
Eiji terdiam, dia memproses kalimat yang diujarkan Master Zhong sebelumnya, "maksud Master...., aku......., bisa mengendalikan waktu?," Eiji memegang kepalanya dengan kedua tangannya, ia tidak percaya, "terserah dirimu ingin percaya atau tidak, tapi kau akan mengetahuinya seiring waktu," Master Zhong tersenyum kepada Eiji, senyumannya memberikan rasa hangat dan nyaman.
"Yo pak tua!, kami sudah selesai," Zein dan Ray berjalan kearah Master Zhong dan Eiji berada, "oh, ada Eiji," Ray melambaikan tangannya kepada Eiji, "yo!," Zein juga ikut melambaikan tangannya. "Sedang apa kau disini?," tanya Zein kepada Eiji yang masih mengatur nafasnya, "dia sedang melatih Grim miliknya," jawab Master Zhong, Zein terlihat tertarik dengan Eiji, "memang, apa Grim yang kau miliki?," Zein menepuk pundak Eiji, "ah, soal itu....," Master Zhong sedikit gelagapan, "aduh maaf, aku kelewatan," Zein merasa bersalah, ia menanyakan hal seperti itu secara spontan tanpa menunggu jawaban dari Eiji, "tidak apa, beritahu saja," Eiji mempersilahkan Master Zhong menjelaskan soal Grim nya, dan Master Zhong pun menjelaskan semuanya, Ray dan Zein sedikit kaget, "ya pada akhirnya bakat murni akan mengalahkan kerja keras," Zein terlihat putus asa, Ray hanya tersenyum, ia sudah kelewat bangga dengan kekuatan regenerasi ultra yang ia miliki.
Tiba-tiba, Ray mendapat telpon dari seseorang, mukanya langsung terlihat panik, Ray langsung membisikkan sesuatu kepada Zein, "maaf, kami pergi duluan, sampai jumpa, Eiji," Zein berlari ke mobilnya bersama Ray, Master Zhong tetap berdiri disamping Eiji, "ada apa dengan mereka?," Eiji kebingungan, "aku tidak tau," Master Zhong terlihat tidak peduli, "Kalau begitu, aku akan pulang juga," Eiji mengambil tasnya yang ia taruh di kursi, "baiklah," Master Zhong berjalan ke ruang ganti meninggalkan Eiji sendiri di tengah gedung olahraga.
Eiji pulang ke rumah menggunakan taxi, ia setelahnya berniat untuk pergi ke rumah sakit mengunjungi Gaki yang masih belum ada kabar diperbolehkan untuk pulang. Eiji membersihkan dirinya, ia mencoba untuk membuktikan yang dikatakan Master Zhong sebelumnya, bahwa ketika ia mengaktifkan Grimnya, matanya akan berwarna hijau. Eiji berdiri di depan wastafel, dia menatap pantulan wajah seorang anak berambut hitam pendek, badannya kecil dengan kulit yang cream halus, itu pantulan dirinya sendiri. Eiji berfokus ke matanya yang berwarna hitam kecoklatan, ketika ia mengaktifkannya, persis seperti yang dikatakan Master Zhong, warna pupil matanya berubah menjadi hijau terang, tapi ada detail lain yang dilewati Master Zhong, ada gambaran jarum jam disana, dengan ini, Eiji sepenuhnya yakin kalau kekuatan yang ia pegang sangat besar, bukannya senang, Eiji malah bersedih, ia takut kekuatannya akan berbahaya, Eiji sedikit demi sedikit meneteskan air mata, ia merasakan sesuatu yang menyedihkan.
