GAVINA

GAVINA
Episode 4


__ADS_3

KEDIAMAN GARANDRA, 11.50


Gavina baru saja tiba di kediaman Garandra, pasalnya sang Kakek meneleponnya tadi pagi untuk mengajak Gavina makan siang bersama. Gavina yang sibuk di dalam kantor terpaksa mengiyakan ajakan sang Kakek. Ia melangkah anggun menuju ruang makan kediaman Garandra itu. Tak lupa pula menebar senyuman yang sangat menawan.


Setelah sampai tujuan dilihatnya sang Kakek dan Oma nya sudah menunggu Gavina dengan senyum lebar. Lina mempersilakan Gavina untuk duduk di dekat kursinya. Gavina duduk dan membalas perlakuan itu dengan senyuman. Gavina melirik tiga kursi yang kosong disediakan, ia mengeryit dan bertanya-tanya ketika melihat ada tiga piring kosong juga tertata di atas meja.


"Kek, apa akan ada tamu, kesini?" Tanya Gavina penasaran.


Kakeknya tersenyum lebar. "Ah, iya nanti akan ada teman lama kakek yang datang kesini. Kamu ngak apa-apa, kan?" Ucap Wisma membuat Gavina paham ia pun mengangguk.


Sesaat kemudian datanglah tiga orang yang di iringi oleh kepala pelayan kediaman Garandra sebagai penunjuk jalan. Wisma dan Lina segera berdiri menyambut kedatangan tamu mereka, namun tidak dengan Gavina ia tetap memilih duduk saja.


Mereka saling bersalaman. Wisma mempersilakan mereka duduk untuk mulai makan siang.


"Gavina, kenalkan ini dokter muda cucu teman kakek. Namanya, Andika." Wisma memperkenalkan seorang pria tampan yang duduk di antara temannya Wisma.


Gavina melirik singkat dan mengangguk, "Gavina." Balasnya singkat.


Andika hanya membalasnya dengan tersenyum saja. Setelah itu mereka semua sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Sesekali Wisma dan Lina bercengkrama kepada kedua sahabatnya itu. Hanya Gavina dan juga Andika yang makan dalam diam.


"Bagaimana Gavina, katanya mau membawa calon suami kamu ketemu sama Kakek dan Oma. Kok belum kelihatan calonmu itu?" Mendadak Lina bertanya kepada Gavina.


Gavina segera meminum air putih yang tersedia di atas meja. Hampir saja ia tersedak mendapat pertanyaan mendadak Omanya.


"Ah, belum saja Oma. Katanya dia malu ketemu sama Kakek dan Oma." Gavina membalas dengan senyum maklum.


Wisma mengeryit mendengar itu, "Loh, kenapa malu?" tanya Wisma heran.


"Iya, kenapa harus malu. Kalau malu-malu terus begitu, nanti keduluan sama dokter tampan kita ini." Itu suara Kakek Wira bermaksud bercanda. Andika hanya tersenyum lucu mendengarnya.


"Tuh kan Gavina, Dokter Andika itu udah tampan, mapan, sayang sama keluarga juga," timpal Lina sangat memuji Andika. Sepertinya ia berharap jika yang menjadi suami cucunya nanti adalah Andika.


Andika menatap Lina tersenyum, "Biasa saja Oma. Aku tidak sebagus itu." Andika membalas pujian dari Lina dengan sopan.


"Halah, kamu tidak usah merendah begitu. Daripada pacarnya Gavina ini, bertemu sekalipun Oma belum pernah. Terus katanya tadi malu mau ketemu Kakek sama Oma." Ucap Lina membuat Gavina terhenti menyantap makanan yang ada di hadapannya.


Ia tersenyum manis menatap Omanya itu. "Bukan begitu Oma. Pacar ku ini malu karena dia hanya pegawai biasa, dan dia malu ketemu sama keluarga aku yang sangat terpandang ini." Jelas Gavina membuat seluruh penghuni meja makan itu berhenti menyantap hidangan.


Oma maaf ya kalau aku berbohong. Nanti aku bawa deh calon suami aku yang paling dan paling paling tampan itu kesini. hehehe...


Batin Gavina tersenyum sendiri memikirkan calon suaminya nanti. Tiba-tiba saja sekelebat ingatan tentang kemarin melintas di kepalanya. Dan itu, Devan Agiswara Hanurta, cowok yang jauh usianya di bawah Gavina, 21 tahun.


"Memangnya pacar kamu itu bekerja dimana?" Wisma bertanya, Gavina menatap satu per satu penghuni kursi makan itu. Dan ya, semuanya menatap Gavina penasaran. "Di kantor Ayah kek," Balas Gavina singkat.


Dia sebenarnya tukang tipu kek...

__ADS_1


Kembali Gavina menjawab dalam batinnya. Lina mengangguk-angguk pelan. Entah mengapa ia kurang berkenan dengan pilihan Gavina. Lina lebih menyukai jika Andika lah yang menjadi pasangan Gavina.


