
Satu minggu sebelum ujian akhir semester dimulai, Gaki belajar dan berlatih lebih banyak dari biasanya. Gaki memasukkan Eiji ke salah satu sekolah SMA di Tokyo, Gaki mendaftarkan Eiji dengan bantuan Voxx karena Eiji tidak membawa berkas penting miliknya seperti akte kelahiran dan kartu keluarga, Gaki juga mengklaim Eiji sebagai adik angkatnya.
Kedua kakak-beradik itu sekarang sedang berlatih untuk ujian di minggu depan, karena Jepang melakukan ujian serentak untuk semua jenjang. Sesekali Eiji ikut berlatih dengan Gaki di gedung olahraga, ia berlatih menghindari serangan Master Zhong dengan Vision nya, dan dia mulai bisa mengendalikan kekuatannya untuk melihat hal yang lebih detail seperti pergerakan arah udara, jumlah tetesan air hujan.
Hari selasa, Gaki pergi ke akademi untuk melakukan rapat bersama panitia penjagaan festival. Gaki memegang tim yang terdiri dari empat orang panitia dari angkatannya, dan dua puluh adik tingkat.
Di ruang rapat, Gaki, Zein, Taki, dan Quin membicarakan soal pembagian posisi setiap penjagaan, sebelumnya mereka berjumlah lima orang, tapi karena Nova mengundurkan diri, hanya tersisa empat orang yang menjadi anggota divisi penjagaan. "Ada empat pintu masuk utama ke dalam stadion yang akan kita gunakan, ini sangat sesuai dengan jumlah kita berempat. Satu kelompok akan memimpin lima orang adik tingkat dan akan berjaga di setiap check point," Zein menunjuk keempat pintu masuk stadion yang ada di foto, "apabila ada masalah, bagaimana kita berkomunikasi satu sama lain?," Taki sedikit kebingungan, "kita gunakan ponsel, kalian punya, kan?," Zein mengangkat bahunya, "kau tau kan, Gaki tidak bisa menggunakan ponsel," Quin menunjuk Gaki yang menundukkan kepalanya, ia terlihat sedikit malu.
Gaki memang dikenal selain misterius, ia tidak handal menggunakan teknologi elektronik, itu adalah salah satu alasan ia lebih suka membaca majalah ketimbang melihat pesan-pesan digital, Gaki juga memilih menggunakan shuriken ketimbang membuat senapan dengan apinya, karena ia tidak paham tentang mesin-mesin di dalamnya.
"Kalau begitu, kita kirim pesan ke adik tingkat yang bersama Gaki untuk memberitahukannya pada Gaki," Zein memberikan ide, "ide bagus," Gaki terlihat setuju dengan ide dari Zein tersebut. "Kalau begitu, mari kita mulai pembagiannya," Taki mengeluarkan map dari tasnya, map tersebut berisi data-data dari adik tingkat.
Mereka berempat mulai membagi-bagi point, Gaki menempati point A, pintu utama yang berada di depan stadion, Zein menempati point B, pintu sayap kanan, Taki menempati point C, pintu di sayap kiri, dan Quin menempati point D, pintu bagian belakang stadion. Setiap mereka memegang adik tingkat yang berjumlah lima orang per kelompok. "Karena semua sudah ditentukan, aku akan beritahu mereka semua," Zein beridiri dan melangkah keluar ruang rapat, "sebentar, bagaimana kalau malam ini kita pergi ke stadion untuk mengecek stadionnya?," Taki memberikan ide. "Ide bagus," Quin mengacungkan jempolnya, Gaki dan Zein pun setuju, "kalau begitu aku akan beritahu mereka," ujar Zein, "tidak, menurutku kita saja," Gaki sekarang memberikan ide.
Setelah ditentukan, Zein pun memberi tahu adik tingkat soal pembagian kelompok, malam inipun mereka berempat akan ke stadion untuk melihat-lihat tempat tersebut.