Eiji bersiap untuk pergi ke rumah sakit, dia mengganti pakaiannya dan membuat jus jeruk seperti hari lalu. Eiji berangkat menggunakan taxi, selama perjalanan Eiji tidak mendapatkan kabar apapun soal Gaki. Sesampainya di rumah sakit, ia seperti biasa pergi ke meja resepsionis untuk mengambil kartu kunjungan. "Gaki," Eiji menyodorkan kartu kesehatannya kepada Resepsionis, "atas nama siapa?," Resepsionis tersebut mengambil kartu kunjungan dari kolong mejanya, "Eiji," Resepsionis tersebut seketika tersentak, "ah, maaf, pasien tersebut sedang tidak dapat dikunjungi, dia dalam masa intensif," Resepsionis masih terlihat panik, keringat bercucuran di lehernya, Eiji hanya berdiri kebingungan, "kemarin aku datang, dia bilang hari ini bisa pulang, apakah ditunda?," Eiji semakin penasaran. Dari lorong, ada suara orang yang berteriak diiringi suara ban yang beradu dengan lantai rumah sakit, "minggir, minggir, pasien gawat," ada kurang lebih empat orang yang mendorong ranjang rumah sakit, dan kurang lebih tujuh orang yang mengiringinya. Eiji penasaran, ia mencoba melihatnya dengan mempercepat penglihatannya, Eiji seketika kaget, ketujuh orang itu adalah kenalannya, ia mengenal mereka semua, bahkan orang yang di ranjang.
Shin, Han, Zein, dan Ray berlari mengiringi ranjang tersebut, Shin terlihat meneteskan air mata, Han dengan wajah sangarnya berubah menjadi seperti orang yang kesepian, Zein telihat tidak percaya dengan apa yang terjadi, dan Ray juga terlihat sangat panik. Dibelakang, ada Kudo, Kai, dan Eden yang mengikuti perlahan, mereka membiarkan keempat orang sebelumnya menangisi pasien yang tertidur di ranjang. "Eiji?," Eiji dipanggil oleh seseorang, bahunya ditepuk dari belakang, Eiji menoleh, ia terlihat kaget seketika, semua pikiran negatifnya hilang dalam sekejap, Gaki berdiri dibelakngnya sambil memegang tiang infusan. "Kakak?, kau sudah sembuh?," Eiji terlihat tidak percaya, "aku memang sudah pulih dari koma, tapi ada orang lain yang sebentar lagi akan koma," Gaki terlihat waspada, "apa yang terjadi, kenapa yang lain terlihat panik?," kepala Eiji dipenuhi pertanyaan kembali, ia bersyukur karena Gaki sudah pulih, tapi ia sekarang memiliki pertanyaan dengan orang yang di ranjang.
Kudo, Kai, dan Eden menghampiri Eiji dan Gaki di dekat meja resepsionis, "kita sudah tidak aman," wajag Gaki yang tadinya berbunga-bunga ketika bertemu Eiji, berubah menjadi serius ketika berbicara dengan Voxx yang lain, "kau memikirkan yang sama denganku, kan?," Kudo menatap Gaki dengan penuh keseriusan, "yang dialaminya bukan kecelakaan, tapi jelas sebuah kesengajaan," Kai menyedekapkan tangannya, Eiji terlihat kebingungan, ia benar-benar tidak tau apa yang mereka bahas, "sebenarnya apa yang terjadi?," Eiji mulai menanyakan pertanyaannya, "kau tidak perlu tau, ini demi kebaikan kita semua," Gaki mengelus kepala Eiji, "tidak perlu, kak, aku sendiri sudah mengetahui semua rah-," Gaki langsung menutup mulut Eiji, dia berdiri dan menariknya, Kudo, Kai, dan Eden mengikutinya.
Gaki membawa Eiji ke kamar inapnya, "jangan pernah katakan hal seperti itu di tengah keramaian," Gaki terlihat serius, "maafkan aku," Eiji terlihat murung, "baiklah, apakah kita harus memberitaunya?," Kudo menanyakannya kepada Gaki, "sepertinya kau harus mulai mengetahuinya," Gaki menghela nafas.
