
Pukul 08.00, pagi hari di kampus..
Gita datang dengan wajah ngantuknya sambil mengeluh, "Kenapa harus sepagi ini sih Mako kita rapatnya?". "Biar otak lu pada masih seger." Jawab gue. Deni yang merengut dari tadi duduk di samping gue ikut berkomentar, "Ini namanya penyiksaan pak Mako". Gue acuhin mereka dan mulai membuka buku catatan.
Deni adalah anak tongkrongan sekaligus sekertaris umum senat yang gue pilih, walau nilainya nggak bagus-bagus banget di kelas tapi dia tetep bisa diandalkan. Dia rajin dan bisa dekat sama siapapun. Nggak cuma orang birokrasi kampus, tapi juga ke satpam, OB, segala kalangan bisa deket aja sama dia.
Kemana-mana dia pakai snapback andalannya. Warna snapback-nya yang merah menyala itu bikin dia bisa dikenalin bahkan kalau dilihat dari Pluto.
Badannya yang tinggi sampe 183 cm bikin dia mudah disegani, dia juga kapten tim futsal di kampus. Di bidang itu, dia udah banyak bikin kampus kita nyabet piala kompetisi futsal. Kulitnya yang coklat bikin cewek-cewek menjulukinya si Hitam manis.
"Kenapa cuma kita bertiga rapatnya? Lu mau ngomongin apa sih? Nggak bisa di telfon aja apa?" Keluh Gita.
Gita Bendahara umum yang kadang teledor, walaupun begitu dia tetep punya tanggung jawab yang tinggi sama tugasnya. Wajahnya yang imut sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang galak kalau soal tugasnya jadi bendum haha.
Dia cukup populer di kalangan cowok-cowok himpunan kampus. Kalau ada anak hima yang 'ngeyel' biasanya dia dulu yang gue majuin. Cowok-cowok nggak bisa nolak kalau udah di hadapin sama Gita.
Dia juga pemegang nilai yang tinggi di kampus sampe sekarang, gue sering observasi cara belajarnya seperti apa biar bisa gue tandingin. Tapi nyatanya. Kecuali di kelas, dia nggak pernah belajar selama di kampus. Cih! Dia termasuk 'orang dengan bakat pinter dari lahir' yang paling bikin gue iri.
Mereka berdua dengan gue sebagai ketua senatnya merupakan bph senat di kampus tercinta ini. Hmm.. Bukannya sombong ya, tapi kita dijulukin trio kece karena punya daya tariknya masing-masing. Tapi, tetep paling kece gue yaa HAHAHA
"Woy! Ayo mulai, malah senyum-senyum lu dari tadi" omel Gita, "Eh iya sorry, Deni catet poin-poin rapat hari ini" Jawab gue. Deni ngacungin jempol tanda 'sip'.
"Gue sengaja bikin rapat bph dulu sebelum sampein ini ke anak-anak yang lain, kemarin gue kepikiran untuk bikin acara musik dalam 5 bulan ke depan. Maksud gue adalah kita cocokin tanggal sama kegiatan kampus yang udah kita agendakan ke depan" Jelas gue.
Deni langsung buka buku agenda kegiatan, "Acara musik? Siapa yang ngadain?" tanya Gita. "Kita" Jawab gue, "Kita? Bukan dari kampus? Ijinnya? Modalnya? Panitianya?" Gita mulai nanya gaya-gaya wartawan infotainment.
"Iya kita, maksud gue adalah senat. Selama ini kita bikin kegiatan yang akademik, olahraga dan sosial. Gue pengen bikin hiburan, dimana semua orang bisa menikmati acara ini. Sekaligus pelepas stres setelah ujian. Ijin ke atas (birokrat) gue yang urus, lingkungan kampus Deni ya Den.." Deni mengangguk, "Modal kita ajuin ke kampus dan cari sponsor, itu lu Git yang ngerjain nanti gue bantu, panitianya anak-anak senat" Jelas gue panjang lebar.
