Grand Fate : El Muerto

Grand Fate : El Muerto
Jikan


__ADS_3

Gaki masih menutup mata Eiji dan matanya dengan erat, dia hanya mendengar suara dari orang yang berdiri didepannya. "Aku sudah menunggumu sangat lama, duduklah, ada hal yang harus aku bicarakan denganmu," ujar Orang Misterius tersebut, "kakek?," Eiji terlihat penasaran dengan suara yang membuatnya familiar itu, "duduklah, bukalah mata kalian, aku bukan musuh kalian," orang itu berkata dengan lembut, seperti ada aura positif yang menyelimuti hati Gaki, dia melepas tangannya dan perlahan membuka matanya.


Orang itu berbadan tegap, sangat tidak mencerminkan bentuk tubuh seorang kakek, rambutnya sudah berwarna putih dan pendek, tingginya sekitar 180 cm, dia tersenyum kepada Gaki. "Apa kau bisa kami percaya?," Gaki menanyakan orang itu perihal matanya, matanya berwarna kehijauan dengan jarum jam didalamnya, persis seperti milik Eiji, "itu adalah kakek, kita harus mempercayainya," Eiji sedikit membujuk Gaki, Gaki membalasnya dengan menghela nafas, ia melepas selaput pelindung yang awalnya digunakan.


Gaki dan Eiji duduk di kursi ruang keluarga, dan orang itu duduk didepannya, mereka hanya dibatasi sebuah meja. "Jadi Eiji sudah bertemu denganmu, ya," orang itu tersenyum kecil, dia terlihat bersedih, air mata perlahan menetes dari matanya, Gaki dan Eiji dipenuhi kebingungan. "Biar kuperkenalkan diriku, namaku adalah Shinichi Jikan, kepala keluarga dari keluarga Jikan, seperti yang kau lihat, Eiji adalah penerusku," orang itu mengusap air matanya, Eiji dan Gaki merasa  iba pada orang tersebut, tapi dia menahan aksinya.


"Semua hal sudah ditentukan sejak awal, selalu diberitakan sejak awal, tapi kita tidak pernah menyadarinya," orang yang bernama Shinichi itu semakin terlihat bersedih, "Eiji, kau adalah bagian dari klan yang sangat kuat, dan kau adalah yang terkuat diantaranya, tapi kau juga membawa kutukan yang kuat," Shinichi menatap Eiji. Gaki dan Eiji terlihat antusias dengan perkataan Shinichi, "apa yang sebenarnya kau ingin sampaikan pada kami?," tanya Gaki keheranan, "hentikan basa-basinya, masuk ke dalam berita utamanya."


"Beberapa tahun lalu, Eiji kecil kehilangan kedua orang tuanya, beberapa bulan lalu, istriku, Omori, atau nenek dari Eiji, mengalami kecelakaan dan meninggal, aku mengusir Eiji dari rumah ini dengan alasan bahwa dia adalah pembawa sial, dan akan berakibat membunuh orang terdekatnya, dan aku takut kalau kutukan itu akan menghampiriku," orang itu mengusap air matanya yang kembali mengalir, "aku merasa bersalah karena menyampaikan kebohongan seperti itu padanya," Shinichi tersenyum lagi.


"Kami adalah klan Jikan, klan yang memiliki kekuatan waktu, seperti melambatkan, mempercepat, melihat masa lalu atau masa depan, bahkan melewati, memberhentikan, atau mengulang waktu, tapi tidak semua orang menguasainya. Mata kami, berwarna hijau dan memiliki jarum jam, itu adalah tanda kalau kekuatan kami sudah bangkit secara sepenuhnya, tapi tidak hanya kelebihan yang kami miliki, kami mempunyai satu kutukan yang cukup mengerikan, setiap beberapa waktu, akan ada orang yang bisa mengendalikan semua teknik tanpa kesulitan, tapi dia memiliki kutukan utama yang menyebabkannya tidak boleh memiliki orang terdekat, yaitu memotong waktu hidup seseorang, dan orang itu adalah Eiji," dia kembali menangis.


