Gilang Gemilang

Gilang Gemilang
Bingung


__ADS_3

Keesokan harinya di belakang kampus..


Pukul 4 sore, gue dan Wisnu memperhatikan sekret teater yang baru mulai pembangunannya.


"Bener kata lu Nu, bakal fokus lu pada latihan sampe teriak-teriakan di sini." Komentar gue.


Wisnu tersenyum, "iya bang Mako, semua berkat lu" Katanya sambil menepuk pundak gue. Gue kasih dia senyum terkeren gue. "Lu udah ada gambaran belum barang-barang lu apaan aja yang bakal dipindahin ke sini?" Tanya gue, Wisnu terlihat berpikir, "Hmm, nanti coba gue lihat deh. Banyak banget barang di sekret yang lama bang haha." Jawabnya, "Kalo ada barang yang udah nggak digunain kasih senat aja, nanti kita hibahin ke yang membutuhkan. Itung-itung dapet pahalakan lu sama gue, ya nggak?" kata gue,


Wisnu senyum lagi, "Lu emang baik banget ya bang Mako, siap nanti gue suruh anak-anak nge-list" Jawabnya, "Haha, muji gue mulu lu. Lama-lama suka lu ntar" Canda gue, Wisnu ketawa, terus ngomong "Kalo udah kenal lu orangnya kayak gimana, siapa yang nggak bakal suka sama lu bang Mako?" Jawabnya. Gue kasih pose centil sambil pura-pura malu, "Ah aku ditembak Wisnu!" Canda gue, Wisnu ketawa, "Eh, Nanti kalo udah mau pindahan kabarin gue ya, anak senat pasti bantu lu." Wisnu senyum sambil mengangguk.


"MAKO!!", tiba-tiba ada yang manggil gue. Gue nengok dan ada makhluk gondrong yang udah nggak asing lagi mukanya di hidup gue. Gue lambaikan tangan ke Satria.


"Apaan nih? Kok tiba-tiba ada pembangunan di sini?" tanya Satria. "Ini, sekret teaterkan kegusur di depan, mau dipindahin ke sini niatnya" Jawab gue. "Heee! Nu, jangan gusur tongkrongan anak-anak di bawah pohon yaaaa" Pinta Satria, "Nggaklah Sat, lu masih bisa bebas kok nongkrong di situ. Justru serukan, nanti tongkrongan lu sama bang Mako gabung sama anak teater." Jawab Wisnu. Satria terlihat lega, "Lagi pula selega ini lahan di belakang kampus, berlebihan lu Sat" ledek gue, Satria merengut kemudian berkata"Jangan berharap banyak kalo nongkrong sama Mako, dia kalo gilanya lagi kumat nggak kenal manusia, kenalnya leptop sama buku" Kata Satria. Gue micingin mata ke Satria, Wisnu ketawa, "Tapi kalo nggak gitu bukan bang Mako namanya Sat" Jawabnya, gue rangkul Wisnu, "Sahabat baruku, paling mengerti aku" Canda gue, sekarang Satria yang micingin matanya ke gue.


Kita bertiga berakhir nongkrong di bawah pohon, di belakang kampus ada warung kecil yang menjual kopi dan cangcimen. Selagi asik mengobrol sambil minum kopi dan merokok ada perempuan yang berjalan ke arah kita.


"Kak Mako" Perempuan itu memanggil nama gue. Tapi, gue nggak kenal dia siapa, Satria dan Wisnu terdiam melihat dia. "Iya? Kenapa ya?" Tanya gue. "Aku bisa minta waktunya sebentar untuk ngomong berdua?" Pinta dia. Gue bergantian bertukar pandang ke Satria dan Wisnu, mereka juga kelihatan nggak kenal sama perempuan ini. Gue berdiri, "Iya ayo, di sana aja", gue berjalan meninggalkan Satria yang senyum-senyum dan Wisnu yang masih bengong.


Setelah berdua, barulah gue tahu kalau dia adalah salah satu mahasiswa baru yang dulu pernah gue bantu pendaftarannya. Namanya Riva, sejak kuliah di sini dia pernah sekelas sama gue tapi gue nggak pernah sadar, karena kalau di kelas gue emang fokus ke kegiatan belajar.


