Gilang Gemilang

Gilang Gemilang
Malam yang panjang


__ADS_3

"Mako! Satria!" Teriak Mala yang langsung menyambut, gue dan Satria sambut pelukan Mala.


"Pak ketua, woo!! Menang nih kita!" Anak-anak langsung teriak-teriak selebrasi. "Keren-keren, tapi nanti final menang nggak ya?" canda gue.


"Lo liat nanti, mereka kita habisin di final" Suara Deni yang duduk di tengah anak-anak terdengar. Seketika anak futsal langsung menggila mendengar kalimat congkak dari kaptennya.


"Awas ya kalo kalah" jawab gue, Deni menepuk dadanya seolah berkata kalo serahin semua ke dia. Gue senyum pelit.


Deni memang terkenal di kalangan ekskul futsal Jakarta, dia dijulukin Hyuga sama kampus lain. Karena staminanya yang gila dan memang kulitnya juga coklat seperti Hyuga di Captain Tsubasa.


Satria duduk di tengah-tengah Gita dan Mala, "Tuangin akang Satria dong", Mala ngasih muka males, Gita menuangkan minuman ke gelas Satria dan gelasnya, "one shot?" tantang Gita, Satria semangat menyambut Gita.


"tum" panggil Deni, "Duduk sini" sambil menepuk space duduk di sampingnya. Gue nurut dan duduk di sampingnya.


Deni merangkul pundak gue dan kaget,


"Kok lo basah? Jaket lo mana?"


Satria berdiri menarik perhatian, gue tahu niat resenya dia udah nggak ketampung dari tadi.


"Jadi tadi pas kita cabut dari kampus ada Fira sendirian di kantin lagi nunggu dijemput, eh pas mobil udah mau jalan tiba-tiba Mako, ketua umum jomblo karatan yang paling kita sayang ini turun dari mobil dan rela ujan-ujanan buat kasih jaketnya ke Fira"


Anak-anak langsung rame, "Pake nih, dingin" Satria memeragakan kejadian di kampus tadi. Gue salah tingkah, nggak mampu berkomentar.


"Yah, mukanya merah Mako" Goda anak-anak.


Sialan! Kenapa gue malah nervous?


Tiba-tiba Deni berdiri dan mengangkat gelas, "Cheers", anak-anak langsung ikut berdiri dan mengangkat gelas. Deni memberikan gelas yang sudah diisi alkohol. Gue sambut dan berdiri.


"Untuk pertandingan final yang nantinya pasti kita menangin" Kata Deni.


"Dan untuk Mako yang akhirnya suka sama cewek" Tambah Satria.


Kita bersulang dan minum, tiba-tiba Mala memotong. "Jangan ada yang godain Mako sama Fira lagi",


Satria tertawa kemudian merangkul Mala, "Jangan posesif gitu dong Mal, udah saatnya Mako punya cewekkan?"


Mala menepis rangkulan Satria, "GUE BILANG JANGAN YA JANGAN, GUE NGGAK SUKA!" suasana seketika berubah. Semua orang merasa canggung.


Deni duduk, diikutin anak-anak.


"Kenapa Mal?" Tanya Gita kepo,


"Nggak, pokoknya jangan. Mako nggak bisa sama Fira"


Gue bengong, bingung, gak ngerti dan dada gue rasanya nyesek denger omongan Mala. Bukannya dia yang awal jodoh-jodohin gue sama Fira? Kenapa sekarang tiba-tiba dia malah begini?


Gue masih bengong liatin mala, mata kita ketemu. Mala menggeleng tanda.. entah tanda apa.


Bruk!


Pandangan gue gelap, muka gue tertutup sweater.


"Ganti pake itu, kalo lo sakit gue yang repot" Kata Deni. Gue turutin Deni dan ganti baju di toilet.

__ADS_1


Gue bercermin, sweater Deni kebesaran di gue, dia emang tinggi banget sih, walaupun badannya nggak seperti Hulk tapi perutnya yang kotak-kotak itu selalu sukses bikin kerasukan massal cewek-cewek kampus.


Gue singkap sweaternya dan liat perut gue, hmm kerempeng. sayup-sayup tercium wangi Deni. Khas banget, seger. Berasa habis mandi gue jadinya.


"Abis berak lo ya?" Teriak Satria melihat gue kembali dari toilet, berbuah jitakan gue dan gue tutup mulutnya pake tangan kiri. "Mako! Anjrit jorok! Tangan lo bekas taikan itu" Kaki Satria sukses mendarat di pantat gue. Anak-anak ketawa.


Gue duduk di samping Deni, dan mengeluarkan sebuah kotak dari tas. Hadiah itu gue siapin untuk Deni sebagai kapten tim futsal kampus kita, sekaligus jadi jimat keberuntungan buat menuju final.


"Den" Gue menyerahkan kotak itu ke Deni,


"Apaan nih?"


"Buka aja, buat lo biar menang nanti di final"


Deni terlihat senang, ekspresinya persis kayak anak kecil dapet permen.


"Apa tuh?" Tanya Gita penasaran,


Deni membuka kotak dan terlihat sebuah hand band berwarna merah.