Setelah waktu pelajaran selesai, jam menunjukkan pukul 14.00. Gaki mengikuti rapat utama Organisasi Eksekutif Mahasiswa, atau Voxx. Gaki berjalan menuju ruang rapat utama, disana semua anggota sudah ada, tapi ada satu orang yang membuat Gaki bingung, "apa yang Eden lakukan disini?," Gaki menunjuk Eden yang sedang bermain ponselnya, "ah, dia juga baru bergabung, aku lupa mengatakannya padamu, dia masuk ke divisi keilmuan," jawab Shin.
Setelah semua hadir di ruang rapat, Shin memulai rapatnya. Dimulai oleh Shin yang menjelaskan rundown acaranya. "Acara dimulai tiga minggu lagi, yaitu tanggal 3 sampai 4 Desember, dari hari Kamis sampai hari Jumat. Rundown acara seperti berikut; di hari kamis kita akan mengadakan acara pembukaan dari jam 10.00 sampai jam 11.30, setelah itu akan masuk waktu istirahat, jam 14.00 sampai 19.00 akan diadakan acara festival utama, pertunjukan seni budaya dan ilmu pengetahuan, acara akan ditutup pada jam 20.00. Semua anggota tidak ada yang diperbolehkan untuk pulang, kita akan mempersiapkan acara untuk esok harinya, divis penjagaan akan melakukan shift menjaga stadion, divisi keilmuan dan acara akan mempersiapkan kebutuhan esok hari, divisi dokumentasi diharap merapikan file foto dan video yang diambil, divisi Humas akan menghubungi tamu-tamu untuk acara selanjutnya, divisi cadangan akan disebar untuk membantu divisi lain. Pada hari jumat, festival akan kembali dimulai pada jam 08.00 sampai 10.00, dilanjutkan dengan pemyampaian materi oleh seorang ahli yang bernama Yamamoto Kusagi, dia adalah mentri luar negri kita sekarang, acara tersebut akan dilakukan selama satu jam, dari jam 10.00 sampai 11.00, dilanjutkan kembali dengan festival, pada jam 17.00 kita akan mempersiapkan hanabi untuk perayaan malamnya, sekaligus pelepasan 1000 lampion ke langit, sampai sini ada yang ditanyakan?," Shin menutup bukunya yang ia gunakan sebagai catatan untuk menulis persiapan acara. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Shin, "tidak ada yang ingin bertanya?, kalau begitu dilanjutkan Kai sebagai ketua divisi acara."
Kai mengambil proposalnya dari dalam tas, ia berdiri dan mulai membacakan proposal miliknya, "seperti yang tadi sudah disebutkan oleh ketua, kita akan mengadakan festival untuk dua hari, kami dari divisi acara akan mempersiapkan beberapa hal berikut ; 1 panggung dengan panjang 25 meter dan lebar 15 meter, dan dua panggung kecil dengan besar panjang 15 meter dan lebar 7 meter, atribut parade dan kesenian Jepang, serta beberapa alat tradisional yang kita dapat dari bantuan Lembaga Kesenian Tradisional Jepang, 100 kios-kios untuk pedagang festival, 1000 lampion dan 500 lampion cadangan, tiga hanabi raksasa ukuran 1 meter, dan sepuluh hanabi kecil berukuran 50 cm." Kai kembali duduk dan memasukkan proposalnya kembali ke tas.
Setelah penyampaian proposal acara, dilanjutkan oleh Kudo yang merupakan ketua Divisi Humas, Kudo berdiri dan mengambil buku proposalnya, "Saya disini sebagai ketua dari Divisi Humas ingin menyampaikan beberapa hal terkait sponsor dan bantuan dana. Kita mendapat sponsor dari beberapa brand di Jepang, mereka juga akan menjajakan barang mereka di festival kita, ada tiga tingkat sponsor yang ikut serta, dari jumlah 15,000 yen, 50,000 yen, dan 150,000 yen. Kita mendapat 18 sponsor dengan jumlah 15,000 yen, 8 sponsor 50,000 yen, dan 5 sponsor dari 150,000 yen. Total semuanya adalah 1,420,000 yen, ditambah bantuan dari akademi sebesar 750,000 yen, totalnya menjadi 2,170,000 yen. Kita juga mengundang beberapa aktris dalam acara festival ini, juga kelompok kesenian tradisional yang dikirim dari Lembaga Kesenian," Kudo menutup proposalnya dan kembali duduk.