"Semua kematian yang terjadi sudah ditentukan sejak awal, kami sebagai klan waktu menerima kematian dengan lapang, justru kami berbahagia ketika kutukan itu muncul, karena klan kami akan kembali bangkit, tapi tahun ini tidak seperti itu," wajah Shinichi sekarang berubah serius, matanya menatap Gaki tajam, "teknik yang bisa kugunakan adalah melihat masa depan jangka panjang, aku sudah menggunakannya dengan seluruh kekuatanku," Shinichi berhenti sejenak.


"akan muncul ketika orang berkerumun, sebilah tombak yang menusuk, waktu akan kembali terulang ke titik pertama, tangis dan jerit akan ramai dilantunkan, api bercabang tujuh akan membungkam sebuah harapan," Shinichi menghela nafas, "raja ribuan tahun akan bangkit dan melepas segelnya, sebagian dunia akan diambang kehancuran, tapi sang ksatria tidak pernah berhenti."


"Ramalanku berhenti disitu," Shinichi menghela nafas, "apa maksudnya?," Gaki semakin bingung dari apa yang disampaikan Shinichi, "kau, adalah ksatrianya," Shinichi mengatakannya secara terang-terangan, "kau, yang akan menyelamatkan dunia, dan Eiji, pertemuanmu dengan anak ini adalah sesuatu hal yang mutlak, tidak ada lagi yang bisa ditolak, ini adalah takdir kalian berdua," Shinichi terlihat semakin serius, "aku tidak mengerti apa yang kakek katakan," Eiji terlihat panik dan kebingungan, "seperti yang sudah kukatakan diawal, semua sudah ditentukan dari awal, semua sudah tercatat di buku suci bahkan sebelum dunia ini ada."


Gaki dan Eiji memproses kalimat yang diutarakan Shinichi, "kita....., masuk ke dalam ramalan takdir?," Eiji masih kebingungan, "bagaimana aku bisa mempercayaimu?," Gaki menatap Shinichi tajam, "perihal kepercayaan dan ketidaknya kembali pada dirimu sendiri, bagaimanapun kau akan lari, takdir akan selalu menangkapmu," Shinichi tersenyum kecil, "bagaimana soal kutukan pemotongan umur?," Eiji terlihat khawatir pada Gaki, "itu adalah sesuatu yang mutlak, kalian tidak bisa menghindarinya."


Ramalan ini sangat membuat Gaki dan Eiji syok, awalnya mereka datang kesini hanya untuk menjenguk kakek Eiji, tapi sekarang mereka dibuat heran dengan sebuah ramalan yang sebenarnya cukup kompleks. "Kalian sepertinya terlalu kebingungan, biar kubawa kalian menuju gambaran ramalan itu," Shinichi berdiri dan mengangkat kedua tangannya, ruangan itu dipenuhi cahaya hijau, Gaki dan Eiji yang kaget langsung spontan berdiri, mereka berada di sebuah dimensi antara keberadaan dan ketidakberadaan, Shinichi menunjukkan gambaran ramalan yang sebelumnya ia lihat.


Ruang keluarga berubah menjadi sebuah ruang studio berlatar putih, gambar-gambar relief bermunculan dan mengitari mereka. "Ini adalah kekuatanku, melihat masa depan," Shinichi tertawa kecil. Relief itu menunjukkan gambar seseorang yang setengah badannya diselimuti api, dan disampingnya ada seseorang yang berdiri mendampinginya, di relief lain menunjukkan seseorang yang ditusuk oleh beberapa tombak, dan disekitarnya ada orang-orang yang menangis dan menjerit. "Ini semua...., akan terjadi?," Gaki terlihat tidak mempercayainya, padahal ini semua ada di depannya, Shinichi tidak menjawab, dia membiarkan Gaki mencari jawabannya sendiri.


