
"Mana tersangka pembunuh berantai yang baru kalian tangkap? Aku harus melihatnya!" Xylona tidak bisa mengendalikan diri.
"Aku disini. Ada apa mencariku?"
Xylona menoleh ke sumber suara. Kedua matanya terbelalak lebar. Pria tampan dengan kedua tangannya yang diborgol itu menoleh padanya. Pria itu bukan Erfrain. Xylona tidak mengenalinya.
"Kau siapa?" Tanya pria itu.
"Apa anda mengenalnya?" Tanya polisi pada Xylona.
Xylona menggeleng. Dia bertanya pada pria itu, "Kenapa kau membunuh kakakku?! Kenapa?! Kau bilang, kau hanya membunuh orang-orang yang bersalah, lalu kenapa kau membunuh kakaku! Dia polisi yang jujur! Kenapa kau membunuhnya?!"
Para polisi menghalangi tersangka dari amukan Xylona.
Dengan santai, pria itu menjawab, "Kakakmu? Yang mana? Aku sudah terlalu banyak membunuh polisi. Mungkin kakakmu adalah sebuah polisi yang korup."
"Jangan sembarangan!" Teriak Xylona.
Pria itu tertawa sarkas. "Kakakmu mengganggu proses eksekusi, jadi sekalian aku mengeksekusinya juga."
"Sialan! Bangsat, kau!"
Polisi menyeret Xylona keluar. Gadis itu mengusap air matanya kemudian memasuki mobil. Dia bingung harus kemana mencari Erfrain. Gadis itu menelepon bosnya.
"Xylona, kenapa kau pergi begitu saja tanpa meminta izin dariku?!"
"Maafkan aku, Bos. Aku ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Saudaraku masuk rumah sakit, dia mau melahirkan." Xylona berbohong.
"Saudara? Memangnya kau punya saudara?"
"Saudara sepupu, Bos."
"Baiklah kalau begitu."
"Tunggu, Bos! Jangan ditutup dulu. Saya ingin tahu, di mana Pak Erfrain tinggal?"
__ADS_1
"Mau apa? Kata Erfrain kemarin kau tidak ingin menemuinya."
"Ada barangnya yang ketinggalan, Bos."
Setelah merengek, akhirnya Xylona mendapatkan alamat Erfrain. Ternyata pria itu sudah lama tinggal di kota yang sama Xylona, hanya saja dia tidak segera mencari gadis itu.
Sesampainya di rumah Erfrain, Xylona menekan bel pintu. Tak lama kemudian, pintu dibuka. Erfrain yang muncul. Dia terkejut melihat keberadaan Xylona. Gadis itu memeluk Erfrain.
"Maafkan aku yang sudah menuduhmu." Xylona menangis dalam pelukan Erfrain.
Pria itu membalas pelukan Xylona. "Aku tidak membunuh kakakmu. Aku ingin menyangkalmu, tapi aku terlalu senang saat melihatmu, jadi aku tidak bisa mengatakan apa pun saat kau marah seperti itu."
Tangisan Xylona semakin kencang. "Maafkan aku... aku tidak peduli siapa dirimu. Aku akan tetap berteman denganmu, Rain."
Erfrain melepaskan pelukannya dan menatap Xylona. "Tapi, aku tidak mau menjadi temanmu lagi."
Xylona terluka mendengar itu. Dia menunduk dalam dan mencoba berhenti menangis.
Erfrain mengeluarkan kotak beludru merah kecil yang berisikan cincin indah. Dia membukanya dan memberikannya pada Xylona. "Aku tidak mau jadi temanmu. Aku mau menjadi pendamping hidupmu."
Erfrain memakaikan cincin itu di jari manis Xylona kemudian memeluknya lagi. "Aku mencintaimu, Xylona. Terima kasih atas ketulusanmu. Aku tahu, kau tulus padaku."
Lalu... siapakah pria yang tertangkap polisi dan mengaku sebagai pembunuh berantai?
** Flashback **
Edgar mengusap bahu Erfrain. "Aku akan melakukannya untukmu. Setelah aku mengaku kalau aku adalah pembunuhnya, Xylona akan menyesak telah menuduhmu. Dia pasti akan kembali padamu."
Erfrain menatap Edgar. "Apa kau yakin dengan idemu?"
"Aku bisa mengubah wujud atau membuat ilusi. Tenang saja, aku tidak bisa dibunuh manusia."
Erfrain menghela napas berat.
"Berhenti membunuh dan buatlah kehidupan yang bahagia bersama Xylona. Setelah masa hidupnya berakhir, kembali ke dunia
__ADS_1
drucless mari kita urus Athanasia bersama-sama."
Erfrain mengangguk.
** End Flashback **
Semuanya berlalu dengan cepat. Xylona dan Erfrain menikah. Mereka tinggal di luar negeri dan hidup bahagia. Mereka dikaruniai 3 orang anak. Dua orang putra dan satu orang putri.
Keduanya membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Erfrain harus menutupi dirinya yang tidak bisa bertambah tua. Pria itu harus menyamarkan wujudnya agar kelihatan tua.
Anak-anak tumbuh besar dan menikah. Mereka memiliki anak. Erfrain dan Xylona merasa senang, karena mereka memiliki cucu.
Xylona bertambah tua, karena Erfrain tidak memberikan tanda drucless padanya.
"Aku ingin berfoto dengamu." Xylona dan Erfrain memakai kacamata kemudian berpose di depan kamera. Meskipun sudah berumur, mereka masih terlihat romantis.
Hingga di hari itu, Xylona menghembuskan napas terakhirnya di kasur yang nyaman di samping Erfrain, suaminya.
Merasakan detak jantung istrinya yang hilang, Erfrain terbangun. Dia melihat istrinya sudah tak bernyawa.
Untuk pertama kalinya seumur hidup, Erfrain menangis. Kepergian Xylona membuatnya benar-benar seperti manusia seutuhnya. Rasa kehilangan yang sangat mendalam telah melukai hatinya.
"Maafkan aku yang hanya bisa membahagiakanmu semasa hidup. Seandainya aku memberikan tanda kepemilikanku sebagai drucless, hidupmu pasti akan lebih lama, tapi itu akan memberikan efek samping yang lebih buruk bagimu. Maafkan aku, Xylo. Aku mencintaimu."
Xylona dimakamkan di antara makan Drystan dan Kylo. Itu adalah permintaan terakhirnya.
Setelah dua tahun berlalu, Edgar mendatangi Erfrain dan membawanya kembali ke dunia drucless. Maka dari itu, Erfrain harus membunuh jati dirinya di dunia manusia. Kematiannya membuat anak-anak dan cucu-cucunya merasa kehilangan 2 kali.
Erfrain menangis untuk yang kedua kalinya.
"Ayo, kita kembali." Edgar menepuk bahu kakaknya.
Erfrain mengangguk.
👓👓👓
__ADS_1
23.49 | 23 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah