Gilang Gemilang

Gilang Gemilang
Jaket


__ADS_3

Gue membuka mata, gimana caranya hari ini bisa gue jalani tanpa harus ketemu Fira? Huft.


Hari ini gue nggak lari pagi, nggak bikin sarapan. Gue beranjak dari tempat tidur, membuka jendela seperti biasa. Tanpa menghirup udara pagi dalam-dalam, gue menyalakan rokok.


Berjalan ke dapur, membuat kopi dan kembali lagi ke jendela.


Belum pernah gue mematahkan rutinitas pagi yang gue jalani dengan konsisten. Hari ini gue hanya termangu di bibir jendela, dengan jantung yang berdegup kencang.


Kenapa gue deg-degan lagi? Wajah gue panas, pikiran gue selalu mengarah ke satu orang, Fira. Kenapa?


Sampe gue ketiduran di lapangan dan mimpi hal aneh itu, dicium..


Gue belum sempat lihat wajah yang menyentuh bibir gue itu, tapi.. Kenapa yang ada di otak gue itu Fira? Mana tahu Maudy Ayunda? Atau Tasya Kamila? Ya cewek cantik, berbakat dan pinterlah pokoknya.


Kenapa otak gue malah mikir Fira? Aargh!


"Mas Gilang? Tumben jam segini masih di kamar aja?" Tiba-tiba ibu kost muncul.


"Eh ibu" Gue kaget dan menyembunyikan rokok gue, bukannya nggak boleh, ibu kost juga tahu gue perokok. Tapi nggak sopan aja kayaknya. Ngerokok bebas di depan orang tua hehe.


"Biasanya udah lari pagi, ke tukang sayur, bikin sarapan" Lanjutnya.


"Iya bu, hari ini libur dulu hehe"


"Eh sarapan sama ibu aja ayo di rumah" Tawarannya masih berlaku kayaknya, masih terus usaha jodohin gue sama salah satu anaknya.


"Lain kali bu, makasih ya. Saya ada kepentingan di kampus hehe. Ini mau mandi" Gue matikan rokok dan beranjak ke kamar mandi.


Sialan, demi menghindari obsesi ibu kost gua jadi terlanjur mandi dan rapih-rapih. Hah yaudahlah, gue nggak usah pusingin hal nggak penting. Sampe kampus harus ke bang Kocoy untuk bayar utang. Malu, ini pertama kalinya gue berhutang sama seseorang. Terutama bang Kocoy, orang dagang masa dihutangin.


***


Di Kampus..


Setelah bayar hutang sama bang Kocoy dengan keributan karena pertanyaan bang Kocoy yang tak kunjung henti. Dia aja kaget gue sampe berhutang ke dia, gimana gue?


Gue berusaha menghindari tempat yang sering dikunjungi Fira, kantin ini, tempat kaki gue lagi berpijak ini.


Gue harus pergi dari sini!


"Mako!" Bulu kuduk gue berdiri mendengar suara yang gue kenal ini, suara Mala. Gue nggak berani nengok, dia akhir-akhir ini selalu nempel sama Fira.


Gue berdiri bingung, mau kabur juga ya aneh. Gue harus bisa meniaga citra gue! Ketua Senat karismatik yang tampan, pintar dan cool!!


Pundak gue ditepuk dan badan gue diputar sama Mala, orang pertama yang gue lihat tentu Mala! Bibir merahnya yang selalu nyala, alis tebelnya yang nggak alami itu, kemudian orang di belakangnya.. Fira


"Woy! lo ngapa sih!?" Tanya Mala sambil jitak kepala gue.


Tenang Gilang! Pasang muka terkeren lo seperti biasa, eh senyum terkeren lo.


"Apaan? Gue lagi mikirin acara musik" Jawab gue ngeles.


"Segitunya sampe kayak apaan tahu lo!" Mala menarik tangan gue untuk duduk.


"Mal!" Gue spontan teriak sambil menarik tangan gue.


Mala dan Fira kaget, terdiam melihat kelakuan gue yang kayak ulet bulu pohon cemara dijemur tengah siang bolong, uget-uget nggak jelas.


"Gue ada urusan di Senat" Jawab gue mencoba menyelamatkan diri dari pandangan mereka yang penuh judgement.


