Grand Fate : El Muerto

Grand Fate : El Muerto
Re;Life


__ADS_3

Shin dan yang lain menguburkan mayat Romero di Gunung Fuji, mereka menyembunyikannya di suatu tempat agar tidak diketahui siapapun, Gaki sendiri sangat beruntung karena tidak ada saksi mata selain Zein dan yang lain, sehungga pertarungannya tidak akan dikasuskan.


Shin sempat mengambil beberapa barang yang selamat dan tidak terbakar milik Romero, dia menemukan sebuah kapsul sebesar kepalan tangan, kapsul tersebut berearna merah dan biru serta lilitan pita berwarna putih.


Gaki masih dirawat di rumah sakit, meskipun masa kritisnya sudah disembuhkan oleh dokter dengan bantuan Grim, Gaki masih dalam kondisi koma, dokter berkata kalau dia akan siuman dalam jangka waktu satu minggu. Eiji sekarang hanya sendiri di rumah, ia masih bersiap untuk ujian di beberapa hari lagi.


Hari ini hari jumat, Eiji pergi ke sekolah dengan berjalan. Di sekolah, Eiji duduk di kursinya dan menunggu pelajaran di mulai. "Eiji, kudengar kakakmu masuk rumah sakit?," tanya Ren, salah satu teman dekat Eiji, "ya, dia terkena kecelakaan beberapa hari yang lalu," Eiji berbohong soal pertarungan yang dialami Gaki, "aku turut berduka cita, omong-omong, nanti Guru Qing ingin berbicara denganmu," Ren menepuk pundak Eiji, "baiklah."


Selama jam pelajaran, Eiji menyimak dengan tenang penjelasan dari Guru Somu, dia mempelajari sejarah Jepang. "Jepang memiliki satu legenda, pedang bercabang tujuh yang memiliki kekuatan yang sangat besar, diceritakan bahwa pedang ini merupakan hadiah dari Raja Baekje dari Korea kepada Penguasa Yamato di Jepang, pedang ini ditemukan di Kuil Isonokami Jepang pada tahun 1945, ada beberapa orang yang bilang bahwa pedang ini dapat mengusir musuh, dan memberikan kekuatan yang maha kuat bagi pemegangnya, pedang tersebut sekarang menjadi barang peninggalan sejarah yang dilindungi dan disimpan di suatu kuil tersembunyi," Guru Somu membuka halaman selanjutnya di buku sejarah, "arkeolog menyebutkan bahwa pedang ini dibuat pada masa Dinasti Jin, atau kepemimpinan Keluarga Sima di China, setelah masa pertarungan tiga negara. Ada juga yang bilang Tujuh Cabang di pedang tersebut memiliki kekuatan dari Tujuh Dosa Besar, atau Nanatsu no Taizai, tapi beberapa peneliti menolaknya karena berlawanan dengan masa kemungkinan pembuatan pedang tersebut, karena Dinasti Jin berada sekitar tahun 360, sedangkan Tujuh Dosa Besar baru di populerkan pada tahun 1880." Guru Somu menghela nafasnya, ia berbicara terlalu panjang, "baiklah, ada yang ingin bertanya?," Guru Somu membuka sesi pertanyaan.


"Saya ingin bertanya!," Eiji mengangkat tangannya, "dimana lokasi pedang tersebut sekarang?," tanya Eiji, "seperti yang tadi saya sebutkan, pedang Nanatsusaya No Tachi ini sekarang di sembunyikan di suatu kuil, beberapa ahli menyebutkan dia disimpan lagi di kuil Isonokami, Jepang, ada beberapa juga yang bilang dia disimpan di Korea," jawab Guru Somu perlahan, "lalu bagaimana dengan yang disimpan di Museum Nasional Jepang?," Noa, salah satu murid, berdiri dan memberi pertanyaan, "itu adalah duplikat yang dibuat berdasarkan pedang aslinya, dibuat semirip mungkin agar bisa memberikan petunjuk soal pedang aslinya, benda itu jelas sebuah duplikat karena hanya sebuah besi biasa yang dipahat kurang dari sepuluh kali, karena pedang aslinya dipahat sampai seratus kali dan dari besi terbaik dan memberikan aura yang kuat." Guru Somu menutup bukunya, "baiklah, pelajaran hari ini kita cukupkan, sampai ketemu di ujian minggu depan." Guru Somu berjalan keluar kelas.


