
di ruang senat
"Mako!"
Suara Deni memecah fokus gue yang sedang berkutat dengan laptop. Dia berlari kecil menghampiri gue. Gue melirik kemudian lanjut fokus ke laptop.
"Kirain masih di lapangan, dari tadi dicariin"
Pandangan gue nggak lepas dari laptop dan mengabaikan celotehan Deni.
Deni jongkok di samping meja, tangannya memangku dagunya di atas meja tepat di samping laptop gue, tanpa berkata apa-apa dia terus menatap gue.
hmm, ok gue mulai keganggu. "kenapa?" tanya gue, sambil terus berkutat di laptop.
"gakpapa" jawab Deni
Hening..
Deni tetap memaku pandangannya ke gue.
"Jangan liat lama-lama nanti suka" Goda gue
Dia diam, keheningan berlanjut,
Kenapa dia nggak ada respon? kan gue jadi canggung. Gue melirik ke Deni. Bibirnya tersenyum angkuh.
"Akhirnya, di-notice juga gue" jawabnya.
"Ok, mau apa? gue lagi sibuk nih" Gue melepas pandangan dari laptop dan duduk menghadap Deni.
Deni menggeleng, tanda 'gak mau apa-apa kok'. Gue menghela napas dan berkomentar "sok imut" dan langsung lanjut fokus ke laptop.
Deni beranjak sambil mengelus kepala gue, cepat-cepat gue tepis tangannya "gue bukan Sita" jawab gue
"Galak banget tum" komentar Deni yang langsung rebahan di sofa.
"Gimana semalem lo? ke hotel?" tanya gue sambil terus menatap laptop.
Deni duduk mendengar pertanyaan gue, "Tega lo Mako! Emang gue sebrengsek itu apa?"
"Yaa, lumayan brengsek bukan? Gue lihat aksi lo semalem di bar" Jawab gue
"Dan gue lihat lo lihat aksi gue semalem" Jawab Deni. Jawaban Deni membuat ketikan gue berhenti, gue menoleh ke dia.
Dia duduk sambil bersandar di sofa, sambil menatap gue dengan senyuman sok imut di wajahnya.
"Cih! hargailah perempuan. gue baru tahu kelakuan lo Den. Jangan ambil kesempatan sama perempuan yang gak sadarkan diri" nasihat gue.
__ADS_1
"Kebalik gak tuh?" jawab Deni
"Maksudnya?" tanya gue
"Gue jelas-jelas yang lagi dalam pengaruh alkohol semalem. Sita yang nyamperin gue dan mulai semuanya". Gue diam,.. "Berarti dia dong yang brengsek? atau lo?" lanjut Deni
Gue berhenti mengetik untuk kedua kalinya, "Maksud lo? kok gue?" tanya gue dengan bernada sedikit tinggi.
"Karena lo tahu gue udah gak sadarkan diri, lo juga yang ngobrol pertama kali sama dia. Jadi harusnya lo juga tahu kondisi dia gimana. Tapi, lo juga yang narik dan maksa gue untuk duduk sama dia" jelas Deni panjang lebar.
Gue terdiam, Deni menatap gue dengan senyumnya yang angkuh. Gue bingung mau jawab apa, kenapa tiba-tiba ada perbincangan aneh ini? gue juga sih yang mulai.
Gue cuma nggak mau sekertaris gue dan kapten tim futsal kampus ini dikenal buruk di mata orang. Tapi, akhirnya malah begini, jawaban Deni nggak enak banget. Ketegangan muncul di wajah gue.
"pfffff! hahahahaha" Tawa Deni pecah
Gue menatapnya keheranan dengan wajah 'are you okay?'.
"Santai aja Mako, gue becanda" Jawab Deni.
"Nggak lucu!" Jawab gue ketus, kemudian lanjut berkutat dengan laptop. Deni berhenti tertawa, "Iya tapi muka tegang lo lucu banget" Kata Deni.
Gue melirik tajam ke arah Deni tanda nggak suka sama perbuatan dia barusan. "Aw! Menusuk ke dada tatapannya Ko!" Komentar Deni.
"Garing" Jawab gue ketus.
"Lo tahu gak?" Tiba-tiba Deni berbicara sambil terus menatap atap. Gue cuekin omongannya tanpa memberikan reaksi. "Beberapa hari ini gue mimpi aneh" lanjutnya.
