
Xylona sampai di kelasnya. Dia mencari ponselnya di meja, namun tidak ada. Dia juga mencari ke meja yang lain, tapi tetap tidak ketemu.
"Bagaimana ini? Banyak sekali data yang aku simpan di ponsel itu. Foto-foto kenanganku." Xylona menangis. Dia masih mencoba mencari sampai ke bawah meja.
Dia tidak kunjung menemukannya. Viani muncul di pintu. "Xylona."
Mendengar namanya dipanggil, gadis itu menoleh ke pintu. Dia melihat Viani memegang ponselnya. Xylona segera menghampiri Viani, tapi gadis itu malah berlari.
"Viani! Itu ponselku!" Xylona mengejar Viani.
"Hahaha, ambil saja kalo bisa!" Viani terus berlari.
Xylona berlari lebih cepat. Dia berhasil menarik lengan Viani dan berusaha merebut ponselnya, tapi tangan besar itu lebih dulu merebut ponsel Xylona dari tangan Viani. Ternyata Kris. Dia melempar ponsel itu ke atas. Di lantai atas ada Enzo. Dia langsung menangkap ponsel tersebut.
Xylona memaki sambil menaiki tangga mencari Enzo. Di atap lantai 3 ada sebuah kolam renang yang digunakan oleh atlet renang SMA AMRITA.
Myessa dan Lolita berdiri di sana sambil berpangku tangan. Ponsel Xylona ada di tangan Enzo.
"Kembalikan ponselku!" Pinta Xylona.
"Sikapmu bisa berubah secepat itu, ya? Tadi kau minta maaf, sekarang kau membentak lagi," ujar Lolita.
"Aku minta maaf hanya untuk kesalahanku, terserah kau mau memaafkanku atau tidak. Dengan mengambil ponselku, kau berarti membuat masalah baru. Sekarang kembalikan ponselku," bentak Xylona.
"Aku tidak mau memberikannya." Enzo menggeleng.
Lolita mengambil ponsel Xylona dari Enzo kemudian mengangkatnya di atas kolam. "Aku rasa ponselmu bukan anti air. Tentu saja, kau tidak akan mampu membelinya. Apa yang bisa diharapkan dari gaji seorang polisi?"
__ADS_1
Xylona menautkan alisnya. "Jangan! Kembalikan ponselku!"
"Pasti ada banyak kenangan bersama orang tuamu yang sudah mati dalam ponsel ini, kan? Aku tidak peduli. Aku akan tetap membuangnya!" Lolita melepaskan ponsel itu.
"Tidak!" Xylona menggeleng, namun beruntung ponselnya jatuh ke tepi kolam.
"Hanya satu tendangan ponselmu akan benar-benar jatuh ke kolam," ancam Lolita.
"Minta maaf sekali lagi, kami akan mengembalikan ponselmu," ujar Kris.
"Kenapa aku harus minta maaf? Apa salahku pada kalian?!" Teriak Xylona.
"Minta maaf atas sikapmu sejak awal datang kemari sampai saat ini. Kami benar-benar muak," kata Myessa.
Tatapan Xylona berubah menjadi dingin. "Bukankah seharusnya kalian yang meminta maaf pada korban kalian? Mereka menderita selama bersekolah di sini karena kalian. Yang kaya dan berkuasa itu bukan kalian, tapi orang tua kalian. Kalian hanya beban bagi orang tua kalian sendiri."
"Aku mengerti sekarang, kenapa orang tuamu mati lebih cepat, karena mereka malu punya anak tidak berguna sepertimu!" Bentak Lolita. Dia mengambil tongkat bisbol dan memukul kepala Xylona hingga gadis itu tersungkur jatuh. Darah mengalir dari kepalanya.
Viani dan Enzo terkejut. Mereka saling pandang.
Xylona yang setengah sadar merangkak berusaha mengambil ponselnya di tepi kolam. Darah juga mengalir dari hidungnya. Myessa menendangnya ponsel tersebut hingga benar-benar jatuh ke kolam. Xylona membulatkan matanya.
"Sana ambil ponselmu sendiri!" Lolita menendang tubuh Xylona. Gadis itu pun jatuh ke kolam.
Perlahan tubuhnya tenggelam. Xylona tidak bisa berenang, karena dia pernah ditenggelamkan teman-temannya sewaktu kecil sehingga dia trauma dengan air kolam. Tubuhnya kaku dan terasa berat. Darah menyebar bercampur dengan air kolam. Xylona mengangkat tangannya. Napasnya mulai habis. Air pun masuk lewat hidung dan mulutnya memenuhi paru-paru.
**
__ADS_1
Wajah polos Kylo menatap nanar pada tiga orang anak yang sudah memukulinya sampai babak belur. "Ini adalah hari terakhir kalian memukulku. Setelah aku mati, kalian yang akan dipukuli di penjara."
Berakhirnya kalimat itu, Kylo menjatuhkan dirinya sendiri ke jurang.
Ketiga anak itu terkejut dengan apa yang dilakukan Kylo. Mereka panik apalagi setelah melihat tubuh Kylo terperosok ke kebun bambu.
**
Xylona yang hampir kehilangan kesadarannya berkata dalam hati, Kylo, aku datang.
Kedua matanya perlahan tertutup. Xylona tak sadarkan diri.
Byurrr!
Tiba-tiba Erfrain datang dan langsung menceburkan dirinya ke kolam untuk menyelamatkan Xylona. Dia menarik tubuh gadis itu lalu menggendongnya kemudian berenang ke permukaan.
Erfrain membuka jas sekolah Xylona dan menekan dadanya. Xylona mengeluarkan banyak air dari mulutnya. Erfrain mendekatkan telinganya ke dada Xylona. Laki-laki itu masih bisa mendengar detak jantungnya, tapi gadis itu tidak kunjung sadar.
Dia menangkup wajah Xylona lalu mendekatkan wajahnya untuk memberikan napas buatan. Baru saja hidung mereka bersentuhan, Erfrain mengurungkan niatnya. Dia melihat darah di tangannya yang berasal dsri luka di kepala Xylona. Erfrain memeriksanya.
"Xylona, bertahanlah."
👓👓👓
22.19 | 22 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1