Gilang Gemilang

Gilang Gemilang
Empat Mata Angin


__ADS_3

"Hah?! di mana ini? Gelap semua?"


Gue berlari mencari pintu keluar, ini di mana??


"Tolooong!"


Tiba-tiba tubuh gue merasakan kehangatan, sesuatu yang lembut menyentuh bibir gue seperti berciuman.


"Fira?"


BRUK!!


Gue terbangun, wajah gue terasa sakit kayak habis di sundul Upin Ipin. Di depan gue ada Deni yang memungut bolanya.


"Sorry Ko, muka lo kegebok bola anak-anak" katanya sambil tertawa.


Aah, tadi cuma mimpi. "Wah parah, sakit banget muka gue ini. Idung gue masih adakan?" keluh gue.


"Coba liat" Deni mendekat sambil memegang muka gue. Wajah Deni mendekat untuk melihat lebih jelas. Dia mengecek hidung, telinga, mata, pandangannya berhenti di bibir gue.


"Den? lama-lama suka lu sama gue" canda gue.


Deni tertawa, kemudian noyor kepala gue. "Suka sama lo? Nggak ah, saingannya banyak" Jawabnya sambil meletin lidah.


Gue kasih muka jijik gue ke dia. Deni melet lagi kemudian menendang bolanya ke lapangan di mana tim futsal masih latihan di sana. Energinya gak abis-abis emang anak biskuat mereka.


"Gue break!" Teriak Deni, kemudian dia duduk di samping gue. "Ngapain lo tidur di sini?" Tanyanya.


Gue teringat kejadian gagal jantung di kantin tadi, gue kabur ke sini bahkan sampe ninggalin hutang ke bang Kocoy. Astaga memalukan! Fira lagi-lagi bikin citra gue jelek, kali ini di mata bang Kocoy!


"Hmm, gapapa. Gue pengen istirahat aja"


Deni mengelus kepala gue, "Jangan terlalu keras mikir, acara kita pasti sukses Mako. Semuanya antusias dan suka sama ide lo"


Fufufu, polosnya kau Deni. "Iya Den", untung dia kira gue mikirin acara.


"Lo udah makan?" Tanyanya, gue menggelengkan kepala. "Yaudah tunggu sebentar di sini" Deni beranjak pergi "Tunggu ya! Awas lo gue balik nggak ada. Gue sekalian mandi ganti baju 15 menit" Teriaknya sambil berlalu pergi.


"Bawel lu" Jawab gue.


Gue merebah lagi, mimpi yang aneh..


Berasa real banget itu mimpi, sampe hawa-hawa orang yang ngedeketin gue pun terasa nyata. Hangat napasnya tuh kena hidung gue masih kerasa sampe sekarang. Dan.. ciuman


Kenapa gue bisa mikir itu Fira? hiiiii amit-amit.


Tapi siapa yang nyium gue berarti? belum sempet gue tengok siapa dia di mimpi gue, eeh.. muka gue udah jadi gawang duluan. Untung si deni nggak selebrasi pas bolanya nubruk muka gue.


Apa gue dicium bola? Hahahaa


Ah udahlah namanya mimpi, ya pasti nggak jelas.


Gue buka hape ada banyak pesan masuk pas gue ketiduran barusan. Ada Gita yang nanya gue di mana, ada Mala yang kaget karena bang Kocoy ngadu gue ngutang sama dia untuk pertama kalinya, ada Wisnu yang ngajak ketemu untuk ngobrol, Satria yang bilang miss you (bocah pea), sisanya anak Himpunan Mahasiswa, Organisasi dan dosen yang minta bantu untuk bikin soal latihan buat anak-anak.


Gue taro lagi hape gue di kantong, sekarang gue lagi nggak mau mikirin apa-apa. Semenjak gue kena serangan jantung barusan kayaknya gue emang butuh istirahat sebentar.


"Nih" Deni dateng ngasih bekal, rambutnya masih basah karena dia habis mandi. Samar-samar tercium wangi sampo dan sabun dari badannya yang bikin gue seger.