Seluruh relief sudah dilihat oleh Gaki dan Eiji, mereka masih di dalam ruang putih itu, "apa kau masih tidak percaya?," Shinichi menyedekapkan tangannya, "tidak ada bukti yang kuat dari ini, bisa saja kau mengimajinasikannya saja," jawab Gaki, "nak, masa depan tidak akan terbukti kalau belum dijalani," Shinichi tersenyum, Gaki sedikit menggeram, "kenapa kau terlihat tidak terima, kak?, tujuanmu kan untuk menjadi yang terkuat," Eiji sedikit percaya dengan ramalan itu, tapi dia sendiri masih bimbang dengan kepercayaan itu, "aku...., memiliki perasaan yang buruk soal ini,"


"Kakek, kalau aku memiliki kutukan memotong umur, bagaimana dengan dirimu?, kau bilang kau mengusirku agar bertemu kakak," Eiji semakin kebingungan, "perihal itu....., aku sendiri sudah mati, nak," Eiji seketika langsung syok, dia melangkah kebelakang perlahan, "semua yang kau lihat ini adalah kemampuan milik seseorang untuk memanggil kembali jiwa yang mati, sehingga membantuku untuk memberitahumu pesan ini," Shinichi tersenyum kecil, "waktuku sepertinya habis."


Ruangan putih itu hilang begitu saja, Gaki dan Eiji kembali ke ruang keluarga, Shinichi duduk di kursi sambil menangis, "Eiji, aku minta maaf kalau aku waktu itu terlalu kasar," Shinichi hanya mencoba tersenyum pada Eiji, perlahan tubuhnya memudar, dan ruangan yang bersih dan wangi itu menunjukkan wujud aslinya.


Ketika Shinichi hilang sepenuhnya, Eiji dan Gaki diam tak percaya, seluruh rumah berubah total, aroma bunga berubah menjadi bau busuk, kursi sofa sudah hancur, dan piring bergeletakkan di lantai, Gaki mencium aroma menjijikkan dari lantai dua, dan ketika mereka menaikinya, ada mayat Shinichi yang sudah gantung diri, dia membusuk disana selama berhari-hari. Eiji jatuh lemas, ia tidak percaya apa yang ia lewati hari ini, ramalan, masa depan, takdir, penentuan, dia diselimuti kebingungan dan rasa penasaran yang dalam.

__ADS_1


Gaki dan Eiji membakar mayat Shinichi dengan api milik Gaki, dan memberikan penghormatan terakhir. Gaki dan Eijipun keluar dari rumah itu, Eiji dipeluk oleh Gaki karena ia sedang merasa trauma, ini kali pertama Eiji melihat mayat secara langsung, dan mayat itu adalah kakeknya, yang bahkan baru ia temui beberapa menit yang lalu. Lain dengan Gaki, dia justru memiliki pertanyaan terhadap orang yang bisa memanggil jiwa yang sudah mati. "Kakek tua itu tidak menjelaskan semuanya secara rinci, dia hanya menjelaskan dasarnya dan tidak memberitahu selengkap dan sejelasnya, kita harus berpikir berkali-kali untuk menemukan jawabannya," Gaki memprotesnya, "sudahlah, biarkan jiwanya pergi dengan tenang," ujar Eiji.


Mereka pulang ke rumah setelah lumayan lama berada disana, Eiji melepaskan penatnya dengan tidur, sedangkan Gaki pergi ke akademi untuk bertemu dengan Shin, dia akan mengikuti rapat utama terakhir sebelum ujian akhir. Gaki berangkat seperti biasa, menggunakan taxi, ketika ia sampai di akademi, rapatnya belum dimulai, tapi Shin dan yang lain sudah berada disana menunggu orang terakhir yang baru saja datang, Gaki.


