Grand Fate : El Muerto

Grand Fate : El Muerto
Voxx


__ADS_3

Ruang rapat seketika sunyi, Gaki dan Shin kembali duduk di kursinya masing-masing, "aku harap yang kau katakan bukan sebuah kebohongan, aku akan memberitahu Master Tao soal ini, kalian lebih baik menunggu disini," Shin keluar dari ruang rapat sambil membawa laptop nya.


"Apa yang kau mau dari kami?," Yuu memukul meja dan mengacungkan jari telunjuknya kearah Gaki, Gaki diam tak menjawab apapun, "kau punya maksud lain kan?," Yuu semakin menaikkan intonasi suaranya, "cukup, diamlah," Han menepuk pundak Yuu.


"Aku tidak percaya kau juga memutuskan untuk ikut ke dalam Organisasi Eksekutif Mahasiswa, kukira kau hanya orang pemalas bodoh yang kuat," Ray tersenyum kecil, Gaki tetap tidak memberikan reaksi apapun.


Gaki berdiri dari kursinya, ia melangkah keluar dari ruangan rapat. "Apa aku mengatakan sesuatu yang kelewatan?," Ray memikirkan ulang apa yang sebelumnya ia katakan, "aku akan menyusulnya," Eden berdiri dan pergi keluar ruang rapat.


Di lorong gedung utama, Gaki sedang berjalan menuju tangga, Eden mengejarnya dari belakang, "berhenti disitu, Gaki!," Eden meneriakinya, "apa lagi?, kau ingin menghinaku juga?,""tidak, tapi aku ingin bertanya sesuatu padamu."


"Apa yang ingin kau tanyakan?," Gaki menghentikan langkahnya, lorong tersebut kosong, hanya  ada Eden dan Gaki, tidak ada suara desir angin ataupun kicauan burung. "Kenapa kau ingin menjadi yang paling kuat?," Eden sedikit menaikkan intonasi bicaranya, "kenapa aku ingin menjadi lebih kuat?, kau tidak ada hubungannya soal itu," Gaki melanjutkan langkahnya, Eden menghela nafas, "kau ingin mengalahkan sang dewa kan?, semua kau lakukan agar kau bisa menjadi lebih kuat, padahal kau sendiri tahu bahwa mustahil untuk mengalahkan sang dewa sendirian, kan?," Eden mengepalkan tangannya, "bekerja samalah, kita kalahkan sang dewa bersama-sama."


Gaki tidak menghiraukan semua yang diucapkan Eden, ia menuruni tangga, meninggalkan Eden yang masih berdiri di lorong. Eden berbalik dan berjalan kembali ke ruang rapat, "dimana Gaki?," tanya Han, "dia pergi ke lantai bawah," Eden duduk kembali di kursinya, "dia meninggalkan tas dan laptop nya disini, dia akan kembali," ujar Yuu sambil menunjuk tas dan laptop Gaki yang masih tersambung dengan prroyektor, "bagaimana kalau kita melihat isi dari laptop nya?," Mizu menutup laptopnya, "ide bagus," ujar Hikari.


Mizu menutup halaman presentasi Gaki yang sebelumnya digunakan, ia membuka file documents milik Gaki, disana hanya ada tiga file, halaman presentasi Gaki dan dua folder lainnya. Disana tertulis kejadian Gunung Fuji, dan penyerangan supermarket. Mizu membuka kedua filenya, di dalamnya terdapat beberapa data yang sebelumnya sudah disampaikan, termasuk poin-poin soal Filipina.


