Gimme One More Day

Gimme One More Day
Mengkaget!


__ADS_3

Terkadang diam akan mendatangkan solusi, tapi mengikuti amarah akan berujung buruk.


Desiran ombak begitu menggelegar ditelinga, angin terus menerpa tubuh seorang lelaki dengan serpihan hati yang berantakan. Menyedihkan! Kasian sekali kau mana masih muda, sedikit kata itu yang menggambarkan kondisi Andrean sekarang. Sangat berantakan!


Perkataan Tania yang dengan mudahnya meminta Andrean menjalin hubungan dengan Vina, membuatnya seolah olah dianggap sebagai barang murahan yang dengan gampang di beri dan di terima.


Secinta cintanya Andrean pada Tania, Andrean tetap lah manusia normal. Dia tau apa itu penghinaan, dia bisa merasakan sakit, dia tak tau harus berbuat apa sekarang.


Drettt dreeet dreettt


Getar dari ponsel Andrean tak berhenti bersuara, memperlihatkan Tania menelfon nya. Entah berapa ratus kali dia mengabaikan telfon dari Tania.


Padahal ia sadar, ini adalah yang pertama Kalinya Tania menelfonnya. Karena biasanya Andrean lah yang menelfon. Tapi tetap saja, ini terlalu sakit!


Andrean butuh waktu, setidaknya untuk mengeringkan luka nya yang menganga lebar. Ia jelas tak habis fikir apa yang Vina katakan dan apa keputusan Tania setelah tau perkataan Vina.


~


Dikamar Tania, dengan sangat gelisah dan khawatir akan keadaan andrean, ia menyerah untuk menelfon andrean. Ratusan kali panggilannya tak dijawab.


"Untungnya gue ngikutin mereka tadi, Soalnya mereka lama sih ngomongnya maka nya gue curiga dan bener aja ternyata. Tapi sekarang Andrean gimana, dia sama siapa,lagi ngapain, gue takut hal buruk terjadi sama dia, duhhh" batin tania yang masih menatap langit langit kamarnya. Kamarnya sunyi tapi kepala tania sangat ramai.


Niat Tania yang akan menyatakan bahwa dia sudah mencintai Andrean pun gagal. Hubungannya pun sudah diujung tanduk,..


"aarrgghhh" geram Tania sambil membantingkan bantal ke dinding.


"gue harusnya gak segampang itu nyuruh andrean jadian sama Vina. Gue juga kan cinta sama Andrean, Andrean juga pasti sakit hati banget sama gue. Duhh dasar Tania oon ih benci" ucapnya sambil tak henti henti memukul guling..


~


Menjelang petang...............


Bisingnya suara ombak, kencangnya angin, serta matahari yang akan terbenam samasekali tak mengusik Andrean. Ia masih betah menatap laut dengan tatapan kosongnya. Fikirannya melanglang buana, hingga getar handphone tanda panggilan masuk pun membuatnya menoleh kearah ponselnya. Bukan tania. Bukan vina. Tapi Mami nya.


"Hallo mi, ada apa nich" ucap Andrean dengan nada yang direkayasa sebisa mungkin agar terdengar ceria, seceria andrean biasanya.


"Lupa jalan pulang kah?" ucap mami nya ketus.


"hehe kalo lupa pun kan ada GPS mam"


"balik!"


"siap"


Tuttttt


"Hadeuhhh masih betah, tapi balik aja deh gue" batin Andrean.


Ngeengggg seettttttttttttttt ngeng settt..


Dengan kecepatan angin Andrean mengendarai sepeda motornya, wajar ia tidak kena tilang. Karena ia lewat jalan tikus.


Sampai depan pintu, niatnya membuka pintu urung karena pintu dibuka dari dalam, tampaklah wujud wanita paruh baya dengan posisi bertolak pinggang.


" bagus ya, pulang jam segini, bentar lagi ujian. Mau kuliah ga sih? Mau lulus ga sih? Niat idup ga sih? "


"ya niat lah mam."

__ADS_1


"mau begitu lagi ga?"


"ngga mam."


"yaudeh sono makan, mandi"


"oke mam."


Setibanya andrean dikamar, ia kembali duduk, melamun, menatap dinding dengan tatapan kosong. Apa yang harus dia lakukan. Itulah yang dia bingungkan.


"huffttt" Andrean merebahkan dirinya ke kasur. Menatap langit langit kamar dan terlelap.


~


"Duhh gimana ini? Kek nya andrean murka banget deh" ucap tania dengan seseorang melalui telfon.


"Yaudah lu minta maaf aja lah. Dia pasti maafin ko,kan dia cinta sama lu. Yang penting lu ga gitu lagi" ucap seseorang yang sedang berbicara dengan tania.