Gaki langsung duduk di salah satu kursi, Shin dan yang lain juga ikut merapikan diri dan posisi, "diharap semua bersiap, rapat akan dimulai," ujar Han. Semua duduk rapi dan diam, Shin sedang menyiapkan laptop miliknya untuk melakukan presentasi, setelah persiapannya selesai, Shin memulai presentasinya. "Sepertinya aku belum memberitahu kalian topik kali ini, yang akan kita bahas, oh ya, sebelum itu aku ingin memberitahu, Tuan Yamamoto Kusagi tidak jadi hadir dalam festival nanti karena sebuah halangan, mari kesampingkan hal itu dan kembali ke topik utama," sebuah judul terpampang jelas di pantulan proyektor, "topik kita kali ini adalah para pembunuh, atau yang kita tau bernama La Muerto," seketika ruang rapat menjadi hening, Han langsung memasang pandangannya pada Gaki, menurutnya ini adalah saran dari Gaki untuk membahas ini.


"Seperti yang kita ketahui, teman kita Taki terkena kecelakaan, dan itu merujuk kita pada dugaan bahwa dalang dari kecelakaan itu adalah orang dari La Muerto, ketika Gaki melawan Romero pun sudah jelas kalau mereka tidak akan tinggal diam," Shin menghela nafasnya, "interupsi, kita tidak pernah memberitahumu soal pertarungan itu, bagaimana kau bisa mengetahuinya?," Gaki mengangkat tangannya, "aku hampir lupa memberitahu kalian, tapi kalian sendiri seharusnya sudah tau, aku memasang sunflower sebagai mata ketigaku, dan juga sebagai alat untuk menampung kesadaranku saat itu," jawab Shin,  "baiklah, kembali ke topik utama."


"Kita mendapat bantuan dari pihak kepolisian untuk penjagaan, tapi bukan berarti divisi penjagaan akan dibubarkan, seperti yang kita tau, Voxx bukan hanya kelompok kutu buku yang membenci pertarungan, kekuatan yang kita miliki melebihi para polisi, karena itu, meskipun kita mendapat bantuan, dan kita bukan divisi penjagaan, kita semua bertanggung jawab pada semua hal yang terjadi di festival nanti, apapun yang terjadi, karena kita adalah panitia utama," Shin menghela nafasnya, "aku mau kalian bersiap pada segala kemungkinan yang akan terjadi," Shin mengganti halaman presentasinya, halaman itu menunjukkan nilai seluruh anggota Voxx selain Eden dalam ujian Grim di semester lalu, kedelapan mereka memiliki Soul Point diatas sepuluh ribu, bahkan Gaki mencapai delapan puluh ribu dalam satu serangan, Shin dapat menampung sampai lima ratus ribu energi, Han dapat membuat pelindung yang menahan Grim berkekuatan seratus ribu, dan nilai kedelapan orang itu adalah A plus, tanpa kecacatan sedikitpun.


Shin tersenyum pada yang lain, "karena hal itu juga, aku ingin menyampaikan ini kepada kalian," Shin mematikan laptop dan proyektor, "Voxx adalah nama kelompok kita, seharusnya kita menggunakan nama Organisasi Eksekutif Mahasiswa, tapi kita menggunakan Voxx, aku ingin kita memiliki panggilan lain untuk festival kita nanti, yang sebenarnya sudah aku tentukan," Shin menghela nafas, Gaki dan yang lain terlihat antusias pada apa yang akan disebutkan Shin, "kita akan menyebut festival ini sebagai 'Kitsune Operation,' jangan beritahu siapapun soal ini," "untuk apa panggilan norak itu kita gunakan?," tanya Mizu yang penasaran, "ketika merasa ada sesuatu yang bahaya, lihatlah ketengah stadion, apabila disana ada gambaran Kitsune, maka memang ada bahaya, tapi jika tidak, tetaplah waspada."


