Grand Fate : El Muerto

Grand Fate : El Muerto
A Man And His Pen


__ADS_3

"Sangat jarang sekali kau menyelesaikan soal diatas dua puluh menit," ujar Shin sembari memakan takoyaki yang ia beli, "aku sudah bilang sebelumnya, aku ingin mencoba teknik ketenangan yang sudah kulatih selama di rumah sakit," Gaki menghela nafasnya perlahan, "setelah ini Ekonomi, ya?, ini akan sedikit lebih sulit daripada sebelumnya," Shin tersenyum kecil, dia terlihat ragu dengan Ujian Ekonomi, "kau tidak layak untuk bersikap ragu, nilaimu selalu sempurna di setiap mata pelajaran," Gaki terlihat sinis, Shin hanya membalasnya dengan tertawa kecil, "kau terlalu serius."


Waktu istirahat Gaki dihabiskan dengan memakan cemilan yang ia beli dari kantin, ia juga kembali mengatur nafasnya agar lebih stabil. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, Lonceng Agung kembali dibunyikan, ujian selanjutnya sudah akan dimulai kembali. Banyak orang-orang yang terlihat lebih stress daripada di jam pertama tadi, selain karena ekonomi memiliki kesulitan yang lebih tinggi, soalnya juga berjumlah lima puluh essay. "Essay?," Eden sempat syok karena ia sendiri kurang memahami ekonomi, "tenang saja, Master Shushima tidak akan memberikan soal yang sangat sulit," Gaki mencoba membaca soal yang baru dibagikan oleh Master Fuu.


"ini....," Gaki tercengang dengan soal yang ia lihat, soal itu sangat berbeda dengan ekspektasinya, "sudah kubilang soal ini sulit," Eden menghela nafas, "sebenarnya tidak sesulit itu, tapi aku mempermasalahkan jenis essay nya, kau tau sendiri kalau ekonomi kadang menghitung dengan logika saja," "sudahi obrolannya, lanjutkan mengerjakan ujian," ujar Master Hoshi yang menjadi pengawas di kelas tersebut.


Gaki dan Eden kembali berfokus ke kertas ujian masing-masing, Gaki mencoba menggunakan teknik ketenangannya lagi, tapi soal ekonomi bukanlah hal yang hanya dapat dijawab dengan teori, tapi dengan cara yang kompleks, Gaki pun membatalkan tekniknya dan mengerjakannya seperti orang normal. Soal ini sebenarnya terbilang mudah, dan Gaki hafal betul cara mengerjakannya, hanya beberapa soal merupakan Soal Berpikir Tingkat Tinggi, yang menggunakan beberapa cara dalam satu soal, yang menjadi masalah hanyalah waktu untuk mengerjakan lima puluh soal essay penghitungan.


Waktu terus berjalan, Gaki mengerjakan soalnya dengan cepat, tulisannya sedikit berantakan, di menit ke lima puluh, Gaki baru mencapai nomor dua puluh, bahkan Shin juga terlihat pusing dengan soal yang ia hadapi, tidak sedikit juga orang yang memegang kepalanya karena tidak mengetahui cara mengerjakan soalnya. Gaki mencoba mengatur nafasnya, ia sebelumnya terengah-engah karena tangannya bergerak sangat cepat sampai ia menjeda nafasnya, ketia waktu tersisa setengah jam lagi, Master Shushima masuk ke kelas tersebut.


"Maaf, karena aku melakukan sebuah kesalahan dalam soal ujian yang kalian, cukup dikerjakan sampai nomor dua puluh lima, karena aku tidak sengaja mengcopy semua soalnya, dan menjadikannya lima puluh soal," Master Shushima melakukan ojigi di depan murid-muridnya, sontak semuanya mengecek kertas ujiannya, dan mereka tercengang, soal dari nomor dua puluh enam sama seperti nomor satu, berlanjut seterusnya, "aku tidak menyangka kalian tidak menyadarinya, baiklah, terimakasih," Master Shushima berjalan keluar kelas.