Setelah selesai melihat-lihat kedua folder tadi, Mizu membuka folder pribadi milik Gaki, isinya kosong, Gaki tidak menyimpan rahasia apapun didalam laptopnya. "Sepertinya yang dikatakan Shin benar, Gaki menyimpan semua kebutuhannya dalam buku catatan," Mizu menutup laptop Gaki, dan ia kembali ke laptopnya. "Aku masih tidak tau kenapa Gaki bersikap seperti itu, apa gunanya jadi kuat kalau tidak digunakan untuk membantu orang," Hikari memakan cemilannya, "justru karena dia ingin menjadi lebih kuat, dia tidak mau kalah dari siapapun," ujar Han, "sepertinya dia memiliki trauma semasa kecil,  hal itu mendorongnya untuk menjadi lebih kuat," Kudo mulai ikut berbicara, "lalu kenapa dia menawarkan diri masuk ke Voxx?," Hikari semakin kebingungan, "kau melihatnya tadi kan?, dia menunjukkan surat perihal para pembunuh yang berasal dari Filipina, dan mereka mengincar sang dewa, Gaki ikut dengan Voxx untuk mengalahkan para pembunuh, dan menjadi satu-satunya yang akan mengalahkan sang dewa," Eden menjelaskan lebih detail, "jadi dia secara tidak langsung mengajak kita membantunya untuk berkompetisi?," Hikari kembali memberikan pertanyaan, "dia ingin kita bertarung, itu saja," Ray mengatakannya dengan tenang.


Suasana ruang rapat kembali sunyi, tangan Mizu berhenti menekan tombol, Hikari berhenti memakan camilannya, Kai berhenti memainkan ponselnya, kata 'bertarung' adalah kata yang sangat sensitif bagi mereka.


Bagi Voxx, mereka tidak pernah bertarung, mereka hanya membela harga diri dan menyelamatkan diri mereka, hal seperti ini sudah ditanamkan dalam otak mereka sejak kecil, berbeda dengan Gaki yang sudah diharuskan bertarung sejak kecil, ia hidup sendiri tanpa didampingi siapapun, meskipun ia ditinggalkan di depan panti asuhan, tapi ia tidak diterima disana, atau ditolak.


"Bertarung?, kita bukan manusia haus kekuatan yang hanya dipenuhi ego," Han menatap Ray, suasana ruang rapat semakin panas. "Aku hanya mengatakannya, toh aku tidak terlibat dalam hal ini," Ray memalingkan wajahnya dari Han, "lalu apa yang kau lakukan disini?," Yuu menoleh kearah Ray, "tidak ada, aku hanya bersantai disini," Ray menampilkan wajah yang datar, ia tidak merasa malu, "awalnya Ray aku mintai tolong untuk mengantarkanku kesini," Eden menjelaskan perihal keberadaan Ray, "lalu kenapa dia tetap disini?," Han semakin menaikkan intonasi suaranya, "ada masalah denganmu?," Ray bersikap tidak peduli terhadap Han, "tentu, ini adalah ruang rapat khusus untuk anggota eksekutif, jadi apa yang sebenarnya kau lakukan disini?," Han mengulang pertanyaannya. Ray diam tidak menjawab pertanyaan dari Han, ia berdiri dan berjalan keluar dari ruang rapat. "Sepertinya kau kelewatan, Han," ujar Kai.


Lonceng Agung berbunyi, tandanya pergantian jam belajar. Voxx yang masih di ruang rapat keluar untuk menuju kelas masing-masing, laptop Gaki masih menyala disana.


Gaki pergi ke ruang rapat untuk mengambil laptopnya, ia melihat laptopnya dalam kondisi tertutup, seseorang telah menggunakannya, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu, Gaki memasukkannya ke dalam tas dan pergi ke kelas.


Master Wang belum masuk ke kelas, Gaki berjalan menuju kursinya yang berada di samping Eden, kali ini Eden tidak mencari perhatian dari Gaki, mereka sedang dalam perselisihan. Setelah Master Wang masuk ke kelas, pelajaran pun dimulai, Shin baru masuk ke ruang kelas di tengah-tengah penjelasan Master Wang.