"iya sih, oke deh. Makasih bangett sarannya. Wahai sepupuku."


"iye, dah."


"dahh"


Tuttttt


Panggilan berakhir. Tania menceritakan apa yang terjadi hari ini, apa yang membuatnya resah, gelisah dan khawatir. Sepupunya yang bernama Tia, adalah anak dari adik bundanya. Mereka seusia dan tinggal di kota yang sama tetapi sedikit berjauhan jarak rumahnya.


"oke. Pokonya besok gue harus minta maaf ke Andrean. Andrean harus maafin gue. Gue juga bakal bilang kalo gue udah cinta sama dia" Tekadnya pada diri sendiri.


Terukir indah senyuman tania saat mengingat betapa sulitnya Andrean membujuknya untuk berfoto.


~


Pagi harinya tania dan Andrean berbeda. Tania menunggu Andrean yang biasa menjemputnya. Andrean yang sudah sampai disekolah.


Tania menelfon Andrean, hendak menanyakan akankah ia menjemputnya. Tetapi panggilannya tak mendapat jawaban. Ia pun mengirim pesan.


"mau jemput ga" send.


Tinggg........


Andrean melihat Pengirim pesan, karena ia kira itu adalah orang yang suka menawarkan pinjaman uang tetapi kali ini tania.


Andrean membuka pesan dari tania dan menjawabnya dengan.......


"g" send.


Hanya satu huruf! Ingat, satu huruf bukan satu kata! Ini pertama kalinya andrean cuek terhadap Tania. Mungkin karena memang terlalu sakit ya luka yang tania berikan.


Tania yang menunggu jawaban Andrean langsung membuka pesan yang baru tiba di ponsel nya. Ia tertohok! Terkaget! Tania menganga lebar! Tangannya diangkat menutupi mulutnya yang masih menganga. Matanya melotot! Tania kaget! Sangat kaget!


1


2


3

__ADS_1


"Gila! Ini Andream bukan sih? Sumpah demi apa ini Andrean? Seumur umur Andrean ga pernah kek gini! Wah anjirrr wahhh" cerocos tania hebohh.


Tania terdiam sebentar lalu menghirup udara, tarik nafas, keluarkan nafas dan berkata.....


"hmmm bau bau aroma murka andrean"


Tania pun berangkat dengan jasa ojek online.


~


Tania tergopoh gopoh, buru buru menuju kelasnya. Ia ingin segera menemui Andrean.


"Andrean!" teriak tania begitu sampai di kelas, yang membuat orang orang di kelas terlonjak kaget


" gua kira suara setan mode on"


"Tania mode stress"


"Tania wah"


"Ngapa lu tan?"


Begitulah makian lembut orang yang terkaget karena teriakan tania. Sedangkan Andrean. Sang pemilik nama yang namanya dipanggil Tania acuh tak acuh.


Baru tania melangkah menuju kemenangan, eh andrean maksudnya. Guru yang mengajar pelajaran kemarin datang.


"Bu, hari ini gaada pelajaran ibu" ucap ketua kelas


"Iya ibu tau. Ibu mau nyari Andrean, kemaren dia bolos."


"Saya disini bu," ucap andrean dengan tenang


"berdiri dilapangan sambil hormat! Selama dua jam pelajaran"


"iya bu" ucap andrean dan melangkah pergi. Niat Tania pun tak terlaksana lagi.


~


Ditengah lamunan tania, suara vina membuyarkan lamunannya. Vina yang sedang bertegur sapa denga teman yang lain tak lepas dari pandangan Tania.


Vina yang sadar sedang diperhatikan pun menoleh. Mereka saling pandang. Hingga vina pun menghampiri Tania dan......


"Maafin gue ya tan" ucap vina mengawali percakapan


"iya" ucap tania ketus.


Vina pun duduk di tempat duduknya. Sambil tersenyum sinis. Tania yang tak habis fikir akan kelakuan sahabatnya itu hanya bisa menganga.


"Gila anjirr, gitu doang? Dih ****** dasar! Udah bikin hubungan orang berantakan juga. Watados emang" ucap tania dalam hati.


Tania melangkah, hendak menegur Vina. Tapi guru mapel pertama muncul. Niat Tania pun diurungkan...........


Dua jam pelajaran berlalu, Andrean selesai dengan hukumannya. Ketika andrean memasuki kelas, ia disambut sebotol minuman yang disuguhkan oleh Tania. Namun, andrean hanya menoleh lalu pergi melangkah mendekati tempat Vina duduk dan berkata,..........


"Vin, lu mau gak jadi pacar gue?"


~

__ADS_1


__ADS_2