"Punya siapa nih?" Tanya gue.


Deni duduk di samping gue, "Punya gue, makan aja" Jawabnya.

__ADS_1


"Lho, emang gapapa? Nanti elo makan apa?"


Dia terkekeh, nada kekehannya itu ada unsur sok keren dan penuh kesombongan. "Gue dapet banyak bekel hari ini dari cewek-cewek cantik, huahaha".


Gue micingin mata tanda "Cih, belagu", tapi ya lumayan juga ini buat irit haha. Lagipula gue emang belum makan dari pagi. "Oke thank you, gue makan ya".


Deni ngeluarin air mineral botol untuk minum gue, kemudian mengelus kepala gue dan berkata "Habisin, Spesial buat pak ketua".


Biasanya kalo Satria elus kepala gue pasti gue tepis, tapi karena Deni udah kasih gue makan gapapa. Pengecualian untuk hari ini buat lo Den.


Gue makan dengan lahap, "Enak! Buatan cewek yang mana nih?".


"Buatan gue itu" Jawab Deni.


Gue sempet bengong, hampir keluar pertanyaan dari mulut ini tentang dia yang ternyata bisa masak. Tapi gue terlalu happy makan bekal seenak ini untuk peduli sama hal itu. Oke, selain punya temen dimana-mana, tinggi, jago olahraga, ternyata Deni bisa masak. Boleh dimanfaatin informasi ini untuk event kampus ke depan. hahaha


"Waah, kenyang! Keren bekel lu Den! Enak banget edan"


"Suka? Mau gue masakin lagi besok?" Tanya Deni.


Gue menggeleng, "Nggak usah Den, repot lo".


"Nggak kok, buat ketum mah spesial, apapun gue lakuin" Jawab dia sambil pose gaya norak dan senyum playboy.


Gue kasih pose muntah, "Sok ganteng *****". Deni tertawa. Hari itu kita berbincang lumayan lama. Tentang acara musik kampus yang akan datang sampe ke bokap Deni yang ternyata seorang koki terkenal, makanya dia jago masak.


Hmm, jarang juga gue sharing berduaan begini sama Deni, malah hampir nggak pernah kayaknya. Waktu gue kebuang buat si gondrong Satria. Ternyata, asik juga luangin waktu sama Deni.


Nggak terasa langit udah mulai gelap, "Wah gue hari ini bener-bener lepasin pikiran gue Den. Nggak liat hape, nggak buka leptop, bahkan gue nggak pegang buku!!".


Deni senyum, "Enak ya habisin waktu sama gue?".


"Pindah yuk, kalo malem di sini banyak nyamuk. Ntar lo bentol-bentol lagi". Gue sambut tangannya dan kita berdua pindah ke bawah pohon samping sekret teater yang lagi dibangun.


***


Di sana ada Satria dan Wisnu lagi nongkrong. Gue masih nggak berani ke kantin depan, kalo masih ada Fira gimana? Entah kenapa gue ciut untuk ketemu dia lagi.


"Mako sayangkuuuuuu, ke mana aja daritadi dicariin?" Teriak Satria sambil lari dan membentangkan tangannya untuk bersiap memeluk gue.


Gue ludahin mukanya dari jauh, Satria menghindar sambil spontan berkata "Hiiii!!"


"Gue tinggal seharian lo masih norak aja ya" Canda gue


"Abis darimana lo Mako? Lo ilang gue yang sibuk, orang-orang nanyain lo ke gue. Kok sama Deni? Jangan-jangan kalian jadian ya berdua?" Canda Satria. Deni ngasih muka males mendengar kalimat Satria.


Gue jambak rambut Satria, "Sorry ya, gue ketiduran tadi di lapangan" jawab gue


Kita bertiga duduk di bawah pohon. Wisnu terlihat senang gue hadir di sana. Ya dia emang jadi salah satu orang yang nyariin gue.