Jam menunjukkan pukul 15.00, Lonceng Agung berbunyi, waktu pergantian pelajaran lagi. Sebelum kelas dibubarkan, Master Wang memberikan beberapa pemberitahuan, "satu bulan dari sekarang, akademi kita akan mengadakan Festival Budaya Remaja, dan dua minggu dari sekarang akan diadakan ujian tengah semester, saya harap kalian mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh, peserta festival juga akan ada dari luar akademi, karena itu yang akan menjadi panitia diharap bersiap-siap," ujar Master Wang.


Setelah pelajaran selesai, Gaki langsung berjalan pulang ke rumahnya, di depan gerbang akademi Shin memanggilnya, "aku tadi berbicara dengan Master Tao dan Master Kim, mereka berdua setuju dengan masuknya dirimu ke Organisasi Eksekutif Mahasiswa, mereka menunjukmu menjadi kepala pengamanan, kau satu kelompok dengan Nova dari kelas 3-B, Zein dan Taki dari kelas 3-C, serta Quin dari kelas 3-D,  sebenarnya kelompok pengamanan tidak ada, tapi kalian ditunjuk menjadi panitia pengamanan untuk festival nanti, aku sudah memberi tahu mereka berempat, semoga kalian bisa berteman baik," Shin menepuk pundak Gaki dan meninggalkannya.

__ADS_1


Gaki menghela nafas, ia melanjutkan langkahnya pulang ke rumah, tapi sebelum itu pundaknya ditepuk lagi oleh seseorang, "yo, kamu Gaki, kan?, salah kenal aku Zein," seseorang menepuk pundak Gaki, rambutnya hitam pendek, tingginya 180 cm, ia menggunakan kemeja bermotif kotak-kotak dengan baju polos di dalamnya, "pergi sana," Gaki tidak menghiraukan ucapan Zein dan meninggalkannya begitu saja.


Gaki sampai dirumah, ia melakukan rutinitas yang biasa ia lakukan, menaruh tasnya di kamar dan pergi ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Gaki berdiam diri di kamarnya, sekarang masih jam 17.00, Gaki pun memutuskan untuk pergi keluar sebentar.


Gaki berjalan menuju salah satu minimarket di dekat rumahnya, minimarket tersebut menyediakan tempat untuk orang yang ingin bersantai sambil meminum kopi. Gaki memesan secangkir cappucino, ia duduk diam disana sambil membaca majalah yang disediakan, beberapa kali Gaki menengok ke mobil-mobil yang lewat.


"Hai, sedang bersantai?," ujar seseorang dari kursi di samping Gaki. Gaki menoleh kearah orang tersebut, dia terlihat seperti anak SMP, dia mengenakan seragam dan celana berwarna hitam, dan ada tas besar berwarna biru ditaruh di kursi sampingnya. "Bukan urusanmu," Gaki tidak menghiraukan kata-kata anak itu, ia kembali membaca majalahnya. "Kukira mahasiswa sekarang lebih modern dan lebih handal dalam teknologi, ternyata ada juga yang masih ketinggalan zaman sepertimu," anak itu tertawa, ia menyindir Gaki, "apa maksud perkataanmu," Gaki tidak menoleh sedikitpun, tapi dirinya kembali diselmuti rasa marah yang besar, "ah, kau marah, aku hanya bercanda, maaf," anak itu memalingkan wajahnya dari Gaki, ia terlihat malu secara nyata, tidak dibuat-buat, "kuharap kau tau apa yang kau lakukan," Gaki melanjutkan membaca majalahnya.


"Tapi aku bingung, kenapa kau masih membaca majalah lama yang sudah tidak diproduksi lagi?, bahkan mereka sekarang mengeluarkan berita secara online, hanya tersisa sedikit pabrik produksi majalah yang tersisa," anak itu tidak menengok kearah Gaki, ia juga ikut membaca salah satu majalah, "ini hanya hobiku," Gaki menjawab dengan singkat.