Shin dan Gaki terlihat lemas, mereka sudah mencapai nomor tiga puluh lebih, dan ternyata cukup sampai dua puluh lima, mereka berdua langsung mengumpulkannya pada Master Hoshi. "Aku tidak percaya hanya dikerjakan setengahnya," Shin terlihat lemas sambil berjalan keluar kelas bersama Gaki, "aku bahkan tidak menyadarinya, apa kau sadar kalau soalnya tersalin ulang?," Gaki juga terlihat lelah, "aku sadar sebelumnya, tapi aku pikir itu tetap dikerjakan."


Gaki dan Shin pergi ke kantin dan kembali membeli cemilan, ujian setelah ini adalah Sosial, Gaki mempersiapkan dirinya untuk menggunakan teknik ketenangannya lagi. "Sebenarnya aku belum memahami sepenuhnya di Mata Pelajaran Sosial, lagipula profesi yang ingin kuambil tidak membutuhkan nilai pelajaran Sosial," Shin mengerutkan bibirnya, "diamlah, aku tidak peduli ocehanmu, nilaimu akan tetap 100," wajah Gaki terlihat jijik, Shin hanya membalasnya dengan tertawa.


"Siapa pengawasnya?," tanya Shin pada salah satu murid di kelasnya, "kau ketua kelasnya, kenapa tidak tahu?," jawab anak itu, "jawab saja," balas Shin sambil mengunyah permen karet yang ada di mulutnya, "Master Retora," anak itu berjalan ke dalam kelas, Shin dan Gaki mengangguk kecil, mereka juga melangkah ke kursi masing-masing. "Aku belum pernah melihat dia sebelumnya," Gaki melirik anak tadi, "apa?, tidak mungkin, dia kan....," Shin menoleh ke arah anak tadi, tapi tidak ada siapa-siapa selain murid yang sudah duduk, "dia...," Shin mencoba mengingat ulang wajahnya, "kau tidak ingat wajahnya ya," Gaki menatap Shin, "ya."


Mereka berdua mencoba melupakan hal tersebut, Shin dan Gaki mengira hal itu disebabkan mereka kelelahan karena terlalu banyak belajar. Guru pengawas yang datang adalah Master Retora, sama seperti yang anak tadi katakan, tapi Gaki dan Shin tidak menghiraukannya lagi, mereka mengerjakan ujian dengan tenang.


Gaki sekarang berada di tengah lautan, dia mengerjakan soal ujian Sosial yang berjumlah 40 pilihan ganda itu dengan tenang. Beberapa kali fokusnya tergannggu karena ada sayup-sayup suara yang mekewati telinganya, dalam pikiran Gaki hal itu digambarkan dengan datangnya ombak, tapi Gaki kembali berfokus ke ujiannya. "Hey, jawabannya C," sayup suara terdengar di kuping Gaki, ia langsung kehilangan fokusnya dan tersentak, "kenapa, Gaki?, apa ada masalah?," Master Retora mendekati Gaki, "tidak ada, maaf," jawab Gaki, wajahnya memerah, malu dan panik bercampur di pikirannya. Gaki kembali mengerjakan ujiannya, tapi dia tidak bisa sefokus sebelumnya, ia terus memikirkan hal tadi, dan kembali ke pertanyaannya soal anak tadi.


Sudah satu jam berlalu, Gaki sudah mencapai nomor 38. Tiga per empat murid di kelas itu sudah mengumpulkan lembar ujian mereka, Gaki yang tidak mau kehabisan waktu lebih lama langsung membaca soal-soal itu dengan cepat dan memilih jawabannya. Ketika semua soal sudah terjawab, Gaki berniat untuk pergi ke meja guru untuk mengumpulkan lembar ujiannya, saat Gaki sudah akan berdiri, tangannya terasa sangat berat, dia tidak bisa berdiri, seperti ada beban berat di kaki dan tangannya, wajahnya pun tidak bisa berekspresi.


"Waktu kalian kurang dari 30 menit lagi," ujar Master Retora sambil berjalan mengelilingi murid-murid yang belum selesai. Gaki sangat panik dalam pikirannya, dia mencoba bergerak, tangannya perlahan bergerak dan membuatnya terlihat seperti masih mengerjakan soal ujian. Master Retora melangkah begitu saja melewati Gaki seperti tidak terjadi apa-apa. Gaki mencoba memfokuskan dirinya lagi, kembali ke tengah tenangnya lautan. Sekejap, tubuh Gaki serasa leluasa, Ia kembali tersentak, tapi tidak ada orang lain yang menyadarinya.