"Pagi ini, Taki mengalami kecelakaan, dia tertabrak oleh delapan mobil secara beruntun ketika menyebrang, dan berakhir terlindas oleh sebuah truk. Seluruh pengendara kabur begitu saja, pihak kepolisian tidak sempat menangkap mereka semua, syukurlah Taki langsung diselamatkan oleh Han yang tidak sengaja melihat kejadian tersebut dan langsung menyekimuti Taki sehingga tubuhnya tidak hancur oleh truk. Sayangnya pihak kepolisian tidak menjadikan ini sebagai kecelakaan berencana, melainkan hanya kecelakaan biasa, padahal mustahil sekali ketika melihat seseorang tertabrak dan kita malah ikut menabrakkan mobil kita ke orang tersebut," Kudo menghela nafas, Eiji terlihat kaget dan terdiam, "tertabrak delapan mobil?," Gaki dan yang lain hanya mengangguk. "Lalu apa yang terjadi setelah itu?," Eiji semakin penasaran, "Han langsung menelepon Shin, lalu Shin menelepon seluruh anggota Voxx, lalu Ray yang juga masuk dalam panggilan Voxx memberitau Zein yang ada didekatnya waktu itu," Eiji mencoba memahami perkataan Kudo barusan, "jadi siapa pelaku sebenarnya dari kecelakaan ini?, dan penyebab kak Taki menjadi korban," Eiji kembali melontarkan pertanyaan yang lewat dibenaknya, "kalau soal pelaku, kita mencurigai dia orang yang selama ini Gaki, tidak, Voxx cari, kalau soal penyebab...., dia terlibat dengan sesuatu," Kudo menghela nafas.
"Baiklah, lagipula ini hari terakhirku disin kita juga harus mengharapkan yang terbaik bagi Taki," Gaki tersenyum kecil, "bagaimana kalau kita menghampiri Shin dan yang lain?, mereka sedang menunggu Taki yang dioperasi," Eden berjalan keluar kamar inap dan diikuti yang lain.
Di lorong ruang tunggu operasi, Zein berdiri sambil menggigit jarinya, ia terlihat sangat panik, dia dipenuhi dengan banyak pikiran buruk tentang operasi yang sedang dijalankan Taki. Zein dan Taki memang teman sejak kecil, rumah mereka bersebelahan, keduanya juga selalu bersekolah di tempat yang sama, dan selalu berada di satu kelas yang sama. Zein memiliki sifat yang lebih ceria dan terbuka, tapi dia selalu ceroboh dan overthinking ketika berhadapan dengan masalah, berbeda dengan Taki yang sedikit lebih tertutup dan selalu murung, tapi Taki lebih tenang dan selalu memiliki rencana setiap menghadapi masalah, tapi hal itulah yang membuat Zein panik sekarang.
Zein berpikir kalau seseorang akan membunuh Taki, atau menculiknya, Taki akan dalam bahaya, semua pikiran buruk lewat di dalam benak Zein. "Kau tidak mencoba membuatnya tenang?," Gaki duduk disamping Shin yang dari awal memperhatikan Zein yang semakin aneh, "tidak perlu, dia akan semakin marah dan depresi kalau tidak dibiarkan begitu, Zein bukan tipe orang yang memberikan rasa empati dengan menangis, dia akan terlihat frustasi, padahal dalam hatinya ia menangis," Shin menghela nafas, "bagaimana dengan Han?, dia menggunakan Grimnya ditengah umum kan?," Gaki menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari Han, tapi tidak ada. "Han tadi pergi ke kantor kepolisian, dia dimintai keterangan, tenang saja, dia dijamin untuk tidak terkena hukuman, dia hanya dimintai keterangan sebagai saksi mata dan imbalan menyelamatkan warga sipil," jawab Shin, "tapi kasusnya tetap dihilangkan, kan?," Gaki menatap Shin, Shin tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil.