Setelah Kudo menyampaikan proposalnya, Shin kembali berdiri, "divisi utama sudah selesai memberikan proposal masing-masing, sisanya hanya divisi keilmuan, penjagaan, dokumentasi, bantuan, dan cadangan. Aku harap kalian melakukan yang terbaik di ujian nanti maupun di festival, terimaksih kerja samanya, rapat dibubarkan." Shin melakukan ojigi diikuti semua anggota rapat.
Setelah rapat dibubarkan oleh Shin, Gaki pun berniat untuk langsung pulang ke rumahnya. Di perjalanan, Gaki menuju minimarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa makanan ringan, disana ia bertemu dengan Eiji yang juga sedang berjalan pulang ke rumah.
"Sekolah mu sudah selesai?," Gaki menepuk pendak Eiji dari belakang, "ah, kakak?," Eiji sedikit kaget karena ia tidak merasakan kehadiran Gaki sebelumnya, "aku baru saja selesai, ingin beli snack?," "tentu."
Gaki dan Eiji masuk ke dalam minimarket, membel beberapa makanan dan barang, setelah itu mereka pulang ke rumah dan membersihkan diri masing-masing. Gaki pergi ke kamar mandi, sedangkan Eiji ke dapur untuk memasak makan sore. Setelah selesai mandi, Gaki duduk di ruang tamu sambil menunggu Eiji yang sedang memasak, Gaki membaca sebuku majalah yang ia taruh di meja.
"Eiji, malam ini aku ingin pergi sebentar," ujar Gaki, "ingin pergi kemana?, biasanya kakak tidak pernah pergi di malam hari...," Eiji membawa semangkuk besar ramen ke ruang tamu, "aku dan yang lain ingin mengecek stadion untuk persiapan festival nanti, jadi kau malam ini di rumah sendiri, aku tidak akan lama," Gaki mengelus kepala Eiji, "baiklah, jangan melewati tengah malam," Eiji terlihat murung, "tidak akan," Gaki tersenyum lebar.
Jam 19.00, Gaki bersiap untuk pergi ke stadion, ketika Gaki ingin memakai sepatunya, Eiji menepuk bahunya, "kak, bagaimana aku menghubungimu kalau kau tidak memiliki ponsel?," tanya Eiji kebingungan, "gunakan ini," Gaki memunculkan api kecil dari tangannya, api tersebut seukuran tangan orang dewasa, Gaki menyodorkan api tersebut kepada Eiji, "gunakan ini, api ini akan mengirimkan suaramu padaku," Gaki menyodorkan api tersebut kepada Eiji, "apinya hangat," Eiji menggenggam api tersebut, "tidak perlu khawatir apinya akan membesar," Gaki tersenyum kecil, "ya, aku berangkat ya!," Gaki berdiri dan berjalan keluar rumah.
__ADS_1
Gaki pergi ke stadion dengan dijemput oleh Zein, ia akan menunggu di minimarket untuk dijemput oleh Zein. Setelah tiga menit menuggu, Zein datang menggunakan mobil bersama Taki dan Quin. "Sebenarnya apa yang akan kita lakukan disana?, bukankah mengecek kondisi stadion adalah tugas divisi keilmuan dan acara?," Quin sedikit protes, "kau terlambat untuk protes, lagipula kau yang pertama menyetujui ide ini," Taki terlihat murung, ia sudah mengantuk.
Setelah lima belas menit perjalanan, mereka sampai di stadion. Gelapnya malam membuat stadion terlihat lebih megah dengan lampu-lampunya, Gaki dan yang lain menuju ke kantor penjaga untuk memberikan surat izin masuk ke stadion yang diberikan langsung oleh akademi. "Mau apa kalian kesini di malam hari?," penjaga stadion terlihat keheranan, "kami dari akademi, ingin melihat struktur stadion untuk menentukan titik-titik penjagaan, termasuk melihat titik buta dari kamera pengawas," Zein menjelaskan secara singkat tujuan mereka, "baiklah, selesaikan dengan cepat," penjaga tersebut memberikan mereka kunci gerbang utama stadion.