Gaki bangkit dan berjalan kearah Master Retora, tapi pandangannya semakin buram, Gaki pun terjatuh dan tidak sadarkan diri. Master Retora langsung mengeluarkan Grimnya yang berupa ular dan menyangga Gaki sebelum menyentuh lantai. Gaki langsung dibawa ke ruang kesehatan untuk dicek keadaannya.


Mata Gaki terbuka perlahan, ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu mencoba duduk. "Kau sudah sadar," ucap Master Yuko sambil meminum tehnya perlahan, dia duduk di kursi samping kasur Gaki. "Master?, aku harus melanjutkan ujianku," Gaki langsung berdiri dan mencari sepatunya, tapi Master Yuko menahan tangannya, "pulanglah, ini sudah malam," Master Yuko menunjuk kearah jam dinding di salah satu sisi ruang kesehatan, jam itu menunjukkan pukul delapan malam, "kau tidak sadarkan diri sangat lama, adikmu menunggu di depan pintu," Master Yuko melepas genggamannya.


Gaki berpamitan dengan Master Yuko dan berjalan keluar ruangan, disana ada Eiji yang bersandar di tembok, sedang berdiri dengan wajah mengantuk, "Eiji," Gaki menepuk pundak Eiji, "kakak," Eiji tersentak, ia terlihat sudah kelelahan, "ayo pulang," Gaki tersenyum lebar, Eiji menghela nafasnya.


Sesampainya di rumah, Gaki membaringkan dirinya di kasur, dia menatap langit-langit kamarnya. "Apa yang terjadi padaku tadi?," tanya Gaki pada Eiji yang sedang merapikan tas sekolahnya, "aku tidak tau, tapi ketika aku menanyakannya pada Guru Pengawas Ruang Kesehatan, dia bilang kalau kakak jatuh pingsan," Gaki mencoba mengingat ulang kejadian tadi, "sepertinya aku memang jatuh pingsan, tapi aku tidak tau kapan."


"Sudahlah, itu karena kakak terlalu banyak berpikir dan menjadi stress, istirahatlah, aku akan membuatkan ramen untukmu," Eiji berjalan ke dapur. Gaki kembali menatap langit-langit kamarnya, dia kembali mengingat semua tujuan dia selama ini, menjadi yang terkuat.


'Menjadi yang terkuat?, setelah itu tercapai, apa yang akan kulakukan,' pertanyaan itu muncul dibenaknya, air mata perlahan mengalir di wajahnya, matanya berkaca-kaca. Gaki merubah posisinya, dia mengelap air matanya yang sudah mengalir cukup banyak. "Ada apa?," Eiji menghampiri Gaki yang terduduk  lemas, "aku tidak tau, kepalaku sakit," jawab Gaki, "tidurlah," Eiji menepuk pundak Gaki.


Malam itu terasa sangat melelahkan bagi Gaki, terlebih dia melewatkan dua mata pelajaran ujian di siang tadi, yang membuatnya harus melakukan ujian susulan di hari esok. Gaki tidur tanpa membersihkan dirinya sebelumnya, ia terlelap dalam istirahatnya sebelum menempuh kembali hari esok.


Tengah malam, Eiji tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dia melirik ke kanan dan kiri, tapi tidak menemukan hal yang janggal. Eiji hanya mengira kalau dia hanya tidak tidur dalam posisi nyaman, sebelum kembali tidur, ia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. 


Eiji berjalan perlahan ke kamar mandi agar tidak membuat suara gaduj sehingga membangunkan Gaki yang tidur sangat pulas. Di dalam kamar mandi setelah buang air kecil, Eiji menatap dirinya di cermin wastafel, 'kenapa aku disini?,' pikirnya. Sama seperti Gaki, ia mengingat hal-hal penting yang sebelumnya sempat dilupakan.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Eiji dan menutup mulutnya, "diamlah, kita sedang diserang," orang itu adalah Gaki, dia berbicara sambil berbisik pada Eiji. Gaki mengeluarkan sedikit api dan dimasukkan ke kantung baju Eiji, itu adalah alat komunikasi seperti yang sebelumnya digunakan Gaki.


