
Pagi hari yang cerah, Matahari bersinar terang diatas langit. Angin berhembus dengan anggunnya melewati sela-sela pepohonan di taman kota. Cahaya matahari mencapai jendela rumah Gaki, ia terbangun dan duduk diatas kasurnya. Gaki melirik kearah jam dinding yang terpasang di pintu kamarnya, jam itu menunjukkan pukul 09.30.
"Jam 9.... jam 9.30, setengah sepuluh.... sepertinya aku terlambat...", Ujar Gaki pelan. Ia mencoba tidak panik, Gaki mengambil tasnya yang tergeletak di samping kasurnya, ia berjalan pelan keluar rumah dan pergi ke akademi.
Gedung Akademi berjarak 2 kilometer dari rumah Gaki, dan dia sudah terlambat mengikuti kelas pertamanya yang dimulai jam 08.00, tapi sudah merupakan kebiasaan Gaki untuk tidak mempedulikan hal apapun, ia melakukan apa yang ia mau, dan ketika ia mengatakannya, ia akan benar-benar melakukannya.
Jam 10.15, Gaki sampai di Akademi, orang-orang sudah berkeliaran disana, sudah masuk waktu istirahat. Gaki pergi ke ruangannya, Shin yang merupakan ketua kelas menunggu Gaki di depan pintu kelas. "Kau terlambat lagi untuk kesekian kalinya, di hari dan mata pelajaran yang sama, ck ck," Shin menggelengkan kepalanya. "Apa masalahmu dengan itu, yang akan dikenai hukuman aku sendiri," Gaki tidak melihat kearah Shin sedikitpun, ia masuk ke kelas tanpa memedulikan omongan Shin sedikitpun. "Anak sialan itu...".
Gaki duduk di kursinya yang terletak di bagian belakang, tepat di depan rak buku kelas. Gaki mengambil sebuah buku yang paling besar di belakangnya, judul buku itu adalah 'The Egyptian King, Tutankhamun'. Gaki pun mulai membaca buku tersebut dengan seksama. Shin perlahan berjalan mendekati Gaki, ia mengambil kursi dan duduk disamping Gaki. "Jadi kau tertarik dengan Raja Tut? Kau lebih pintar dari yang kupikir," Shin tertawa kecil. "Kau selalu mengatakan itu selama 3 tahun, aku sudah muak dengan perkataanmu," Gaki memalingkan muka dari Shin.
Shin masih duduk disamping Gaki, ia ikut membaca bukunya dengan seksama. "Hei, aku belum selesai membaca halaman tadi," Shin mencoba membalik halaman buku tersebut, "cukup, Shin, cukup." Gaki mulai emosi dengan tingkah laku Shin, iapun berdiri dan membanting buku tersebut ke mejanya. Shin seketika terkejut dan ikut berdiri, murid-murid lain menoleh kesumber suara. "Kau, kau..... KAU!...." Gaki menatap Shin, dan diapun pergi keluar kelas. "Anak itu..." Shin menaruh buku tadi ke tempatnya.
Gaki duduk di taman akademi, ia terlihat lemas, rambutnya berantakan, ia sedang diliputi amarah. Seorang murid berjalan perlahan, dia duduk disamping Gaki. "Konnichiwa," murid tersebut menyapa Gaki sambil menepuk pundaknya. "Singkirkan tanganmu dari ku," Gaki menatap murid tersebut dengan tatapan tajamnya, "Ah.. oke...," ia melepas tangannya dari pundak Gaki. "Pepohonannya indah ya, angin disini juga sejuk, berbeda dengan suasana Eropa yang padat," murid itu memulai topik pembicaraan. "Apa yang kau mau, kalau tidak ada cepat pergi dari sini," Gaki mulai kesal dan menyuruh murid tersebut pergi,"Aku Eden, murid baru di akademi ini, salam kenal."
Gaki diam tanpa memberikan reaksi apapun, ia duduk diam. "Maaf, aku akan pergi," murid yang bernama Eden itupun pergi dari hadapan Gaki.