"Apaan sih? Orang Deni hari ini tanding di kampus orang, Gita yang urus juga ke situ. Lo mau ngapain ke Senat?" Bantah Mala.


Sial!! Kenapa dia harus hafal jadwal kegiatan Senat dan ekskul kampus?!


"Iya gue ada kerjaan"


"Kerjain di sini!" Mala kembali menarik tangan gue dan memaksa gue duduk di kantin.


Oke gue nyerah sama si menor sotoy ini.

__ADS_1


Gue terduduk di kantin bersama orang yang paling gue hindari di kampus ini. Gue buka leptop dan mulai fokus mengerjakan soal-soal latihan yang kemarin diminta dosen untuk dikasih ke anak-anak.


Hampir tewas di tempat gue, kena tusukan pandang dari Mala dan Fira. "Jangan diliatin terus nanti jadi suka" goda gue.


Mala keplak kepala gue setara dengan tenaga smash atlit voli di pertandingan final. Gue melototin dia kayak orang lagi nyari 5 perbedaan pada gambar.


"Emang suka"


Suara itu membuat gue dan Mala berhenti bernapas dan menengok ke si pemilik suara, Fira. "Hah?" komentar gue. "Fir?" sambut Mala.


"Iya, emang ada yang nggak suka sama lo? Semua orang suka sama lo" Jawab Fira.


Cih! Penjilat juga nih orang, nggak kena gue sama yang begitu. Tapi ada senengnya juga sih gue dia jawab begitu hoho.


Mala menghembuskan napasnya pertanda lega, "Gue kira lo suka sama nih orang" Lanjutnya sambil nyentil kuping gue.


Gue merengut, Fira tersenyum. Dilihat-lihat manis juga dia kalo lagi senyum... Idih mikir apa sih gue? Woek! Sadar Gilang yang barusan lo puji itu si mak lampir!


"Udah jangan ribut! Pertama gue tahu karisma gue emang sekuat itu sampe bisa membius siapapun yang memandang.." Mala kasih muka males "..Kedua gue lagi mau fokus ngerjain hal yang bakal lo pake juga nantinya" Lanjut gue sambil melototin Mala.


Mala memberikan isyarat meresleting mulutnya tanda paham gue lagi ngerjain rangkuman materi kelas yang dia hadirin juga.


Waktu berjalan dengan gue yang sibuk dengan leptop dan Fira yang terjebak dengan kebawelan Mala.


*****


20.00 di ruang Senat


Terlihat seorang lelaki tampan yang sedang memeriksa kerapihan file dan data yang disusun oleh Gita, lelaki itu adalah gue HAHA.


"Masih lama Ko?" terdengar sayup-sayup suara ghaib yang berasal dari Satria. "SABAR" Jawab gue singkat. Satria yang nemenin gue dari sore di sini mulai kelihatan gelisah.


Hape gue nggak pernah berhenti berbunyi, "Itu pasti Gita" komentar Satria yang langsung gue cuekin sambil fokus ngecekin file. Satria menatap gue dalam seolah menunggu respon dari gue.


"Anak-anak pasti lagi asik nih di sana" Lanjut Satria. Pertandingan futsal Deni hari ini memang berbuah kemenangan telak. Anak-anak langsung merayakannya dengan minum-minum di bar. Guepun dari tadi dibawelin Gita dan Mala. Pengen sih ke sana tapi pasti ada Fira, males gue ketemu dia.


Tiba-tiba hujan turun deras, terdengar keluhan Satria yang seribut ondel-ondel musik lagi lewat. yes hujan!


"Udah selesai nih tapi hujan Sat"


"Terobos ayo kita tunggu aja ujannya berhenti di parkiran depan"


Sial, semangat banget si gondrong buat nyusul anak-anak.


kita berdua lari gaya ninja konoha menghindari hujan, tapi memang nasib baik selalu berpihak pada orang baik. Hujanpun turun semakin deras dan kita terjebak di pos satpam kampus.


"Alam berikan aku kekuatan! Berhentilah hujan!!" Teriak Satria sambil berpose menembak hujan ala kamehameha.


"Get well soon Sat" goda gue, Satria terus mengkamehameha langit tanpa menggubris gue.