Shin menutup rapat yang tidak berlangsung lama itu, dia membubarkan yang lainnya. Gaki bergegas pulang ke rumah, disana dia menemukan Eiji yang masih tertidur pulas, Gaki pun memutuskan untuk pergi ke minimarket sambil menunggu waktu malam. Seperti biasa, Gaki memesan segelas kopi sambil membaca artikel terbaru, hari ini adalah hari yang melelahkan baginya, sejak pagi ia dipusingkan dengan sebuah ramalan yang menyangkut dirinya, ia sedikit bangga karena ia disebut sebagai ksatria, tapi ia sadar akan ada tanggung jawab yang besar pada dirinya di hari esok, dan di siang tadi, Shin yang menyatakan kalau semua harus berwaspada dari semua ancaman dan bahaya ketika festival nanti.


Di meja lain, ada beberapa orang dewasa yang sedang bermain Shogi, selain dari dua orang yang bertanding, ada dua orang lainnya yang sedang minum minuman keras, Gaki beberapa kali dilirik oleh kedua orang pemabuk itu. Keempat orang itu terdengar sangat bising dan mengganggu, Gaki pun yang mencoba tenang sampai merasa risih dengan mereka, setelah beberapa menit terlewati, kopi Gaki pun habis, dia memutuskan untuk pulang. Gaki berdiri dan berjalan pulang ke rumah, dia berjalan pelan sambil mengheningkan pikiran, tapi dari belakang keempat orang tadi terlihat mengikuti Gaki.


Setelah lumayan jauh berjalan, Gaki sedikit lagi sampi di rumah, tapi tiba-tiba pundaknya dipegang oleh salah satu orang dewasa itu, sejak awal mereka memang benar-benar mengikuti Gaki. "Halo anak muda, kau terlihat sangat spesial, dimana rumahmu?," ujar salah satu orang tua yang memegang pundak Gaki, "bermainlah sebentar dengan kami, akan kubayar mahal orang tampan sepertimu," orang tua lainnya mulai mengutarakan opini mereka, "ayolah," salah satu dari mereka memegang bagian dada Gaki.


Keempat orang dewasa aneh itupun pergi, Gaki menarik Eiji dan berlari ke rumah. Gaki mengunci pintu rumah itu rapat-rapat, khawatir akan sesuatu yang akan terjadi. "Aku ingin pindah dari Jepang," Gaki terlihat sedikit takut, meskipun ini bukan kali pertama ia bertemu dengan orang tua yang memperlakukan orang lain seperti barang, Eiji yang tau kalau Gaki hanya bercanda tertawa kecil, "tapi, kenapa tadi kau mencariku?," tanya Gaki pada Eiji, "karena ketika aku bangun, kau tidak ada di rumah, aku pun menggunakan Grim untuk melihat kemana kau pergi, ditengah jalan aku menemukanmu sedang dipeluk oleh keempat orang dewasa itu," Eiji kembali tertawa, "cukuplah, aku muak dengan orang seperti itu," Gaki berjalan ke kamar mandi.


Selama menunggu Gaki mandi, Eiji pergi ke dapur dan membuat ramen, ia kembali memikirkan tentang ramalan yang ia dapat tadi pagi, sama seperti Gaki, ia tidak merasa dirinya menjadi spesial, ramalan itu justru memberikannya perasaan beban tanggung jawab yang menurutnya besar. Setelah Gaki selesai mandi, mereka seperti biasa melakukan makan malam, Gaki dengan lahap menghabiskan ramen nya, dia memiliki beberapa pertanyaan yang ingin disampaikan pada Eiji.


