
Di sekolah, Rain sedang mengikuti pelajaran di kelas. Dia melihat teman sekelasnya sibuk memoles wajahnya dengan make up. Semua orang tahu, dia gadis tercantik di SMA AMRITA. Tak sedikit siswa yang berkelahi hanya untuk memperebutkan dirinya dan tidur dengannya.
Bahkan guru-guru pun banyak yang terpesona dengan kecantikannya. Mereka memberikan banyak uang hanya untuk gadis itu.
Jam pelajaran matematika telah usai, berganti dengan pelajaran olahraga. Di lapangan voli, Rain memilih duduk di bangku penonton. Beberapa siswa berseragam olahraga melewatinya sambil memukul kepala Rain.
"Besok pakai rok saja, Rain. Masa laki-laki tidak bisa voli."
Rain menunduk. Dia tidak berani merespon.
Permainan voli berlangsung. Semua murid berteriak mensuport tim andalan mereka. Gadis cantik dikelas Rain memasuki lapangan bersama gadis-gadis lainnya. Saat melewati Rain, dia tiba-tiba berteriak sehingga semua mata tertuju padanya. Bahkan laki-laki yang sedang voli pun berhenti dan menoleh ke arahnya.
"Kenapa Celine?" Tanya kapten voli.
"Orang bodoh dan cupu ini memegang bokongku!" Tuduh gadis yang bernama Celine itu.
Tentu saja itu memancing kemarahan mereka semua. Bola voli melesat menghantam wajah Rain. Laki-laki itu tersungkur ke bawah. Kacamatanya rusak. Tangannya bergerak menggapainya, namun seseorang menginjak tangannya.
"Aku tidak mengira, laki-laki bodoh dan cupu sepertimu bisa melakukan itu pada Celine."
Mereka memukuli Rain hingga laki-laki itu berhenti bernapas. Melihat Rain yang berhenti bergerak, mereka panik.
"Di-Dia mati? Kenapa kalian membunuhnya?" Tanya Celine.
Setelah berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan melempar tubuh Rain dari lantai 3. Dengan begitu, orang-orang akan mengira kalau Rain bunuh diri.
Setelah mayatnya ditemukan, SMA AMRITA menjadi geger. Lagi-lagi mereka menutupi insiden tersebut dari publik. Bukannya merasa menyesal, murid-murid itu malah merayakan kematian Rain.
"Setidaknya kita sudah membasmi orang cupu dari SMA ini."
"Iya, itu bagus, karena kita sudah mengurangi populasi orang jelek dari dunia ini."
Celine tersenyum sinis. Dia tidak merasa bersalah, padahal dia yang sudah memfitnah Rain. Laki-laki itu bahkan tidak melihat padanya apalagi menyentuh bokongnya.
Suatu hari, Celine sedang berada di rumahnya bersama seorang pria tampan dan kaya. Mungkin dia pacarnya. Keduanya tengah bertengkar.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau berhubungan dengan bangsat-bangsat kecil itu saat kau berhubungan denganku? Memangnya mereka punya uang untuk membelikanmu segalanya? Apa ***** mereka lebih besar, sehingga kau merasa puas?"
Dengan kemarahan, pria itu pergi meninggalkan Celine. Merasa frustasi, gadis itu mengacak rambutnya kemudian pergi ke kamarnya. Gadis itu melihat kalender yang menunjukkan tanggal 21.
Karena panik, dia segera mengunci semua pintu dan jendela di rumahnya. Napasnya terengah-engah karena panik. Dia pun segera pergi ke tempat tidur.
Perlahan tapi pasti, kedua matanya tertutup diiringi napas yang beraturan. Celine bermimpi. Dia berjalan di sebuah hutan dan menaiki perbukitan.
"Kenapa aku di sini? Apa aku bermimpi?" Celine mencubit tangannya. Dia menyadari kalau dirinya sedang berada dalam mimpi.
Celine mencoba bangun dari mimpinya, tapi tidak bisa. Sejenak Celine duduk di atas rerumputan hijau. Matanya melihat ke sekeliling. Di satu titik, dia melihat sebuah rumah di atas perbukitan di seberangnya. Gadis itu merasa penasaran.
"Tidak apa-apa, aku 'kan sedang bermimpi." Celine pun beranjak dari duduknya menuju ke tempat itu.
Sesampainya di depan pintu rumah, Celine melihat ada seseorang yang sedang duduk di dalam sana. Gadis itu mengetuk pintu yang sedikit terbuka. "Permisi?"
Pria tampan di dalam rumah menoleh. Celine terpesona dengan ketampanan pria itu. Sekarang dia tersenyum pada Celine.
Celine mengangguk pelan.
"Kemarilah." Pria itu mengulurkan tangannya. Celine menerima uluran tangan pria itu. Tiba-tiba tangannya terpotong.
Gadis itu menjerit kesakitan sambil memegangi tangannya yang buntung. Darah mengalir kemana-mana. Pria itu berubah wujud menjadi Rain. Dia melemparkan pisau yang baru saja dia gunakan untuk memotong tangan Celine ke lantai.
Pria itu berubah wujud menjadi Rain.
Celine terkejut. "Rain? K-kau..."
Rain memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku hanya ingin bilang, aku tidak pernah menyentuh bokongmu."
Celine tertawa sambil meringis. "Terserah kau mau bilang apa, kau sudah mati."
__ADS_1
Rain bersuara, "Aku tidak mati, kau yang akan mati."
Celine tertawa semakin kencang. "Ini hanya mimpi, saat aku terbangun, semuanya akan kembali seperti semula."
Rain tertawa. Bahkan tawanya lebih kencang dibandingkan dengan Celine. "Kau tidak bermimpi."
Celine mengernyit.
Rain menunjuk cermin besar di belakang Celine. Gadis itu menoleh dan dalm cermin itu, dia melihat dirinya di kamar sedang tertidur. Tangannya juga terpotong dan berdarah.
"Tidak! Ini hanya mimpi!" Teriak Celine sambil mengambil tangannya yang sudah terputus dari lantai.
Rain mengambil pisau dan memotong satu tangannya lagi. Celine berteriak dan jatuh terduduk ke lantai. Percikan darah menodai kacamata Rain.
Rain meletakkan kacamata yang terpercik noda darah tersebut ke meja.
Celine meringis kesakitan sambil menatap pantulan dirinya yang malang di depan cermin.
Rain mengambil kembali pisaunya lalu berjongkok dan menjambak rambut gadis itu hingga mau tak mau dia harus sedikit mendongkak menatap pria itu.
"Apa aku masih terlihat bodoh dan cupu?" Suara baritone pria itu menggema di ruangan tersebut.
Gadis itu menggeleng cepat. "Tidak, tidak, ampuni aku. Aku tidak akan mengatakan ini pada siapa pun, aku mohon lepaskan aku, Rain."
Pria bernama Rain itu mengambil pisau dan meletakkannya di leher gadis itu. Keduanya melihat pantulan diri mereka di cermin besar itu.
"Lihatlah dirimu untuk yang terakhir kalinya."
Darah segar terciprat ke wajah tampan pria itu.
** End Flashback **
👓👓👓
23.19 | 22 Januari 2021
__ADS_1
By Ucu Irna Marhamah