"Gue mimpi gue tersesat di hutan yang gelap, hutan yang misterius. Gue berlari sambil terus merasa banyak mata yang mengawasi gerakan gue"
Diam-diam gue mendengarkan celotehan Deni tanpa berpaling dari laptop.
"Setelah lama berlari, gue akhirnya keluar dari hutan itu. Gue berakhir di sebuah pantai yang indaah banget" Lanjutnya sambil merentangkan tangannya.
"Di situ gue melihat seseorang duduk di tepi pantai. Gue cuma bisa ngeliat siluetnya aja, karena bulan begitu terang ada di depannya"
"Terus?" tanya gue sedikit kepo.
"Gue samperinkan dia, tapi semakin kenceng gue lari ke arahnya. Kayaknya sosok itu semakin jauh"
Gue melirik ke arah Deni, dia bercerita sambil memejamkan matanya.
"Akhirnya gue teriak biar dia menoleh ke gue, pas gue lihat mukanya.. lo tahu dia siapa?" Tanya Deni
"Hmm, siapa?" Tanya gue
Deni memalingkan wajahnya ke arah gue, sambil bertatapan dia menjawab. "Ternyata orang itu, gue"
__ADS_1
Gue tertawa kecil, "Nggak masuk akal" lalu kembali menatap laptop.
"Beneran Ko! Di situ gue ngobrol banyak sama diri gue. Dia minta gue untuk jujur sama diri sendiri" Lanjut Deni
"Ya namanya bunga tidur, bisa aneh emang" Komentar gue
"Hehe iyaya" Jawab Deni sambil kembali menatap atap.
"Emang lo selama ini nggak jujur sama diri lo sendiri?" Tanya gue.
Deni diam tak menjawab. Gue lihat dia memejamkan matanya.
"Woy, tidur lo?" Tanya gue
Dia masih terdiam beberapa saat, "Hmm kepo deh lo!" Goda dia
Gue memicingkan mata tanda sebel. Deni tertawa.
Hari itu kita berdua menghabiskan waktu bersama. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Deni hanya diam merebah di sofa dan gue yang sibuk dengan laptop untuk mempersiapkan acara musik ke depan.
Waktu berjalan dengan cepat, nggak sadar sekarang udah jam 7 malam. Satria hari ini pulang bareng Mala. Gita nggak ke kampus karena emang nggak ada jadwal. Fira... Mana gue tahu dia ke mana, nggak peduli juga.
Gue bersandar di kursi dengan seluruh tenaga, rasanya badan ini mencair karena kecapean.
Deni masih tidur, sasaran empuk nih buat diisengin hoho. Tapi, pasti dia kecapean banget karena latihan bola tadi. niat iseng gue buyar karena mukanya yang polos. Kalau lagi begini, wajah angkuhnya bener-bener nggak kelihatan.
"Den, balik Den" gue membangunkan Deni pelan-pelan. Deni membuka matanya dengan sayu. "Ko?" panggilnya sambil menatap gue.
"Iya kenapa Den?" Tanya gue
Deni menatap gue dalam, pelan-pelan dia raih tangan gue. Khawatir, gue bantu dia berdiri dari sofa. Kemudian wajahnya mendekat dan berbisik..
"Laper"
"Ya makan, malah lapor. emang gue pembina upacara?" jawab gue sambil menggeplak kepalanya dan beranjak merapihkan barang.
Deni mengelus perutnya sambil beranjak ke luar ruangan. Gue menyusul setelah semua barang telah masuk dalam tas.
Kita berdua berjalan menuju parkiran, sambil sesekali gue memperhatikan kantin kampus.
Kosong, tanpa ada Fira yang biasanya nangkring dengan anehnya jam segini di sana.
"Nyari apaan sih Tum?", tanya Deni yang daritadi diam-diam memperhatikan gerak-gerik gue.
"Nyari duit!" jawab gue becanda
Deni menatap gue aneh dan seolah sedang memikirkan sesuatu. Biarlah! Gue mau istirahat pulang karena besok gue ada kelas dari pagi.
__ADS_1
Gue, Gilang Gemilang. Akan terus mempertahankan nilai dan kehadiran sempurna di kelas!