Setelah kopinya habis, Gaki berniat untuk pulang, ia kembali melangkah ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dari minimarket. "Tunggu!," anak tadi menarik tangan kanan Gaki, ia pun menghentikan langkahnya, "tolong aku," anak tersebut menunjukkan wajah kesedihannya, Gaki tidak tau apa yang harus ia lakukan, mereka baru bertemu dua puluh menit yang lalu, "apa yang sebenarnya kau lakukan, nak," Gaki mengarahkan pandangannya pada anak kecil tersebut, "bisakah kita tidak membicarakannya disini?," anak tersebut mulai menangis.


Gaki membawa anak tersebut ke rumahnya, mereka duduk di ruang tamu yang lumayan sempit. "Ceritakan semuanya," Gaki menyodorkan anak tersebut segelas susu yang dia siapkan sebelumnya, "kedua orang tua ku sudah meninggal karena kecelakaan pesawat saat aku masih balita, akupun tinggal bersama pamanku, tapi dua tahun yang lalu paman meninggal karena kecelakaan kereta, setelah itu aku tinggal bersama kakek dan nenekku, tapi seminggu yang lalu nenek meninggal karena kecelakaan mobil, dan hari ini aku diusir oleh kakekku dan dianggap sebagai pembawa sial, aku tak tau harus kemana lagi," anak itu mulai menangis, ia terlihat sangat hancur sampai ke inti, ia kehilangan semuanya.


"kecelakaan pesawat, kereta, dan mobil, aku tau soal kecelakaan kereta dan mobilnya, tapi tidak dengan kecelakaan pesawatnya, apakah kamu ada saat kecelakaan tersebut?," Gaki semakin penasaran dengan anak tersebut, "aku ikut dalam ketiganya, dan selamat dari semua itu, kakek bilang aku dijaga oleh iblis," anak tersebut bicara sambil sedikit tersendat, ia tidak tahan untuk mengatakan masa lalunya, "apa Grim yang kamu miliki, nak?"


Sebetulnya, menanyakan Grim seseorang merupakan hal terlarang yang tertulis di undang-undang, karena dapat membahayakan beberapa pihak,  tapi jika sang pemilik berkenan untuk memberi tau, tidak akan dipermasalahkan, bahkan apabila sang pemilik menunjukkannya sendiri.


Gaki semakin yakin dengan Grimnya, tapi ia memiliki beberapa pertanyaan terakhir untuk anak itu. "Jadi kau menghampiriku karena tau aku akan mengajakmu kesini?," tanya Gaki, "tidak, semua penglihatanku bukan penglihatan mutlak, mereka bisa berubah sesuai yang aku lakukan, seperti misalnya aku ingin pergi ke tempat A, apabila aku melangkan ke kanan, aku bisa melihat anjing yang menggonggong, kemacetan, dan apabila aku melangkah ke kiri, aku bisa melihat kucing yang sedang tidur, orang yang sedang mencuci motornya, karena itu aku menamainya Changed Fate."


Gaki sejenak, "baiklah, karena sudah malam, kau tidur saja disini, ngomong-ngomong, siapa namamu?," Gaki berdiri, "namaku Eiji S-," Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Gaki memotong ucapannya, "tidak perlu sebutkan nama marga mu, malam ini tidurlah disini, Eiji," Gaki pergi ke dapur dan membersihkan gelas yang berisi susu tadi.


Setelah semua sudah dibereskan, Eiji mengeluarkan barang-barangnya dari tas biru yang ia bawa, "apakah sekolahmu tau soal ini?," Gaki memberi pertanyaan sambil membersihkan kasurnya, "sepertinya kakek juga mengundurkan diriku dari sekolah," Eiji kembali murung, "kalau begitu, besok ikutlah denganku berlatih di gedung olahraga, mungkin kau bisa ikut berlatih disana, berapa umurmu?," "15 tahun, aku kelas 1 SMA, oh iya, aku lupa menanyakan soal dirimu," "namaku Gaki, 19 tahun, aku sedang di tahun ke-3 di akademi," "kau bersekolah di Akademi Tokyo yang hebat itu?," Eiji terlihat kembali bersemangat, Gaki tersenyum kearahnya, "tidurlah, esok akan jadi hari yang hebat,"


Eiji dan Gaki pun tidur, Gaki tidak menunjukkan sifat apatisnya lagi di depan Eiji, dia merasakan kenyamanan, seperti yang ia rasakan bersama Noah dulu, Gaki sudah menganggap Eiji, anak yang baru ia temui beberapa jam, sebagai adiknya.