Bel istirahat berbunyi, Eiji merapihkan bukunya ke dalam tas. Eiji, Ren, Fugi, dan Wagabe pergi ke kantin sekolah, Eiji membeli semangkuk Rice Bowl dengan tambahan saus Blackpepper, mereka duduk dan mulai memakan makanannya. "Eiji, apa kau sudah mempelajari semua pelajaran untuk ujian minggu depan?," tanya Fugi sambil menyeruput Ocha miliknya, "sudah, bagaimana dengan kalian?,"  Eiji membalas pertanyaan Fugi sebelumnya, "aku sudah belajar, tapi tidak memahaminya, bahkan penjelasan yang diberikan Guru Somu tadi aku tidak paham sama sekali," Wagabe terlihat tenang dengan penjelasan yang ia berikan, "sepertinya semakin lama kau juga akan jadi bodoh, Eiji," Ren tertawa kecil, "aku hampir lupa!, aku harus menemui Guru Qing!," Eiji langsung berdiri dan berlari ke ruang guru, Wagabe tersedak makannanya karena kaget, Fugi menyemburkan lagi minumannya, Ren yang juga baru ingat soal hal tersebut langsung berlari mengejar Eiji.


Di ruang guru, Eiji sedang di dalam ruangan milik Guru Qing, Ren menunggu Eiji di depan ruang guru. "Eiji, aku mendapat kabar soal olimpiade tahunan, sekolah ingin mengirimkan dirimu, Shirashi, dan Yamataki. Olimpiade ini melombakan pelajaran sejarah, sosial, dan ekonomi, akan diadakan pada tanggal 4 Desember dan nilai kalian bertiga menempati tertinggi dari seluruh murid kelas 10, Shirashi dan Yamataki sudah menyetujuinya, hanya tinggal kau seorang, bagaimana pendapatmu?," Guru Qing menyedekapkan tangannya, ia berharap sepenuh hati kalau Eiji akan menerimanya, "maaf aku tidak bisa, tanggal 4 Desember akan jadi hari penting bagiku," Eiji menjawab dengan tenang dan pelan, "jadi kau menolaknya, ya. Apa kau menolaknya karena ingin mengikuti festival tahunan akademi itu?," Guru Qing sedikit curiga, "ya, aku ingin pergi ke festival itu," Eiji lagi-lagi terlihat tenang dan lembut, dalam lubuk hatinya, ia ingin mengikuti lomba tersebut, tapi ia tidak ingin melewatkan festival akademi dalam waktu yang sama. "Baiklah, kalau itu memang keputusanmu, aku tidak bisa memaksa, terimakasih waktunya, kamu boleh pergi," Guru Qing menghela nafas, ia seperti kehilangan sesuatu yang penting.


Eiji keluar dari ruang guru, "apa yang kalian bicarakan?," tanya Ren pada Eiji, "dia mengajakku mengikuti olimpiade, tapi aku menolaknya," Eiji menghela nafas, dia merasa sedikit bersalah, tapi keputusan yang ia buat sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat. Eiji dan Ren kembali ke kelas, Fugi dan Wagabe datang sambil membawa makanan milik Eiji dan Ren yang ditinggalkan di kantin, mereka melanjutkan waktu istirahat di kelas.