Eiji duduk disamping Eden, dia sebelumnya belum pernah berbicara dengannya, Eiji hanya mengenali wajah dan namanya, "kau, Eiji, kan?, kita pernah bertemu sebelumnya di jalan dekat supermarket," Eden tersenyum kecil, Eiji mencoba mengingat momen itu, saat ketika ia pulang bersama Gaki dari supermarket setelah membeli pakaian untuknya, "ya, aku Eiji," Eiji terlihat canggung," "jangan canggung begitu, umur kita tidak berbeda jauh," Eden mencoba menghibur Eiji, Eiji terlihat semakin malu.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara gaduh dari arah lobi utama, meskipun jarak ruang tunggu operasi dengan lobi utama lumayan jauh, tapi Gaki dan yang lain masih bisa dengan jelas mendengar suara orang-orang berlarian. "Ada apa?," tanya Gaki ke Kudo yang baru datang ke ruang tunggu, ia baru kembali dari lobi utama setelah memanjangkan izin tunggu pasien operasi, "ada puluhan orang dirujuk ke rumah sakit ini, katanya ada beberapa orang yang dirujuk ke rumah sakit ini, tapi aku tidak tau penyebabnya, sepertinya kejadian terorisme," Kudo menghela nafas, "tapi sepertinya sangat gaduh," Shin terlihat penasaran, "ya, mereka menderita banyak luka, aku sempat melihatnya, sepertinya mereka korban kecelakaan," Kudo menyedekapkan tangannya, ia sekarang menaruh pandangannya pada Zein yang masih berdiri sambil berputar-putar dengan ekspresi panik, Kudo tidak memberikan reaksi apapun, "berapa lama lagi operasinya?," tanya Kudo pada Shin, "kalau tidak salah sekitar dua sampai empat jam lagi," Shin melirik Zein, ia merasa iba terhadapnya, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Grim milik Shin adalah 'Energy Convertion,' dia bisa merubah energi yang ia ciptakan menjadi sesuatu yang baru, tapi kekuatan itu terbatas pada sesuatu yang hidup, seperti menyembuhkan luka dan menumbuhkan tanaman. Grim yang dimiliki Shin terbilang langka namun simpel, beberapa kali Zein memaksa Shin untuk menggunakan Grimnya untuk menyembuhkan Taki secara instan, tapi Shin menolak, ia tidak memberikan alasan yang jelas soal itu, Zein yang ditengah keputus asaan nya pun terlihat marah dengan Shin, tapi ia tidak memiliki alasan untuk membenci Shin.
Shin dapat membentuk Sunflower, sebuah tanaman yang dapat menerima energi dari cahaya matahari, pepohonan, dan manusia, Shin dapat memperoleh kekuatan yang besar ketika dekat dengan pepohonan atau hutan, bisa juga ketika sedang tengah hari, Shin akan mengambil energi yang ia dapat dan dirubah menjadi energi miliknya, energi tersebut dapat digunakan untuk memberikan efek penyembuhan dan memperkuat energi Grim orang lain.
Sebenarnya Shin dapat menyembuhkan Taki dengan waktu singkat, tapi ia tidak memberitahunya pada siapapun, kecuali Gaki. Selama ini Shin selalu mencuri waktu untuk menyembuhkan Gaki dengan menurunkan adrenalin yang dikeluarkan Gaki, dan hal itu memerlukan energi yang tidak sedikit, beberapa kali Shin muntah karena kehabisan energi, dan sekarang Shin sebenarnya sedang dalam kondisi sangat lemah, ia bisa pingsan kapan saja, Gaki juga sering memperhatika Shin, wapada kalau temannya itu tiba-tiba terjatuh dan kehilangan kesadaran.