Gaki terbangun oleh suara dapur yang sedikit berisik, ia duduk sebentar, menyegarkan matanya, ia mengecek ke dapur karena ia kira ada hewan yang sedang berjalan-jalan, tapi ternyata tidak. "Ah, kau sudah bangun, aku sedang memasak ramen," Eiji menoleh kearah Gaki sambil tersenyum, Gaki membalas senyumannya, ia pergi ke ruang tamu untuk menyiapkan mejanya, "makanan sudah siap!," Eiji membawa panci yang berisikan ramen, dan ia memisahkannya kedalam dua mangkuk yang disediakan Gaki, "ittadakkimasu!," Eiji mulai memakan ramen buatannya, diikuti Gaki, "enak, tidak mengecewakan," Gaki menikmati ramen buatan Eiji, ia terlihat senang. "Kau tidak perlu mencari tempat tinggal lagi, tinggallah bersamaku," ujar Gaki, "benarkah? Lalu bagaimana dengan kakek?," mata Eiji terlihat berbinar-binar, "biarkan saja, akan muncul waktunya bagi dia untuk sadar atas pilihan yang dia berikan padamu," Gaki tersenyum lagi untuk kesekian kalinya.


Setelah selesai sarapan, Gaki dan Eiji bersiap-siap untuk pergi ke gedung olahraga, Eiji menggunakan bajunya yang ia bawa di tasnya, "setelah selesai latihan, lebih baik kita pergi ke supermarket dulu untuk membelikanmu baju," Gaki mengusap-usap kepala Eiji, "ide bagus," Eiji tersenyum lebar.


Mereka pergi ke gedung olahraga menggunakan taxi, "ngomong-ngomong, kalau kau juga hidup sendiri, kau mendapat uang dari mana?," Eiji mencoba menghilangkan kesunyian di dalam taxi, "uang?, aku mendapat beasiswa dan tunjangan dari negara, karena itu aku tidak perlu melakukan magang," Gaki tersenyum kecil, "kau beruntung nak tahun-tahun ini pemerintah mengadakan beasiswa seperti itu, haha," supir taxi ikut mengobrol dengan mereka, "tapi untuk apa kalian pergi ke gedung olahraga di hari sabtu ini?," "ah, kami ingin pergi berlatih disana," Gaki sedikit canggung, "berlatih?, jadi kalian melatih Grim kalian, ya, hahaha, jarang sekali aku bertemu anak muda yang peduli soal Grim nya, yang kutemukan hanya anak-anak yang berlindung dibalik para pahlawan terlatih, mereka tidak mau melatih Grim mereka karena dibilang menyusahkan," pak supir terdengar sedikit sedih, tapi sebelum Gaki menanyakan soal itu, mereka sampai ditujuan.


Gaki dan Eiji turun dari taxi, setelah membayarnya merekapun berjalan masuk ke dalam gedung olahraga. Ray sudah ada disana, ia sedang duduk sambil minum air putih, ia menunggu Gaki. "Hei!," Ray memanggil Gaki yang baru datang, "siapa disampingmu?," Ray menunjuk kearah Eiji, "dia temanku, dia ingin ikut berlatih," Gaki masih dalam kondisi bahagia, ia tersenyum kecil, "ada sesuatu yang terjadi sepertinya, Gaki, aku tau kau pendiam, tapi bukan seperti ini," Ray menghela nafas, "ini bukan seperti yang kau pikirkan," Eiji menyedekapkan tangannya, "lebih baik kita langsung menghampiri Master Zhong saja," ujar Gaki, "Master Zhong?," Eiji terlihat kebingungan, "dia guru yang mengajarkanku dan Ray, oh iya, Eiji, ini Ray, Ray, ini Eiji," Gaki memperkenalkan masing-masing mereka berdua, "dia terlihat masih SMP," Ray memperhatikan Eiji dengan seksama, "dia SMA kelas 1," Gaki menepuk pundak Ray.