Deni angkat tangannya trus ngomong, "Kalo anak senat doang nanti pas acara bakal ribet, anak-anak nggak terbiasa sama acara yang begini. Nanti kendala di lapangan bakal beda sama acara-acara yang biasa kita adain".
Hmm.. Bener juga, "Oke anak Hima juga kerahin" jawab gue, "Sama aja dong Mako" Jawab Gita. "Yaudah, Bikin panitia cabutan dari tongkrongan" Usul gue.
"Gimana kalo kita buka stand aja sekalian, biar anak-anak yang beneran mau bantu yang kita rekrut" Usul Gita, "Gue mau masukin beberapa orang yang gue tahu bisa kerja ya" Kata Deni. "Oke catet namanya Den nanti gue liat, Oh sekalian catet nama Mala dan Satria. Gita siapin list apa aja yg musti dibeli untuk kita bikin stand, nanti minta ke atas bareng Deni" Jelas gue.
"Siap pak Mako" jawab mereka serempak. "Sekarang tentuin tanggalnya aja dulu, nanti tema dan konsep sama list band kita omongin bareng anak-anak. Habis ini kita rapat mingguan, Deni bawa laporan surat-surat yang keluar masuk dari senatkan?" tanya Gue, Deni menunjukan laporannya, "Gita? kita bakal ngomong panjang lebar nanti" sambung gue. Gita pucet, seolah baru inget keteledorannya kemarin. Hari ini gue bakal siksa bathin dan kupingnya karena kesalahan itu! HUAHAHAHAHA
"Ampuuuuuuun Makoo!!ðŸ˜ðŸ˜" teriak Gita..
__ADS_1
2 jam kemudian..
"Oke, estimasi tanggal udah ada, lusa kita rapat senat ya. Buka stand minggu depan. Deni sama Gita udah tahu harus ngapain dan hubungin siapa aja ya" kata gue. "Siap Makoo, acara begini nih semangat gue ngerjainnya" jawab Deni, Gita menunduk lesu, "Gita, jangan di ulang lagi ya. Laporan HARUS langsung lu cetak taro lemari dan back up soft copynya di flash disk kita" omel gue. "Iyaaaa, ampuuuun, udah cukup, udah ngertii. Maapin ya pak Mako huhuhu" jawab Gita sambil kasih muka melas. Gue berdiri, "Okee, rapat bubar grak! Semangat!".
Deni dan Gita beresin barang-barang mereka, "Kalian mau ngapain?" tanya gue, "Gue mau beresin laporan-laporan dulu di sini" kata Gita, gue acungin jempol ke Gita tanda 'nah gitu dong'. "Gue ada kelas bentar lagi" sambung Deni. "Emang lu nggak ada kelas Mako?" tanya Gita, gue menggeleng.
Gita dan deni tiba-tiba mengeluarkan aura api dari tubuhnya, "LU NGGAK ADA KELAS DAN BIKIN RAPAT JAM 8 PAGI??!" teriak mereka berdua. Gue ketawa, "DASAR KETUM GILA!" teriak Gita, "RUMAH GUA JAUH YAA GILA!" Teriak Deni sambil lempar spidol ke arah gue. Gue menghindar, "Eit! Nggak kena weeek!" ledek gue. Gue lari sebelum mereka berdua ngeluarin ilmu Boboboy kuase petir.
Apa salahnya emang kalo gue nggak ada kelas dan bikin rapat jam 8 pagi? Dasar Gita dan Deni aneh. Gue naik ke ruang Dekan untuk ngomongin rencana ini. Biasanya jam segini dekan lagi mesen makan untuk makan siang, otomatis gue bakal makan siang gratis. Hohoho
Nongkrong di atas itu jadi hal aneh buat anak-anak, sementara gue suka nongkrong bareng dekan, dosen, bahkan rektor. Karena mereka suka muji gue karena tugas gue yang 'sempurna' di mata mereka.