Api itu dapat menghantarkan suara langsung pada Gaki, termasuk suara yang dikeluarkan dalam hati, Gaki juga dapat membalasnya dan dapat didengar hanya oleh orang yang ditujunya.

__ADS_1


"Ada apa?," tanya Eiji pada Gaki, ia menatap ke kaca dengan seksama untuk melihat ke belakangnya, "aku merasa ada yang janggal disini, tetap bersamaku," Gaki menoleh ke kanan dan kiri. Saat itu rumah sedang dalam keadaan sepenuhnya gelap, tapi Gaki sudah mengantisipasi hal seperti ini, dia memasang CCTV dari Grim nya untuk melihat ke segala sisi rumah. 


"Kak, kau tidak memasang CCTV disini kan?," Eiji terdengar gugup, "tentu kupasang, kenapa?," Gaki menjawabnya dengan tenang, "ah, baik, lupakan," Eiji semakin terlihat panik, Gaki tidak menanggapinya serius. Gaki perlahan berjalan kebelakang, ia melepas tangannya dari Eiji, tetapi menyuruhnya untuk tetap diam.


"Kita harus keluar dari rumah ini," ujar Gaki, Eiji tidak merespon apa-apa, dia berjalan di belakang Gaki perlahan. Mereka berdua berjalan sedikit-sedikit tanpa membuat suara, sampai berada di depan pintu, Gaki menggunakan Grimnya untuk menjadi bantalan pintu agar tidak berdecit.


Setelah berada diluar rumah, Gaki dan Eiji langsung merasa lelah, mereka seperti habis melakukan lari jauh. "Mundurlah," ujar Gaki pada Eiji, dia terlihat sangat terengah-engah. Gaki mengarahkan kedua tangannya pada rumahnya, "terbakarlah," seketika semburan api keluar dari tangannya dan membakar hangus rumahnya.


Gaki seketika jatuh lemas, "Eiji, mundurkanlah waktu," ia berakhir tak sadarkan diri, Eiji terlihat panik, api hitam menyala sangat besar didepannya. Dengan sisa keberaniannya, Eiji mencoba untuk memundurkan waktu yang sebelumnya belum pernah ia lakukan, hal ini jelas sangat beresiko baginya, karena ia hanya tau ia bisa mengendalikan waktu dari ucapan kakeknya.


Hanya beberapa teknik yang baru dikuasai Eiji, seperti melihat masa depan dalam jangka pendek, masa lalu jangka pendek, melambatkan penglihatan, dan memperlambat waktu. "Skill : Reverse Time ," Eiji mengatakannya dengan suara kecil, dia menunjuk rumahnya yang sedang terlalap api hebat.


Eiji yang sudah kelelahan pun ikut pingsan disamping Gaki, mereka tergeletak begitu saja diatas tanah.


"Hei, bangun," ujar Gaki sambil menepuk-nepuk bahu Eiji. Eiji perlahan memuka matanya perlahan, "ini...," dia melihat ke sekeliling, "kau sudah bisa memundurkan waktu," Gaki tersenyum kecil, Eiji sedikit tersipu malu, "aku sudah memasak sup, ayo makan."


Eiji bangun dan pergi ke ruang tamu sembari melihat ke sekeliling, keadaan rumah terlihat seperti keadaan normal, tidak ada kecacatan sedikitpun. Jam dinding menunjukkan pukul lima pagi, dan di tanggal yang sama seperti sebelumnya. Eiji dan Gaki melanjutkan sarapannya, "kau terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja kau lakukan," ujar Gaki, Eiji tersentak, ia memang benar-benar bingung dengan apa yang terjadi.


"Hal ini bukan berarti kau sudah sempurna bisa menggunakannya, kau harus menyempurnakan kemampuan ini," lanjut Gaki, "ya," Eiji hanya menjawabnya dengan singkat, "yah, kita sepertinya harus bersiap untuk sekolah hari ini," Gaki bangkit sambil membawa alat makan kotor yang sudah dipakai sebelumnya, sedangkan Eiji bangkit  dan pergi ke kamar mandi.


