
Gue terbangun dengan kepala yang pusing luar biasa, berusaha mengingat kejadian semalam.
Sedikit demi sedikit gue ingat adegan hot Deni dan perempuan yang entah dari mana itu bernama Sita, dengan gue yang bertatapan dengan Deni.
Gue liat jam, jam 06.00 pagi. Waw gue kesiangan! Gue langsung buru-buru mandi sambil mengingat-ngingat kejadian semalam.
Gue tengok keluar, motor gue nggak ada! Wah parah juga semalam.
Gue mandi dan siap-siap ke kampus, cek hape udah banyak notifikasi, salah satunya dari Satria yang ngajak bareng. Gue bales motor gue masih di kampus dan dia dengan sok imut membalas emot sedih.
Oke gue ada kelas pagi ini jam 8, secepat mungkin gue berjalan ke kampus.
*****
Gue lihat jam menunjukan jam 10.30.
Gue berhasil nggak terlambat kelas tadi, citra gue masih aman.
"Bang Mako!"
Gue menengok, "Woy Wisnu". Wisnu berlari kecil ke arah gue, "Wah gila lo semalem" katanya. Gue masih bingung, Wisnu mengeluarkan hapenya dan menunjukan foto gue yang mabuk disebar anak-anak.
"ANJRIT! Siapa nih yang nyebar?"
"Sahabat lo tersayanglah Ko, siapa lagi"
Satria! Grrr! Gue lihat foto gue yang nggak sadar udah dibopong anak-anak kayak boneka, ada foto gue lagi digendong Satria, foto gue di sofa nggak sadarkan diri dan diledekin Gita sampe foto gue muntah! Beneran ada muntah yang keluar dari mulut gue dengan Satria dan Mala bergaya peace di belakang. Memalukan!
"please, hapus Nu" Pinta gue sambil menutup wajah yang menahan malu.
Wisnu tertawa dan merangkul gue, "Yah gakpapa bang Mako kenang-kenangan!". Kita berdua berjalan di lorong menuju stand acara musik dengan gue menunduk karena malu.
"Makoo my love" Terlihat Satria yang sedang menjaga stand segera berlari dengan tangannya yang terbentang lebar ingin memeluk gue. Tangan gue berhasil mendarat di mukanya, "Lo sebar foto-foto gue semalem ya hantu?!" omel gue.
"Sumpah gue nggak sadar Ko semalem, maafin aku sayang"
Gue keplak kepalanya, dan lanjut ke stand. Mala pake koyo di sisi jidatnya sambil mengeluh. "Gantian dong, gue masih pusing nih".
Gue kasih dia air mineral yang gue bawa dan langsung disambut sama tenggorokannya, "Sana tiduran di ruang senat. gue aja yang jagain". Mala memeluk gue "Makasih Mako, sebentar lagi Fira dateng kok. Nanti bisa lo tinggal" kemudian berjalan ke ruang senat.
Wisnu duduk di sebelah gue, Satria entah ke mana tuh makhluk halus, nembus dinding dia kayaknya hilang gitu aja.
"Wah udah lumayan nih Ko yang daftar" Kata Wisnu, gue lihat ke kertas pendaftaran yang hampir terisi penuh.
__ADS_1
"Besok kita tutup, lusa gue meeting internal, minggu depan kita meeting besar. PAS!" Gue bicara sendiri, "Eh, anak theater boleh banget kalo mau tampil jadi pembuka. 10-15 menit deh isi acara" Lanjut gue.
Wisnu terlihat berpikir, "Acaranya kapan sih?".
"3 bulan lagi kok" Jawab gue,
"OK, gue nanti bilang ke anak-anak" Wisnu semangat.
"Iya Nu, lumayan juga buat narik mahasiswa baru gabung theaterkan"
"Keren lo bang Mako, makasih banget gue ditolongin terus sama lo" Wisnu merangkul pundak gue.
"Emang udah tugas gue Nu" jawab gue sambil merangkul Wisnu.
"Kalian jadian?" Suara Satria yang sedang menyeruput susu berdiri persis di depan meja stand.
"Jangan ngalangin stand" Omel gue dingin, Satria menaruh kopi di meja dan memeluk gue, "Jangan marah lagi dong Makooo. Itu gue beliin kopi sebagai permintaan maaf"
"Iyaaaa! Ampuun! Gue maafin, sana hii geli gue" Gue berusaha melepaskan pelukannya Satria. Satria sok imut pasang muka sedih. Wisnu tertawa.