Selesai bicara gue balik lagi ke bawah Pohon, Satria memperlihatkan senyum nyebelinnya, gue melotot, Wisnu masih bingung, Satria mulai meledek, "Susah ya jadi ketum senat yang tampan dan populer", gue jawab, "Bangke lu!", Satria ketawa, Wisnu nunjukin ekspresi mulai mengerti sama apa yang terjadi, "Dia cewek keberapa yang lu tolak Mako?" Tanya Satria lagi, "Gua nggak ngitungin kunyuk, jangan gitulah" Jawab gue pake muka serius. Satria diem walau sambil nahan ketawa. Wisnu nepuk pundak gue sambil bilang, "Luar biasa bang Mako". Satria pecah ketawa, Wisnu senyum-senyum, gue merengut sendirian.


"Kalo boleh tahu bang, kenapa sih lu belum pacaran?" Tanya Wisnu, "Bahas yang lain aja Nu" Jawab gue, "Lu nggak tahu Nu? Mako itu homo" Kata Satria. Gue smack down Satria di situ, disusul ketawanya Wisnu dan balesan jitak dari Satria.


"Nggak, gue emang belum pernah aja ngerasa jatuh cinta. Lagi pula udah biasa sendiri, gue juga masih mau fokus sama banyak hal, SALAH SATUNYA MENJADI PEMEGANG NILAI TERBAIK DI KAMPUS INI!!" Jawab gue dengan nada membara. Satria menguap denger celotehan gue, "Hoaaam, bosen. Itu mulu yang disebut", gue nengok ke arah dia sambil merengut, "Apa jadinya kalo fans lu itu tahu mereka kalah dari pelajaran, buku dan leptop lu bang" Ledek Wisnu, gue berdiri dan mengepalkan tangan sambil menjawab, "Jadinya, itu motivasi mereka untuk bisa lebih giat dan fokus dalam mengejar cita-citanya". Di situ Satria dan Wisnu cuma diem sambil ngupil mendengar gue.


***


Nggak berasa udah jam 7 malam, Wisnu udah pulang duluan dari tadi. Gue yang 'nyangkut' di senat karena persiapan rapat senat besok bersama BPH (Badan Pengurus Harian) gue, Deni dan Gita.


Sebenernya lebih ke gue dan Deni yang main game moba, Gita masih.. MASIH ngerapihin laporannya yang belum selesai diberesin dari kemarin.


"Ah pegel! Lanjut besok Mako. Gue balik duluan ya, Gita semangat!" Deni akhirnya pulang duluan. Sementara Gita masih belum selesain tugasnya, "Hati-hati bro" Jawab gue. Gita cuma kasih muka melas ke Deni sambil melambaikan tangannya pelan.


Gue lanjut baca buku setelah Deni pulang, sesekali kalau Gita udah main hape gue nengok dan melototin dia biar dia balik fokus ke laporannya. Kalau dia udah mulai merengek, keluar sindiran gue "Salah sendiri, buktinya gue dan Deni bisa rapih-rapih aja laporannya", Mendengar kalimat awal yang berpotensi besar jadi ceramah itu Gita langsung jawab, "Iya iya, gue semangat!!" Kemudian lanjut beresin laporannya yang emang kesebar kemana-mana!

__ADS_1


Setelah beberapa lama akhirnya Gita selesai, "UDAAH!! AKHIRNYA!! SELESAI!!" Teriak Gita, gue tutup buku dan mulai masukin barang-barang gue ke tas. "Lain kali jangan kayak gini, menunda itu nggak akan membuahkan apa-apa selain ngerepotin diri lu sendiri nantinya Git" Gue mulai ceramah, Gita ngangguk-ngangguk, nggak berani untuk bales omongan gue, mungkin karena dia emang udah capek banget.


