
Di rumah Erfrain.
Laki-laki itu menidurkan Xylona ke bath up. Dia melepaskan seluruh pakaian Xylona kemudian menyalakan air hangat. Dengan telaten, Erfrain memandikan tubuh Xylona.
"Tidak heran Enzo dan Kris bernapsu saat memikirkanmu, kau sangat cantik," ujar Erfrain.
Selesai memandikan Xylona, laki-laki itu memakaikan Xylona gaun kemudian dia menidurkan tubuh Xylona ke ranjang. Erfrain mengambil perban di lemari. Dia mencoba membalut luka di kepala Xylona dengan perban tersebut.
"Ini tidak mudah, bagaimana cara kerjanya?" Tampaknya Erfrain kesulitan dan tidak mengerti cara memakai perban.
"Kenapa perempuan selalu memposisikan dirinya dalam bahaya dan membuat laki-laki harus menolong mereka? Hhh, merepotkan." Akhirnya Erfrain berhasil memasangkan perban walaupun tidak rapi.
"Tapi, jika kau yang merepotkanku, aku tidak masalah." Erfrain tersenyum nakal sambil mencubit pipi Xylona.
Erfrain mengeluarkan ponsel Xylona dari saku celananya kemudian diletakkan di meja. Dia pun berlalu ke ruang tengah dan mengambil jas hujan serta pisau di tangannya.
Laki-laki itu berdiri di depan jam dinding. Dia menatap jam dinding tersebut yang saat ini menunjukkan pukul 9 malam. Sementara Xylona masih belum sadar.
** Flashback **
Pembullyan sepertinya sudah menjadi tradisi turun temurun di SMA AMRITA. Para pelaku pembullyan sudah pasti anak-anak dari kalangan atas di desa tersebut. Normalnya di sekolah lain, pelaku pembullyan yang sudah melewati biasanya dikeluarkan dari sekolah tersebut demi menjaga nama baik sekolah. Namun, SMA AMRITA berbeda. Mereka akan menutupi kasus tersebut sampai ke akar-akarnya. Orang tua siswa yang membully akan 'bernegosiasi' dengan pihak sekolah untuk mempertahankan anaknya tersebut, karena kalau tidak, anaknya tidak bisa diterima di SMA manapun.
Karena itu pihak sekolah mempertahankan mereka sehingga tradisi pembullyan itu terus berlanjut sampai ke generasi-generasi berikutnya.
Namun, satu per satu dari mereka mulai menghilang. Sekalinya ditemukan itu pun potongan tangannya.
Tidak ada yang mengira jika kutukan tanggal 22 di Desa Amrita akan berlanjut di SMA AMRITA.
Cerita dimulai.
__ADS_1
Tahun 1989, banyak siswa baru yang mendaftar ke SMA AMRITA. Seorang murid laki-laki berpakaian rapi dengan kacamata persegi masuk ke barisan. Dia melihat ke sekeliling.
"Hei, anak cupu! Siapa namamu?!"
Anak laki-laki itu tersentak kaget. "Namaku Rain."
"Berdiri tegak dan baris yang rapi!" siswa itu memukul kepala Rain.
Selama di SMA AMRITA, Rain melihat banyak sekali tindak pembullyan yang terjadi di depan matanya. Bahkan dia juga menjadi salah satunya.
Rain menaiki tangga menuju kelasnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat teman sekelasnya dipukuli oleh kakak kelas.
Salah satu dari mereka melihat keberadaan Rain. Dia melempar tasnya ke wajah Rain. "Apa yang kau lihat?!"
Mereka menyeret Rain dan memukulinya juga.
Sementara itu, sebuah motor melaju dengan kecepatan sedang di jalanan. Tiba-tiba hujan turun. Siswa itu tidak berniat berhenti. Dia tetap mengendarai motornya agar segera sampai di rumahnya, karena hari sudah malam.