"Hei, bagaimana kalau nanti sore kita pergi ke supermarket untuk sedikit bersenang-senang?," mata Wagabe berbinar-binar, "aku tidak ada uang," Ren menolak secara tidak langsung, "aku ingin belajar untuk ujian," Fugi juga menolak ajakan Wagabe, karena Ren dan Fugi menolak, Wagabe sekarang menatap Eiji yang belum menjawab, "sepertinya aku tidak bisa," Eiji tersenyum kecil, karena mereka bertiga menolak, Wagabe pun mengatakan hal yang membuat hati mereka luluh, "aku akan traktir kalian," Wagabe menatap tajam mereka bertiga, "aku ikut," Ren dan Fugi mengatakannya bersamaan, "aku ikut, tapi aku ingin ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menjenguk kakakku," jawab Eiji, "baiklah, nanti sore sepulang sekolah, kita berkumpul di taman kota, lalu ke rumah sakit, setelah itu barulah kita ke supermarket," Wagabe menjelaskan susunan acara mereka saat ini, "aku setuju," mata Ren beribinar-binar.


Waktu sekolah sudah selesai, jam menunjukkan 14.00, seharusnya Eiji pulang jam 4 sore, tapi Guru Kei tidak datang ke sekolah. Eiji pulang ke rumah terlebih dahulu, dia mengganti baju seragamnya menjadi kaos polos berwarna hijau gelap, dengan celana pants berwarna hitam, Eiji membuat sirup jeruk untuk dibawakan kepada Gaki yang sedang dirawat di rumah sakit. Eiji pergi ke taman kota dengan berjalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh. Jam 15.30, Eiji, Ren, Fugi, dan Wagabe sudah berkumpul di taman kota, merek sekarang menaik taxi untuk pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Gaki.


Di rumah sakit, Eiji mengisi formulir kunjungan, ruangan Gaki ada di nomor 322, kamar ke 22 di lantai 3. Eiji dan yang lain menaiki lift untuk kesana, lorong lantai 3 cukup ramai, karena merupakan lantai perawatan intensif dan rawat inap, sehingga cukup banyak kunjungan dan pasien yang ada. Di depan kamar Gaki, Eiji masuk terlebih dahulu untuk mengecek keadaan Gaki, disana ada Shin yang sedang duduk di samping kasur Gaki. "Kak Shin?," Eiji memanggil Shin yang duduk sambil memainkan ponselnya, Shin langsung menengok kearah Eiji yang baru masuk ke ruangan, "ah, Eiji," Shin menyenggol Gaki yang sedang tidur, alat infus sudah dicopot, alat bantu nafas juga sudah tidak dipasang lagi, Gaki sudah bangun.


Eiji sempat kaget karena ia mengira kalau Gaki masih dalam keadaan koma, tapi di depannya adalah kakaknya yang sudah semakin sembuh, "kakak?," Eiji terlihat kebingungan, "Gaki baru siuman sekitar tadi siang ketika kau sekolah, dokter sendiri kaget karena monitor tidak menunjukkan tanda-tanda gelombang otak yang tinggi, tapi seketika Gaki bangun begitu saja," Shin menepuk pundak Gaki, "ya, aku sepertinya harus lebih banyak istirahat," Gaki menghela nafas, dia menatap Eiji yang masih terlihat kaget, Eiji langsung melompat dan memeluk Gaki yang masih terduduk di kasur rumah sakit, Eiji meneteskan air mata, ia terlihat sangat khawatir soal Gaki, karena hanya Gaki yang tersisa sebagai keluarganya. "Sudah kubilang kalian cocok menjadi pasangan sesama lelaki," ujar Shin, dia mengambil jus jeruk dari kantung yang dibawa Eiji, "sepertinya kau ingin kubakar juga ya," Eiji menatap Shin dengan tajam, Shin tidak menghiraukan itu. "Kapan kau bisa keluar dari rumah sakit?," Eiji mengelap air matanya, "dokter bilang hari sabtu, aku akan diberi beberapa obat tambahan dulu," Gaki tersenyum kepada Eiji, dari jendela Ren dan yang lainnya mengintip, mereka melihat semua yang Eiji lakukan, "aku kira mereka pasangan,"ujar Ren dengan polos, "aku setuju," Wagabe dan Fugi menyetujui pendapat Ren.

