Hack Your Lover

Hack Your Lover
Patch 06 : Kasus Pertama 5


__ADS_3

Seketika setelah tangan Anjani menyentuh cairan itu. Tubuh Anjani memanas, memanas karena sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Wajahnya merona seiring dengan getiran tubuh yang tak biasa. Anjani tak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya. Getaran kakinya terasa berbeda disertai dengan tubuhnya yang menggigil.


"Auh,,, Erik." Ungkap Anjani memohon kepada Erik agar cairan bernama Linda itu berhenti menyentuhnya.


Tiba-tiba, Anjani terduduk dengan kedua lutut menekuk. Erik terkejut dengan tubuh Anjani yang melemas. Apakah ada yang salah dengan temuannya? Erik dengan cekatan mengambil kembali segumpal cairan yang melekat di telapak tangan Anjani.


"Linda sayang, ayo masuk lagi ke rumahmu. Jangan ganggu Anjani ya," ucap Erik memperlakukan temuannya layaknya seekor binatang peliharaan.


Cairan itu kembali lagi ke tangan Erik. Lalu dengan sangat hati-hati, Erik mengembalikan kembali ke tabung Reaksinya tersebut. Setelah menutup katup tabung. Erik memberikan Tissue dan meminta Anjani untuk mensterilkan tangannya.


"Cepat, cuci tanganmu Anjani!"


"Huaah,,, apa yang terjadi padaku." Keluh Anjani sembari bangkit dari lantai. Tubuhnya lemas hanya karena menyentuh cairan nano liquid buatan Erik. "Tubuhku, auhhh, lemas!"


"Ya, temuanku memang belum sempurna, aku masih harus memikirkan lebih banyak lagi!" Ucap Erik sembari menatap tajam ke arah Tabung Reaksi yang menyimpan cairan Liquida Nano Spermosida.


Anjani melangkah terhuyun ke arah wastafel di ujung ruangan. Ia seharusnya mengenakan sarung tangan, kenapa ia percaya begitu saja kepada Erik. Mungkin ia percaya karena cairan itu tak menyebabkan perubahan di dalam tubuh Erik. Anjani tak hanya mencuci tangannya, namun ia memasuki kamar mandi dan mencuci mukanya. Rasanya, energinya kembali walau hanya sedikit saja. Denyutan otaknya semakin berkurang karena basuhan air segar yang dapat memulihkan kesadarannya.


Diluar, ketika Anjani memasuki kamar mandi, Erik mulai berpikir. Ia memikirkan sesuatu yang janggal mengenai temuannya itu. Wajahnya yang tebal berubah serius. "Hmn, spermatozoa yang kuubah menjadi nanogamit berhasil membuat Linda hidup. Namun kenapa Anjani bersifat aneh ketika menyentuhnya." Erik menggumam sendiri memikirkan formula yang tepat untuk menyempurnakannya setiap temuannya. Erik mendengar suara pintu yang terbuka. Dari ujung ruangan itu, Erik mengangkat bahunya dan meninggalkan Linda-nya.


Tak lama, Anjani datang dengan kulit wajah setengah basah. Tetesan air masih membasahi ujung rambutnya lalu lengan jaketnya terkena cipratan. Dengan segera Anjani memakai kacamata sebagai ciri khasnya.

__ADS_1


Pikiran Anjani masih terhuyung karena kejadian barusan. Ia mencatat terdapat tiga henjutan yang membuat tubuhnya mengejang dan saraf otaknya melemah, detak jantungnya berdebar kencang sehingga melemahkan setiap organ yang terlewati oleh urat nadinya. Namun disaat itu, Anjani merasakan suatu hal yang janggal yang membuatnya ingin merasakannya lagi. Tetapi ia bukanlah anak sekolahan yang barusaja merasakan sepuntung rokok di jam istirahat. Ia tahu mana yang berguna atau tidak untuk tubuhnya.


Anjani melangkah terhuyung mendekati Erik yang sudah duduk di sebuah meja yang penuh dengan kertas catatan. Kertas-kertas itu berisikan formula-formula rumit yang sulit sekali dibaca selain oleh penulisnya sendiri. Wajah Anjani tetap tenang walau masih tertancap rona merah di sekeliling pipinya.


Disaat yang sama, Erik tengah duduk dan menyiapkan dua cangkir teh yang baru saja diseduh. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Erik sekenanya. Namun pandangan Erik berkata lain, ia seperti sedang merencanakan sesuatu.