Kadang gue bantu mereka juga dalam beberapa hal. Kayak buka stand informasi untuk mahasiswa baru, pendaftaran semester pendek, atau sekedar jadi temen diskusi, bahkan gue diminta untuk bikin buku latihan/tugas sama mereka. Hal itu membantu gue untuk terus belajar dan mengasah otak gue ini.
***
Setelah dapet ijin kampus untuk bikin acara musik dan makan siang bareng sampe kenyang, gue jalan ke arah kantin. Saatnya gue bikin catatan materi kuliah kemarin sambil nyantai ngopi dan merokok di sana.
"Bang Mako!", gue nengok, "Oy, Wisnu. Kebetulan ketemu lu nih" Kata gue happy ngeliat muka ketum teater itu. Wisnu berlari kecil nyamperin gue, "Sibuk banget bang Mako" Kata Wisnu, "Lumayan nih, eh btw itu sekret lu besok mulai dibangun di belakang. Ntar sama gue kita liatin pembangunannya ya, 3 minggu paling lama lah udah selesai" Jelas gue. "Wah mantep bang Mako, besok abis gue kelas kita liat ya bang" Jawab Wisnu. "Oke, perkabaran aja Nu. Gue ke kantin ya" balas gue. "Siaap, thank you bang Mako!" kata Wisnu, gue acungin jempol sambil kasih senyum terkeren gue.
Gue jalan ke kantin, sesampainya di kantin gue keluarin leptop dan mulai mengetik. Hari ini anak-anak nggak ada yang punya kelas siang, kecuali Deni. Gue lihat sekitar..
Eh! Eh! EH!! Ngapain gue nyariin dia!! Cewek judes yang nyebelin, yang nggak mikirin orang lain, yang aneh..
Yang manggil gue pake nama asli gue.. Gilang.
Dia tahu dari mana nama gue? Anak-anak semuanya bahkan dosen, dekanpun manggil gue Mako. Selama ini dia nggak pernah berinteraksi sama gue kecuali kemarin, hmm.. Dasar aneh.
"Makoo my love" terdengar suara makhluk gondrong yang memecah lamunan gue, "Oy, Sat" Sapa gue. Satria duduk di samping gue, "Duh rajin banget sih Mako jam segini udah sibuk ngetik. Ngetik apaan lu?" Tanyanya sambil rangkul pundak gue. "Nggak usah sok deket lu, nggak usah kepo juga" Jawab gue. "Eh galaknyaaa pak ketua" Sindir dia.
"Ini rangkuman materi kelas kita kemaren, gua mau bikin biar bisa dibaca-baca sama anak-anak yang otaknya jongkok kayak lu" Jawab gue. Satria senyum dengan muka puppy-nya kemudian peluk gue, "Baik banget Makoo! Aku terharuu! Aku sayang Makoo!!". "Lepas sobat sampah!" Jitakan maut mendarat ke kepala Satria. "Hehehe, tetep aku sayang kamu" Jawab Satria dengan kepala benjol. Gue micingin mata ke Satria yang lagi senyum-senyum dongo.
"Eh, gue tadi di chat sama Deni. Katanya lu masukin gue ke kepanitiaan acara musik kampus" Kata Satria, gue mengangguk sambil tetep fokus ke leptop. "Acara musik apaan? Kapan? Gue jadi apaan?" Tanya Satria. "Ntar dikabarin lagi, belum kebentuk kok semuanya. Lusa lu ikut rapat ya" Jawab gue. "Apapun asal Mako senang!" Jawab Satria.
"Bang Kocoy, kopi satu bang!" Teriak Satria, bang Kocoy dateng sambil menadahkan tangannya, "Bayar dulu" Kata bang Kocoy. "Yaelah bro sama gue, besok juga masih kuliah di sini. Catet aja dulu" Jawab Satria. "Bayar langsung Sat, jangan dibiasain ngutang" Omel gue dengan mata yang masih menatap leptop. Satria merengut sambil bayar bang Kocoy. Bang Kocoy senyum lebar sambil bilang, "Nah gini dong bang, bang Mako emang paling ngerti gue dah!".