Gaki dan yang lainnya memasuki stadion, terlihat stadion tersebut sangat megah dan lebar, meskipun gelap, lampu-lampu menyinari lapangan bola yang ada di tengah stadion tersebut. "Mari berpisah untuk menentukan posisi masing-masing, kita akan berkumpul lagi disini 30 menit kedepan," Gaki dan yang lainnya mulai menyebar ke point masing-masing.
Gaki tetap di pintu utama, ia mencari lokasi beberapa kamera pengawas, ada lima kamera pengawas di pintu utama, kelimanya bisa memutar setengah bola. Gaki pergi ke ruangan pengawas untuk mencari titik buta dari kamera pengawas tersebut, yang ditemukan Gaki adalah titik butanya merupakan bagian bawah kamera pengawas tersebut, karena meskipun bisa memutar setengah bola, tapi dia tidak bisa memutar lurus kebawah, ada tersisa 20 derajat yang membuat kursi dibawahnya menjadi titik buta, hal ini juga terjadi di kamera pengawas lainnya, Gaki menulis kekurangan tersebut di buku catatannya. Sekarang Gaki mencari posisi untuk berjaga, dia menemukan beberapa spot untuk melihat dengan luas, karena festival akan diadakan pada siang hari, dan akan ada beberapa kios, maka Gaki harus membagi kelompok untuk berjaga dan berpatroli, ia juga menulis di buku catatannya perihal tersebut.
20 Menit sudah terlewat, Gaki sekarang sedang mengecek kelayalan kamera pengawas, Zein yang sudah selesai mengecek pointnya sudah menemui Gaki dan melaporkan hasil penyelidikannya. "Kamera pengawas dengan titik buta di bawahnya?, aku juga mengalami masalah yang sama," Gaki terlihat bingung, "kita belum diberi tahu soal Grim adik tingkat, mungkin mereka akan berguna untuk mengatasi masalah titik buta, lagipula kita butuh empat orang untuk empat pengendali kamera pengawas," Zein juga terlihat bingung. Quin dan Taki sudah selesai menyelidiki titik mereka masing-masing, merekapun kembali berkumpul di pintu utama.
"Jadi masalah utama kita hanyalah titik buta, sisanya hanya butuh berpatroli saja," Gaki menyimpulkan masalahnya, di waktu yang sama, Gaki merasakan getaran dari tangannya, itu adalah suara panggilan dari Eiji. Gaki memunculkan apinya di tangan kanannya, Zein dan yang lainnya memperhatikan yang Gaki lakukan.
"Ka.....K.....T....O......-," suara tersebut terputus seketika, suaranya menghilang seketika. Dari langit terdengar suara gemuruh, sesuatu jatuh dengan kecepatan tinggi dari langit, benda tersebut menghantam lapangan bola dan membuat getaran yang tinggi. "A.. Apa itu?," Zein kebingungan melihatnya, benda tersebut ditutupi debu, mereka tak bisa melihat apa-apa. "Itu... Seseorang," Quin melihat dengan seksama. Bayang-bayang seseorang sedikit demi sedikit muncul, dibalik tebalnya debu ada seseorang disana. "HALLO! MAGANDANG GABI!!," orang dibalik bayang-bayang tersebut berteriak dengan lantang, debi-debu disekitarnya tersapu sehingga Gaki dan yang lain bisa melihat wujudnya dengan sempurna.
Orang tersebut menggunakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya ditutupi topeng yang menutupi sampai kepala, hanya bagian mulutnya yang dapat dilihat dengan jelas. Tingginya sekitar 180 cm, dia tersenyum lebar kearah Gaki dan yang lain, dipikiran Gaki sebenaranya hanya ada satu hal, pesan yang disampaikan Eiji sebelum suaranya hilang, dia merasa sangat khawatir akan apa yang terjadi, tapi sepertinya ia harus menghadapi seseorang yang didepannya terlebih dahulu.
"Siapa kau?," Gaki membentuk katana dan mengarahkannya pada orang tersebut, "aku?, kau tidak perlu tau nak, karena kau juga akan dihabisi disini." Hanya dengan satu kalimat, Gaki dan yang lain tau kalau ini bukan permainan, didepan mereka adalah seorang penjahat, dan mereka harus mengalahkannya. "Terutama kau, anak kecil yang memegang pedang," orang tersebut menunjuk kearah Gaki, "kau yang terlibat dalam penyerangan supermarket itu,kan?," lanjutnya.