Jam menunjukkan pukul enam pagi, Gaki dan Eiji sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. "Baiklah, sampai jumpa nanti," Gaki melambaikan tangannya pada Eiji yang masi membersihkan rumah sebelum ditinggalkan.


Selama dua hari kedepan, akademi akan mengadakan Ujian Pelatihan Grim, termasuk Pelatihan Fisik, dan Pelatihan Personal Penggunaan Potensi. Semua murid berkumpul di aula utama, termasuk Gaki, Shin, Ray, dan yang lain.


"Gaki," Shin menghampiri Gaki yang sedang diam ditengah aula, "apa yang terjadi padamu kemarin," tanya Shin sambil membetulkan tali sepatunya, "aku tidak tau, tapi sepertinya hanya karena kelelahan, begitu jawaban dari Master Yuko," Gaki menghela nafas.


Semua murid terliha panik, Master Bo memang tidak pernah memperhatikan ucapannya, meski begitu ia adalah mantan pahlawan yang sempat mencapai peringkat ketiga dengan kemampuan mata elangnya. "Ya, seperti yang dikatakan tadi, silahkan selesaikan ujiannya dengan nilai terbaik yang kalian bisa, semangat," ujar Master Ao, "silahkan kembali ke kelas masing-masing untuk info lebih lanjut karena berkumpul disini hanya formalitas," Master Ao mencoba mengikuti gaya bicara Master Bo.


Semua siswa berjalan ke kelas masing-masing, karena semua siswa bebas menentukan tempat duduknya kali ini, Gaki mengambil kursi milik salah satu temannya yang ada di samping jendela, sekaligus untuk menyegarkan matanya sambil melihat pepohonan yang ada di taman akademi. "Hai," ujar Shin yang mengambil tempat duduk disampingnya, "apakah kau bisa, tidak menggangguku yang sedang tenang," Gaki memberikan senyuman sinis pada Shin, "diamlah aku tidak peduli."


Master Wang masuk ke kelas bersama beberapa orang dari Institut Penelitian Grim. "Baiklah anak-anak sekalian, seperti yang sudah disampaikan, hari ini dan besok kalian akan menjalani ujian yang sudah tidak perlu kusebutkan namanya. Sekarang sudah ada delapan orang dari JGRM (Japanese Grim Research Institute) yang akan membantuku untuk mengambil nilai dari kalian semua, silahkan perkenalkan diri."


Kedelapan orang itu berbaris di samping  Master Wang, dan mereka berdiri dengan tegap. "Biarkan aku memperkenalkan kelompokku, namaku Shiro, dan dari sampingku dengan berurutan, Chika, Delvius, Sho, Xin, Ryoma, Ame, dan Naoko," ujar orang yang berdiri di samping Master Wang.


"Baiklah, aku akan membagi kalian ke beberapa kelompok, dari seluruh jumlah orang di kelas ada 30 orang, dipisah menjadi empat kelompok, setiap kelompok terdiri dari tujuh satau delapan orang," Master Wang menyebutkan pembagian kelompoknya dengan seksama. "Silahkan pergi ke ruang pelatihan sekarang, terimakasih atas kerjasamanya."


Semua murid berdiri dari kursinya, menghampiri teman-temannya yang menjadi satu kelompok, "kita bersama," Shin menepuk pundak Gaki, "ya," Gaki tidak memberikan respon yang baik pada Shin.


Ruang Pelatihan terletak di bawah tanah gedung akademi, ukurannya bahkan tiga kali lipat dari akademi itu sendiri, dilengkapi dengan keamanan dan ketahanan penuh. Ruang Pelatihan memiliki fasilitas seperti kamar mandi, ruang tidur, dan dapat disembunyikan kedalam tanah, sehingga memungkinkan untuk menggunakannya sebagai tempat evakuasi cadangan. Ruangan itu dapat menyerap Grim sehingga tidak menghancurkan tembok dan fondasinya, sehingga sangat pas untuk menjadi tempat menggunakan Grim secara bebas.