Han kembali dari kantor polisi, dia menemui yang lain di ruang tunggu operasi. "Dilobi ramai sekali, ada kecelakaan beruntun, semua pasien dirujuk kesini," ujar Han pada yang lain, Shin dan yang lain menunjukkan ekspresi waspada, "apakah ini ulah mereka juga?," tanya Shin dengan kecurigaannya, "menurutku, ya, karena tokyo sendiri jarang mengalami kecelakaan beruntun," Han terlihat sedikit murung. Satu jam berlalu, Gaki kembali ke ruang inapnya untuk melepas saluran infus dan melakukan pendaftaran pasien pulang, Shin dan yang lainnya masih menunggu operasi Taki, Zein sudah duduk di kursi, ia terlihat lelah dan tampak stress. "kenapa lama sekali, kenapa lama sekali," Zein bergumam sendiri, dia terus merasa gelisah dan panik, "Shin, bukankah dia terlalu berlebihan," Han memperhatikan gerak-gerik Zein yang aneh, "biarkan, ini bukan sekali dua kali dia berperilaku seperti ini," jawab Shin.
"Aku pulang duluan, ada sedikit urusan," Kai berjalan meninggalkan Shin dan yang lain, Eiji tertidur di pundak Eden, mereka terlihat seperti seumuran, karena tinggi Eden yang rendah. Kudo tertidur di kursi, dia duduk dengan tenang sambil memegang ponselnya yang masih menyalakan lagu melewati earphone yang ia gunakan. Setelah lumayan lama, Zein tertidur karena kelelahan, Han pergi untuk membeli makanan, Ray yang dari awal tidak ada akhirnya datang, ia sebelumnya pulang ke rumahnya, dan kembali ke rumah sakit, dia datang bersama Hikari, Mizu, dan Nova.
"Bagaimana kabar operasinya?," tanya Ray pada Shin yang masih terbangun, "perawatnya bilang kalau operasinya berjalan lancar, dan sebentar lagi selesai, mungkin Taki akan dirawat disini selama satu sampai dua minggu untuk pemulihan, untunglah Han sempat menyelamatkannya, bisa saja seluruh tubuhnya remuk dilindas truk," Shin mengehela nafas, "padahal kalau tertabrak truk bisa saja masuk dunia lain," Ray tertawa kecil, "ini bukan anime, Ray," Shin mengernyitkan dahinya.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar dari pintu utama ruang operasi, Shin langsung berdiri dan menghadap perawat tersebut, "bagaimana kabarnya?," Shin terlihat sedikit gelisah, ia mengecilkan suaranya, khawatir yang lain terbangun, "syukurlah semua operasi berjalan aman, pasien akan dirawat selama kurang lebih dua minggu disini, untuk perihal lebih lanjut, silahkan mengunjungi meja pasien rawat inap," perawat itu tersenyum manis, ia terlihat habis melewati operasi yang lumayan sulit dan melelahkan.
Shin menunjukkan wajah puas, berjam-jam ia menunggu tidak membuatnya kecewa, Shin dan Mizu menuju meja pasien rawat inap, mereka melakukan pendaftaran pasien disana, Shin tidak membangunkan yang lain, membiarkan mereka tertidur dikursi ruang tunggu operasi. "Tidakkah kita harus memindahkan mereka?," tanya Ray, dia sedikit merasa iba, "biarkan saja, mereka juga kelelahan," Shin tersenyum kecil.
Tubuh Taki penuh perbah, bagian perutnya terluka parah sebelumnya, bahkan terlihat terbuka, tapi sekarang sudah dijahit. Mesin kedokteran memang dilengkapi dengan bantuan Grim, sehingga memiliki ketelitian, kekuatan, dan ketepatan yang tinggi, dokter tidak harus memiliki kemampuan penyembuh, tapi mereka harus memiliki kemampuan menggunakan alat kedokteran, karena terbilang sulit menggunakannya.
Pihak kepolisian memiliki sebuah alat untuk mendeteksi kekuatan Grim dan menghitung jumlah kekuatannya, atau disebut Soul Point, hal itu membuat polisi dapat mendeteksi orang-orang yang mengaktifkan Grim meskipin tidak ada orang yang melihatnya, benda itu berbentuk seperti antena di kantor polisi, dan memiliki jarak pindai sampai sepuluh kilometer, dan ada di setiap kantor polisi di tiap kota. Kepolisian juga memiliki sebuat alat pendeteksi berbentuk ponsel untuk menghitung poin Grim dari dekat, atau juga mendeteksi Grim dari jarak dua puluh meter.
