Hack Your Lover

Hack Your Lover
Patch 02 : Kasus Pertama


__ADS_3

Tubuh Anjani meringkuk di bathup yang dipenuhi dengan busa. Air yang mulanya siam-siam kuku, berubah hangat, lalu dingin. Aroma terapi begitu menyengat ketika mata Anjani terpejam. Handuk tipis yang basah menutupi kelopak matanya, katanya cara itu cocok untuk mengobati memar di kantong mata. Kulitnya yang putih bersih sangat terawat. Walau gaya Anjani seperti pria, namun ia cukup feminis disaat mandinya. Berbagai sabun berjajar di wastafel dan etalase.


Bisa dibilang, Anjani punya segalanya diusia yang baru menginjak 27 tahun. Ia lulusan Sarjana komputer di Universitas ternama. Lalu ia diam-diam mengambil beasiswa untuk gelar Master di Princeton University of New Jersey, lalu ia juga mendapat tawaran untuk menyempurnakan gelarnya sebagai Doctor of Philosophy (Ph.D) di Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang berlokasi di Charles River Basin, Cambridge. Namun Ia menolak karena setelah lulus ia harus bekerja di Silicon Valley, Teluk San Fransisco, California. Ia sebenarnya ingin, namun sifat penyendirinya memberatkan nyalinya untuk berkiprah di negeri orang.


Semasa sekolah menengah, Anjani adalah murid yang pintar dan yang paling pintar. Ia selalu menjadi juara kelas di segala bidang. Bahkan ia tergabung di tim basket wanita. Namun sayang, sifatnya yang ketus membuatnya sering diacuhkan oleh rekannya. Ia juga sering berdebat dengan pak Pram selaku pelatih tim basket. Kata pak Pram, Anjani tak cocok menjadi pemain basket, ia cocok bermain kasti. Namun Anjani membuktikannya, ia tak pernah melakukan lay-up atau melakukan dribel terlalu lama. Namun ia dapat melempar bola dari luar garis three points. Sungguh bakat yang tak terduga. Padahal Anjani hanya menghitung berapa energi yang harus dikeluarkan ketika ia melempar bola seberat 600 gram pada jarak tertentu. Lalu ia juga memperkirakan energi potensial yang membuat bola itu menukik tajam dan memasuki ring. Sungguh perhitungan yang matang diiringi dengan bakat yang jauh dari kata natural.


Dilain pihak, Anjani menyukai matematika dan sains. Menurutnya, menguras pikiran sungguh mengasyikkan dibanding harus berteman dengan seseorang yang selalu melukai perasaan. Di kelas, ia selalu menyendiri. Atau terkadang beberapa teman mencoba untuk menanyakan sesuatu, namun Anjani hanya memberikan clue atau kisi-kisi saja. Alhasil teman-temannya sangat kebingungan.


Dari urusan keluarga, Anjani tak pernah kekurangan. Ayahnya seorang kontraktor yang jarang dirumah. Ibunya adalah seorang dokter bedah yang juga sibuk menangani pasiennya. Kedua orangtuanya mengetahui semua kegiatan Anjani. Mereka tahu bahwa Anjani menyukai komputernya, sehingga tak masalah Anjani dibelikan sebuah apartemen mewah ditengah kota, agar Anjani leluasa dengan hobinya. Namun Anjani belum mengatakan bahwa ia membuka jasa penguntit pasangan yang sedang selingkuh ini. Mungkin nanti setelah semuanya berjalan. Anjani akan memberitahu kedua orangtuanya.


Tiittt!!! Tiittt!!! Tiiittt!!!


Suara alarm dari jam kedap air milik Anjani tiba-tiba berbunyi.


Anjani mengangkat wajahnya sehingga handuk yang menutupi matanya tercebur ke air busa. Ia bangkit dengan mata menyipit karena kontraksi kornea yang belum terbiasa dengan cahaya. Ia menyeka rambutnya yang bergaya Emo dengan panjang hanya menyentuh telinga.


"Oh, sudah saatnya!" Ungkap Anjani menatap jam tangan merk G-Shock keluaran tahun 1998.