Lonceng Agung berbunyi, tanda waktu kelas kembali dimulai, Gaki berdiri dan berjalan kembali ke kelas. Gaki duduk di kursinya, Shin sudah tidak ada di samping kursi Gaki, ia sudah pindah ke kursinya di depan kelas. Waktu belajar sudah dimulai, tapi belum ada Guru yang masuk, sampai seorang murid masuk kedalam kelas, ia berjalan dengan tenang masuk ke dalam kelas, mengambil sebuah kapur yang tergeletak di dekat papan tulis, ia menulis sebuah kata yang tidak asing bagi Gaki, "Eden, namaku Eden, salam kenal semuanya," anak itu melambaikan tangannya,
Eden berjalan ke bagian belakang kelas, tempat dimana ada satu kursi kosong yang sudah disiapkan sebelumnya, ia duduk disamping Gaki. Ketika Eden sudah duduk dengan tenang di kursinya, seorang guru masuk, ia adalah Master Wang, wali kelas ruangan tersebut. "Ah... anak-anak, ada... eh," Master Wang sedikit kaget karena murid baru tersebut sudah ada di kelas, "Sepertinya saya melewatkan sesuatu..," Master Wang tertawa kecil, "Lebih baik kita langsung mulai pelajaran hari ini, sejarah."
Master Wang menjelaskan materi hari ini, materi tersebut sama dengan buku yang tadi pagi dibaca oleh Gaki, kisah tentang Raja Mesir, Tutankhamun. Gaki fokus memperhatikan Master Wang, Eden beberapa kali menoleh ke Gaki dan mencoba mengalihkan perhatiannya, tapi Gaki sama sekali tidak memedulikan Eden sedikitpun.
Waktu terus berjalan, sampai jam pelajaran pun berakhir, Gaki mengambil tasnya dan berjalan keluar akademi. Ia berjalan dengan tenang, selama ia berjalan Gaki merasa ada seseorang yang mengikutinya, tapi setiap ia menoleh kebelakang ia tidak melihat siapapun. Gaki menghentikan langkahnya, ia merasa dalam bahaya, dan tempat ia sekarang merupakan jalanan yang memang jarang ada orang lain melewatinya. "AKU TAU KAU DISINI, KELUARLAH PENGECUT," Gaki berteriak kencang, ia melihat sekelebat bayangan hitam lewat didepannya, "hari ini sepertinya hari sialku," Gaki memasangg kuda-kuda, ia bersiap untuk mengeluarkan serangannya. "Sepertinya kau cukup waspada, ya," Seseorang muncul dibelakang Gaki, ketika ia menoleh kebelakang, orang itu sudah menghilang, bukannya panik, Gaki justru tertawa kecil. "Jadi itu Grim-mu ya.... menjadi bayangan...," bayangan hitam tersebut berhenti di depan Gaki, dan seseorang keluar dari bayangan tersebut, badannya gagah dan tinggi, rambutnya panjang menutupi wajahnya, ia menggunakan Montsuki, sejenis kimono yang digunakan pria. "Yaa.... sepertinya kau benar.... tapi kau belum sepenuhnya benar...," orang itu tersenyum kecil dibalik rambutnya yang panjang, ia membentuk kuda-kuda, "Grim-ku adalah, Switch, aku bisa menukar posisiku dengan apa saja, dan yang kau lihat adalah aku bertukar dengan bayanganku, AhahahahHAHAHAHAHAH!!!!," orang itu tertawa kencang, "ah... maaf, aku terlalu membanggakan Grimku," orang itu kembali diam dan berdiri tegak. "Apa maumu? Kenapa kau disini?," Gaki menatap lelaki itu, orang itu mengeluarkan kipas dari bajunya, "aku disini untuk menyampaikan pesan, kau diundang ke dojo oleh Master, kami mungkin punya beberapa hal yang harus disampaikan padamu, terimakasih dan SAMPAI JUMPA!!!!," orang itu kembali tertawa dan tubuhnya kembali ke tanah, ia menghilang begitu saja.
