H-22 : ASSASSIN

H-22 : ASSASSIN
H22A - 22


__ADS_3

Erfrain memakai jas hujan merah miliknya. Dia mengambil pisau. Sesaat laki-laki itu menatap Xylona yang terbaring di ranjangnya.


 


 


"Aku pergi dulu, ini tidak akan lama."


 


 


Sementara itu di rumah Viani. Gadis itu tampak terbaring dengan selimut menutupi sekujur tubuhnya. Erfrain berdiri di depan jendela kamar gadis itu. Dia tahu, jendelanya terkunci. Laki-laki itu mengetuk jendela tersebut. Tampaknya Viani tidak mendengar. Erfrain menyentuh kaca jendelanya dengan jari telunjuk. Tiba-tiba jendela tersebut pecah. Dia pun masuk.


 


 


Viani tidak terganggu sama sekali. Dia terlihat tenang dengan kedua mata yang masih tertutup.


 


 


Erfrain merasa aneh, sehingga dia menyingkap selimut yang membungkus tubuh gadis itu. Erfrain terkejut dalam diam setelah melihat kenyataan jika Viani sudah terbunuh. Hanya ada kepalanya di ranjang. Selimut itu menyelimuti bantal-bantal yang disusun menyerupai badan untuk pengalihan perhatian.


 


 


Erfrain menautkan alisnya. Dia segera pergi mencari teman-temannya yang lain.


 


 


**


 


 


Para polisi sedang bersiaga dan berpatroli mengelilingi Desa Amrita. Mereka membagi tim dimana setiap timnya berisikan 4 orang.


 


 


Tim Drystan sedang berpatroli di sekitar rumah warga. Penerangan di Desa Amrita cukup baik, itu memudahkan mereka.


 


 


Drystan merasa cemas. Dia ingin sekali menghubungi Xylona, tapi sedari siang teleponnya tidak diangkat. Sekarang dia tidak bisa menghubunginya, karena sedang bertugas.


 


 


Reza menunjuk ke arah perbukitan. "Eh, lihat... disana ada perbukitan, sepertinya aku melihat ada lampu di sana. Mungkin ada rumah dan seseorang yang tinggal di sana."


 


 


"Ayo kita ke sana."


 


 


Mereka harus melewati hutan untuk mencapai perbukitan. Karena gelap, Drystan dan teman-temannya menyalakan senter.


 


 


Reza menepuk lengannya. "Banyak sekali nyamuk di sini."


 


 


Mereka tiba di kaki bukit. Rumah itu terlihat menonjol, karena sendirian di bukit. Mereka mendekati rumah itu. Reza mengetuk pintunya.


 


 


"Permisi? Ada orang di dalam?"


 


 


Tidak ada jawaban.

__ADS_1


 


 


**


 


 


Myessa, Kris, dan Enzo juga sudah terbunuh dengan cara yang sama. Erfrain pergi ke rumah Lolita. Di sana dia melihat seseorang berjubah hitam tengah menjambak rambut Lolita yang tubuhnya sudah dipenuhi darah.


 


 


"Tolong, tolong aku," mohon Lolita.


 


 


Erfrain mengepalkan tangannya. Pria berjubah hitam itu mengeluarkan pedangnya. Dia memutuskan kepala Lolita dari badannya menggunakan pedang itu. Darah mengalir di mana-mana. Lolita tewas seketika.


 


 


"Dia targetku, kenapa kau yang membunuhnya? Apa maumu?" Tanya Erfrain.


 


 


Pria itu tersenyum kemudian menghilang dari pandangannya. Tiba-tiba terdengar suara serigala mengaum.


 


 


Tiba-tiba Erfrain teringat akan sesuatu.


 


 


**


 


 


 


 


"Tidak ada yang mencurigakan. Apa kita perlu memeriksa ke dalam?" Tanya Reza.


 


 


Terdengar suara serigala mengaum. Keempat polisi itu saling pandang. Mereka mengeluarkan pistol untuk berjaga-jaga.


 


 


"Jam berapa sekarang?" Tanya Reza.


 


 


"Jam 2," jawab rekannya.


 


 


Tiba-tiba segerombolan serigala datang dan menyerang mereka. Mereka pun menembak membabi buta. Suara tembakan bersahutan. Salah satu serigala melompat menindih tubuh Reza dari belakang. Serigala itu menggigit dan memakan tangan Reza.


 


 


Teriakan mereka menggema di perbukitan. Drystan menembak mata serigala yang memakan lengan Reza. Serigala itu kabur, tapi serigala yang lain meloncat mengerubungi Reza dan memakannya. Drystan frustasi melihat teman-temannya satu per satu mati dimakan serigala.


 


 


Dia menembaki serigala-serigala itu, tapi pelurunya habis. Salah satu serigala meloncat ke arahnya. Drystan menghalangi dirinya dengan kedua tangan, namun seseorang menendang serigala tersebut hingga terlempar beberapa meter.


 


 

__ADS_1


Drystan menoleh pada laki-laki berjas hujan merah itu.


 


 


Laki-laki yang tak lain adalah Erfrain itu membunuh para Serigala dengan pisaunya. Kedua matanya berubah merah. Hujan turun dengan tiba-tiba. Tubuh serigala yang sudah mati itu tiba-tiba menghilang dari hadapannya.


 


 


Drystan terkejut melihat itu. "A-apa yang terjadi?"


 


 


Erfrain mengubah matanya menjadi normal kembali. Dia berbalik menatap Drystan. "Seharusnya kau tidak datang kemari. Jika kau tidak kemari, teman-temanmu tidak akan mati."


 


 


Drystan mengernyit sambil menatap Erfrain.


 


 


Erfrain melepaskan jas hujannya kemudian masuk, tapi Drystan memegang lengannya. "Rain? Erfrain? Apa ini kau?"


 


 


Langkah Erfrain terhenti. Dia menoleh kemudian mengangguk. Seketika semua pertanyaan masuk ke kepala Drystan.


 


 


"Ta-Tapi...."


 


 


Erfrain baru ingat, ada Xylona di rumahnya. Dia mempersilakan Drystan masuk.


 


 


"Aku tahu, kau pasti punya banyak pertanyaan untukku," ucap Erfrain.


 


 


Saking banyaknya aku tidak tahu menanyakan apa dulu, batin Drystan.


 


 


Erfrain menunjukkan kamar di mana Xylona terbaring. Melihat keadaan Xylona, Drystan benar-benar terkejut.


 


 


"Rain, apa yang terjadi dengan Xylona? Apa ada yang menjahatinya di sekolah?" Drystan sangat panik. Dia mengguncangkan tubuh adiknya. "Xylo, bangunlah."


 


 


Erfrain menceritakan apa yang terjadi dengan Xylona.


 


 


👓👓👓


 


 


22.33 | 22 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2