__ADS_1


Setelah selesai menjenguk Gaki, Eiji dan yang lain pergi ke supermarket, tempat yang sebelumnya dipakai Gaki untuk bertarung. Eiji, Ren, Fugi, dan Wagabe pergi ke lantai bermain, disana Wagabe mengisi ulang kartu permainannya untuk dipakai menyalakan mesin permainan. "Aku akan pulang miskin sepertinya kalau berlama-lama disini," Wagabe terlihat menyesal dengan keputusannya, "tenang saja, aku akan membantumu membayar untuk teman-teman tidak tau diri kita," Eiji tersenyum kearah Fugi dan Ren yang sedang bermain hockey, "sepertinya kalian memaksudkan sesuatu," Ren langsung menunjukkan wajah murung.


Selama menunggu Ren dan Fugi bermain hockey, Wagabe dan Eiji pergi ke gerai makanan di lantai yang sama. "Hei, Eiji, apa kau memiliki hubungan yang istimewa dengan kakak laki-laki mu?," Wagabe terlihat tertarik dengan topik pembicaraan yang ia mulai, "apa maksudmu ya?," Eiji menodongkan garpu yang ia pegang kearah Wagabe, "aku hanya bercanda," Wagabe tersenyum kecil, "tapi kalian terlihat sangat mesra di rumah sakit tadi," tanpa menjawab, Eiji menodongkan garpunya lebih dekat kearah Wagabe, "aku hanya bercanda," Wagabe sedikit memundurkan kursinya, "bagaimana kalau aku menusukmu dengan bercanda?," Eiji tersenyum manis, itu adalah tanda kalau ia sudah lumayan kesal, "baiklah aku minta maaf," Wagabe menundukkan kepalanya, Eiji kembali duduk dengan posisi biasa, ia menaruh garpunya. Ren dan Fugi yang baru selesai bermain menghampiri mereka berdua, "bagaimana kalau kita menonton bioskop?, sedang tayang film horror yang bagus," Ren memberi saran, "ah, baguslah, bayar masing-masing, ya," Wagabe sekarang tersenyum kearah Ren, "tidak," Fugi dan Ren menolak dengan spontan, "baiklah," Wagabe berdiri dari kursinya dengan muka suram, "kau adalah dompet kita, biarkan otakmu bodoh, tapi dompetmu berguna," Fugi menepuk pundak Wagabe, "aku bisa saja menjadi ranking satu kapan saja lho," Wagabe tersenyum sinis kearah Eiji, "jangan curang hey," Eiji menepuk punggung Wagabe.


Ren, Eiji, Wagabe, dan Fugi pergi ke bioskop yang berada tidak jauh dari supermarket, mereka pergi menonton salah satu film horror yang sedang ramai diperbincangkan. Eiji dan yang lain sudah duduk di kursi penonton, Fugi dan Wagabe asik memakan popcorn yang mereka beli, Ren sedang bermain ponselnya sembari menunggu filmnya dimulai, sedangkan Eiji mencoba untuk menontonnya duluan menggunkan Grimnya, Eiji mengaktifkan Grimnya, ia bisa melihat filmnya tanpa harus menunggu dimulai, tapi karena Eiji ingin menikmati filmnya dengan tenang, ia menonaktifkan Grimnya, tapi Eiji sendiri sudah melihat bagian-bagian awal dari film tersebut.


Film sudah dimulai, Ren, Fugi, dan Wagabe duduk dengan tenang, Fugi dan Wagabe berhenti sejenak dari memakan popcorn, Ren memasukkan ponselnya ke kantung bajunya, Eiji diam sambil tertawa kecil, ia sedikit-sedikit menggunakan Grimnya untuk menghindari jumpscare. "Sepertinya kita tidak salah memilih film," Ren terlihat menikmati filmnya, Wagabe beberapa kali menutup mata dan telinganya, dia memang bukan penyuka film horror, berbeda dengan ketiga teman lainnya. "Ren, apa kau tau apa yang akan terjadi dengan tokoh utama?," Eiji berbisik kepada Ren yang duduk disampingnya, "menurutku dia akan berhasil kabur dari rumah hantunya, itu adalah jalan cerita yang klise, lagipula aku menyukainya karena bentuk hantunya dan rumah yang menyeramkan," Ren terlihat seperti seorang kritikus film handal, "oh tidak, dia akan terperangkap disana," Eiji tersenyum puas, ia memberikan ending cerita yang ditunggu Ren, "tidak mungkin, itu melanggar hak asasi akhir cerita berdasarkan hukum klise," Ren terlihat protes dengan bocoran yang diberitau oleh Eiji, "lagipula film ini baru keluar hari ini," Ren mencurigai Eiji, "lupakan, aku ingin menikmati film ini dengan tenang," Ren kembali duduk tenang.