"Eh, Deni mana?" Tanya Wisnu.
"Dia seharian latihan di lapangan, kan mau final. Anak futsal bener-bener anak Biskuat emang, semangat banget buat ke final" Jawab Satria.
"Nah itu Fira!" Suara Satria lantang
DEG!
Gue mulai deg-degan, beberapa hari ini gue seperti merasa aneh kalo deket Fira. Mungkin dada gue sakit juga karena kejadian jaket semalam.
Fira datang membawa jaket gue, "Thanks ya Lang" Katanya sambil memberikan jaket. Satria langsung siul-siul norak. Wisnu terlihat mengerti maksud Satria.
Gue mengangguk malu ke Fira, "Cieeee" Satria dan wisnu bersatu. "SSSTTT!!" omel gue. Fira tersenyum.
"Yaudah lo lanjut jaga ya Fir, gue mau ke lapangan liatin anak futsal latihan"
"Ikuut!" Satria langsung menggandeng gue, "Lo temenin Fira di sini" Jawab gue sambil melepas gandengan mesra Satria.
"Gue aja yang jagain bang Mako Sat" Kata Wisnu sambil berdiri, "Dijagain gue kayak apaan aja" komentar gue.
Wisnu merangkul pundak gue dan kita berdua meninggalkan Satria yang merengut. Gue menengok ke belakang, Fira.. mata kita bertemu dan dia tersenyum. Gue langsung buru-buru membuang wajah.
*****
__ADS_1
Di lapangan gemuruh suara cewek-cewek terdengar bising, Deni dengan kemampuannya menggiring bola terlihat seperti Messi di liga dunia.
Gue dan Wisnu melambaikan tangan, Deni melirik dan mengedipkan matanya. Cewek-cewek langsung rame melihat aksi playboynya.
"Cih sok keren" gue mengangkat jari tengah ke arah Deni. Deni membalas gerakan gue sambil tersenyum dan melanjutkan permainan.
Wisnu mencari tempat teduh di pinggir lapangan, di situ kita berdua duduk sambil mengomentari permainan anak futsal.
"Deni bener-bener monster di lapangan" Komentar Wisnu, gue melihat Deni. "Gila emang, kalo gue harus lawan dia di lapangan juga gue bakal ciut" Balas gue.
Di bawah matahari Deni bergerak segesit naganya Angling Dharma lagi nguber bandit kampung.
"Kayaknya kita beneran bakal menang Ko final nanti" komentar Wisnu
Gue mengangguk dengan mata masih terpaku pada Deni. Olahraga memang bukan keahlian gue dari dulu, daripada disuruh lari muterin lapangan gue lebih milih ngerjain 5 tugas dalam 1 malam.
Sore itu gue berbincang dengan Wisnu tentang acara musik, kita berdua tukar ide dan nggak sabar untuk rapat nanti. Wisnupun janji akan hadir di meeting besar nanti.
Nggak terasa hari udah semakin gelap, angin bertiup kencang menandakan sore menjelang.
"Bang Mako, gue balik ke sekret dulu ya. Mau omongin rencana kita ke anak-anak theater" Ijin Wisnu
"Siap Nu, gue di sini dulu nunggu Deni" Jawab gue.
Wisnu berlalu, gue mengeluarkan laptop dan mulai membuat rundown bayangan untuk acara musik.
Fokus gue terpecah oleh suara teriakan fans Deni.
Deni selesai latihan, dia sibuk ngeladenin cewek-cewek haus darah di pinggir lapangan. Badannya basah dengan keringat membuat bentuk tubuhnya semakin jelas terlihat.
Pantes aja cewek-cewek itu kegirangan. Deni tersenyum manis ke mereka, kalo lagi gitu muka angkuhnya bener-bener nggak keliatan.
Sambil mengelap keringat Deni melihat ke arah gue. Mata kita bertemu dan cepat-cepat gue lambaikan tangan tanda "Sini Den".
Dia tersenyum angkuh kemudian membuang wajahnya, dasar sialan! Gue lanjut fokus ke laptop.
Nggak lama hape gue bergetar, ada pesan..
Sebentar, gue mandi dulu.
Dari Deni.
__ADS_1