Suasanya kembali sunyi, Gaki diam di tempat, ia masih dalam posisi kuda kuda, "Dojo?," hanya itu yanga da di pikirannya saat ini.
Gaki kembali ke rumahnya, Gaki melempar tasnya ke kamar, ia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. "Dojo?, aku tidak pernah mendengarnya, setauku sekitar sini tidak ada dojo....," Gaki bergumam, "Grim orang itu... Grim tingkat A, Switch...." Gaki menatap dirinya di cermin, ia menghela nafas.
Gaki kembali ke kamarnya, ia duduk di kasurnya sambil menatap sebuah peta dunia di kamarnya, peta dunia tersebut menunjukkan bekas tragedi penting di dunia, Gaki kembali mengingatkan dirinya sendiri soal tujuan dirinya selama ini, mencari pengguna Grim terkuat, pengguna Grim Elemental.
\~\~\~\~
Ini adalah dunia alternatif dimana semua berjalan tidak sesuai dengan dunia utama, terdapat satu kekuatan yang disebut 'Grimoire' atau yang sering disebut 'Grim', setiap seribu tahun sekali akan lahir seorang pemegang kekuatan terbesar, Elemental. Setiap pemegang kekuatan Elemental akan disebut dewa, karena mereka memiliki kekuatan yang sangat besar dan tidak terkira. Dewa pertama merupakan Eden, seorang manusia pertama yang muncul di bumi, ia memiliki kekuatan Elemental terbesar, ia dapat merubah apapun menjadi apapun, memahat gunung, menggerakkan bulan. Siddharta, seorang berpengaruh yang merupakan seorang Elemental, tapi ia menolak untuk menggunakannya dan mengunci kekuatannya sendiri sampai ia mati.
Grim berasal dari jiwa manusia, ketika manusia terlahir maka mereka akan memiliki Grim yang akan selalu bersama mereka sampai mati, tapi ada beberapa kasus ketika manusia tidak memiliki Grim, itu terjadi karena jiwanya yang tidak sempurna ketika terlahir. Grim tidak selalu berbentuk kekuatan, bisa juga kelebihan seperti memiliki umur panjang, mudah mengingat, dan lainnya.
Gaki, seorang anak muda yang memiliki tujuan mengalahkan dewa untuk menjadi orang terkuat, ia selalu mencari dimana dewa tersebut berada. Shin, ketua kelas dari Gaki mengetahui tujuannya, ia pernah menawarkan bantuan bagi Gaki untuk mencari dewa, tapi Gaki menolak dengan keegoisannya.
__ADS_1
Shin, seorang ketua kelas, ia juga merupakan ketua dari kelompok eksekutif akademi yang bernama "VOXX SQUAD", atau biasa disebut "Voxx". Kelompok tersebut terdiri dari 7 orang, dikepalai oleh Shin, dan wakilnya adalah Han. Voxx hanya melakukan tugas yang diperintahkan oleh akademi, seperti melakukan acara, mengajukan proposal, dan lainnya, tapi Voxx punya potensi lebih dari itu.
\~\~\~\~
Sudah 4 hari sejak kejadian soal dojo, Gaki masih bertanya-tanya soal itu, ia mencari semua info soal dojo di sekitar kota, tapi yang dia temukan nihil. Zaman modern sangat membunuh banyak dojo, ribuan dojo ditutup karena tidak adanya peminat, bahkan dojo san-biki no tora yang terkenal di seluruh dunia tutup karena peminatnya berkurang seiring zaman, orang-orang lebih suka berlatih di gedung olahraga di tengah kota daripada dojo yang berlokasi di pegunungan.
Pada akhirnya, Gaki memutuskan untuk mencari dojo itu sendiri, tapi ketika ia sudah bersiap untuk berangkat, pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Gaki berjalan kearah pintu rumahnya, suara ketukan semakin kencang, Gaki pun membuka pintu rumahnya, didepan pintu ada seseorang yang berdiri tegak, ia tersenyum pada Gaki, "halo, apa kabar," itu adalah Shin.
