermain-main. Jadi Ayah tenang saja. " Ucap Gavina sarat akan arti.
"Uggh.. panas mas..." Claresa meraba-raba seluruh tubuhnya kegerahan. Lima butir pil itu ternyata obat perangsang dan itu reaksinya sangat cepat sekali. Claresa merasa kegerahan.
"Panas sekali mas Darda..." Rintih Claresa bernada sensual. Dan tangannya masih sibuk merayap kesana kemari di badannya sendiri.
"Sima. Kamu bawa wanita kotor itu untuk dibersihkan! Jangan lupa beri ia ruang kosong, lampunya dihidupkan. Oh ya, diikat ya ntar kabur. Dan jangan lupa kamu kasih uler banyak-banyak, biar mereka temanan. Satu spesies soalnya, hahaha..."
Mendegar itu Darda semakin emosi, lebih lagi melihat Claresa yang sudah diseret paksa menuju ruangan yang entah dimana. Darda menatap tajam Gavina yang masih saja mengumbar senyuman.
"Kamu anak durhaka! Tidak tahu diri! Sudah kubesarkan susah payah! Inikah balasanmu?!" Hardik Darda sangat emosi.
Diana terkekeh, "duh duh kasihan sekali ya mas Claresa, pasti dia sekarang sedang merintih kenikmatan main bareng sama ular." Diana menambah panas suasana hati Darda.
"Diam kamu!!"
Gavina diam menatap dua orang itu. Kemudian ia melirik Han. "Han tolong kurung kedua orang tuaku ini di ruangan kosong yang terpisah. Lampunya dimatikan saja ya. Dan jangan kasih mereka makan. Kamu kasih mereka minum saja." Setelah mengatakan itu Gavina pergi sembari mengelap sedikit air mata yang hampir menetes ke pipinya.
Orang tuanya tidak akan pernah bisa berubah. Masih didengar nya makian kedua orang itu pada Gavina. Gavina tak peduli, baginya mereka harus mendapat balasan setelah bertahun-tahun lamanya mereka memberi luka gores yang sangat dalam pada Gavina. Luka yang menjadikan ia seperti sekarang.
......- BERSAMBUNG -......
__ADS_1
Maaf ya para readers jika, khayalanku seperti itu... efek nular gitu gegara baca yang sadis sadis hehehe..
Nantikan Update selanjutnya....