Fugi tertidur di tengah film, Wagabe mulai terlihat tidak takut, tapi ia masih khawatir soal jumpscare yang akan datang, Ren dan Eiji memperhatikan film tersebut dengan seksama. Filmnya berdurasi 2 setengah jam, sekarang jam menunjukkan pukul 20.15, film tersisa 30 menit lagi. Ren masih terlihat sangat segar, Fugi sudah berulang kali ke kamar mandi, begitupun Wagabe, Eiji yang mulai mengantuk memutuskan untuk ke kamar mandi. Suhu diluar ruangan tonton sangat berbeda, Eiji merasa lebih sesak, karena banyak orang yang sedang menunggu ruang tonton film mereka dibuka.


Eiji masuk ke kamar mandi pria, disana dipenuhi anak-anak yang sedang bermain air, tidak ada orang dewasa disana. Eiji berpikir untuk memasuki dalam bilik, tapi sebelum itu Eiji mencoba melihat masa depan menggunakan Grimnya, dia melihat kalau dia akan diintip ketika di dalam bilik, tidak perlu waktu lama, Eiji memutuskan untuk kembali ke ruang film dan kembali ketika anak-anak itu sudah pergi.


"Kau kenapa?," Ren melihat Eiji yang masih terlihat ingin buang air, "kau pasti tidak jadi buang air karena takut diintip, aku juga dari awal belum buang air karena takut diintip," Fugi mengacungkan jempolnya, Eiji juga mengikuti gerakan Fugi, "sudah kubilang kau akan jadi bodoh selama waktu berjalan," Ren kembali fokus ke film yang masih berlanjut.


Jam 20.48, film sudah sepenuhnya selesai, Eiji dan Fugi langsung berlari ke kamar mandi untuk buang air, Wagabe dan Ren menunggu mereka berdua di kursi tunggu bioskop. "Aku masih bingung, kenapa ketika Eiji dekat dengan seseorang, kita selalu berpikir kalau mereka cocok berpasangan, mau itu pria ataupun wanita," Wagaber terlihat seperti seorang yang kritis, "sepertinya itu hanya dirimu," Ren mencoba menolak argumen Wagabe. Setelah Eiji dan Fugi keluar dari kamar mandi, mereka memutuskan untuk pulang, "Eiji, karena kau sendiri di rumah malam ini, bagaimana kalau kita menginap di rumahmu?," tanya Fugi, "ya, lagipula ini sudah sangat malam, kita bisa izin ke orangtua untuk menginap di rumah teman," Wagabe terlihat memaksa, Ren juga terlihat setuju, "ah, sepertinya tidak bisa, rumahku sempit untuk empat orang," Eiji mencoba tersenyum, ia tidak ingin menyusahkan ketiga temannya, "ayolah," Wagabe menggoyang-goyangkan pundak Eiji, "ba... Baiklah," Eiji akhirnya menyerah.


Di rumah, Ren langsung merebahkan dirinya di kasur yang merupakan milik Gaki, Eiji yang melihatnya langsung menyuruh Ren keluar dan mengunci kamarnya, "lebih baik kita tidur di ruang tamu agar adil," Fugi memberikan saran, Eiji pun mengambil peralatan tidur seperti selimut, bantal, dan guling untuk ditaruh di ruang tamu, Fugi yang sedari awal sudah kelelahan langsung tidur paling pertama, Wagabe menyalakan televisi, Ren bermain ponselnya, sedangkan Eiji di dapur untuk membuat ramen.