Gaki tetap diam, ia menahan amarahnya, Gaki tidak boleh menghancurkan stadionnya. Zein berlari ke pos penjaga untuk memberitahunya soal ini, tapi seketika semua pintu disana tertutup oleh tembok batu raksasa, mereka terperangkap disana. "Ini adalah Grimoire milikku, Stone Age!," orang tersebut tertawa terbahak-bahak, Gaki paham betul orang didepannya bukan penjahat biasa, menurutnya, orang ini adalah salah satu pembunuh dari Filipina.
Gaki dan yang lain sudah dalam posisi siap, Gaki memegang erat katananya, Taki sudah mengarahkan tangannya, Zein dalam posisi kuda-kuda, kartu Quin mengelilingi tubuhnya. "Sepertinya kalian tau kondisi kalian sekarang, kalian terlihat ketakutan," orang tersebut tertawa lagi, "kita mulai." Dalam sekejap, orang itu sudah berada di depan mereka berempat, Gaki dengan sigap membentuk sayap dam terbang keatas, Taki memberikan tekanan kebawah sehingga ia terpental keatas, Quin terbang menggunakan kartunya, tapi Zein terlambat untuk menghindar.
Leher Zein dicengkram oleh orang tersebut, Gaki pun langsung terbang ke orang tersebut dan mengayunkan pedangnya, tapi sebuah dinding batu muncul didepannya, dinding tersebut tidak hancur, bahkan tidak tergores sedikitpun. Gaki menggunakan kakinya untuk mendorong tubuhnya kembali ke udara, dia berputar dan mengubah senjatanya menjadi sebuah palu yang cukup besar, dia menghantamkan palu tersebut ke dinding batu di depannya, dinding tersebut hancur berkeping-keping. Orang yang sedang mencengkeram Zein melepaskan tangannya dan membuat pilar batu untuk naik keatas, Quin melancarkan serangannya dengan menerbangkan kartu-kartunya, orang tersebut melemparkan batu-batu kearah Gaki dan yang lain, tapi Quin memotong semua batunya. Taki memberikan tekanan ke pilar batu tersebut dan membuatnya hancur, orang tersebut kembali membuat pilar baru, ia bersedekap dan tersenyum lebar disana.
"Seperti rumor yang kudengar, akademi memiliki murid-murid berbakat, sepertinya pertarungan ini akan menyenangkan," senyuman orang itu berubah menjadi seringai yang tajam, Gaki kembali merubah senjatanya menjadi katana, Zein masih dalam kondisi sesak nafas karena dicengkeram sebelumnya. "Karena itu, hiburlah aku!," orang tersebut tertawa kencang, tembok batu yang mengurung mereka sekarang terbuka, Gaki dan yang lain tidak lagi ada di stadion, mereka ada di langit.
"Batu ini akan jatuh dalam lima menit, kalahkan aku dalam waktu itu, atau kalian akan ikut jatuh bersamak." Orang tersebut sudah tidak waras, dia rela mati hanya untuk sebuah pertarungan, "apa maksudnya?," Zein kembali membentuk kuda-kuda, "kita harus mengalahkannya," Gaki melompat dan mengepakkan sayap apinya.
Taki memberikan tekanan ke katana milik Gaki untuk membuatnya sekuat palu, Quin menghancurkan batu-batu yang meluncur kearah Gaki, Zein di belakang sedang mengumpulkan tenaga untuk melancarkan serangan utama. Sang Penjahat membuat tiga lapis tembok batu yang tebalnya satu meter, Gaki melakukan putaran di udara sambil mengayunkan pedangnya, ia berhasil menembus ketiga tembok tersebut, tapi di waktu yang bersamaan, Sang Penjahat membuat batu stalakmit dari bawah yang mengarah ke Gaki, ia langsung berputar dan terbang keatas.