Gaki mendapat kelompok bersama Shin, Nao, Toshite, Nakazuma, Ruka, Ai, dan Miu. "Kenapa kita harus bersama empat wanita," Gaki merasa risih dengan keempat perempuan yang terus bersama satu sama lain sejak pengumuman kelompok, "mereka adalah penggemarmu, lho," Shin tertawa kecil, "kau cukup dikenal dikalangan para wanita di generasi kita, bahkan adik tingkat kita pun banyak yang menggemarimu, sifat misteriusmu itu adalah hal yang membuat mereka tertarik."


"Baiklah, aku dan Delvius akan menjadi pembimbing dan pengetes kalian untuk sesi hari ini. Sebelum kalian memperkenalkan diri masing-masing, biarkan aku dan Delvius memperkenalkan diri. Namaku Shirito Keizaki, kalian bisa memanggilku Xin, kemampuan milikku adalah Mirroring," ujar orang yang bernama Xin itu, "perkenalkan, namaku Arclaus Delvius, kalian bisa memanggilku Delvius, Grim milikku adalah Delusi, silahkan perkenalkan diri kalian masing-masing, beserta kemampuan yang kalian miliki."


"Namaku Toshite Fushiguro, kemampuanku adalah Pemecahan Benda Non-Organik," "perkenalkan, aku Nakazuma Nobarashi, kemampuanku adalah Gelembung," "aku Ruka Sewashi!, kemampuanku adalah Manipulasi Ukuran," "aku Nao Kezauchi, kemampuanku Gelombang Suara," "namaku Ai Nakano, kemampuanku Penguatan Benda," "namaku Miu Tori, kemampuanku adalah Sayap," "Gaki, kemampuanku Kreasi," "namaku Shin Tokoharu, kemampuanku Energi Kehidupan."


Xin dan Delvius mencatat identitas kedelapan anggota kelompok mereka, "Gaki, margamu?," tanya Delvius, Gaki tidak menjawabnya, dia hanya menatap mata Delvius secara langsung dan tajam, "baiklah aku mengerti," Delvius hanya menulis Gaki di kertas identitasnya.

__ADS_1


"Baiklah kita mulai saja pelatihannya, dimulai dari wawancara dan demonstrasi kemampuan per orang, yang perempuan aekan bersamaku, dan yang lelaki akan bersama Xin," ujar Delvius sambil memasukkan buku catatannya kedalam tas.


Gaki, Shin, Toshite, dan Nakazuma pergi ke salah satu sisi ruangan bersama Xin. "Baiklah, aku akan mewawancarai kalian satu persatu, dimulai dari Toshite," Xin berjalan sedikit menjauh dari ketiga orang yang lain, karena ruangan itu benar-benar ruangan kosong yang tidak memiliki kursi ataupun meja, hanya tangga di beberapa sisinya.


"Toshite Fushiguro, kemampuan yang kau miliki, Destroy, kemampuan dengan peringkat A, dan tahun lalu mencapai B berturut turut dalam penguasaan potensi, silahkan jelaskan kekuatanmu secara rinci," Xin memegang penanya dengan posisi siap menulis, "kemampuanku dapat menghancurkan segala benda yang bersifat Non-Organik secara perlahan sesuai jenis benda tersebut dalam skala kecil, dengan syarat aku harus menyentuh benda tersebut, meskipun hanya air liur," jelas Toshite pada Xin.


"Coba hancurkan pena ini," Xin menyodorkan penanya pada Toshite. Sesaat sebelum Toshite berhasil menyentuhnya, pena itu seketika melesat kedepan yang menyebabkan jari telunjuk Toshite terluka. "Apa yang terjadi?," Toshite kebingungan sambil mengelap darah yang menetes dari jari telunjuknya, "yang kau lihat adalah demonstrasi kemampuanku, kukira kau dapat langsung menghancurkannya dengan menyentuhnya sepertin yang sudah kau sampaikan," Xin tersenyum sinis.