Setelah Eiji juga selesai makan, Gaki barulah bersiap untuk memberikan pertanyaannya. "Eiji, apa yang kau tau tentang ramalan itu," seketika Eiji sedikit terkejut, dia hampir memuntahkan lagi air yang baru ia minum, "ramalan?, apa maksudmu yang disampaikan kakek tadi pagi?, aku tidak tau apapun soal itu, kakek adalah orang yang penuh kerahasiaan," Eiji menjawabnya pelan, ia teringat kutukan yang ia miliki, "kau tidak perlu memikirkan soal kutukan yang kau bawa, aku tidak akan mati semudah itu," Gaki tersenyum manis pada Eiji, "aku juga berharap begitu," mata Eiji terlihat berkaca-kaca, "jadi, nama lengkapmu adalah Eiji Jikan, kan?," Gaki menghela nafas, Eiji tidak menjawabnya, "aku pernah mendengar nama klan itu, klan yang penuh konflik, bahkan aku dengar ada seorang pemberontak dari klan itu di beberapa tahun ini," Gaki menyedekapkan tangannya, "pemberontak?, sepertinya aku pernah mendengar hal itu tiga tahun lalu," Gaki terlihat penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Eiji.


"Tiga tahun lalu, salah seorang sepupuku yang bernama Kenzo Jikan, ia memiliki kemampuan untuk merubah waktu, seperti contohnya ketika hari ini adalah minggu, ia dapat memutarnya ke hari sabtu, itu adalah salah satu kemampuan terlarang dan terhebat di seluruh klan," Eiji mencoba mengingat kejadian itu, "seingatku, dulu dia kabur dari rumah karena dia dilarang untuk keluar dari rumah, karena kekuatannya yang berbahaya, tapi ia kabur dari rumah ketika semua lengah, tidak ada yang tau dia pergi kemana, bahkan kedua orangtuanya pergi mencarinya, dan sampai aku bertemu dengan kakak, mereka masih belum kembali."


Gaki mencoba mencerna kejadian yang  diutarakan oleh Eiji, "aku khawatir kekuatan sebesar itu akan jatuh ke tangan yang salah, kau bayangkan ketika kekuatan memundurkan waktu, kita akan kembali ke zaman batu," Gaki sedikit mencairkan suasana, "tenang saja, yang mundur hanya waktu-," Eiji mengentikan ucapannya, "zaman es," Gaki dan Eiji memiliki tebakan yang sama. Gaki dan Eiji langsung berpikir keras, mereka memang hanya bercanda, tapi itu malah menjadi tambahan beban pikiran bagi mereka.


Ketika waktu semakin malam, Gaki dan Eiji pun beristirahat, mereka bersiap untuk hari esok, hari pertama dimulainya Ujian Akhir Tahun secara serentak di seluruh Jepang. Gaki tidur lebih malam daripada Eiji, karena ia melewati beberapa pelajaran karena dirawat di rumah sakit, sedangkan Eiji langsung tidur pulas di kasurnya tanpa butuh waktu lama.


Waktu malam pun terus berjalan, dan waktu sekarang sudah berada di pukul 04.00, Gaki sudah bangun, dia duduk di ruang tamu sambil menatap layar laptopnya, dia mengejar banyak pelajaran yang terlewat. Eiji masih tertidur pulas di kasurnya, setelah cukup memahami pelajarannya, Gaki pergi ke dapur dan memasak ramen, ia ingin menggantikan Eiji untuk sekali ini.

__ADS_1


Jam 5 pagi, Eiji baru terbangun, dia duduk diatas kasurnya sambil mengusap-usap matanya, Gaki sudah selesai memasakkan ramen membawa pancinya ke ruang tamu, "ayo Eiji, kita sarapan," ajak Gaki pada Eiji yang masih setengah sadar. Eiji berjalan perlahan ke ruang tamu, dia masih terlihat sangat mengantuk, "ayolah bersemangat, hari ini waktunya ujian," Gaki tersenyum pada Eiji dan mengelus kepalanya, "baiklah," Eiji menguap.