Gaki melakukan terbang secara vertikal kebawah, ia merubah senjatanya menjadi kapak, ini akan menjadi serangan terbaiknya. Gaki menebaskan kapaknya kearah batu-batu stalakmit dan menghancurkannya, "Zein!, sekarang," Gaki kembali terbang keatas. Seluruh tubuh Zein dipenuhi arus angin, dia berdiri dan membentuk kuda-kuda, Zein mengepalkan tangan kanannya di samping pinggangnya, terlihat arus angin berputar diujung kepalan tangannya, Sang Penjahat kembali melontarkan batu-batu yang lebih besar, Quin membentuk dinding dengan kartunya untuk melindungi Zein agar fokusnya tidak pecah.
Zein melancarkan tinjunya, batu yang mereka pijak terdorong kebelakang, batu-batu stalakmit yang muncul hancur seketika, pilar yang dipijak Sang Penjahat hancur, dia jatuh kebawah. Gaki menangkap Zein, Quin, dan Taki dengan tali buatannya, batu tersebut jatuh kebawah, tapi sebelum menyentuh tanah, batu tersebut hancur oleh sebuah cahaya, Nova sudah menunggu mereka.
Gaki mendarat dengan membawa ketiga lainnya. "Nova?, apa yang kau lakukan disini?," Zein terlihat kelelahan, "kau pikir melihat batu besar terbang di tengah malam bukan hal yang aneh?," Nova menyedekapkan tangannya. "Apa orang tersebut mati?," Quin melihat kearah Sang Penjahat yang terkapar di tanah, "aku akan mengeceknya," Gaki berjalan kearahnya perlahan, dia membentuk tameng dengan apinya. Ketika Gaki hanya berjarak dua meter darinya, Sang Penjahat bangun perlahan. Gaki menodongkan katananya kearah Sang Penjahat, dari jauh Nova, Quin, dan Taki bersiap melancarkan serangan.
__ADS_1
"Aku menikmati pertarungannya," orang tersebut tertawa kecil, ia kembali berdiri. Gaki masih menjaga jarak darinya, "urusanku dengan kalian sudah selesai, aku akan memberitahu satu hal terakhir, hidup kalian tidak akan aman sejak sekarang, AHAHAHHAHAHA," orang tersebut mengeluarkan sesuatu dari kantungnya, "Sa Uulitin," orang tersebut menyeringai, sebuah arus angin terbentuk dibelakangnya, dia terhisap masuk kedalamnya, dalam sekejap, sang penjahat tersebut hilang.
"Dia..., kabur?," Nova sedikit bingung, "biarkan, setidaknya urusan kita selesai," Gaki menarik Grimnya, ia berjalan kembali ke yang lain. "Aku ada urusan lain," Gaki berjalan keluar stadion, penjaga stadion tidur di posnya, itulah kenapa mereka tidak mendapat bantuan. Gaki mengepakkan sayapnya dan terbang ke rumahnya, dari belakang Quin mengikutinya, Zein membawa mobil dan membawa Taki serta Nova untuk mengejar Gaki.
Sesampainya di rumah, Gaki masuk kedalam, ia berteriak memanggil Eiji, tapi tidak ada jawaban, ia mencari ke segala sisi tapi dia tidak menemukan apapun. Gaki menjadi panik, ia berlari keluar dan mencari Eiji, amarah Gaki semakin memuncak, Quin dan yang lain ikut mencari Eiji, sampai Kai datang menemui Gaki.
Kai terlihat kelelahan, ia berlari dengan kecepatan penuh menuju Gaki. "Gaki...... Eiji....... Diculik...... Shin..... Mengejarnya," Kai terlihat kelelahan, Gaki dalam sekejap terbang dan menuju suatu tempat, ia merasakan keberadaan Eiji, api yang diberikannya kembali menyala. "Kita harus mengejarnya, Kai, masuklah ke mobil, kau kelelahan," Zein menari Kai ke mobil, mereka mengejar Gaki yang terbang dengan kecepatan tinggi, pendeteksi Grim milik kepolisisan tidak mendeteksi kekuatan Gaki karena kecepatannya yang terlalu tinggi. "Jalan ini...," Zein merasa familiar dengan jalan yang mereka lewati, "kita menuju Gunung Fuji," Kai menghela nafasnya, "aku bisa merasakan betapa lelahnya berlari sejauh itu," Nova menepuk pundak Kai.