"Cepet juga Nu pembangunannya, sesuai sama yang lo mau nggak?" Tanya gue


"Udah dapet sekret begini aja udah syukur gue bang Mako, gede lagi. No complain gue haha" jawab Wisnu.


"Enak ya suasananya juga Nu? Di sini sepi, luas juga." Komentar Deni sambil melihat pembangunan sekret teater.


Wisnu tersenyum, Berkat bang Mako".


Satria sibuk menghisap rokoknya, seolah nggak mau kalah gue juga keluarin rokok.


"Rokok Nu?" Gue menawarkan rokok gue ke Wisnu. Wisnu menjawab dengan mengeluarkan rokok di kantongnya, "Ada kok bang, thank you".

__ADS_1


Sementara Deni gue lewatin, karena dia memang bukan perokok.


Sambil menghembuskan asap rokok gue membuang napas panjang, "Haaah, nggak sabar untuk liat jadinya".


"Ohiya Den, tadi ada cewek nyariin lo" Kata Wisnu


Deni mengangguk sambil terdiam.


"Wah, enak ya dikejar-kejar cewek. Gue juga mau" Kata Satria sambil menghisap rokoknya. Wisnu terkekeh mendengar harapan Satria.


"Gue nggak pinter kayak Mako, nggak jago olahraga kayak Deni, apa kelebihan yang gue punya?" Sambung Satria.


"Lo kelebihan rambut" jawab gue, Satria memainkan rambutnya. "Iya, jadinya cewek-cewek suka minta ijin mau nyentuh rambut gue. Lumayan sih belaian gratis" Jawab satria


"Anjrit, se-hopeless itu lo Sat?" Sindir Wisnu. Satria pasang muka sedih sambil mengangguk. "Cih, sok imut" Komentar gue.


"Emang dikejar tuh enak ya memurut lo?" Tiba-tiba Deni bertanya.


"Eh, emang nggak enak Den?" Tanya Satria.


Deni pasang muka sok gantengnya, "Ya enaklah! Enak banget malah hahaha"


Satria melempar Deni dengan gelas aqua kosong, Deni tertawa. "Kalo lo nggak dikejar cewek, mungkin karena rambut lo. Jadi lo dikejarnya sama cowok" Komentar Deni.


"Amit-amit Den" Jawab Satria sambil kasih pose muntah.


"Eh, tapi cewek yang nanyain lo tadi cantik banget lho Den" Timpal Wisnu


"oh iya, yang ngejar gue emang cewek-cewek cantik kok" Jawab Deni bangga. Satria kasih muka males.


"Kenapa lo nggak pacarin aja?" Tanya Wisnu, gue dan Satria menatap Deni, menunggu jawabannya.


Deni memandang langit sambil berkata, "Karena gue lagi ngejar seseorang".


"Sok ganteng ***** muka lu" Komentar Satria


"Eh, siapa Den?" Tanya gue penasaran. Deni menatap gue dengan muka berpikir, "Hmm, ada deh. Kepo lo Mako!"


"Mana tahu kita bisa bantu Den" Jawab Wisnu, Deni terdiam. "Bisa sih bantu, tapi nggak bisa juga, gimana ya haha. udah ah!" Jawab Deni.


"Udah lo kasih tahu siapa, ntar Mako pura-pura masukin tuh cewek ke kegiatan senat, kalo Mako yang minta pasti mau tuh cewek" Jawab Satria


Deni terkekeh, "Kalo Mako mau bantu sih bisa".


"Siapa emang?" Tanya gue


"Rahasia" Jawab Deni.


Kita pasang muka kecewa atas jawaban Deni.


Hari itu kita berempat, para lelaki jomblo ini menghabiskan waktunya berbincang di kampus sampai larut malam. Enak juga nggak ada Mala sekali-sekali, nggak ada yang ribet haha.


Dan nggak ada yang bawa Fira juga jadinya ke depan muka gue.


Gimana besok gue hadapin Fira?


Kenapa gue jadi ada rasa takut untuk nemuin dia?


Haaah, udahlah, kita lihat aja besok.


__ADS_1


__ADS_2