Setelahnya gue habisin waktu dengan lanjut ngetik sambil ngelayanin bacotannya Satria. Kemudian, Mala dateng.
__ADS_1
"Mako, kenapa tiba-tiba Deni bilang gue jadi panitia cabutan acara musik?", gue nengok ke Mala, "Gue yang suruh, emang lu nggak mau? Kalo nggak mau ya nggak usah" Jawab gue. "Eeh, judesnya ketua senat kita ini. Gue mau! Tapi ada syaratnya" Jawab Mala. "Nggak usah syarat-syaratan, kan gue bilang kalo nggak mau ya nggak usah" Jawab gue lagi sambil kembali fokus ke leptop. Mala duduk di depan gue, kemudian nunjukin jari telunjuknya, "Satu syarat" katanya.
Oke, nih anak minta perhatian gue. Gue lepas mata gue dari leptop, "Apa cantik syaratnya?" Tanya gue sambil kasih senyum manis.
Mala jawab, "Fira ikut masuk jadi panitia cabutan"..
Senyum gue hilang dalam sekejap, "Kenapa sih? Sejak kapan lu deket sama dia?" tanya gue. "Eh, nggak boleh gitu Mako. Cup cup cup" Canda Satria sambil elus punggung gue. "Ah! Serius nanya gue" Omel gue sambil nepis tangan Satria. "Emang kenapa kalo dia masuk? Bukannya nanti lu buka pendaftaran ya biar anak-anak daftar jadi panitia?" tanya Mala. "Ya iya, tapi gue pilih lagi yang bakal gue terima" Jawab gue. "Nah yaudah, gue minta Fira masuk" Kata Mala.
"Gue kan udah bilang kalo lu nggak mau ya nggak usah, gue nggak maksa lu untuk masuk Mala. Jadi lu nggak perlu kasih syarat-syarat begitu" Tegas gue.
"Mako" Tiba-tiba Mala pegang tangan gue, "Please, Fira selama ini sendirian dari awal masuk kampus. Gue pengen Fira ngerasain Keseruan yang kita rasain selama ini. Rasanya bertemen dan sibuk berkegiatan di dunia perkuliahan. Boleh ya Mako?" Sambung Mala sambil kasih muka melasnya.
Sialan, Nih anak tahu gue orangnya nggak tegaan, baik hati dan rajin nonton 'One Piece'. Dia tahu titik lemah gue, kalo dia udah begging kayak gini gue nggak akan sampai hati untuk nolak.
Gue tarik tangan gue sambil bilang, "Cih! Terserah!" Gue lanjut ngetik..
"Makooo! Love youu!!" kata Mala sambil peluk gue, "Ikutaaaaan!!" Kata Satria sambil ikutan meluk. Deni yang terlihat lari dari kejauhan membuka tangannya langsung menerkam kita bertiga "Berpelukaaaan!!".
"LEPAAAAS!! Gue mau lanjut ngetik!" Omel gue. Mereka tetep peluk gue. Gue senyum, seneng, walau temen-temen gue bukan termasuk yang tinggi nilainya di kampus. Tapi, mereka punya hati yang baik.
Dengan begini, Fira, orang yang paling gue benci sedunia mulai menyusup masuk ke kehidupan gue.
Fira..
Perempuan yang gue benci hawa hidupnya setiap kali gue ngeliat ujung rambutnya di kampus,
Fira..
Perempuan aneh, yang nyiram muka gue pake kopi dan mempermalukan gue di depan publik,
Fira..
Perempuan biasa-biasa aja, nggak ada yang spesial, bermuka judes, dan selama ini menyendiri,
Fira..
Satu-satunya orang di kampus yang manggil gue pake nama asli gue,
__ADS_1
Gilang..