"Hei, biar kubantu," Ren mendatangi Eiji yang sedang memotong wortel, "ah, baiklah, tolong kau kupas jagungnya," Eiji menyodorkan dua jagung ke Ren, "kakakmu tidak pernah membantumu masak, kan?," tanya Ren sambil mengelupasi biji jagung, Eiji tidak menjawab apa-apa, dia hanya diam terbisu, "aku tau dari ekspresimu, kau tidak ingin menyalahkan kakakmu karena tidak pernah membantumu, kan?, dia selalu menolongmu ketika kau butuh, dan sekarang dia tidak disini," Ren tersenyum kecil.


Ren memiliki kedua orang tua yang keras, kakaknya selalu melindunginya ketika Ren ingin dipukul oleh ibu atau ayahnya, Ren dan kakaknya selalu dipaksa untuk menjadi nomor satu di kelasnya, Ren yang sudah berusaha mati-matian untuk menjadi nomor satu selalu kalah oleh orang lain, meskipun dia mendapat peringkat ke dua, orang tuanya tidak pernah menghargainya. Kakak Ren selalu menjadi peringkat pertama setiap tahunnya, tapi ia mengidap depresi karena paksaan yang diberika kepadanya, setahun lalu, kakaknya melakukan bunuh diri dengan melompat dari jembatan, karena itu kedua orang tua Ren merasa bersalah dan akhirnya sadar, tapi Ren tetap tidak bisa memaafkan mereka, Ren juga kehilangan sesosok pahlawan yang ada untuknya.


"Aku mengerti apa yang kau rasakan, Ren, tapi jangan kau jadikan itu beban, jadikan itu batu pijakan untuk mendaki lebih tinggi, kita semua adalah orang yang hebat, dan kita dalam proses untuk menjadikannya nyata, dengan kepercayaan pada diri sendiri, tidak ada hal yang mustahil untuk dicapai," Eiji tersenyum kearah Ren, "kau terlihat seperti penyuka lelaki kalau tersenyum seperti itu," Ren membalas senyuman Eiji, "oh, begitu?," seperti biasa, Eiji menodongkan pisaunya ke Ren.


Malam itu mereka berdua berbagi cerita selama di dapur, Wagabe akhirnya tidur sebelum ramennya jadi, pada akhirnya Eiji dan Ren yang memakannya berdua, padahal ramennya adalah porsi 4 orang.

__ADS_1


Jam 00.15, Ren, Wagabe, dan Fugi sudah tidur, Eiji masih bangun, dia sedang belajar dipojok ruang tamu, meskipun Eiji bisa saja melihat soalnya menggunakan Grimnya, ia berjanji tidak akan melakukannya, tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiran Eiji, kata-kata dari Gaki tadi siang di rumah sakit, "Eiji, kekuatanmu bukan hanya yang kau tau, kau memiliki kekuatan yang sangat besar," ujar Gaki tadi siang, hal itu membuat Eiji bingung, ia memutuskan untuk pergi ke gedung olahraga esok hari, ketika Master Zhong ada disana.


Eiji baru tidur jam satu pagi, dia ketiduran ketika sedang membaca buku sejarah soal materi yang tadi pagi dibahas oleh Guru Somu, soal pedang Nanatsusaya No Tachi.


Jam 4 pagi, Eiji sudah berada di dapur, dia sedang membuat pancake untuk ketiga temannya yang masih tidur lelap. Pikiran soal Gaki beberapa kali terpintas di benak Eiji, meski Shin bilang bahwa Gaki sudah sembuh, tapi dalam lubuk hati Eiji dia merasakan hal yang tidak enak, Eiji sempat meneteskan air mata, tapi ia bertekad untuk menjadi seorang yang berani. Selama di rumah sendirian, Eiji sempat menggeledah kamar Gaki, dia membuka buku catatan Gaki yang sangat rahasia, dan laptop milik Gaki. Eiji sudah mengetahui segala ambisi dari Gaki, bukannya ingin menahan Gaki agar tidak membahayakan diri, Eiji malah berniat untuk mengikuti jalan juang yang dilakukan Gaki, ia tidak ingin selamanya hanya membebani Gaki, hanya membuat ramen setiap hari, dan tidak pernah membantu apapun lagi.