Apabila jiwa seseorang keluar dari tubuhnya, maka dia akan mati, dan Grim nya akan hilang, karena seyogyanya Grim adalah jiwa itu sendiri. Setiap kekuatan Grim memiliki skala yang disebut Soul Point, skala tersebut dapat menentukan jumlah kekuatan dari Grim tersebut, apabila mencapai titik nol, maka orang tersebut akan mati atau masuk ke keadaan koma, karena jiwanya kehilangan tenaga sepenuhnya. Normalnya, manusia pada umur 15 sampai 20 tahun akan mencapai sembilan ratus Soul Point, dan akan terus meningkat, pada beberapa orang dapat mencapat sembilan atau sepuluh ribu.
Dalam hal poin, seseorang yang memiliki poin lebih rendah tidak akan bisa mengendalikan orang yang memiliki poin lebih tinggi, itu adalah hukum alam yanng sejak lama ditentukan. Seperti contoh ketika saat di tragedi supermrket, Gaki dan yang lain tidak dapat dicuci otak karena mereka memiliki poin yang lebih tinggi. Soul Point dapat meningkat dan berkurang sesuai keadaan manusia itu sendiri, ketika dia dalam kondisi yang bagus dan semangat, sedang percaya diri dan memiliki tekad yang kuat, Soul Point miliknya akan meningkat, terbalik dengan ketika dia putus asa, kelelahan, kekuatannya akan berkurang.
Adrenalin, sebuah hormon yang dihasilkan tubuh ketika dalam keadaan stress, adrenalin dapat meningkatkan kekuatan Grim berkali-kali lipat, menghilangkan rasa sakit, dan membuat hilang kesadaran. Dalam tingkatan, adrenalin dibagi lima tingkat, dari yang paling rendah yaitu E, D, C, B, dan A, manusia normalnya hanya dapat memproduksi sampai tingkatan C, dari B dan A hanya diperoleh dari obat-obatan, atau efek jiwa yang lepas.
Jiwa yang lepas adalah momen ketika seseorang bersekutu dengan dunia bawah, dia mempersembahkan darahnya pada Azazel, pemimpin negeri bawah. Orang-orang yang bersekutu dengan Azazel akan memperoleh kekuatan yang berkali-kali lipat lebih besar dari kekuatannya sebelumnya, mereka juga tidak akan merasakan sakit, akan memiliki efek regenerasi yang sangat cepat, ketahanan dan kecepatan yang dilaur batas wajar manusia. Tidak pernah ada manusia yang pernah bertemu dengan Azazel secara langsung, kecuali mereka sudah mati, dan manusia yang mempersembahkan jiwanya akan secara langsung menjadi budak dari Azazel.
__ADS_1
Shin membiarkan Zein dan yang lain tidur di kursi, ia membiarkan disana sampai dibangunkan oleh perawat yang bertugas. Zein terlihat panik, ia langsung menanyakan kabar soal Taki pada resepsionis di lobi, ia ditujukan ke kamar Taki sekarang, disana tidak ada siapapun, hanya Taki yang sedang dipenuhi perban, Zein duduk disampingnya, Zein melanjutkan tidurnya dengan tenang. Shin dan yang lain melihat dari luar, "biarkan saja," Shin mengajak yang lain pergi dari depan pintu kamar tersebut, sebelumnya Shin menaruh beberapa makanan di meja kamar inap untuk Zein.
"Aku merasa kasihan padanya, tapi dia terlihat terlalu berlebihan," Han kembali menyindir Zein, "sudah kubilang berkali-kali, itu adalah hal wajar kalau kau kehilangan seseorang yang penting, kau sendiri selalu berada disampingku," Shin terlihat tidak setuju dengan opini Han, "kalian ini terlalu tenang, kita harus segera mencari pelakunya, kalau ditunda akan semakin parah, bisa saja akan ada yang mati," Gaki mulai angkat bicara.