"Janji ya, kapan-kapan ajak pacar kamu kesini. Kalau dia masih malu kamu paksa atau kamu ancam dia supaya pacar kamu itu menurut." Ucap Lina kemudian.


"Iya, perkataan Oma membuat aku ada inspirasi baru deh."


Lina mengeryit, "Inspirasi apa yang kamu maksud?" tanyanya kemudian.


Gavina tersenyum, "Memberi dia ancaman supaya dia mau nurut dan ketemu sama Kakek dan Oma, hehehe..." Jawab Gavina membuat Wisma menggeleng heran. "Jangan sampai bunuh anak orang, nanti kamu ngancam nya pakai pisau bisa-bisa dia nanti lari ketakutan, hahaha..." Tawa canda dari Wisma membuat seisi ruangan tertawa mendengarnya. a'a


Gavina merapikan anak rambut nya yang menjuntai. Duh, kakek tau aja deh. Batin Gavina sembari ikut menertawai candaan kakeknya yang bagi Gavina tidak lucu sama sekali. Hal itu tak luput dari perhatian Dokter Andika yang memperhatikan gerak-gerik Gavina sejak tadi.


...***...


PERUSAHAAN GARANDRA GRUP, 13.30


Gavina mengetuk meja dengan jari jemarinya. Ditatap nya seseorang yang sedang tertunduk itu tajam. Orang itu adalah bawahan terpercaya sang Ayah. Surajo, pria paruh baya dengan postur badan gendut dan perut buncit itu mengelap peluh yang bercucuran di dahinya.


Surajo baru saja ketahuan korupsi di perusahaan itu. Setelah melalui penyelidikan, Gavina memang sengaja menyuruh Marvin menyelidiki pria tersebut, sengaja pula mencari-cari kesalahannya.


"A-ada apa Nona memanggil saya kesini?" Pertanyaan itu lolos dari bibir besar pria tersebut. Pasalnya sudah sangat lama Gavina mendiamkannya setelah ia masuk ke dalam ruangan itu.


"Kamu tau apa kesalahanmu?" Tanya Gavina datar dan dingin mendadak suasana disana terasa mencekam. Hawa dingin mulai merayapi Surajo.


Surajo lagi-lagi mengelap peluh sebesar biji jagung yang diam-diam merayap di keningnya. "Saya tidak tahu, kesalahan saya apa ya, Nona?" Surajo lagi-lagi bertanya. Bagi nya mana mungkin Gavina mampu menemukan celah ia sudah berkorupsi. Karena ia melakukannya dengan bersih.


Prang!


Gavina baru saja melempar gelas mahal itu ke lantai dimana Surajo tengah berlutut. Hingga pecahan beling kecil dan cipratan air coffe berhasil mengenai wajah Surajo. Surajo mengeram kesal. Dasar wanita sial! Umpat nya dari dalam hati.


"Jangan panggil saya Nona! Saya jijik mendengar itu dari mulutmu, Pak Tua!!" Ucap Gavina dengan nada meninggi.


Surajo langsung berlutut membenturkan keningnya di lantai. Dimana disana ada pecahan beling gelas tadi. Keningnya tentu saja berdarah. "Ampunn... Ampuni saya, saya akan melakukan yang terbaik." Ucap Surajo disela-sela aksinya.


Gavina terkekeh melihat hal itu. Ia pun mengambil berlembar-lembar kertas dan melemparkan nya ke arah Surajo. Surajo dengan sigap memunggut kertas itu. Dengan tangan gemetar ia melihat isi dari kertas-kertas itu.


Surajo menatap Gavina ketakutan. "S-saya tidak melakukan ini. Saya tidak korupsi!" Belanya keras.


"Oh, tidak korupsi ya." Dengan smirk yang menakutkan Gavina pun kembali melempar beberapa lembar foto ke arah Surajo.


Surajo merosot lemas melihat itu. Itu foto putri kecilnya, Surajo gemetar melihat Gavina. Meski ia tidak tinggal bersama putrinya karena sudah berpisah dari sang istri tapi tetap saja ia menyayangi putrinya itu melebihi apa pun. Air matanya meluruh juga. Ia tahu dan sangat paham apa arti dari semua itu. Gavina sedang mengancamnya.


Surajo kembali membenturkan kepalanya menambah luka di dahinya. "S-saya mohon, jangan sakiti putri saya. Saya akan mengaku, bahwa saya memang benar telah korupsi dalam jumlah yang sangat banyak dari perusahaan ini!" Surajo mengaku dengan memelas kasihan agar putrinya tidak disakiti.


Gavina melirik Marvin, "Bagaimana Marvin?" Tanya Gavina kepada asisten pribadi nya itu. "Sudah saya lakukan seperti yang Nona minta." Marvin berjalan mendekati Nona nya dan menyerah benda pipih itu kepada Gavina. Gavina memperlihatkan rekaman pengakuan Surajo kepada Surajo.

__ADS_1


Bertambah linglunglah Surajo melihat hal itu. "I-itu kenapa..."