Jam 5 pagi, Ren dan Fugi bangun dari tidurnya, pancake yang dibuat Eiji sudah setengah jadi, ia sedang membuat bagian selai untuknya. "Kau memasak apa?, ini masih pagi buta," Ren berjalan kearah dapur sambil mengusap-usap matanya, "aku sedang membuat pancake, apa kalian suka?," Eiji tersenyum kearah Ren, "ah, panekuk, sini biar kubantu," Ren mengambil roti pancake dan membalurinya dengan madu, "Ren, selainya belum jadi," Eiji menari lengan Ren yang sedang memegang botol madu, Fugi yang berada di lorong melihat mereka, ia tidak tau yang sebetulnya mereka kerjakan, ia hanya melihat ketika Eiji memegang tangan Ren, "sudah kuduga mereka pasangan," Fugi mengambil ponselnya dan memoto Eiji dan Ren tanpa sepengetahuan mereka.


Jam setengah enam pagi, Eiji, Ren, Fugi, Wagabe sudah duduk rapi di sekitar meja ruang tamu, semangkuk besar panekuk tersaji disana, dengan dua variasi rasa, madu dan fruit punch. "Kenapa ada dua rasa?," Wagabe terlihat kebingungan, "ah..., itu...," Ren tersenyum kecil, Eiji menunjukkan muka masam, "aku tidak peduli, perutku lapar," Fugi langsung memakan beberapa tumpuk pancake sekaligus, dia memakan tanpa jeda, alhasil diapun tersedak makanan. "Rasanya enak," Ren memuji hasil panekuk dengan rasa fruit punch milik Eiji, "setidaknya itu tidak dilumuri madu," Eiji masih terlihat tidak menerima sebagian panekuknya terlumuri madu, "ayolah maafkan aku," Ren langsung bersikap baik, "oh ya, tadi aku melihat kalian berdua bermesraan di dapur," Fugi menunjukkan foto yang ia ambil tadi dengan polosnya, "Fugi, kau sepertinya melakukan hal yang salah," Wagabe menghela nafasnya, "ah, sebuah foto ya," Ren dan Eiji tersenyum kearah Fugi, "ha, ha," Fugi tertawa kecil. Pagi itu dipenuhi tawa dan kebersamaan, mereka tidak merasa sendiri lagi, Eiji bisa melupakan sejenak soal masa lalunya dan soal Gaki, Ren juga bisa menghilangkan depresinya untuk sementara waktu.


Jam setengah tujuh pagi, Ren, Wagabe, dan Fugi bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing, "baiklah, kita pulang ya," Ren dan yang lain berjalan keluar rumah, mobil taxi yang dipesan Wagabe sudah menunggu disana, Eiji berdiri di pintu rumah sambil melihat teman-temannya pulang.


Mobil taxinya sudah jauh, Eiji menghela nafas, ia langsung membersihkan rumah dan pergi mandi. Setelah semua siap, Eiji memanggil taxi dan pergi ke gedung olahraga.


Jam setengah delapan pagi, Eiji sampai di gedung olahraga, disana ada Ray dan Zein yang sedang berlatih menghancurkan baja, seperti biasa. Eiji menghampiri Master Zhong yang sedang duduk memperhatikan Ray dan Zein.


"Selamat pagi, Master Zhong," Eiji melakukan ojigi, Master Zhong sedikit kaget, ia menoleh dan melihat Eiji. "Kau..., adiknya Gaki, kan?," Master Zhong sedikit kebingungan, "ya, Master," Eiji masih menundukkan punggungnya, "angkat kepalamu, kau datang kesini sebagai siapa?, adik dari Gaki, atau sebagai murid?," Master Zhong menyedekapkan tangannya, "latihlah aku," mata Eiji berbinar-binar, ada secercah harapan di matanya, ia memiliki tujuan yang sangat tinggi, ia ingin menyamai kakaknya.