"Apa yang mau kau lakukan disini? Aku tidak ada waktu untuk bermain dengan kelompok bodohmu itu," ujar Gaki dengan tatapan sinis kepada Shin. "Tidak, aku hanya merasa kau sedang mencari sesuatu, apakah kau kembali mencari Sang Dewa?, hahaha," Shin tertawa kecil, "cukup," Gaki kembali menutup pintunya, "KAU SEDANG MENCARI DOJO KAN," Shin berteriak, pergerakan Gaki terhenti, ia kembali membuka pintunya, "kau mencari dojo kan," Shin tersenyum kecil, "darimana kau tau soal itu," ujar Gaki, "Ahh.... Bagaimana menjelaskannya ya.....," Shin menggaruk-garuk lehernya sambil tersenyum kecil, "tidak usah berlama-lama, jelaskan," Gaki mulai meninggikan nada bicaranya. "Aku mengikutimu saat itu menggunakan sunflower," Shin tersenyum kecil.
"Sudah kuduga, jadi dimana dojonya," Gaki tidak memberikan ekspresi apapun, ia tetap fokus pada topik pembicaraan, "ekspresimu sesuai perkiraanku," Shin menghela nafas, "aku sebenarnya belum tau dimana do-," belum sempat Shin selesai berbicara, Gaki langsung masuk ke rumahnya dan menutup pintunya. "Tungg-, HEY, AKU BISA MEMBANTUMU MENCARINYA!," Shin meneriakki Gaki yang sudah ada di dalam rumah, tapi Gaki tidak memberikan jawaban apapun.
Shin berbalik dan berjalan menjauh dari rumah Gaki, sedangkan Gaki kembali bersiap-siap untuk menacari dojo seorang diri. Setelah persiapannya selesai, ia pun mulai mencari dojo tersebut.
Tujuan Gaki adalah Gunung Fuji, Gunung tertinggi di jepang yang berada di sebelah barat Tokyo. Gaki pergi menggunakan taxi, selama perjalanan Gaki melihat ke peta, mencari setiap kemungkinan dojo tersebut berasal. Sebenarnya ada alasan lain kenapa Gaki memilih Gunung Fuji sebagai tujuan pertamanya, itu disebabkan dia mengenal seseoang yang tinggal disana, dia adalah Ryo Minamoto, dia adalah guru dan penjaga ketika Gaki masih kecil, ia adalah teman dari orang tua Gaki, Ryo jugalah yang menyelamatkan Gaki dari sebuah tragedi di masa lalu.
Setelah lumayan lama perjalanan, Gaki sampai di rute pendakian, ia menandai beberapa tempat di peta, karena ia sendiri tidak ingat pasti dimana rumah Ryo. Gaki memulai pendakiannya ketika matahari tepat diatas, ia mendaki seorang diri, tanpa ditemani siapapun.
Satu jam sejak Gaki mulai mendaki, tidak ada tanda-tanda rumah atau bekas tempat tinggal sama sekali, hanya bekas telapak kaki sepatu para pendaki. Gaki terus melanjutkan pendakiannya, ia tidak menghiraukan suara burung-burung dan hewan-hewan yang saling sahut-menyahut. Gaki terus mendaki, sesekali ida berhenti untuk minum dan beristirahat sejenak. Cahaya matahari masih sangat terik, Gaki masih memiliki banyak waktu untuk mencari rumah Ryo, sampai akhirnya Gaki mendengar suara teriakan seseorang.
Banyak hal yang ada di pikiran Gaki, soal Elemental, dojo, dan suara teriakan orang tadi. Dua jam sudah Gaki mendaki, ia semakin dekat dengan puncak, ia sampai di sebuah check point yang di sediakan oleh organisasi pecinta alam. Gaki beristirahat sejenak, tidak ada seorangpun disana, hanya Gaki seorang. Beberapa kali ia mendengar suara burung, tapi lama kelamaan ia semakin terganggu dengan suara burung tersebut, semakin lama semakin banyak saura burung yang ada, Gaki pun memutuskan mencari asal suara burung-burung tersebut.