Gaki melesat masuk ke hutan-hutan di Gunung Fuji, Zein dan yang lain mengikuti Kai yang sebelumnya bersama Shin, mereka mendaki gunung menggunakan bantuan kartu Quin agar bisa lebih cepat. Ketika mereka sampai di tempat tujuan, Gaki sedang terduduk lemas, Shin terkapar di depannya tanpa tenaga, disampingnya ada Eiji yang ditutupi oleh daun-daun dari sunflower milik Shin. Gaki menatap ke langit, amarahnya tidak bisa ditahan lagi, sifat sesungguhnya milik Gaki keluar, sifat egois dan pemarah.
Seseorang muncul dari atas, dia melayang perlahan kehadapan Gaki, dia paham kalau Gaki sudah dalam kondisi yang sangat berbahaya, Gaki masuk dalam wujud paling tinggi miliknya, Executor fase 1, itu adalah kondisi dimana amarah Gaki sudah tidak dapat lagi ditahan, tapi ia tidak mengeluarkannya dalam jumlah banyak.
"Kita harus pergi, sekarang," Kai menarik yang lain untuk mundur, "kenapa?, kau ingin membiarkan mereka mati?," Zein mencoba membantu Gaki, "mereka tidak akan mati, Gaki akan menjaganya, justru kitalah yang akan mati kalau tetap disini," Nova menarik kerah baju Zein, mereka kembali menuruni gunung, aura dari Gaki masih terasa meskipun mereka sudah sangat jauh dari sana.
Gaki masih terduduk lemas, ia terlihat kehilangan harapan, Shin yang kehilangan kesadaran tertidur dipangkuannya, Eiji yang juga pingsang ditutupi oleh dedaunan dan batang pepohonan milik Shin, itu adalah kekuatan terakhir Shin. "Kau melakukan kesalahan, nak," orang tersebut menggunakan pakaian yang sama seperti yang digunakan orang di stadion, orang tersebut mulai berbicara, "namaku adalah Romero, pembunuh bayaran dari La Muerto, organisasi pembunuh dari Filipina, yang selama ini kau cari. Tugasku disini adalah menghabisimu, sebagai bayaran dari apa yang dilakukan kedua orang tuamu," Romero membentuk pusaran angin, dia mengayunkan tangannya dan seluruh pusaran angin meluncur kearah Gaki.
Seperti memiliki pelindung, seluruh pusaran angin tersebut menghilang begitu saja, mata Gaki sekarang mengarah ke Romero, "ini adalah dosa, yang kau perbuat," nada suara Gaki semakin melemah. Gaki berdiri, ia menciptakan api yang membakar Shin dan Eiji, itu adalah api untuk melindungi mereka dari serangan yang aka dilakukan Gaki.
Amarah Gaki akhirnya bisa dikeluarkan, ia menggenggam sebuah pedang panjang, sayapnya terbentang, "kau akan kubunuh, disini." Gaki mengepakkan sayapnya, bulu-bulunya menyebar ke segala arah, ia berpindah ke setiap bulunya dalam kecepatan tinggi, ini adalah teknik yang Gaki gunakan sebelumnya di kejadian supermarket. "Teknik murahan ini tidak akan bisa mengalahkanku!," Romero membentuk pusaran angin yang besar, dia menghisap semua bulu-bulu api Gaki, tapi semuanya hanya tipuan, Gaki muncul dari atas pusaran angin yang merupakan titik dimana angin tidak menarik apapun, dia melesat dan mengayunkan pedangnya ke Romero, Romero yang kaget langsung merubah bentuk pusaran anginnya untuk menyerang Gaki, tapi Gaki berpindah ke tempat lain yang sudah ditandainya, dia melesat dari belakang Romero dan kembali bersiap mengayunkan pedangnya.