Namun, tiba-tiba ada seseorang berjas hujan merah menyeberang. Siswa itu terkejut dan segera mengerem mendadak, tapi naas laki-laki berjas hujan merah itu sudah tertabrak. Tubuhnya terlempar beberapa meter. Darah mengalir dari kepalanya.
Karena panik, dia segera tancap gas dan pergi meninggalkan korban tabrak lari itu di jalanan. Selama dalam perjalanan, laki-laki itu merasa heran, karena dia tidak kunjung sampai. Padahal dia sudah biasa melewati jalan itu mustahil dia tersesat.
"Kenapa jalanan ini terasa sangat jauh?" Laki-laki itu melihat ke spion. Kedua matanya membelalak melihat Rain dengan jas hujan merah berlari mengejar di belakangnya. Laki-laki itu tancap gas karena ketakutan. Apalagi setelah menyadari jika orang yang tadi dia tabrak adalah Rain dan sekarang sedang mengejarnya.
"Sialan, bukankah tadi dia sudah mati? Kenapa sekarang dia mengejarku?" Gerutunya.
"Karena aku ingin menangkapmu." Suara Rain terdengar jelas.
__ADS_1
Laki-laki itu mengernyit kemudian menoleh ke belakang, ternyata Rain sudah duduk di jok motornya. Dia kaget dan berteriak. Karena kehilangan keseimbangan, dia pun jatuh dan tak sadarkan diri.
Saat membuka mata, laki-laki itu terkejut karena mendapati dirinya berada di sebuah rumah asing. Ada cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya.
Dia merasa mulutnya sakit. Ketika bergumam, dia meringis kesakitan karena tidak bisa berbicara. Darah mengalir dari mulutnya. Dia bergerak menghampiri cermin dan membuka mulut. Kedua matanya terbelalak lebar saat menyadari kalau lidahnya terpotong.
Laki-laki itu menangis ketakutan. Dia memegangi mulutnya yang terus menerus mengeluarkan darah.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan itu. Jantung laki-laki itu berdegup kencang. Dia melihat Rain masuk ke ruangan itu. Jas hujannya yang basah meneteskan air ke lantai.
Rain menjambak rambut orang itu yang sudah memukulinya kemarin. "Sayang sekali, kau menyakiti orang tepat satu hari sebelum tanggal 22. Seandainya kau memukul orang-orang itu di tanggal muda, kau tidak akan segera mendapatkan balasannya."
Laki-laki itu membuka mulutnya ingin menjawab, namun entah apa yang dia katakan.
"Kau terlalu banyak bicara, jadi aku ambil dulu lidahmu. Sekarang aku membutuhkan tanganmu." Rain mengambil pisau yang sama yang tadi dia gunakan untuk memotong lidah orang itu.
Melihat Rain yang memegang pisau, laki-laki itu menggeleng dan memohon. Dia mencoba berbicara, namun tetap tidak bisa. Mulutnya malah mengeluarkan lebih banyak darah.
"Aku tahu apa yang kau inginkan, tapi aku tidak mau melepaskanmu." Rain memotong tangan laki-laki itu. Teriakan kencang menggema di ruangan tersebut.
Setelah tangannya terpotong, Rain memasangkan cincin ke jari tengahnya lalu potongan tangan itu dia letakkan ke meja. Rain pergi membiarkan laki-laki itu menemui ajalnya secara perlahan di ruangan itu. Lampunya dinyalakan sehingga laki-laki itu bisa melihat dengan jelas detik-detik kematiannya dari cermin besar di depannya.
Keesokan harinya, Rain melihat laki-laki itu sudah mati bergelimang darah. Kedua mata laki-laki itu melotot dengan mulut terbuka lebar. Rain mengambil potongan tangan di meja. Saat berangkat sekolah, dia melemparkan tangan tersebut ke sembarangan tempat.
👓👓👓
21.20 | 22 Januari 2020
By ucu_irna_marhamah
__ADS_1