Gaki melangkah masuk ke hutan, kini suara burung tersebut terdengar lebih kencang dan nyaring, sampai pada titik dimana Gaki mendengar suara rintihan seseorang. Gaki berlari kencang, dan yang ia temukan sangat mengejutkan. Diatas tanah lumpur yang dipenuhi darah, ada seseorang yang terbaring disana, posisinya terbalik, badannya sudah hitam seperti habis dibakar, tubuhnya digerogoti hewan dan burung-burung, ia mengeluarkan bau busuk yang amat menyengat.
Gaki menutup hidunya untuk menghindari bau busuk dari mayar tersebut. Gaki mendekat perlahan, ia mengeluarkan pisau dari kantongnya untuk berjaga-jaga. Gaki membalikkan orang tersebut dengan kakinya agar bisa melihat wajahnya. Wajah orang tersebut sudah hancur, seperti dipukul oleh benda tumpul, dia menggunakan Montsuki, jenis pakaian yang sama seperti yang digunakan orang berambut panjang, yang membedakan orang dihadapan Gaki saat ini tidak memiliki rambut, atau botak. Gaki mengambil sehelai daun lebar yang digunakannya untuk menutup mayat tersebut, dan memberikan penghormatan terakhir berupa ojigi. Gaki pun mencari sesuatu yang bisa membantunya menguak misteri ini, ia berjalan ke hutan yang lebih dalam, tapi ia tidak menemukan sesuatu bahkan jejak kaki sekalipun.
Gaki pun memutuskan untuk menelepon polisi, ia menunggu di Tenda Check Point , 15 menit kemudian, regu penyelamat datang menggunakan helikopter dan mobil offroad. Gaki diintrogasi soal kasus yang dicurigai pembunuhan tersebut, Gaki menjelaskan semua hal yang ia tau, sampai ia dikagetkan sebuah bukti yang diberitahu oleh seorang anggota regu penyelamat, ia menyatakan kalau mereka menemukan sebuah bangunan.
Regu penyelamat langsung pergi ke tempat yang disebutkan, Gaki ditahan agar tidak ikut dalam penyelidikan ini, ia pun menetap di Check Point sambil menunggu kabar terbaru dari regu penyelamat. Seorang anggota regu penyelamat yang ikut menunggu di samping Gaki, di telpon dan diberi perintah untuk membawa Gaki ke tempat tersebut sambil membawa peralatan medis, mereka berdua pun pergi ke tempat yang di beri tahu tersebut.
Gaki dikejutkan dengan sebuah bangunan yang sudah hancur, tempat tersebut sudah hangus terbakar, beberapa bagian hancur lebur seperti terkena bulldozer, bekasnya persis seperti mayat orang sebelumnya. Tidak hanya itu, di dalam tempat tersebut terdapat banyak mayat yang tergeletak. Ada beberapa barang bukti yang ditemukan regu penyelamat, seperti pedang, baju, beberapa gulungan kertas kuno, tapi beberapa sudah hangus terbakar, ada juga sebuah kotak yang berisi surat, Gaki diberitahu isi dari surat tersebut, dan isinya adalah :
"Pergilah, beritahu dia, dojo ini sudah tidak aman, mereka mulai kembali bergerak di balik bayang-bayang, tersebar di seluruh penjuru dunia, mereka akan membunuh sang dewa, mereka adalah para pembunuh dari negri para petani, selamatkan diri kalian, lindungi sang dewa!"
Gaki seketika lemas, dojo yang ia cari sudah hancur, tapi apabila ia datang lebih cepat, mungkin ia akan ikut menjadi korban, dan kasus ini akan hilang selamanya.