__ADS_1


Merekapun pergi ke Master Zhong yang sedang duduk sambil mendengarkan musik. "Selamat pagi, Master," Ray dan Gaki melakukan ojigi, diikuti Eiji, "siapa anak kecil ini?," Master Zhong kebingungan, "dia temanku," Gaki tersenyum kecil, "kau tidak seperti biasanya, apa jangan-jangan kalian... Mencurigakan," Master Zhong memperhatikan Eiji, "t.. Tidak," Eiji memalingkan wajahnya dari Master Zhong, ia tertawa terbahak-bahak, "omong-omong, teman kalian, Zein dan Taki datang kesini, mereka juga ikut latihan," Master Zhong menunjuk dua orang yang sedang melakukan pull up di sebrang mereka.


Gedung olahraga berbentuk persegi panjang, ukurannya terbilang cukup lebar, panjangnya 50 meter dan lebarnya 40 meter, tingginya mencapai 10 di bagian samping gedung, dan di bagian tengah gedung mencapai 15 meter. Gedung tersebut memiliki fasilitas gym di sayap kanan yang dapat dimasukkan kedalam tanah untuk memperluas lapangan utama, di sayap kiri terdapat lapangan serbaguna. Mereka juga menyiapkan fasilitas untuk orang yang ingin melatih Grimnya, mereka memiliki ruang baja yang sudah diperkuat, meskipun hancur, mereka bisa kembali seperti semula, tempat itulah dimana Gaki akan melatih Grimnya.


Master Zhong pergi menghampiri Zein dan Taki, mereka pun ikut berkumpul dengan Ray dan Gaki. "Nah, semua sudah berkumpul disini, mari kita mulai latihannya," Master Zhong merelaksasikan sendi-sendinya, "Gaki, kau cobalah menebas baja-baja yang ada, Taki, remukkan baja-baja itu, Ray, coba serap baja-bajanya, Zein, hancurkan baja-baja itu, SEKARANG!," Master Zhong langsung memerintah mereka berempat, tanpa pertanyaan dan keraguan mereka melakukannya.


Master Zhong dan Eiji memperhatikan mereka berempat menghancurkan baja-baja yang ada. "Apa tidak terlalu sulit kalau menyuruh mereka menghancurkan baja yang diperkuat? Apalagi mereka melakukannya sendiri-sendiri," Eiji merasa sedikit kasihan, padahal di depannya terlihat jelas Gaki yang menggunakan katananya untuk membelah baja setebal 30 cm menjadi setipis kertas, Ray yang bersatu dengan baja, Zein yang memukul baja sampai terbelah dua dengan tangannya, Taki yang bisa meremukkan baja dengan satu tangan tanpa menyentuhnya. Master Zhong menjawab pertanyaan Eiji dengan senyum kecil, "tapi, apa sebenarnya Grim yang mereka miliki?, itu semua terlihat keren," Eiji sekarang terlihat kagum, "sepertinya tidak masalah apabila aku memberitahukannya padamu," Master Zhong kembali tersenyum.


"Zein, dia baru ikut berlatih disini sebulan yang lalu, tapi ia jarang datang, Grimnya adalah membuat tekanan udara di bagian tubuhnya, seperti yang kau lihat, ia menggunakan pukulannya untuk menghancurkan baja, ia mengumpulkan tekanan udara di tangannya untuk membuat pukulan yang jauh lebih kuat, contoh lain ketika ia ingin diserang, ia dapat menahan serangan musuh dengan memfokuskan tekanan angin pada bagian yang akan diserang."