Seketika, Anjani mencium aroma yang cukup menyengat. Entah, aroma dari ramuan kimia yang dibuat oleh Erik, atau entah darimana. Tak terasa, getaran syaraf diotak Anjani seperti berhenti berdenyut. Tingkat kecerdasannya menyurut drastis. Ia seperti berada di taman bunga yang indah dengan sengatan sinar matahari disertai angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Di tengah taman bunga itu, terdapat sebuah pohon apel yang cukup lebat buahnya, dan Anjani ingin sekali berlari kesana dan memetik buahnya.


"Apa yang kau rasakan tadi, ketika kau menyentuh LINDA?" Pertanyaan dari Erik seketika membuyarkan otak Anjani yang terbang melayang. Ia sendiri juga kebingungan dengan pertanyaan Erik. Sepertinya Erik menggunakan Lil'perfumes untuk mengorek keterangan dari Anjani.


"Mnnn,,, aku merasakan, mnnn,,, sesuatu melonjak dari tubuhku. Sepertinya, seseorang sedang menyentuhku dan aku merasakan sebuah kesenangan yang belum pernah kurasakan." Entah Anjani mengatakan hal itu dengan semburat senyum yang cukup membuat Erik tertawa. Erik tak pernah melihat gelagat Anjani yang se-feminim itu.


Lalu, Erik menanyakan hal yang lebih detail, "bisakah kau jelaskan lebih detail lagi!?"


"Baik! Cukup,,, aku sudah tahu!" Erik sudah menebak bahwa Anjani mengalami orgasme ketika menyentuh LINDA—makhluk ciptaan Erik memang terbuat dari spermatozoa yang telah dimodifikasi dengan nanogamit, sehingga LINDA dapat bergerak menentang hukum gravitasi. Tetapi itulah kelemahannya, spermatozoa merupakan sel tunggal dari terbentuknya ****** yang dikeluarkan oleh pria ketika ejakulasi. Tentu saja, reaksi terhadap wanita sungguhlah berbeda. Itulah kenapa? Anjani bertingkah aneh ketika menyentuh LINDA. Dan pasti Erik akan terus menyempurnakan ciptaannya sehingga dapat digunakan oleh siapapun.


"Satu pertanyaan lagi?" Ujar Erik menyeruput teh buatannya sendiri. Dan ia masih menyembunyikan teh milik Anjani. "Apa yang kau rencanakan sehingga kau ingin menggunakan Lil'perfumes? Kau tau, cairan berupa parfum ini dapat memaksa seseorang untuk mengatakan hal yang paling rahasia sekalipun!?"


"Yaahhh,,, aku punya rencana? Sekarang aku bekerja sebagai seorang detektif yang sedang mengintai pasangan-pasangan yang selingkuh. Tentu saja, aku membutuhkan cairan itu mengintrogasi semuanya." Anjani menjawabnya, walau ia masih dalam keadaan setengah sadar.


"Wow, pekerjaan yang menantang, namun aku tak ingin melakukannya?" Ujar Erik sembari menyodorkan teh hangat yang sudah ia bubuhi obat penangkal.

__ADS_1


Anjani dengan halus menyahut cangkir teh itu dan menyerutupnya. Lalu kesadarannya pulih seutuhnya.


"Hmn,,, apa ini?"


"Itu, Teh Bajakah." Jawab Erik.


"Bukan, mnnn,, tadi,,," Ucap Anjani kebingungan.


"Ini, satu semprot saja dapat membuka rahasia paling dalam dari seseorang. Lalu ini, serbuk penangkalnya. Jangan lupa, minumlah dulu sebelum menggunakan Lil'perfumes." Erik memberikan sebuah botol cairan berwarna ungu. Didalamnya terdapat sebuah cairan dengan gelembung yang aneh. Biasanya gelembung bergerak keatas, namun gelembung itu bergerak ke bawah. Anjani memandang takjub cairan itu.


"Baik, akan kukirim pembayarannya!" Ucap Anjani.


"Oh, tak usah. Aku sudah mendapatkan bayarannya." Erik mengatakan hal itu dengan maksud Anjani sudah menjadi kelinci percobaan hari ini. Ia sudah mencoba cairan LINDA kepada seorang wanita—dan hal itu setimpal dengan bayaran yang harus Erik terima.


"Hah," Anjani terheran.


"Tak apa, aku senang kau datang dan aku menunjukan LINDA kepadamu. Itulah ciptaanku yang paling hebat. Ya,,, mnnn,,, intinya aku sedang bahagia. Parfum itu gratis untukmu."


"Hah, benarkah."


"Ya, benar." Ucap Erik, "kau bisa pergi, aku ingin melanjutkan pekerjaanku."

__ADS_1


"Baiklah, bye."


__ADS_2