"Pake, buat ganti topi lo yang merah itu. Bosen gue lihatnya" Canda gue.


"Iya Den, lo udah tinggi pake topi merah nyala gitu. Males gue jalan sama lo menarik setiap pasang mata kalo lu lewat" Tambah Satria


"Sirik lo ya?" Goda Mala


"Iyalah, cewek-cewek liatinnya Deni bukan gue!" Jawab Satria sambil menenggak minumannya lagi.


Deni nyengir, mukanya berubah lagi jadi penuh kesombongan. Sambil menyentuh dagunya dia berkata, "Tanpa topi, dengan muka kayak gini siapa yang nggak bakal melirik Sat?"


Gue menepuk pundak Deni, "Harus menang ya Den"


Deni menatap mata gue dalam-dalam, "Pasti" jawabnya penuh percaya diri.


"Kalo menang dapet hadiah lagi nggak Ko?" tanya Mala.


"Kita open table, tim futsal yang pilih tempat!" Seru gue.


Seketika anak futsal bersorak, "Mako! Mako! Mako!"


Deni merangkul gue dan berkata dengan pelan, "Buat gue apa tum?".


"Lo mau apa?" Jawab gue,


"Belum kepikiran"


"Apapun yang lo mau deh, kalo bisa, pasti gue kasih"


Deni terdiam, kemudian berbisik di telinga gue "Apapun?"


"Kalo gue bisa ya" Jawab gue. Deni nyengir, sambil mengusap rambut gue dia menjawab, "Sayangnya lo nggak bakal bisa". Deni berdiri bergabung dengan anak-anak yang lagi joget persis kayak pensil Inul jaman dulu.


Oke jiwa kompetitif gue membara! Bisa-bisanya Deni remehin gue! "DEN!" panggil gue.


Deni menengok, "I can do anything, try me!"

__ADS_1


Deni tersenyum menggoda, kemudian mengacuhkan gue dan lanjut joget.


Anak-anak sibuk joget di depan, gue yang duduk sendirian sibuk menenggak minuman di meja. tiba-tiba ada seorang perempuan yang nyamperin gue.


Cantik, gue langsung pasang muka cool.


"Sorry, mau tanya"


"Oh iya, kenapa?" jawab gue.


Dia duduk di samping gue, "Itu Kapten tim futsal kampus lo ya?" tangannya menunjuk ke arah Deni. Gue mengangguk.


Sial dia ngincer Deni, gue udah kegeeran.


"Denikan namanya?"


"Iya"


Dia menengok ke meja sebelah, di situ terlihat gerombolan cewek-cewek cantik yang kayaknya temen dia.


"Sita" Katanya sambil memberikan tangannya, "Gilang" Jawab gue meraih tangannya.


"Lang, sorry repotin nih. Boleh minta nomernya nggak?"


"Nomer gue apa Deni?"


Sita tersenyum, "Deni dong"


Gue berusaha tetep cool, "Hm, tanya orangnya sendiri kalo gitu ya" Jawab gue.


Deni menghampiri meja, "Tuh panjang umur orangnya dateng" Kata gue.


Deni menarik tangan gue, "Ayo joget" Ajaknya. "Eh, bentar-bentar" Gue bertahan duduk.


Deni menengok ke Sita, Sita tersenyum genit, "Siapa?" tanya Deni jutek.


Gue langsung menarik Deni dan berbisik, "Ini cewek cakep minta nomer lo". Deni melihat Sita dari atas sampai bawah, terlihat Sita nervous karena pandangan Deni.


"Hai" Sapa Deni yang kemudian langsung pergi, gue kejar Deni dan menarik tangannya. "Den, gila lo jutek banget! Kasian dia" Omel gue


"Ohya? gue harus gimana?" tanya Deni, tercium bau alkohol yang kuat dari mulutnya. Oke dia udah mabok berat.


"I don't know, talk to her politely?" Jawab gue, Deni menatap gue. "Oke, kalo itu yang bos Mako mau" Diapun menghampiri Sita.


Mereka berkenalan dan berbincang, gue tinggal mereka untuk bisa lebih nyaman ngobrol berdua.


"Kasih ruang buat ketua Senat favorit kita" Teriak Satria yang melihat gue menghampiri. Gue yang terbawa suasana dan pengaruh alkoholpun mulai memberikan gerakan dansa yang bisa membuat Ari Tulang menangis.


Ditengah kegilaan lantai dansa gue melihat ke arah meja, Deni dan Sita mulai duduk tanpa jarak. Gila juga Deni karismanya. Bisa narik cewek secantik itu di tempat rame begini.


Gita menarik tubuh gue untuk joget bareng, "Lagu lo nih Ko!" katanya. Terdengar alunan lagu NAS menggema di bar.


Gue meladeni jogetan Gita dengan mata kembali ke meja, Deni melihat gue, mata kite bertemu. kemudian Deni mencium bibir Sita kayak makan es krim favoritnya. Mata gue nggak bisa lepas darinya.


Malam itu, sambil berdansa dengan Gita gue bertatapan dengan Deni yang sibuk mencium bibir Sita diiringi lagu NAS - You Can Hate Me Now.

__ADS_1



__ADS_2