Gaki pun diantar pulang oleh regu penyelamat, ia kembali ke rumahnya setelah mendapat tragedi yang membuatnya sedikit trauma, menurutnya, tragedi ini ada hubungannya dengan beberapa tragedi di tahun tahun lalu. Beberapa dojo dihancurkan, dan anggotanya dibunuh dengan sadis, hampir 1000 dojo di seluruh dunia terkena tragedi ini, dan semua dojo tersebut meninggalkan bukti yang hampir mirip, sebuah kotak dengan surat, meski setiap surat berisi hal yang berbeda, tapi mereka selalu menyebut 'negri para petani' dan 'sang dewa'.
__ADS_1
Gaki kembali mencari informasi soal tragedi-tragedi tersebut, tidak ada satupun saksi mata dalam kejadian tersebut, ia hanya bisa menemukan lokasi dojo-dojo hancur tersebut, dan 300 diantaranya berlokasi di jepang, yang berarti 30 persen dari seluruh dunia berfokus di jepang. Gaki mengambil kesimpulan kecil, Jepang adalah lokasi paling memungkinkan dimana sang dewa berada, dan para petani sekarang berada di Jepang.
\~\~\~\~
Dua hari sejak tragedi dojo di Gunung Fuji, tempat pendakian ditutup untuk penyelidikan lebih lanjut, Gaki masih melanjutkan kehidupan akademi nya seperti biasa, ia masih menjauh dari orang lain, mencari kesenangan untuk dirinya sendiri. Eden masih sering mencari perhatian dari Gaki, bahkan kadang ia memberikan makanan pada Gaki, tapi semuanya ditolak oleh Gaki. Eden tidak pernah menyerah sampai Gaki mau berbicara dengannya, bahkan ia meminta bantuan pada Shin yang sudah berteman dengan Gaki lebih lama, tapi tetap tidak berhasil.
Sebenarnya, di seluruh akademi hanya ada 3 orang yang dekat dengan Gaki dan bisa mengajaknya berbicara, Shin, yang merupakan teman lamanya, Ray, yang juga seorang pendiam, dan Noah, yang juga teman lama Gaki. Noah dan Gaki dulu sering berkomunikasi satu sama lain, bahkan Gaki bisa terlihat bahagia ketika bersama Noah, tapi sangat disayangkan ia sudah meninggal karena sebuah kecelakaan yang menimpanya tahun lalu. Sejak saat itu, Gaki lebih pendiam dari sebelumnya, ia menjauhi siapapun, karena ia merasa menjadi pembawa sial, dan ia juga berpikir bahwa berteman dapat menghambatnya dalam mencapai tujuannya.
Ray, seorang keturunan Klan Fusu di China, ia juga termasuk orang yang pendiam. Kelasnya berbeda dengan Shin dan Gaki, tapi ia terkadang menghampiri Gaki untuk meminjamkan beberapa buku. Ray juga kadang-kadang mengajak Gaki untuk latihan bersama di pusat olahraga kota, dan beberapa kali Gaki menyetujui ajakannya.
Gaki sangat misterius di akademi, ia selalu datang terlambat di beberapa kelas, tapi ia masih mendapat nilai A di semua mata pelajaran, meskipun ia tidak akan bisa mencapai ranking pertama dikarenakan keterlambatannya. Shin seringkali mengajak Gaki untuk bermain bersama anak-anak lain, tapi Gaki selalu bersikap tidak peduli, bahkan kadang menghina mereka, Gaki juga pernah membuat Yuu marah karena Gaki menghina Voxx.
Guru-guru di akademi sudah seringkali menegur Gaki karena sikapnya, tapi Gaki tidak pernah peduli soal itu, beberapa guru memang ada yang sudah tau alasan Gaki bersikap seperti itu, tujuannya menjadi yang terkuat. Gaki juga terlihat jarang menggunakan Grimnya, dia hanya menggunakannya ketika ujian kekuatan saja, selain itu dia tidak menggunakannya.