"Hal utama untuk menggunakan kemampuanku, aku harus memfokuskannya terlebih dahulu, aku tidak dapat secara tiba-tiba menggunakannya," ujar Toshite, "baiklah, sepertinya kau akan mempelajari cara mengaktifkan kemampuanmu dengan cepat, silahkan kembali dan panggilkan aku Nakazuma Nobarashi," Xin menulis poin-poin yang ia butuhkan untuk melatih Toshite kedepannya.


Nakazuma berjalan menghampiri Xin yang sudah menunggunya, "baiklah, Nakazuma Nobarashi, Grim yang dimiliki adalah Bubbles, kemampuanmu berada di peringkat B dan kau selalu mendapat A dalam setiap tes penguasaan potensi, silahkan jelaskan padaku kekuatan yang kau miliki, secara ringkas dan jelas."


"Baiklah, kemampuanku adalah Gelembung, dan gelembung milikku dapat menerima Grim milik orang lain dan menetralkannya, atau dapat menyimpannya. Aku menciptakan gelembung milikku dari air keringat yang kuhasilkan, gelembung itu juga dapat kupecahkan dengan perintah atau ketika tidak lagi kuat menahan serangan fisik yang diberikan," Nakazuma menjelaskan kekuatannya pada Xin, "jadi kekuatanmu dihasilkan dari keringat, dan kebal terhadap serangan Grim?," Xin mencoba memperjelasnya, "ya, tapi ketahanannya sangat rendah apabila dikenai oleh serangan fisik."


"Mari kita coba, masukkan pena ini kedalam gelembungmu," seperti sebelumnya, Xin menyodorkan penanya pada orang yang sedang dilatihnya, dan pena tersebut kembali ia lesatkan. Beberapa saat sebelum melukai jari Nakazuma, ia langsung membuat perisai gelembung di tangannya, meskipun langsung pecah, tapi tangannya tidak terkena luka sedikitpun dari penanya. 


"Reflekmu cukup bagus, dan keputusanmu bagus untuk melindungi tanganmu daripada memberhentikan geralan penaku, kau hanya butuh pelatihan potensi tambahan, silahkan kembali, dan panggilkan aku Shin Tokoharu."


Nakazuma berbalik dan menuju Shin yang sedang mengobrol dengan Gaki, sedangkan Toshite masih mencoba melatih refleknya. "Shin, sekarang giliranmu," Nakazuma menepuk pundak Shin, "baiklah," Shin menuju ke Xin yang sudah menunggunya.


"Shin Tokoharu, dengan kemampuan Nature, Ketua dari Organisasi Eksekutif Mahasiswa, memiliki Grim peringkat B, tapi nilai dalam penguasaan potensi sudah mencapai A+, cukup menarik, silahkan jelaskan padaku mengenai kemampuanmu."


"Kemampuan Energi Alam, kekuatanku berasal dari makhluk hidup yang ada disekitar, dan berbentuk berupa energi yang dapat disimpan dalam tubuhku, energi itu juga dapat disalurkan pada orang lain dan memberikan efek seperti mempercepat penyembuhan dan pertumbuhan, lalu pengaktifan atau penonaktifan adrenalin. Kemampuan milikku selain menjadi bantuan juga dapat menjadi alat mata mata jika dibentuk menjadi sebuah benda padat, contohnya Bunga Matahari, aku dapat mendengar, berbicara, dan melihat melalui perantara benda tersebut."


"Energi ya, berasal dari kekuatan makhluk hidup, jadi apabila kau ada ditengah hutan maka kekuatanmu akan maksimal?," Xin mulai memberikan pertanyaan yang ada. "Ya," Shin menjawabnya dengan singkat, "baik, lalu apakah bunga matahari yang kau hasilkan memiliki jarak maksimal?," Xin kembali memberikan pertanyaannya, "tidak, tapi semua terbatas dalam stamina yang kupunya, karena Bunga Matahari cukup membuatku lelah."


"Apa saja kegunaan dari Energi yang kau dapat simpan dan berapa banyak jumlahnya," "untuk kegunaan, aku bisa merubahnya menjadi tambahan stamina bagi diriku sendiri, atau memberikannya pada orang lain. Aku juga bisa memadatkan Energi tersebut sehingga dapat menjadi alat pertahanan diri. Kuantitas dari Energi yang dapat aku simpan belum kuketahui dengan jelas."


