Gilang Gemilang

Gilang Gemilang
Melemah


__ADS_3

Keesokannya sore hari di kampus..


Hari ini rapat senat tentang acara musik berjalan dengan lancar, semua antusias akan hal ini dan ngeluarin pendapat, saran serta idenya masing-masing. Gue juga jadi lebih semangat dengan acara ini karena hal itu, gue suka suasana diskusi atau rapat yang hidup seperti tadi.


Selain anak senat, ada beberapa anak futsal yang dibawa Deni, mereka lebih vocal mengenai games dan konten di luar band pengisi di acara nanti. Beberapa ketum HIMA (Himpunan Mahasiswa) juga hadir di rapat tadi, mereka yang akan ikut mencari sponsor untuk acara nanti dan bantu di lapangan.


Intinya hari ini gue seneng banget, mood gue bagus banget karena rapat tadi, sebagus itu sampe gue bisa lupain kekecewaan mengenai nilai gue yang cuma dapet 87 tadi di kelas.


Satria dan Mala juga ikut menghadiri rapat, mereka berdua yang akan jaga booth untuk pendaftaran kepanitiaan cabutan nanti. Tentu aja ada Fira juga yang ikut hadir karena ajakan si menor alias Mala. Dia nggak terlalu menonjol, seperti biasa, hanya duduk di samping Mala dan diam dengan muka datarnya. Gue nggak terlalu merhatiin dia juga, ngapain?!


Setelah rapat gue 'di culik' sama beberapa temen perempuannya Gita. Gita sendiri yang nyeret gue sampe harus nongkrong dulu sama mereka. Gita bilang temen-temennya itu merupakan penggemar gue garis keras. Susah emang jadi orang tampan hohoho.


Sebenernya gue udah kenal juga sama temen-temennya Gita, kita sekelas beberapa kali. Mereka juga cantik-cantik dan cerdas. Gue menikmati waktu dengan mereka untuk diskusi. Perempuan yang seperti merekalah yang harusnya pantes ada di hati gue! Tapi, kenapa gue belum juga merasakan yang namanya jatuh hati bahkan ke perempuan hebat seperti mereka? Hm, entahlah.


Setelah beberapa lama waktu yang gue habisin sama mereka gue ijin ke kantin untuk beli kopi dan merokok, di situ gue ketemu anak-anak. Fira juga ada di sana, udah nggak aneh dan nggak bikin gue kaget lagi ada kehadiran mak lampir di tengah tongkrongan gue. Setelah beberapa kali dia turut memeriahkan daftar makhluk halus di tongkrongan menemani Satria.


Gue duduk di samping Satria yang seperti biasa heboh menyambut kedatangan gue, "Luar biasa Mako pangeran tampan di kampus ini diculik sama cewek-cewek pemegang nilai terbaik" Ledek Satria, gue sumpel mulutnya pake gelas plastik. "Gimana Mako rasanya gabung sama fans sendiri?" Tanya Mala sambil menyodorkan botol air mineral ke depan gue ala-ala reporter yang lagi mewawancara. "Rasanya luar biasa puas ya, obrolan yang berkualitas saya rasakan bersama mereka. Beda sekali dengan perbincangan yang ada di tongkrongan ini" Jawab gue nyeleneh. Anak-anak bersorak complain dengan jawaban itu, gue ketawa sambil dihujani jitakan mereka.


Fira diam datar, Mala rebut rokok gue, Satria merangkul gue sambil berkata, "Mereka cantik-cantik ya Ko? Ada yang 'nyangkut' nggak tuh sama lu?". Gue hidupin rokok gue sambil menjawab, "Nyangkut? bahasa lu kayak mereka barang aja kunyuk". "Ah nggak asik lu, jawab aja sih iya apa nggak" Komentar Mala, gue diem sesaat, kemudian menjawab "Gue nggak ada niatan untuk pacaran, nggak usah ribetin urusan pribadi gue lu". Mala merengut "Galak banget sih lu". Gue ngelus kepala Mala sambil kasih senyum terkeren gue biar dia nggak ngambek.


"Kalo lu udah punya pacar belum Fir?" Tanya Satria, "Heh, jangan ganggu Fira ya!" Komentar Mala sambil memeluk Fira. "Cemburu lu kalo Satria deketin dia?" Ledek gue. Mala menjawab dengan gerakan pura-pura muntah, "Jangan posesif gitu dong babe" Kata Satria sambil memegang tangan Mala yang langsung ditepis oleh Mala. Gue hisap rokok sambil curi pandang ke Fira..


Fira nggak jawab pertanyaan Satria tadi, hm.. itu artinya dia udah punya pacar? Atau..


"Ada sesuatu di muka gue?" Tiba-tiba Fira bertanya kayak gitu.


"Hah?" Jawab gue kaget.

__ADS_1


"Kenapa lo liatin muka gue?" Tanya Fira.


Cih! Nyebelin banget nih perempuan, "Jangan kepedean" Jawab gue.


Satria dan Mala main mata, tiba-tiba Satria meluk gue, "Liatin aku juga dong mas Makooo" langsung gue jambak rambutnya sampe copot 2 helai.


"Mako ini belum pernah pacaran lho fir" Kata Mala, "Ck!" gue berdecak tanda nggak usah dibahas, Mala langsung diem. Kemudian dari belakang ada suara bang Kocoy manggil Satria, secepat kilat Satria langsung hilang dari pandangan.