Romero mulai panik, Gaki berpindah terus menerus, semakin dia membuat Gaki berpindah, semakin banyak bulu yang terlepas, dia pun berniat mengerjakan misi cadangannya, membunuh Eiji. Romero terbang kearah Eiji dan bersiap menusuknya dengan pusaran angin, dia membuat pusaran angin di sekitarnya agar Gaki tidak dapat menyerangnya, tapi itu adalah keputusan yang salah. "Kau membuat kesalahan," aura Gaki semakin kuat, dia menyentuhkan pedangnya ke pusaran angin milik Romero, dalam sekejap api menyatu dengan angin yang berputar tersebut, Romero keluar dan terbang ke angkasa, dia merasakan panasnya api Gaki dari jarak dekat.
Romero dan Gaki kini ada di angkasa, tidak ada halangan lagi disana. "Aku diperintah untuk menyelesaikan tugas tanpa menyisakan bukti, seperti yang kau lihat, kekuatanku adalah angin, dan kau menantangku diatas langit seperti ini, dasar bodoh," Romero menciptakan pusaran angin raksasa, dia meluncurkannya kearah Gaki, tidak seperti sebelumnya, kali ini Gaki tidak menghindar, "berhenti bermain-main," Gaki mengayunkan pedangnya sedikit dan pusaran angin tersebut hilang. Romero semakin kehilangan percaya dirinya, mentalnya semakin hancur, kekuatannya semakin menipis.
"Kalau itu maumu, akan kulakukan," Romero mengambil pisau dari kantungnya, dia menyayat bagian telapak tangannya, dia melakukan perjanjian dengan iblis. "AKU MENGORBANKAN JIWAKU, BERIKAN AKU KEKUATAN!," dalam sekejap petir bergemuruh dan menyambar Romero, dia terlihat pulih, aura kekuatan milik Romero semakin kuat.
Romero melancarkan pusaran angin yang lebih banyak, Gaki memegang pedangnya dengan kedua tangan, ia menggenggamnya dengan erat. "Majulah, akan kubunuh kau," Romero menyeringai tajam, Gaki terbang secara horizontal kearah Romero, dia menghindari semua pusaran angin yang dilancarkan Romero, "terbakarlah," Gaki mengayunkan pedangnya dan menebas tubuh Romero, sebuah api raksasa muncul dan membentuk gambar naga yang membakar Romero, tubuhnya terbakar hangus, dia jatuh kebawah.
Gaki terlihat lemas, meskipun dia terlihat tenang, dia menggunakan terlalu banyak tenaga, sayapnya menguap dan Gaki jatuh kebawah, tapi Quin sempat menangkapnya sebelum dia menyentuh tanah. Api yang melindungi Eiji dan Shin juga hilang, Kai dan yang lain membawa mereka ke mobil dan pergi ke rumah sakit.
Gaki dalam kondisi kritis, otaknya tidak bisa bekerja dengan benar, dia kehilangan harapan, jantungnya berdetak sangat cepat, dia memasuki Adrenalin A pada fase yang tidak seharusnya.
"Bagaimana kondisi Eiji dan Shin?," Kai terlihat Khawatir, "mereka berdua aman, Shin memiliki patah di tulang rusuk, dia pingsan karena terpukul di bagian perutnya, sedangkan Eiji pingsan karena kehabisan oksigen, tapi dia dalam kondisi aman," jawab Dokter, "sedangkan Gaki masuk ke kondisi kritis, sistem tubuhnya tidak stabil, mungkin dia akan dirawat lebih lama."
Gaki, dia merupakan orang yang haus akan kekuatan, apinya memiliki banyak keunikan, dia bisa membuatnya menjadi sedingin es, setajam sengat lebah, dan secepat cahaya. Api milik Gaki memiliki satu kekuatan yang membuatnya menjadi sangat spesial, dia bisa menyerap kekuatan orang untuk memperkuat dirinya, karena apinya jugalah yang membuat Gaki sangat egois dan ingin menjadi lebih kuat.
__ADS_1
Gaki tidak pernah kehilangan amarah, ia selalu memendam rasa amarah yang besar, hal itu ia gunakan untuk memperkuat dirinya di momen yang dibutuhkan, efek sampingnya adalah kehilangan kesadaran dan sistem tubuh yang tidak stabil. Gaki hanya merasakan ketenangan ketika bersama Noah, Shin, dan Eiji, tapi sifat aslinya takkan pernah bisa hilang, karena itu Gaki membenci dirinya sendiri, lebih tepatnya, Alter Egonya.