"Taki, kekuatannya mirip dengan Zein, tapi ia memberikan tekanan pada benda lain, dalam hal lain bisa disebut kekuatan psikis. Seperti yang kau lihat, Taki meremukkan baja tanpa menyentuhnya, karena ia memberikan tekanan di baja tersebut, lebih simple dari milik Zein."


"Ray, itu sebenarnya hanya nama panggilannya, nama aslinya Rain Fusu, ia keturunan langsung dari petapa China, Xijang Fusu, yang merupakan kakek buyutnya saat ini. Grim milik Ray sebenarnya klise, hanya regenerasi, tapi ia memiliki kelebihan untuk memanipulasi bagian tubuhnya sampai ukuran atom, karena itu ia bisa menyerap berbagai benda seperti baja, dan menjadikannya bagian dari dirinya, tapi lama kelamaan efek itu akan hilang karena tercerna oleh tubuhnya. Ray juga bisa memberikan darahnya pada orang lain untuk mempercepat regenerasinya, tapi dapat menyebabkan efek samping yaitu luka bakar karena pertumbuhan yang cepat sehingga membuat darahnya mendidih."


"Gaki, Grimnya sangat unik, ia memiliki api hitam yang bisa diubah menjadi apa saja, pedang, pistol, kapak, senjata favoritnya sekarang adalah katana. Api yang digunakan oleh Gaki akan selamanya dalam kendali dia, Gaki bisa berpindah ke apinya yang berada di tempat lain, entah sejauh apa itu, tapi ketika ia berpindah ke apinya, maka apinya akan diserap kembali oleh dirinya. Api milik Gaki juga bisa membuat bayangan dirinya, ia bisa memperbanyak dirinya, tapi hanya memiliki 1 persen dari kekuatan Gaki yang sesungguhnya."


"Dari mereka berempat, hanya Gaki yang paling sulit kupahami cara kerjanya, tapi selama dia bisa mengendalikannya, semua akan dalam kendali, karena kekuatan Gaki bahkan diatas diriku," Master Zhong tersenyum bangga. Eiji kembali memperhatikan mereka berempat, Gaki terlihat sangat berbeda, ia mengeluarkan aura negatif disekitarnya, Gaki memegang katananya persis seperti para samurai di zaman dulu, sekali ia mengayunkan pedangnya, sebongkah baja langsung terpotong menjadi kertas. "Apa mereka menggunakan kekuatan penuh untuk menghancurkan baja-baja itu?," Eiji terlihat penasaran, "oh tidak, mereka bahkan tidak menggunakan seluruh kekuatan mereka, mereka hanya menggunakan tenaga dari tiap tarikan nafas yang mereka ambil," jawab Master Zhong, "tapi, apa Grim yang dimiliki Master?," Eiji sekarang mencoba mengetahui kekuatan dari guru mereka berempat, "simple, aku bisa berteleportasi."


Setelah semua bongkahan baja dihancurkan, Gaki dan yang lainnya pun pergi duduk, baja-baja tersebut tersusun kembali ke tempat semula. "Kau bilang mereka tidak menggunakan kekuatan mereka, tapi mereka terlihat kelelahan," Eiji kembali memberikan pertanyaan pada Master Zhong, "tidak, nak. Ujian sebenarnya bukan di menghancurkan banyak baja, tapi menahan kekuatan yang ingin mereka keluarkan, Gaki bisa saja menghancurkan satu gedung ini dalam satu tebasan, Taki bisa merobohkan dan meratakan gedung ini dengan sekali kepalan, Zein bisa saja menerbangkan gedung ini dalam sekali kipasan tangan, dan Ray bisa saja menelan seluruh gedung ini dengan hanya menyentuhnya dengan jari kelingking," jawab Master Zhong lagi.