"Wah bang Satria, tahu aja dia mau ditagihin utang, ketipu lagi saya" Keluh bang Kocoy, "Lagi lu masih aja ngasih bang" Komentar gue.


"Yah gimana lagi bang Mako, namanya tiap hari dia nongkrong di mari" Jawab bang Kocoy.


Gue mulai meraih dompet gue yang langsung ditahan sama Mala, "Udah tenang bang, kali ini gue seret orangnya ke sini, lu juga Mako nggak usah bayarin dia mulu, bentar ya" Kata Mala sambil berlalu pergi.


Bang kocoy teriak "Tolong ya neng, makasih!" Kemudian masuk ke dalam warungnya.


Hmm.. Gue berduaan lagi sama mak lampir alias Fira, gue cuekin dia sambil bengong ke arah parkiran.


Lagi-lagi dia mulai ngorek-ngorek kehidupan pribadi gue, "Iya belom, masalah emang?" Jawab gue ketus tanpa menengok ke arahnya.


"Nggak nyangka aja" Jawab Fira.


"Kenapa emang? Pacaran itu nggak wajibkan?" Tanya gue.


"Nggak, cuma, what a waste".


"What a waste of?" Tanya gue.

__ADS_1


"That face, that brain and that big heart" Jawab Fira.


Deg! Jantung gue berasa ditabrak pake gerobak jagung manis. Gue spontan nengok ke Fira yang lagi sibuk ngaduk es teh manisnya pakai sedotan. kemudian, dia melihat ke gue..


DEG! Kali ini berasa kayak ditonjok sama Saitama dari 'One Punch Man', kenapa nih? gue kena serangan jantung?? Muka gue panas dan keringat muncul entah dari mana meluncur dengan brutal dari kepala sampe badan gue.


"Kenapa lu?" Tanya Fira, cepat-cepat gue ambil sapu tangan gue (ya gue bawa sapu tangan yang selalu di cengin sama anak-anak kayak om-om). Gue minum air mineral punya Mala yang ditinggal sama dia, tenang Gilang jangan sampe gagal jantung di depan musuh lu!


"Kenapa lu ngomong kayak tadi?" Tanya gue. "Kenapa emang?" Jawab Fira sambil mengerutkan alisnya yang membuat wajahnya makin kelihatan judes, gue diem sambil bermandikan keringat sendiri.


"Emang kenyataan kok, lu ganteng, pinter dan lu punya hati yang besar" Sambung Fira sambil menatap mata gue.


Oke, udah nggak kondusif! Jantung gue berasa mau copot! Kalo mesti sekarat gue nggak mau sekarat di depan Fira, perempuan yang paling gue benci di galaksi ini. Fira bengong ngeliat gue yang lagi kena serangan jantung.


Gue berdiri, kemudian lari secepat Flash lagi kebelet pup. Sambil lari terdengar suara bang Kocoy dari belakang, "Bang Mako! Bayar kopi lu!!" Gue nengok, bukan untuk ngelihat bang Kocoy, tapi ngelihat Fira yang kaget campur heran ngelihat tingkah gue. Hari itu, gue kasih lihat dia muka nggak terkeren gue seumur hidup..


***


Gue lari dari fira karena sempet kena serangan jantung, nggak sadar gue udah terdampar di lapangan tempat anak futsal lagi pada latihan.


Di situ ada Deni yang lagi beraksi, di sisi lapangan banyak cewek-cewek 'drakula' yang berkumpul seolah ingin menghisap darah Deni sampai kering. Gue sengaja duduk di balik pohon agar terhindar dari perhatian.


Gue sibuk mengutak-atik hape, mencari tahu apa yang barusan gue alamin. Apa itu tadi? Serangan jantung? Karena gue merokok teruskah? "Haaah", gue menatap langit. Pertama kali gue merasakan sensasi seperti tadi. Ada apa dengan gue? Jantung gue berdegup kenceng banget! Badan sampe wajah gue panas! Keringat bercucuran! Pikiran gue berhenti. Apa yang salah dengan gue?


Gue membuang pandang ke arah lapangan, Deni kapten tim futsal di kampus lari kesana-kemari tanpa berhenti, di bawah terik sinar matahari yang justru bikin kulit dia jadi bersinar. Dengan topi andalannya yang berwarna merah dia puter ke belakang kepalanya. Walau cuma latihan dengan tim sendiri, tapi mukanya serius macam Kapten Tsubatsa yang lagi disaring untuk masuk piala dunia.


"GOOOOOOL!!!!" Deni menembakan bola dikakinya dan melesat langsung ke jaring gawang, sambil selebrasi dia mengedipkan matanya ke cewek-cewek yang langsung berisik kayak soang lagi dikasih makan.

__ADS_1


Deni melirik sesaat ke gue, gue kasih dia muka asem sambil menjulurkan lidah. Mukanya tersenyum pelit sambil mengangkat bahu tanda "emang gue keren dari lahir". Cepat-cepat gue angkat jari tengah untuknya, dia kasih gue kiss bye sambil berlari melanjutkan pertandingan.


"Hhhhh, keren banget dia, nggak salah gue pilih sekretaris umum senat" gumam gue sendiri. Di sini teduh, gue rebahkan badan ke pohon yang besar dan rindang. Tanpa sadar gue tertidur di situ..


__ADS_2