"Kostan lu deket kampuskan? Gue anter ya." Gue menawarkan jasa ojek gratis ke Gita. "Nggak usah, lu bareng Satriakan? Deket banget kok jalan kaki 5 menit sampe, masih rame juga jalanan jam segini Mako" Jawab Gita, "Yakin? Satria laki, bisa nunggu dulu dia. Paling orangnya lagi nongkrong juga sama anak-anak" kata gue, Gita senyum sambil menjawab, "Beneran, nggak usah Mako". Gue liatin muka Gita yang berusaha meyakinkan gue, "Oke, hati-hati lu ya, kalo ada apa-apa telfon gue" Jawab gue.


Sebelum kita pisah, Gita memanggil, "Mako!", gue nengok, "Gue tahu kok lu dari tadi sengaja nemenin gue, makasih ya" Kata Gita. Gue kasih dia senyum terkeren gue sambil berlalu pergi.


Gue samper Satria yang katanya lagi nongkrong di belakang kampus, gue tanya sama siapa dia nggak bales lagi. Keasikan nongkrong nih anak.


***


Di belakang kampus...


Terlihat sosok gondrong yang kalo nggak kenal gue pasti ngira dia gabungan antara kuntilanak dan genderuwo. Satria melambaikan tangannya.


Di depannya ada dua sosok perempuan, itu Mala dan disebelah Mala.. Fira! Kenapa ada Fira? Grr!


"Ngapain lu pada perempuan belum pulang?" Tanya gue ketus, "Makoooo" Sapa Mala sambil meluk gue. Gue diem dengan muka datar di pelukan Mala. "Dateng-dateng tuh senyum kek, apa kek, judes banget mukanya Mako" Ledek Mala. Gue diem sambil duduk disebelah Satria.


"Lu mau pulang kapan?" Tanya gue ke Satria, "Bentar Ko, nungguin cewek-cewek dulu nih. Kasian mereka kalo berduaan doang" Jawab Satria, "Mereka dilepas di belahan kampus manapun juga nggak bakal ada yang tertarik buat godain" Ledek gue, Mala nonjok pundak gue sambil menggerutu. "Bentar Mako, temenin kita" Pinta Mala, Fira diam, seperti biasa dengan mukanya yang judes dia seolah capek untuk gerakin semili ototpun dari mukanya untuk senyum atau kasih ekspresi lain. "Ya gue tungguin" Jawab gue.


"Lu abis ngapain di senat?" Tanya Mala, "Nemenin Gita rapihin laporannya" Jawab gue sambil ngeluarin rokok dari kantong yang langsung direbut sama Mala. Gue udah biasa sama kelakuan Mala yang kayak gitu, dari awal masuk kampus sampe sekarang nggak berubah.


"Eh lu berduaan doang tadi di senat sama Gita?" Tanya Satria, Fira spontan nengok, seolah dia tertarik dengan perbincangan ini. "Yaiyalah, masak mau berseribuan, nggak muat juga ruang senat" Jawab gue nyeleneh, gue tahu arah tujuan otak mesum si gondrong.


"Gita imutkan?" Tanya Satria random, gue mengangguk tanpa melihat ke arah siapapun, cuma menghisap rokok. "Kenapa nggak lu sikat?" Tanya Satria lagi, "Emang baju disikat!" Kata Mala, "Jangan aneh-aneh nanyanya Sat. Gita bendum gue, gue punya respect ke dia." Jawab gue serius. "Nggak itu maksud gue, maksudnya Gita jomblo bukan? Lu sama dia juga lumayan sering habisin waktu bareng, kenapa nggak lu deketin dia? Biar lu punya pacar, biar lu nggak diworo-woro lagi sama cewek-cewek kayak kejadian tadi sore" Jawab Satria.


"Emang tadi sore ada apa?" Tanya Mala, Fira makin mendekat tanda semakin tertarik lagi dengan topik ini. "Biasa, Mako, Ketum baik hati nan tampan yang pintar di kelas. dideketin lagi sama fansnya" Jawab Satria, "Ck!" keluh gue, "Lagi?? Gila, temen gue laku keras yaaa" Komentar Mala. "Udah nggak usah dibahas, gue tolak ajakan dia dengan halus, orangnya pasti lagi sedih sekarang, jangan diomongin seolah itu lelucon" Jawab gue ketus, "Ganti topik" Sambung gue. Mala dan Satria bertukar pandang sambil senyum-senyum centil.