Gue coba cek hape. Mala miss call sampe 12 kali, emang sinting semua temen gue kayaknya. Gita miss call 2 kali dengan 10 chat, nggak ada yang waras pengurus gue. Ohiya, Deni waras. Sekertaris andalan gue itu waras.


"bzzt bzzt"


Hape gue bergetar, chat dari Deni. Panjang umur nih anak.


"Di mana tum?"


*ketum (Ketua Umum)*


Gue bales dengan video Satria yang daritadi masih berusaha melawan alam.


"Jaga jarak lo, takutnya tiba2 jadi macan tuh anak" Bales Deni. Gue terkekeh, emang Deni sobat waras gue.


"selow, rokok mah ada nih" gue bales bercanda.


*read


typing*..

__ADS_1


"Sat udah Sat, gue yang malu lo diliatin satpam" komentar gue. Satria nengok, diem, kemudian ngeludahin gue.


Untung gue punya Spiderman sense jadi langsung menghindar dari ancaman kuntilanak laki itu. Dia lanjut lagi kegilaannya.


Dasar sobat sampah, gue cek hape. Deni masih typing, buset panjang banget kayaknya dia ngetik.


"Ke sinikan?"


Selama itu cuma buat ngetik begini? Udah mabok kali nih anak.


"Pengen, masih ujan tapi"


Deni typing..


hening


typing..


"Gue jemput? Bawa mobil sih gue"


TERHARU! Gue terharu! Deni emang paling bisa diandelin. Tapi gue males kalo ada Fira, gimana ngelesnya ya?


Belum selesai gue mikir, Satria yang daritadi tanpa gue sadar di belakang langsung merebut hape gue.


"Woy! Eh gondrong sampah!" omel gue berusaha merebut hape, terlambat.. dengan dibantu jin lokal Satria udah bales chat Deni.


"Mau banget sampe nangis!!"


Tangan gue otomatis menjambak rambutnya, "Gak sopan ya Kuntilanak!"


"Ok Gita otw, dia maksa dia aja yang jemput"


Ambles! Jadi gue ikut ke sana. Satria mulai joget-joget kayak cacing dikasih garem. Gue senyum pasrah, bener juga, kenapa gue harus nggak ikut selebrasi kemenangan Deni cuma gara-gara takut ketemu Fira? Akhirnya gue ikhlas 100% akan apa yang menanti gue di sana.


Setelah 3 batang rokok dan 1 ronde catur sama pak Soleh, satpam kampus. Gita dateng. Gue dan Satria lari-lari Teletubbies ke dalam mobil. Satria manusia yang gatelnyanya udah sampe ke jantung langsung nerobos duduk di depan, nggak masalah juga gue di belakang.


"Gue muter dulu ya di kantin" Kata Gita


"Muter-muter di Hatiku juga gakpapa Git" Bales Satria


Bury-buru gue toyor kepala Satria, "Jangan macem-macem sama bendum gue lo!"


*Bendum : Bendahara umum*


Gita tertawa, Satria nyalain radio mobil. Kita berdua joget-joget dengan Gita yang sibuk memutar di kantin.


"HANTU!" Teriakan Satria sontak membuat Gita mengerem, gue dan Gita sontak melihat ke arah kantin.


Terlihat sesosok perempuan berambut panjang duduk sendiri di kantin kampus. Sosok yang seperti gue kenal, "Fira?" gumam gue.


"Lha, iya Fira" Satria membuka jendela, "Fir ngapain?"


Fira kaget sebentar kemudian menjawab "Nunggu dijemput"


"Ikut kita aja yuk?" ajak Gita


Fira menggeleng, gue cuma bengong ngeliatin dia. Kasian sendirian nunggu malem-malem, mana hujan.


"Yaudah, kita jalan ya" Satria pamit. Fira mengangguk.


"Bentar-bentar" gue menyela, gue berlari ke Fira dan kasih jaket gue di mejanya.


"Pake, dingin soalnya"


Fira bengong, gue balik ke mobil dengan Satria dan Gita yang udah senyum norak. "Apaan? Ayo jalan" omel gue.


Mobilpun melaju dengan lagu dari NAS - Cherry Wine terputar, gue tengok Fira yang memegang jaket gue. Dia tersenyum, gue tersenyum.. Kenapa gue senyum? Nggak tahu, kayaknya gue emang udah gila gara-gara Fira.


__ADS_1


__ADS_2