H-22 : ASSASSIN

H-22 : ASSASSIN
H22A - 28


__ADS_3

Melihat Erfrain yang meminum jus jeruk, Edgar mengambil minuman soda dalam kaleng. Dia mengeluarkan taringnya dan menggigit kaleng tersebut. Minumannya muncrat membuat drucless tampan itu kaget. Dia segera meminumnya.


 


 


Erfrain hanya memperhatikan tingkah laku pria itu.


 


 


"Rasanya manis dan tenggorokanku menjadi segar," ucap Edgar.


 


 


"Kau bisa merasakannya?" Tanya Erfrain bingung.


 


 


"Tentu saja, aku drucless seutuhnya. Aku bisa merasakan semua makanan di dunia apa pun."


 


 


Erfrain menghela napas panjang. "Pulanglah, bukankah kau seorang Raja?"


 


 


Edgar duduk di samping Erfrain. "Aku tidak mau, jika kau tidak pergi bersamaku."


 


 


"Aku tidak akan pergi."


 


 


"Kenapa? Apa kau benar-benar mencintai gadis manusia itu? Sejak kapan kau menjadi sentimental begitu?" Gerutu Edgar.


 


 


"Aku juga tidak akan mengungkapkan perasaanku padanya, aku tidak bisa melihatnya melewati masa tua dan mati."


 


 


Edgar menatap Erfrain. "Kalau begitu, ayo kembali ke Athanasia. Aku ingin kau menjadi Raja lagi dan aku menjadi adikmu lagi yang manis."


 


 


"Aku ingin muntah," gumam Erfrain.


 


 


"Apa kau bilang?"


 


 


"Aku tidak bilang apa-apa."


 


 


Hening.


 


 


Kedua pria drucless itu tenggelam dalam pikiran masing-masing.


 


 


"Bagaimana punggungmu? Apa lukanya sudah menghilang?" Edgar melirik punggung Erfrain.

__ADS_1


 


 


Erfrain mengangguk.


 


 


"Aku khawatir, karena semakin kau lama tinggal di dunia manusia, maka tubuhmu akan beradaptasi dan menjadi mudah rapuh seperti tubuh manusia."


 


 


"Tenang saja, aku baik-baik saja."


 


 


"Aku rasa, sebaiknya aku kembali." Edgar pun menghilang dari pandangan.


 


 


Erfrain menghela napas lega. "Kenapa tidal dari tadi."


 


 


Tiba-tiba Edgar kembali muncul membuat Erfrain tersentak kaget. "Ada apa lagi? Kenapa kau kembali lagi?!"


 


 


"Benda ini terbawa." Edgar melemparkan kaleng soda bekas pada Erfrain kemudian dia kembali menghilang.


 


 


"Manis dari mananya?"


 


 


 


 


Xylona dan Erfrain bersekolah seperti biasa. Namun, mereka menjadi canggung, karena Erfrain berubah menjadi laki-laki yang tampan dan berkharisma. Bahkan banyak siswi yang menyukainya serta dengan terang-terangan mengungkapkan perasaannya.


 


 


Erfrain melihat Xylona tidak marah saat gadis-gadis mendekatinya. Karena sikap Xylona yang biasa-biasa saja, Erfrain kesal. Setidaknya Xylona harus menunjukkan rasa cemburu, pikir Erfrain.


 


 


Pulang sekolah, Xylona dan Erfrain berjalan kaki. Tidak ada yang berbicara. Keheningan yang menemani langkah mereka.


 


 


Xylona merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, tapi ponselnya mati kehabisan baterai. Gadis itu meminjam pada Erfrain. "Apa aku boleh meminjam ponselmu?"


 


 


Erfrain memberikan ponselnya pada Xylona. Gadis itu melihat kontak Erfrain. Gadis itu terkejut, karena hanya ada satu nama di kontaknya, yaitu namanya. Dia melirik pada Erfrain kemudian mengembalikan ponsel tersebut.


 


 


"Terima kasih."


 


 


Hari terus berlalu. Hubungan Xylona dan Erfrain semakin merenggang. Pembunuhan di tanggal 22 masih terus terjadi.


 


 

__ADS_1


Hari minggu, hujan gerimis mengguyur Desa Amrita. Xylona duduk di teras sambil minum coklat panas. Dia melihat seseorang berjas hujan merah berjalan menuju rumahnya. Ternyata orang itu adalah Erfrain.


 


 


Mereka berdua duduk sambil meminum coklat panas. Erfrain tersenyum setelah merasakan rasa coklat yang manis dan hangat itu.


 


 


"Karena kakakku sudah tiada, sepertinya aku harus kembali ke kota. Aku akan memulai lagi semuanya dari awal di rumah lamaku," ucap Xylona.


 


 


Mendengar itu, Erfrain tidak sedang. "Kenapa tiba-tiba?"


 


 


Xylona tersenyum sendu. "Sejak awal aku di sini aku merasa tidak cocok dengan tempat ini. Aku merasa Desa Amrita bukan tempat yang nyaman untukku. Aku bertahan hanya karena ada kau di sini, sekarang aku harus kembali."


 


 


Aku tidak pulang ke Athanasia karena kau adalah alasanku untuk tetap di sini, tapi kau mau pergi meninggalkanku? Batin Erfrain. Karena tidak tahan, laki-laki itu pun mengungkapkan pertanyaannya, "Kau mau meninggalkanku?"


 


 


Xylona menggeleng. "Kita akan saling memberikan kabar. Aku juga akan menemuimu di akhir semester nanti."


 


 


Erfrain merasa sedih dengan keputusan Xylona, tapi dia juga tidak bisa memaksa, karena kebahagiaan dan kenyamanan Xylona adalah hal terpenting untuk saat ini.


 


 


Hari-hari Erfrain berjalan tanpa kehadiran Xylona. Hanya adiknya yang datang menemuinya dikala sedih.


 


 


"Melihatmu seperti orang yang mati rasa membuatku sedih," ujar Edgar.


 


 


"Jika tidak bisa membantu, lebih baik pergi," usir Erfrain.


 


 


"Menurutku... tidak ada salahnya kau hidup bahagia bersama Xylona, meskipun singkat. Setidaknya kau memberikan kebahagiaan pada gadis manusia itu sebelum kematian menjemputnya."


 


 


Ucapan Edgar ada benarnya, tapi melihat kematian Xylona akan menyakitkan meskipun hanya dalam bayangan. Erfrain melirik curiga pada adiknya, "Tumben kau mendukungku."


 


 


"Setelah kau bahagia dengannya, jangan lupa kembali ke Athanasia. Kau harus memikul tanggung jawabmu seperti apa yang ayah inginkan. Selain itu, hentikan kebiasaanmu menghukum orang, itu norak karena sudah tidak zaman." Setelah mengatakan itu, Edgar menghilang dari pandangan.


 


 


Erfrain tampak berpikir.


 


 


👓👓👓


 


 


23.30 | 23 Januari 2021

__ADS_1


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2