
Suatu hari, ibunya Edgar mengajukan putranya sebagai Raja yang akan menggantikan Raja Athara. Dia berpikir, jika putranya lebih berhak ketimbang Erfrain, karena Pangeran Edgar memiliki darah sempurna sebagai drucless. Raja tampak bimbang. Baginya Pangeran Erfrain dan Pangeran Edgar adalah putra yang sangat dia sayangi, tapi dia lebih percaya pada Erfrain jika untuk memegang tahta. Sementara Edgar masih terlalu muda dan emosinya masih labil.
Karena Erfrain bisa membaca pikiran, dia tahu isi hati ibunya Edgar. Pria itu tidak terlalu memikirkannya. Dia menerima setiap keputusan yang diberikan oleh ayahnya. Selain itu, Edgar juga mendukung sang kakak untuk menjadi Raja. Baginya menjadi pangeran tampan dan adik yang manja adalah sesuatu yang menyenangkan.
Raja Athara jatuh sakit. Erfrain menggantikan kedudukan sang ayah untuk sementara. Namun, dia tidak terlalu mendapatkan respect dari anggota kerajaan. Mereka memandang Erfrain dengan sebelah mata, karena pria itu berdarah campuran.
Seperti ayahnya, Erfrain juga tegas. Dia akan menghukum rakyatnya yang membuat kesalahan fatal, tapi bukan hukuman mati. Erfrain menghukum dengan cara memotong tangan orang yang bersalah, kemudian dia akan memberikan cincin emas sebagai 'kompensasi' untuk keluarga tersangka dan dua cincin untuk keluarga korban (jika ada korban), karena selain tangannya dipotong, tersangka juga akan dipenjarakan. Keluarganya pasti membutuhkan biaya untuk kehidupan sehari-hari, apalagi jika tersangka adalah tulang punggung. Itu salah satu kebijakan Erfrain.
"Yang Mulia," sapa Edgar sambil membungkukkan badannya.
"Jangan lakukan itu, kau adikku." Erfrain merangkul adiknya.
Edgar tersenyum senang. Dia memeluk kakaknya. "Kakak, Ayah selalu ingin Kakak menjadi pemegang tahta, kenapa Kakak selalu menolaknya?"
"Satu-satunya yang berhak menjadi Raja adalah kau, Edgar." Erfrain menangkup wajah Edgar kemudian berlalu.
"Keras kepala."
Raja Athara sekarat. Dia memberikan mahkotanya pada Erfrain, sebelum dirinya meninggal. Ibunya Edgar yang mengetahui itu sangat kecewa. Dia tidak mengakui Erfrain sebagai Raja, karena status darah campuran pada putra manusia itu. Bahkan dia beberapa kali mencoba menyingkirkan Erfrain dari Athanasia, setelah Raja Athara meninggal. Berbeda dengan putranya yang sangat mendukung Erfrain. Tetapi, usahanya tidak pernah berhasil, karena Erfrain bisa membaca pikirannya.
Suatu hari, ibunya Edgar memasuki kamar Raja Erfrain. Dia melihat pria itu terbaring di ranjang. Wanita itu mengambil pisau dari balik selendangnya dan menusuk Raja Erfrain beberapa kali. Namun, tubuh Raja Erfrain berubah menjadi bantal.
Wanita itu terkejut saat melihat Raja Erfrain berada di depannya. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jadi, selama ini Ratu menginginkan kematianku?" Pertanyaan itu terlontar dari Raja Erfrain.
Ibunya Edgar tidak bisa menjawab apa-apa, sudah jelas dia tertangkap basah. Namun, dia mencoba menjelaskan, "Aku...."
"Aku tahu, jawabanmu ada di pertanyaanku," potong Raja Erfrain.
__ADS_1
"Mungkin aku tidak sepandai putramu yang bisa berkamuflase menjadi apa pun, tapi aku tidak bodoh. Apa Ratu lupa, aku bisa membaca pikiran siapa pun."
Wanita itu menatap Raja Erfrain dengan penuh kemarahan. "Ya, aku memang ingin kau mati! Karena kau tidak pantas menjadi Raja bagi para drucless di Athanasia. Kau memiliki darah kotor manusia, kau tidak pantas!"
"Darah kotor? Apakah membunuh ibuku itu bukan kesalahan?" Pertanyaan Raja Erfrain membuat Ratu pertama Raja Athara terkejut.
"Aku tidak menghukummu, karena aku menghargai Edgar sebagai putramu. Aku hanya menghargai dia sebagai keluarga di istana ini."
Wanita itu menelan saliva karena tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak ingin dihukum oleh Raja Erfrain, tapi dia juga tidak ingin meminta maaf pada pria itu.
Raja Erfrain menghunus pedangnya. Kedua mata wanita itu terbelalak. Dia mundur menghindari malapetaka.
"Kau ingin menyingkirkanku, kan? Aku akan membantumu." Raja Erfrain melukai telapak tangan wanita itu.
"Aaargh!" Darah berwarna oranye mengalir dari luka sayatan pedang Raja.
Mendengar teriakan Ratu pertama, para prajurit datang, begitu pun dengan Pangeran Edgar. Dia terkejut melihat ibunya yang terluka. Pria itu menoleh pada kakaknya yang menatap lurus.
Karena kejadian itu, Raja Erfrain meminta maaf pada Ratu pertama Raja Athara. Dia mengakui kesalahannya dan menyerahkan kekuasaan Kerajaan Athanasia pada Pangeran Edgar. Karena kesalahannya, Erfrain memilih meninggalkan Kerajaan Athanasia.
Edgar menghalangi Erfrain. Dia memohon pada kakaknya agar tidak pergi dari tanah Athanasia.
"Kakak, bagaimana bisa kau pergi meninggalkanku dan rakyat Athanasia?! Apa kau sudah gila?!" Edgar tampak marah.
"Kau bisa mengurusnya sendiri. Jangan ganggu aku." Erfrain pergi meninggalkan Kerajaan Athanasia.
"Aku bersumpah akan membawamu kembali, apa pun resikonya!" Teriak Edgar.
__ADS_1
Erfrain mendengarnya, tapi dia tidak peduli. Pria itu pergi ke perbatasan di mana sungai suci mengalir. Ada beberapa gruless yang berjaga di sana.
"Yang mulia." Mereka membungkuk menghormat pada Erfrain.
Pria itu juga membungkuk. Para gruless saling pandang kemudian membungkuk lagi.
"Jangan lakukan itu, aku bukan seorang Raja lagi. Aku adalah darah campuran sekarang," ujar Erfrain.
"Meskipun begitu, anda tetap Raja bagi kami, anda pernah menjaga rakyat Athanasia dengan penuh keadilan, seperti Raja Athara."
Erfrain tersenyum kecil. "Aku ingin membersihkan diri dengan air suci, karena aku telah melukai Ratu. Setelah itu, aku akan pergi ke dunia manusia."
Para gruless saling pandang. "Apa anda yakin?"
"Aku bisa hidup di dunia manusia dan akan membiasakan diri hidup berdampingan dengan manusia."
Para gruless mempersilakan. Baru saja dia akan menyentuhkan kakinya ke air, terdengar suara derap kaki kuda. Erfrain menoleh, ternyata adiknya bersama beberapa prajurit.
"Berhenti!" Edgar melompat dari kudanya. Dia berjalan menghampiri Erfrain. Pria itu menghunus pedangnya.
Melihat Raja baru mereka yang marah, para gruless tampak panik dalam diam.
Edgar mengayunkan pedangnya. Erfrain tidak menghindar.
👓👓👓
18.41 | 23 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1