"Saya beri penawaran untukmu," Gavina memotong ucapan pria itu. "Jika kamu ingin hidup, maka saya akan menyebarkan rekaman ini ke social media. Tapi jika kamu ingin putrimu hidup tanpa rasa malu dan menanggung hinaan berkat kesalahanmu, kamu harus mati dengan mengenaskan! Bagaimana, Surajo?" Ucapan Gavina membuat Surajo luruh dengan pandangan mata kosong.


Gavina terkekeh singkat, "Kamu tidak lupakan dengan yang pernah kamu lakukan padaku dulu, Surajo." Ucapan Gavina membuat Surajo kembali menerawang, dulu ia pernah hendak melecehkan Gavina tiap kali ia datang ke perusahaan ketika dipanggil Ayahnya. Dan itu, ketika Ayahnya sedang tidak berada di ruangan. Untung saja Gavina yang masih remaja selalu bisa meloloskan dirinya.


Bibir Surajo keluh, disisi lain ia tidak ingin mati secara mengenaskan tapi dirinya juga tidak ingin membuat putrinya malu memiliki sosok ayah seperti dirinya. Surajo menatap Gavina, remaja kecil yang dulu selalu ingin ia lecehkan itu kini berubah menjadi wanita yang luar biasa kuat dan kejam.


"Saya tidak ingin putri saya hidup dengan malu dan penghinaan." Akhirnya dengan rela ucapan itu lolos juga dari bibir besar Surajo.


Gavina tersenyum puas mendengar itu. "Marvin, kamu bereskan dia! Jangan sisakan bangkainya. Bahkan lalat pun tidak bisa mencium bau busuk bangkainya nanti!" Merosot sudah Surajo mendengar perkataan itu. Ia menangis meratapi kesalahan nya. Mungkin akibat dosa atas perbuatannya.


Setelah mengatakan itu Gavina keluar ruangan. Ia berjalan menuju lobi perusahaan. Sepanjang jalan para pegawai menatapnya takut dan menunduk hormat. Gavina tidak pernah membalas sapaan mereka. Sangat berbanding terbalik dengan Darda yang sering menyapa balik bahkan tak jarang Darda mengoda para pegawai wanita di kantornya itu.


...***...


KEDIAMAN LAIN GAVINA, 16.07


"Bagaimana dengan Devan?" Tanya Gavina pada Han dan Sima yang sudah menyambut kedatangannya. Entah alasan apa membuat Gavina sangat ingin menemui laki-laki itu.


"Dia ada di kamarnya Nona." Mendengar itu Gavina tersenyum singkat. Diikuti Han dan Sima Gavina menaiki anak tangga menuju lantai dua. Tempat Devan dikurung.


Dengan sigap Han membuka pintu agar memudahkan Gavina lewat. Gavina memasuki kamar bernuansa hitam dan abu-abu itu. Dilihatnya Devan yang terlelap dengan tenang. Gavina menghampirinya dan duduk disebelah ranjang agar lebih leluasa melihat pangeran tampan yang tengah terlelap itu.


"Alin... Alin.." Itu suara Devan yang memanggil nama seseorang dalam tidurnya. Seketika wajah Gavina berubah menjadi datar, ditatapnya Devan tajam. Gavina mendekatkan wajahnya dan membelai bibir Devan pelan.


"Aku akan membuat kamu menderita Devan." Bisik Gavina tepat di hadapan wajah Devan yang masih gelisah dalam tidurnya.


Lantas Gavina berdiri dan meninggalkan ruangan itu bersama Sima dan juga Han. Ia menuju lantai satu dan duduk di sofa.


"Han, apakah kamu sudah mendapatkan informasi tentang Devan?" tanya Gavina pada asistennya itu.


"Maaf Nona, besok akan saya usahakan semuanya sudah selesai." Jawab Han, dan itu membuat Gavina mengangguk mengerti.


"Lalu bagaimana dengan wanita kotor itu?"


Sima maju untuk menjawab pertanyaan Nona nya. "Sudah saya lakukan seperti yang Nona minta. Namun, sepertinya wanita itu menjadi gila Nona." Ucap Sima membuat Gavina menatapnya tak percaya. "Gila?" Tanya Gavina seakan tak percaya. "Kamu buang saja dia ke rumah sakit jiwa!" Sambung Gavina tegas.


"Baik, Nona."


"Dan, untuk kedua orang tua saya. Kalian jaga baik-baik. Jika mereka kelaparan kalian kasih mereka makan. Pindahkan saja mereka di ruangan yang lebih baik, namun tetap terpisah." Perintah Gavina kepada Han dan Sima.


Setelah itu Gavina pergi meninggalkan kediaman lainnya itu. Ia pergi ke kediaman utamanya. Di sepanjang jalan masih terpikirkan oleh Gavina tentang siapa seseorang yang disebut-sebut oleh Devan. Alin? Siapa dia?


...- Bersambung -...

__ADS_1


Alin? Siapa ya dia, ada yang tau ngakk? Hehehe...


Nantikan Update Selanjutnya....


__ADS_2