Eiji diam tak bersuara, ia sebenarnya tidak memahami apa yang mereka bicarakan. "Biarkan saja dulu, kita juga sebentar lagi akan menempuh ujian akhir semester, lalu kita harus menyiapkan festival di dua minggu kedepan," Shin menghela nafas, "oh ya, besok aku menunggu semua Voxx di ruang rapat akademi, kita akan mengadakan rapat utama terakhir sebelum ujian," mata Shin terlihat berbinar-binar, dia merencanakan sesuatu.
Gaki dan Eiji pulang ke rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, Gaki langsung membaringkan dirinya di kasur, " setelah sekian lama aku kembali kesini," Gaki memanjakan dirinya dengan artikel-artikel miliknya. Eiji duduk di ruang tamu, "kak, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan," ujar Eiji perlahan.
Gaki perlahan menghampiri Eiji, dia duduk didepannya, mereka hanya dibatasi meja makan yang berukuran kecil, "sepertinya ini sesuatu yang serius," Gaki merendahkan intonasi suaranya, ia terlihat serius, "tadi pagi aku pergi ke Master Zhong, dan-," sebelum Eiji menyelesaikan kalimatnya, Gaki memotongnya, "kau memiliki Grim langka, kan?," Gaki tersenyum kecil, "kakak sudah tau?," Eiji terlihat kaget, "tidak, aku sejak awal sudah menduganya, kekuatanmu itu spesial dan langka, kekuatan itu juga memiliki potensi besar," Gaki mengelus kepala Eiji, "jadi, apa kekuatanmu?."
Eiji menjelaskan semua yang terjadi tadi pagi, Gaki terlihat antusias dengan cerita Eiji. "Waktu, aku sebetulnya sudah menduganya, kita harus bertemu dengan kakekmu, aku harus menanyakan beberapa hal," dalam sekejap, Eiji terlihat murung, ia tidak setuju, dia tidak mau lagi bertemu dengan kakeknya, "tidak apa," Gaki kembali mengelus kepala Eiji.
Gaki dan Eiji tidur malam itu dengan tenang, Eiji melupakan semua pikiran negatif soal kakeknya, dia harus berani untuk kembali bertemu dengannya, meskipun untuk terakhir kalinya.
Pagi hari, jam menunjukkan pukul 8 pagi, Eiji melakukan rutinitas paginya bersama Gaki, memasak ramen, Gaki menyiapkan tas dan menentukan alamat untuk ke rumah Eiji. "Ini lumayan jauh, bagaimana kau bisa ke sini waktu itu?," Gaki terlihat kebingungan, "aku lupa," Eiji tersenyum kecil.
Eiji dan Gaki pergi menggunakan taxi, rumah Eiji terletak di pesisir Tokyo sehingga dekat dengan Teluk Tokyo, Gaki dan Eiji menempuh perjalanan sejauh satu jam lamanya, "jadi, kita sekarang kemana?," Gaki membuka peta yang dari tadi ia genggam. Gaki dan Eiji menyusuri jalan menuju rumahnya, disana lumayan ramai karena banyak yang sedang berlibur ke Teluk Tokyo. "Dari sini kita bisa naik bus selama 10 menit, dan sampai di persimpangan, setelah itu kita hanya perlu menyebrang dan memasuki jalan pintas," Eiji mencoba mengingat ulang jalan pulang ke rumahnya, sudah beberapa minggu ia tidak kembali, dan ingatannya selalu ia coba hilangkan soal masa lalunya.