Mata Eiji berbinar-binar, ia kagum oleh mereka berempat. Gaki mengambil minum yang sudah disediakan oleh gedung, "hei, Gaki, omong-omong perihal festival, kapan kita akan mengadakan rapat?," tanya Zein pada Gaki yang sedang meminum airnya, "rapat?, bukankah kita panitia pengamanan?," Gaki terlihat kebingungan, "kita harus membagi lokasi-lokasi yang akan dijaga perorang," Taki terlihat sedikit kecewa dengan jawaban Gaki, "tapi kau terlihat keren dengan sikap seperti ini, kau berbeda ketika sedang menggunakan Grim," Ray tertawa kecil.


Setelah selesai berlatih, Gaki dan Eiji pun pamit untuk pulang duluan, mereka ingin pergi ke supermarket untuk membelikan Eiji beberapa pakaian. "Karena supermarket A sedang dalam masa renovasi, kita akan ke supermarket B," Gaki menunjuk ke supermarket B yang letaknya tepat di seberang supermarket A, tempat dimana ia pertama kali melawan orang Filipina.


Mereka membeli beberapa baju disana, sambil mencoba baju Eiji beberapa kali melontarkan pertanyaan ke Gaki. "Gaki, apa nama yang kau berikan kepada Grimmu?," ujar Eiji, Gaki sedikit kebingungan, "aku tidak memberinya nama, aku hanya menyebutnya Black Fire, tapi itu terdengar aneh, bukan?," Gaki tersenyum kecil, "kekuatanmu itu membuat senjata, kan?, bagaimana kalau Weapon Master?," Eiji memberikan saran, "terdengar keren, aku menyukainya."


Setelah selesai berbelanja, Gaki dan Eiji pulang ke rumah, mereka pulang dengan berjalan karena jaraknya sudah tidak terlalu jauh, ditengah perjalanan pulang Gaki bertemu seseorang, ia menghentikan langkahnya, orang tersebut berdiri di depan Gaki sambil menatapnya tajam, sifat Gaki kembali ke awal, ia menunjukkan tatapan sinis tak berperasaan, itu adalah Eden.


"Apa yang kau lakukan disini, minggir," teriak Gaki, Eiji seketika merasa seram dan sedikit ketakutan, Eden seketika melakukan ojigi di depan Gaki, ditengah ramainya hiruk-pikuk kota, "GOMENNASAI!, HONTONI GOMENNASAI!," Eden berteriak meminta maaf di depan Gaki, orang-orang melihat mereka, karena malu dilihat orang-orang, Gaki pun membalas ojigi dari Eden, lalu ia menarik Eden pergi menjauhi keramaian.


Gaki membawa Eden ke sebuah gang kecil di pinggir jalan. "Apa yang kau pikirkan?!," Gaki menarik kerah baju Eden, "kau bukannya meminta maaf tapi membuat aku semakin malu!," Gaki menaikkan nada bicaranya. "Aku hanya ingin meminta maaf," Eden menunjukkan ekspresi sedih, ia meneteskan air mata, "sepertinya kau sedikit berlebihan, Gaki," Eiji menyenggol Gaki, "baiklah, aku terima permintaan maafmu itu, aku suda tidak memikirkan hal itu lagi, ayo Eiji, kita pergi," Gaki berjalan meninggalkan Eden yang masih berdiri diam, Eden merasa tidak percaya atas diterimanya permintaan maaf dia oleh seorang monster yang apatis, semua berjalan lebih mudah dari yang ia pikirkan.


Eden pergi dan mengejar Gaki yang semakin jauh, "GAKI! BIARKAN AKU IKUT DALAM DIVISI PERTAHANAN MU!," teriak Eden, Gaki yang sudah jauh menghentikan langkahnya, ia mengangkat tangannya dan mengacungkan jempolnya, "JANGAN MENGECEWAKAN AKU, YA!," Gaki berbalik dan tersenyum pada Eden, ia sudah berubah menjadi lebih bahagia.

__ADS_1


__ADS_2