Eiji sangat terlihat mengantuk, ia kurang menikmati ramen yang dibuat Gaki, bahkan ia tidak sadar kalau ia sedang makan ramen yang dibuat Gaki, "hei, bagaimana rasanya?," tanya Gaki pada Eiji, "eh," Eiji perlahan baru sadar, kalau dari awal ia sedang makan, "kau sepertinya sangat kelelahan," Gaki tertawa kecil. Eiji berdiri dan pergi mencuci mukanya, ia sedikit menyegarkan wajahnya. "Jarang sekali kakak menggantikanku memasak, bahkan ini sepertinya pertama kali, sejak awal aku disini hanya aku yang menjadi kokinya," Eiji tertawa kecil, "baiklah, sekarang beri nilai ramen buatanku," "aku menilainya delapan dari tujuh."


Pagi itu memang masih gelap, tapi secercah cahaya bersinar diantara kedua manusia yang disebut dalam takdir itu, mereka akan membuat sebuah perubahan besar pada masa yang akan datang.


Setelah semua persiapan selesai, Gaki berangkat ke akademi, dia berjalan sambil mengulang-ulang pelajaran yang baru ia hafalkan. Hari itu banyak pelajar yang terlihat stress dan putus asa, ada juga yang terlihat bersemangat, karena memang ini adalah ujian yang dilaksanakan serentak di seluruh Tokyo, bahkan di bebebrapa kota lainnya.


Lantunan lagu nasional 'Kimigayo' pun dinyalakan di gedung-gedung sekolah, sudah sewajarnya kalau Jepang memiliki Sumber Daya Manusia yang berkualitas, karena yang ada di benak mereka hanyalah bekerja, dan berjuang.


Hari senin adalah waktu ujian mata pelajaran Sejarah, Ekonomi, Sosial, Grimoire, dan Matematika. Kelima pelajaran itu sebenarnya bukan merupakan pelajaran yang sulit bagi Gaki, yang selalu mendapat peringkat ke dua di kelas, Gaki bisa saja mengambil posisi satu, tapi menurutnya Shin lebih membutuhkannya.


Jam tujuh pagi, Gaki sudah duduk dengan tenang di kursinya, guru pengawas yang merupakan Master Bo, guru yang dikenal paling pemarah, dan karena pengawas diperbolehkan menggunakan Grim,  Master Bo yang memiliki kemampuan 'Eagle's Eye' merupakan sebuah bencana bagi seluruh murid.


Pelajaran yang paling pertama diujikan adalah Sejarah, alat penetrasi Grim diaktifkan di seluruh sekolah untuk menghindari kecurangan dari para mahasiswa, dan hanya para guru yang membawa alat anti-penetrasi agar mereka masih bisa menggunakan Grimnya. Waktu pengerjaan adalah satu setengah jam, dan kalau dikalikan lima mata pelajaran maka hasilnya adalah tujuh setengah jam, dan di setiap sela-sela pelajaran akan diadakan istirahat selama lima belas menit, maka lama waktu ujian hari ini adalah delapan jam empat puluh lima menit, dimulai dari jam tujuh pagi, dan berakhir di jam tiga sore, atau lebih lama.


Suasana kelas sangat sunyi, Master Bo hanya duduk di kursinya, beberapa kali dia melirik ke siswa-siswa yang sedang fokus mengerjakan ujian, tidak ada kegaduhan sedikitpun, mereka semua bergerak sangat tertata, meskipun di pagi hari tadi terlihat banyak yang stress, pusing, dan lainnya, tapi mereka tidak menunjukkan hal seperti itu selama ujian berlangsung. Tidak ada satupun orang yang mencoba mencontek, karena itu merupakan hal bodoh, melanggar norma kejujuran, dan juga termasuk bunuh diri apabila pengawasnya merupakan Master Bo.


Baru saja waktu ujian melewati empat puluh lima menit, Shin sudah berdiri dan mengumpulkan kertas jawabannya, murid-murid lain sempat meliriknya dengan ekspresi kaget, karena soal ini terbilang sulit, dan berjumlah enam puluh soal, tapi mereka dengan cepat kembali ke soal mereka masing-masing. Gaki tetap mencoba tenang, ia sudah berlatih untuk membuat atmosfer tenang disekitarnya, dia menutup matanya perlahan, dan mendinginkan hatinya, Gaki mengerjakan ujiannya perlahan, seperti seluruh jawaban langsung terlintas di benaknya, ia menjawab seperti yang sudah ia pelajari.