Gaki beberapa kali memang sempat menunjukkan Grimnya di depan Shin, tapi ia tidak pernah menjelaskan soal Grimnya sedikitpun, setiap kali Gaki ditanya soal itu, dia selalu menjawab 'kau tidak ada hubungannya denganku.' Shin sebetulnya memiliki rasa kasihan pada Gaki, hanya ia yang tau soal masa lalu Gaki yang kelam.
Orangtua Gaki adalah orang penting di Negara Jepang, ayahnya sempat menjabat menjadi komandan di salah satu divisi kemiliteran Jepang dan meningkatkan kekuatan militer Jepang, ibunya merupakan seorang mantan mata-mata intelijen Jepang, tapi disayangkan, mereka berdua hilang tak berjejak saat Gaki masih balita, mereka dikabarkan hilang ketika Gaki sedang berada di rumah kakeknya yang berada di Hokkaido. Beberapa tahun kemudian, Gaki dan kakeknya pindah ke Tokyo untuk tinggal di rumah Gaki yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun. Ryo Minamoto, teman ayah Gaki diperintah untuk tinggal bersama mereka sekaligus melindungi Gaki dan kakeknya, kehidupan mereka pun berjalan aman sampai kejadian 10 tahun lalu.
Di tengah sunyinya malam, Ryo masih terbangun di ruang tamu, ia membersihkan katana nya yang berdebu, tiba-tiba kobaran api muncul dari dapur, Ryo langsung berlari ke kamar Gaki yang berada di lantai dua dan melompat keluar dari jendela, Ryo berniat kembali kedalam untuk menyelamatkan kakeknya Gaki, tapi sangat disayangkan, api sudah tersebar ke seluruh rumah, mayat kakek ditemukan tak bernyawa setelah hangus terbakar api. Ryo yang merasa bersalah pun pergi meninggalkan Gaki, ia meninggalkan Gaki di depan sebuah panti asuhan, dan hanya memberikan uang bulanan bagi Gaki. Awalnya Ryo berniat untuk harakiri untuk membayar atas kesalahannya, tapi ia mengurungkan niatnya karena Gaki akan kesulitan melanjutkan hidup tanpa ada pendamping disisinya. Ryo selalu ada untuk Gaki, tapi ia tidak pernah lagi memunculkan dirinya, ia bahkan sudah hilang sepenuhnya ketika Gaki masuk akademi, karena ia yakin Gaki dapat melanjutkan hidupnya sendiri.
Ryo sendiri sebenarnya sudah mati, ia melakukan harakiri di rumahnya yang berada di Gunung Fuji, maksud dari Gaki mendaki gunung dan mencari rumah Ryo adalah untuk memberikan salam hormat dan salam perpisahan terakhir. Gaki sendiri sebetulnya sudah lupa wajah dari Ryo, dan Gaki juga tidak pernah melihat Ryo menggunakan Grim nya, ia hanya melihat Ryo menggunakan katananya untuk pertahanan diri.
Di Jepang, menggunakan Grim di tengah umum merupakan sebuah pelanggaran apabila melewati batas yang ditentukan, kecuali untuk pertahanan diri, berbeda dengan negara-negara barat yang mayoritas memperbolehkan rakyatnya menggunakan Grimnya sebebas mungkin.
Ada beberapa jenis Grim yang di akui oleh World Protection Organization atau WPO, lembaga yang meneliti soal Grim dan cara menangkalnya. Jenis Grim dibagi 4, Fisis, Magis, Biologis, dan Kimia. Jenis Fisis adalah Grim yang dapat memanipulasi bentuk, tapi bisa kembali ke bentuk asal, contohnya Grim yang memperkuat tubuh. Magis, jenis Grim yang diluar tingkat normal, seperti berteleportasi, dan memanggil Chimaera. Jenis Biologi s disebut tingkat paling rendah, karena yang diklasifikasikan dalam jenis ini hanya seperti berumur panjang, mudah menghafal, tapi ada satu Grim yang paling kuat di jenis ini, yaitu regenerasi. Jenis Kimia, jarang ada yang memilikinya karena Grim ini merupakan malfungsi dari Grim jenis fisis, tapi mereka bisa memiliki kekuatan yang lebih besar, ada juga beberapa Grim yang murni berjenis kimia, seperti Mutasi, dan mengeluarkan laser.