__ADS_1


Ia bangkit dan menarik handuk, lalu melilitkan ditubuhnya. Handuk itu melilit seperti seorang wanita dengan buah dada yang tak bisa disebut besar. Dalam sekejap ia memakai Sport Bra yang menjadi idolanya. Ia mengenakan itu karena nyaman bergerak, namun bentuknya sangat tidak menggoda. Dandanannya tetap biasa, Anjani mengenakan Jaket Hoody berwarna hitam lengkap dengan celana dan sepatu sport. Tak lupa kacamata dan earphone untuk berkomunikasi. Kini ia terlihat seperti lelaki sempurna. Gaya berjalan hingga caranya melangkah memang seperti seorang lelaki. Lelaki yang pintar merawat dan otaknya karena kebanyakan seorang lelaki tak sepintar wanita dalam hal akademis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Allen Marrie Coffe Cup


Tempat itu tak jauh dari apartemen milik Anjani. Ia hanya cukup berjoging di kala senja untuk bertemu dengan pria yang akan menjadi kliennya tersebut. Ia tak tegang, atau grogi sedikitpun. Ia cukup menjelaskan, lalu membuat pria itu membayar sejumlah uang yang sudah ditarifkan. Anjani cukup pintar dalam bernegosiasi. Ia tak mungkin serta merta menyerahkan data kelakuan pasangan selingkuh tersebut. Ia ingin, sang klien yang menangkap basah pasangannya yang selingkuh itu. Sehingga butuh pemikiran dan investigasi yang membuat jantung Anjani berdebar.


Hari ini adalah Rabu. Senja telah berubah petang dan lampu kota mulai menyala gemerlapan. Anjani baru saja memasuki sebuah Cafe bernama Allen Marie Coffe Cup.


"Hai, bisa buatkan Caramel Macchiato segelas." Ungkap Anjani kepada seorang barista.


"Less Sugar please."


"Ok, mmnnnn,,, lady." Barista itu ragu dengan jenis kelamin Anjani. Namun teknik dasar mengetahui jenis kelamin seseorang adalah jakun. Ya,,, leher Anjani sangat jenjang dengan jakun tak terlihat. Ia merasa malu karena mungkin ia seorang wanita. Terkadang ia juga minder karena ia menjadi seorang wanita, namun lebih nyaman berpakaian pria.


"Kak!" Panggil Anjani kepada barista yang sibuk dengan mesin expresso-nya.

__ADS_1


"Ya," jawab sang Barista.


"Jika ada seorang pria, memesan pesanan yang sama denganku. Maka arahkan pria itu ke tempat dudukku." Anjani mencoba bekerjasama dengan sang Barista.


"Hah, gimana?" Barista itu kebingungan.


"Aku janjian dengan seseorang yang belum kukenal, aku memberinya petunjuk agar memesan pesanan Caramel Macchiato. Lalu, bisakah kakak memberitahu dimana tempatku duduk." Aku menjelaskannya secara rinci.


"Oh, ya, ya, aku mengerti." Ucap sang Barista karena itu cara yang cukup cerdik jika kita bertemu dengan seorang yang belum pernah bertemu sebelumnya. "Baiklah, aku akan memberitahu teman halusinasi-mu!"


"Hahahaha." Mereka berdua tertawa dengan keisengan masing-masing.


Anjani lalu duduk di meja ujung dekat jendela. Ia lebih suka disana karena pandangan saat menerawang keluar dari ruangan. Kebetulan Coffeshop tersebut berada di salah satu sisi perempatan jalan. Lalu ia membuka smartphone-nya dan mengirim pesan untuk kliennya.


[29/7 06.35] Hacker : Ingat, Allen Marrie Coffe Cup. Pukul 7 ini.


[29/7 06.36] Hendra : Aku tahu! Aku sedang menuju kesana. Kau pakai baju apa? Atau seperti apa dirimu?

__ADS_1


[29/7 06.36] Hacker : Cukup pesan Caramel Macchiato di kasir, maka seseorang akan memandumu.


__ADS_2