Laurtan biru yang terbentang luas, lantunan ombak yang indah, dersik angin yang berhembus perlahan melewati tubuh Gaki, itu adalah sebuah ilusi yang sangat menenangkan diri, menghapus semua pikiran lainnya, dan hanya berfokus ke satu titik, ujian. Gaki benar-benar menutup matanya, tapi tangannya bergerak ke semua pilihan jawaban dengan tepat, Master Bo dari jauh juga sedang memperhatikannya, ia termasuk salah satu guru yang sangat mengetahui sifat Gaki, bahkan ia adalah orang pertama yang mengetahui impian Gaki.


Waktu hanya tersisa lima belas menit lagi, hampir delapan puluh persen siswa sudah menyelesaikan ujiannya, Gaki yang masih dalam kondisi bawah sadarnya, dan dia baru mencapai nomor empat puluh, meskipun semua jawaban terlintas di pikirannya, tetap saja suara gaduh terkadang mengganggunya, bahkan ketenangannya pecah ketika Master Bo yang sedang berjalan diantara para mahasiswa menyenggolnya dengan sengaja, Gaki langsung kaget dan berdiri, Master Bo dan murid lain hanya bisa menahan tawa mereka.


Ketika waktu hanya tersisa lima menit, ada tiga orang terakhir yang masih belum mengumpulkan, termasuk Gaki, Master Bo hanya duduk di kursinya sambil menunggu  mereka bertiga, Gaki yang baru mencapai nomor lima puluh dua mulai tidak tenang, keringatnya bercucuran, soal ini memang terbilang tidak terlalu sulit baginya, tapi tetap saja, sebuah ujian pasti memiliki kesulitan didalamnya. Ketika Gaki menjadi orang terakhir yang belum mengumpulkan kertas ujiannya, Master Bo diam dan berdiri disampingnya.


Satu menit sebelum Lonceng Agung dibunyikan, Gaki sudah berada di ujung tanduk ketenangannya, meskipun ia dikenal sebagai orang yang sangat tenang, ia tau betul Master Bo akan langsung menarik kertasnya ketika suara lonceng berbunyi, dan itu bukanlah akhir yang keren bagi ujian di jam pertama. Gaki sudah berada di nomor terakhir, soal itu bertanya soal lokasi makam dari raja mesir, Tutankhamun, Gaki yang mengetahui jawabannya langsung menghitamkan jawabannya dan memberikan kertasnya pada Master Bo, tepat beberapa detik setelah itu, Lonceng Agung dibunyikan.


"Kau melakukan yang terbaik, kukira kau akan menyelesaikan ini lebih cepat, tapi ketenangan adalah kunci sebenarnya," Master Bo tersenyum pada Gaki, ia menepuk pundaknya, Gaki mengatur nafasnya yang sudah berantakan, keringat membahasi badannya. Master Bo berjalan keluar kelas untuk menaruh kertas ujian, Shin yang sudah kembali dari kantin akademi datang kearah Gaki, "jangan bilang padaku kalau kau baru saja selesai," Shin keheranan, "ya, tentu saja," Gaki menertawakan dirinya, "padahal kau biasanya selesai bersamaan denganku," "aku ingin mencoba fokus untuk tenang, bukan menjadi yang pertama, tapi kalau gagal tetap saja tidak lucu,kan."


Hari pertama ujian itu, Gaki melepaskan dirinya dari semua beban yang ada padanya, pikiran buruknya bisa ia hilangkan, meskipun hanya sementara, hasil latihannya selama di rumah sakit bukanlah hal yang sia-sia, tapi takdir yang menunggunya akan segera datang, dan akan membuat semuanya dalam kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2