Grim juga dibagi beberapa kelas, diurut dari paling tinggi A, B, C, D, E, F. Setiap kelas ditentukan dari keahlian penggunanya, karena beberapa Grim bisa berevolusi menjadi lebih kuat apabila penggunanya bisa mengendalikan Grimnya.
Sejak tahun 2007, dicatat ada 200.000 orang yang tidak memiliki Grim di seluruh dunia, dan terus berkurang, sampai saat ini hanya tersisa 1000 orang di seluruh dunia yang tidak memiliki Grim. Peneliti menyebutkan bahwa gen yang membawa Grim tersebut tetap ada, tapi mereka tidak bisa mengaktifkannya karena jiwanya yang tidak sempurna.
\~\~\~\~
Hari kamis, Gaki tidak memiliki kelas siang, ia memutuskan pergi ke supermarket untuk membeli bahan pangan selama beberapa hari kedepan. Gaki pergi menggunakan taxi, sesampainya disana, ia langsung menuju bilik makanan. Gaki sempat dilirik beberapa orang karena ia menggunakan jaket hitam serta postur tinggi badannya yang membuatnya dicurigai penjahat. Selama berbelanja, Gaki melihat seseorang yang mengambil sebuah snack dan dimasukkan ke dalam kantongnya, Gaki pun menghammpiri orang itu dan menarik tangannya. "Apa yang kau lakukan," orang tersebut menatap Gaki, ia sedikit menenggak keatas karena tubuhnya lebih pendek, "kembalikan benda itu," Gaki menatap tajam orang tersebut, "PENCURI, ORANG DI DEPANKU INI PENCURI," orang tersebut tiba-tiba berteriak ke pelanggan lain dengan menyebut Gaki sebagai pencuri, beberapa orang langsung berlari kearaah Gaki dan memukulinya. Gaki tetap bertahan pada posisinya, ia masih memegang tangan orang tersebut, meski ia dipukuli banyak orang, Gaki terlihat tidak merasa sakit sedikitpun, Gaki menarik zipper si pencuri dan beberapa barang curiannya berjatuhan, "aku bukan pencurinya." Gaki yang sudah hampir marah kembali menghela nafas, orang-orang sekarang menatap ke si pencuri yang sesungguhnya, beberapa penjaga pun datang menghampiri kerumunan dan mengamankan si pencuri, Gaki diberi kompensasi beberapa bahan makanan.
Setelah selesai berbelanja, Gaki berniat langsung pulang ke rumahnya, tapi karena jam masih menunjukkan 16.15, Gaki mengurungkan niatnya dan beralih untuk sejenak beristirahat di supermarket. Ia pergi ke salah satu kafe di sana, ia membeli secangkir Cappucino dan sepaket Sushi. Gaki menikmati makanannya untuk beberapa lama, sampai ia mendengarkan suara kaca pecah.
Orang-orang berlarian, beberapa teriak histeris, Gaki melihat ke pintu utama ada mobil besar mendobrak masuk, beberapa orang melindungi diri mereka menggunakan Grim masing-masing, tapi Gaki masih bersikap tenang di kafe yang bahkan penjualnya sudah lari. "Hey nak, berikan semua uangmu," seseorang menodong Gaki dengan senapan dari belakang, Gaki masih bersikap tidak peduli, seketika senapan orang tersebut hancur berkeping keping, Gaki berdiri dan berbalik menatap orang tersebut yang kaget dan ketakutan, "kenapa.... kenapa senjata ini bisa hancur....," orang tersebut terjatuh menatap Gaki dengan rasa ketakutan, "Kenapa?! KENAPA??!! KARENA AKULAH YANG TERKUAT," Tangan kanan Gaki mengeluarkan api hitam yang berkumpul dan membentuk sebilah pedang, ia menodongkannya ke orang tersebut, "diam dan nikmatilah."
__ADS_1