"Baiklah, penjelasan yang bagus, aku ingin mencoba melihat kemampuanmu yang hebat itu," Xin menggunakan pena  nya untuk melukai ibu jarinya dan mengeluarkan darah, "sembuhkan," ujar Xin sambil menyodorkan tangannya. Shin jelas kebingungan, diapun mengarahkan kedua tangannya kearah tangan milik Xin, cahaya redup bersinar dari tangan Shin dan bergerak ke jari Xin yang terluka.


Perlahan luka tersebut menutup, darahnya langsung mengering dan menguap, "tidak ada rasa yang aneh, ini bekerja langsung begitu saja," Xin mengambil kesimpulan dari kemampuan Shin, "aku menggunakan kemampuanku untuk menyembuhkan, menghilangkan rasa sakit, dan mempercepat, karena itu tidak ada rasa sakit ketika disembuhkan, dan tidak butuh waktu lebih lama."


"Baiklah, aku cukup puas denganmu, sekarang panggilkan Gaki, kita akan lebih cepat memulai latihannya apabila wawancara ini selesai," ujar Xin, Shin berbalik dan menyuruh Gaki menghampiri Xin.


"Apa sekarang giliranku?," Gaki dengan tenang menghampiri Xin, ia benar-benar tidak merasa canggung dan resah, "ya, sekarang giliranmu. Gaki, memiliki kemampuan Craft, yang dapat membuat apapun, dan memakan apapun, berbentuk sebagai Api Hitam, peringkat kemampuan A, dan penguasaan potensi mencapai A+, nilaimu cukup baik di tahun-tahun sebelumnya. Silahkan jelaskan kembali kemampuan yang kau miliki secara ringkas dan jelas."


"Kemampuanku, tercipta untuk membunuh," Gaki dengan tenang mengucapkannya, "baiklah, begitu, jelaskan apa saja yang kemampuanmu dapat lakukan," Xin terlihat kesulitan dengan tingkah Gaki. "Apa yang dapat dilakukan?, segalanya," "jelaskan semua itu."


"Baiklah," Gaki menghela nafas, "aku dapat merubah Apiku menjadi apapun yang aku mau, pedang, kapak, palu, bunga, pohon, lalat, atau bahkan duplikat diriku sendiri. Api milikku juga selain membakar, dia akan mengambil energi yang ada di benda yang terbakar menjadi milikku, hal itu kusebut lifesteal, Api milikku juga tidak selalu menjadi partikel, tapi dapat berubah menjadi benda padat."


"Penjelasan yang bagus, bagaimana kalau kita mencobanya," Xin menyiapkan kuda-kudanya, "lawan aku, potong pena ini menjadi dua," Xin tersenyum kecil pada Gaki, ia merendahkannya. Gaki menciptakan katana dengan Grimnya, dia juga sudah memasang kuda-kuda yang tepat.


Gaki langsung melompat terlebih dahulu, target dia saat ini hanya perlu menebas pena tersebut, ketika katana sudah ia ayunkan, seketika tubuhnya terpental kebelakang bahkan sebelum ia menyadarinya.


"Gaki, kemampuanmu memang sangat hebat, tapi sifatmu sangat menunjukkan kelemahanmu, kau terlalu meremehkan lawanmu yang hanya menggunakan pena," Xin tertawa kecil, tapi dalam sekejap Gaki berpindah kebelakangnya, dia sudah menyiapkannya untuk hal seperti ini. "Kau pikir siapa yang meremehkan lawan," Gaki menebaskan katananya, dan memotong pena milik Xin dari belakang, tanpa menebas Xin yang dilewati katananya.


"Apa yang terjadi," Xin terjatuh lemas, ia sedikit kaget dengan apa yang terjadi barusan, "kau ini pelatihku, kenapa bisa lebih lemah daripadaku," Gaki merendahkan Xin yang sudah kehilangan semangatnya. "Baiklah maafkan aku, kemampuanmu sangat hebat, kuakui itu, tapi tetap saja, sifat burukmu harus dibenarkan."

__ADS_1


Gaki tidak memberikan respon apapun, ia hanya berjalan kembali ke Shin dan yang lain.


__ADS_2