Gaki dan Eiji menyusuri jalan yang sudah disebutkan, dan sekarang mereka suda berada tepat di depan gerbang rumah tersebut. "Gerbangnya tidak dikunci," Gaki perlahan menggeser gerbang tersebut, mereka berdua berjalan masuk ke depan pintu rumah, Gaki mengetuk pintunya beberapa kali, namun tidak ada jawaban, "aneh sekali, dulu kakek selalu mengunci gerbang rapat-rapat, dan dia selalu cepat dalam menjawab ketukan pintu," Eiji mencoba membuka pintu tersebut, tapi Gaki menarik tangannya, "sedari awal aku merasakan hal yang aneh, jangan mencoba membuka pintunya," Gaki terlihat serius.
Gaki menoleh ke kanan dan kiri, dia merasakan kejanggalan yang membuatnya tidak nyaman. "Eiji, apa rumah ini memiliki pintu belakang?," tanya Gaki pada Eiji, "ada, tapi sudah ditutup sejak tahun lalu karena sudah tidak dipakai, hanya ini jalan masuk kedalam," Eiji terlihat ketakutan, tangannya gemetar, "sepertinya kita harus masuk ke dalam," Gaki menatap gagang pintu rumah tersebut.
Pikiran negatif terus melewati pikiran Eiji, semakin lama ia terlihat panik dan ketakutan, Eiji semakin bimbang untuk melanjutkan langkahnya, tapi Gaki menarik tangannya. Gaki perlahan membuka pintu tersebut, sebelumnya ia menggunakan Grim nya untuk membuat selaput pelindung bagi mereka, sebagai antisipasi kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan.
Gaki dan Eiji sudah di dalam rumah tersebut, keadaannya sangat bersih dan terawat, tepat di ruang paling depan adalah ruang tamu, meja-mejanya bersih dan makanan ringan tertata rapih diatasnya, aromanya wangi seperti baru disemburkan parfum bintang lima. Gaki melihat ke sekeliling, ia tidak menemukan siapapun, mereka pun melanjutkan langkahnya.
Eiji terlihat ketakutan, ia enggan menggunakan Grimnya untuk melihat masa lalu di ruangan tersebut, Eiji malah memeluk Gaki sambil mengikuti langkahnya dengan menutup mata. "Sudahlah, tidak ada hal aneh disini," Gaki mencoba memberanikan Eiji dan meyakinkannya. Gaki dan Eiji melanjutkan ke ruangan selanjutnya, ruang keluarga, rumah itu memisahkan ruang pribadi keluarga dengan ruang tamu, dan sebelum ke ruang keluarga, ada pembatas yang berupa kain. "Rumahmu besar ya," Gaki tersenyum sinis kepada Eiji, "ya, aku tau ini berkali-kali lipat lebih besar dari rumah kita, bahkan ini menggunakan pendingin ruangan," Eiji melirik ke pendingin ruangan yang terpasang di atas pojok ruangan.
__ADS_1
Gaki menelusuri ruang keluarga, disana ada televisi, beberapa majalah, dan alat kebersihan, kondisinya seperti ruang sebelumnya, bersih dan terawat, kondisinya sangat seperti rumah yang masih ditinggali sepenuhnya. Eiji kembali terlihat khawatir, ia melihat ke sekeliling, di dekat ruang keluarga, ada ruang makan yang terhubung dengan dapur, kondisinya juga terawat dan harum, semua alat makan dan alat masak tersimpan bersih disana.
Gaki melirik ke tangga untuk naik ke lantai dua, tapi tiba-tiba dia mendengar langkah kaki dari atas, Gaki langsung membuat pedang dan memegang Eiji dengan erat, orang tersebut turun perlahan, sampai seluruh tubuhnya terlihat oleh Gaki, Gaki langsung menutup mata Eiji dan menutup matanya juga, didepannya adalah seseorang yang menurutnya berbahaya. "Selamat datang, aku sudah menunggumu untuk waktu yang cukup lama," orang tersebut tersenyum kecil, Gaki masih menutup matanya, dia menggunakan penglihatan Grim untuk melihat orang itu, orang tersebut tersenyum sinis kearah Gaki.