"Emang kenapa lu belum punya pacar?" Tanya Fira..


Kali ini gue nengok ke arah dia, siapa dia nanya-nanya hal sepersonal itu ke gue?!


"Emang kenapa lu peduli akan hal itu?" Tanya gue balik, "Pengen tahu aja" Jawab Fira santai, "Bukan ranah lu" Jawab gue ketus.


Fira ngeliatin gue tanpa ekspresi, gue bales liatin dia dengan pandangan membara dan cakra ke-9 yang siap gue luncurkan.

__ADS_1


"Hm.. Jemputan kita udah di mana Fir?" Tanya Mala memecah lomba saling pandang gue dan Fira, "Bentar gue tanya" Jawab fira santai. Gue alihin pandangan gue dan hisap rokok gue lagi, "Emang lu mau kemana berdua?" Tanya Satria seolah ingin mengakhiri kecanggungan tadi, "Mau pulang, gue nebeng Firaaa" Jawab Mala, "Sebentar lagi sampe Mal, gue minta dijemput di sini aja biar sekalian muter" Kata Fira, "Okee" Jawab Mala.


Beberapa saat kemudian muncul mobil mewah yang sangat menarik perhatian, "Jemputan lu tuh" Kata gue, Mala ngangguk, Fira datar. "Emang rumah lu searah berdua?" Tanya Satria, "Nggak sih, tapi Fira mau pergi yang searah sama rumah gue" Jawab Mala.


Hm? Gue kira Fira juga mau pulang, mau kemana dia semalem ini sendirian? Gue terbesit bayangan dia duduk di kantin kampus tengah malam, apa dia mau sendirian lagi bengong di tempat sepi kayak waktu itu?


"Emang lu mau kemana?" Tanya gue ke Fira, "Emang kenapa lu peduli akan hal itu?" Tanya Fira balik, "Eh, ya nanya doang juga" Jawab gue, Fira senyum kemudian jawab, "Bukan ranah lu" Dia berlalu pergi gitu aja.


Mala mengejar Fira menuju mobilnya, Satria yang daritadi nahan ketawanya akhirnya pecah juga. "Makooooo!! Kena lu dibales sama Firaa! HAHAHAHAHA".


Sial!! Siaaal! Kenapa juga gue harus tiba-tiba sok peduli sama si cewek judes! Mau dia bengong sendirian kek, diculik setan kek, masuk 86 kek, dipijit Hulk juga apa hubungannya sama hidup gue!!


"Diem lu! SIALAN!" Omel gue ke Satria yang masih aja ketawa.


Gilang, lu kenapa? Lu benci diakan? Kenapa harus khawatir sama dia? Dia cewek yang merusak reputasi lu di kampus! Hm, kenapa bisa begini? Oh iya, pasti karena gue orangnya terlalu baik hati. Iya pasti karena itu..


Gue seret Satria yang masih aja ketawa ke parkiran, "Ayo pulang kunyuk! Lama-lama kesurupan lu". Kita berdua pulang malam itu..


...


Sampe kostan, sebelum tidur gue melamun di kasur sambil rebahan. Gue sempat mikirin Fira..


Dia ke mana malem-malem begini sendirian?


Gue coba inget lagi sosoknya di kantin malam itu, sendirian, terlihat begitu kesepian, begitu menyedihkan, gue inget-inget lagi.. Di situ air matanya mengalir dari pipi..


Gue baru sadar, di situ dia menangis!


Kenapa Fira?..


Sebenernya, lu memendam rasa sakit yang kayak gimana?


Ada apa?


Ah! Otak gue mulai lagi! Ngapain gue mikirin si mak Lampir!

__ADS_1


Tidur! Gilang tidur! Kenapa fokus gue jadi terbagi begini..


Gue kayak bukan jadi diri gue yang biasanya..


__ADS_2