Eiji dan Master Zhong sekarang ada di tengah gedung olahraga, "kalau kau berkenan, sebutkan kekuatan yang kau miliki," ujar Master Zhong dengan lembut, "ak...., aku bisa melihat masa depan, tapi penglihatan tersebut dapat berubah dengan hal yang aku lakukan," Eiji menjelaskan hal yang sama persis seperti ketika ia menjelaskan kepada Gaki dulu. Master Zhong tertawa kecil, "nak, aku tidak tau kau sepolos apa, masa depan adalah hal yang tidak bisa dirubah, mereka adalah hal yang mutlak, kecuali kekuatanmu adalah waktu itu sendiri," Master Zhong menghela nafas, "untuk mengetesnya, lemparkan pisau-pisau ini kepadaku, aku akan berpindah dengan cepat, kalau kau bisa menebakku muncul dimana, mungkin kita bisa mengetahui kekuatanmu yang sesungguhnya," Master Zhong menyodorkan 10 bilah pisau kepada Eiji.


Eiji mengaktifkan Grim miliknya, Master Zhong tersenyum kecil, dalam sekejap dia berpindah ke belakang Eiji, sehingga membuat Eiji sedikit gelagapan, tapi Eiji tidak melempar pisaunya kesana, ia melempar pisaunya kekanannya, dan Master Zhong dengan tepat muncul disana, lagi-lagi dalam sekejap Master Zhong hilang sambil memegang pisau yang Eiji lempar. Sekarang Eiji lebih lancar, ia melempar pisau-pisau dengan tepat, meskipun beberapa kali Master Zhong melakukan tipuan seperti berpindah ke tiga sampai lima termpat sekaligus, Eiji masih mengetahui dimana lokasi akhir dari Master Zhong.


"Semua pisau sudah dilemparkan," Master Zhong berjalan kearah Eiji, Eiji terlihat kelelahan, ia melemparkan pisau dengan dekuat tenaga, "Eiji, kau adalah anak yang unik dan polos," Master Zhong tersenyum kecil, "kau bisa melihat semuanya, kan?," Master Zhong terlihat tenang, "i..., iya," Eiji terlihat gugup dan kelelahan, "kau harusnya menyadarinya, ketika kekuatanmu aktif, matamu akan berubah dari kecoklatan menjadi sedikit hijau, apa kau tau arti dari warna hijau?, warna hijau memiliki makna kehidupan, alam, semesta, kekuatanmu bukanlah melihat masa depan, Eiji, kekuatan yang kamu miliki mempunyai potensi yang sangat besar," Master Zhing tersenyum, "jadi, kau bukan sengaja menghampiri pisau ku?," Eiji terlihat kebingungan, "nak, ketika aku berteleportasi, aku tidak mempunyai waktu untuk membuat rencana, aku selalu mempersiapkannya sedari awal, semua pisau yang kau lempar adalah sebuah goal yang pas pada gawang."


Master Zhong sebenarnya sudah mengetahui potensi asli dari kekuatan yang dipengang oleh Eiji, itu adalah kekuatan yang sangat langka, selemah apapun pengendalinya, kekuatan itu adalah Grim Conqueror, kekuatan yang tidak akan tidak berguna, pada akhirnya, Master Zhong sendiri memutuskan untuk memberi tahu Eiji soal rahasia kekuatannya.

__ADS_1


"Eiji, kekuatan yang kau miliki adalah sesuatu yang berharga, itu adalah barang satu-satunya yang merupakan sepenuhnya milikmu," Master Zhong kembali menghela nafas, "kalau kau berpikir bahwa kekuatanmu adalah melihat masa depan yang sesuai dengan apa yang kamu lakukan, maka bagaimana dengan keputusan akhir yang kau ambil?, melihat masa depan berati hanya melihat akhir, bukan melihat proses seluk beluk yang ada, kekuatan yang kau miliki, adalah kekuatan yang sangat langka, bahkan hampir mustahil, Grim milikmu adalah mengendalikan waktu."


__ADS_2