Hack Your Lover

Hack Your Lover
Patch 03 : Kasus Pertama 2


__ADS_3

...Hendrawan Sudarsono...


Pria dengan tampang elegan namun tetap sopan. Pria bertubuh 185cm itu menjadi penerus usaha keluarganya. Ya, keluarganya adalah pemilik perusahaan retail minimarket di negeri ini. Ia cukup piawai dalam mengatur segalanya, bahkan dari dandanan karyawannya pun ia atur sedemikian rupa. Wajah yang selalu serius tanpa pernah diiringi sebuah senyuman. Alisnya selalu menekuk memperlihatkan betapa serius kehidupan pribadinya. Dalam keseharian ia selalu berada di ruangannya, baik itu hari biasa, maupun hari libur. Ia selalu giat bekerja karena perintah orang tuanya.


Perusahaan ini akan menjadi milikmu, jangan sampai bangkrut atau terlantar, apalagi sampai dijual. Itulah pesan sang ayahanda sebelum sang ayah terkena penyakit stroke.


Kini, sungguh aneh jika seorang Hendrawan Sudarsono yang angkuh keluar dari ruang kerjanya dan mengemudi secepat mungkin untuk menemui seorang Hacker. Ia diteror, bukan diteror secara fisik, melainkan teror secara psikis. Ia curiga dengan pacarnya yang selingkuh diam-diam di belakangnya. Padahal Hendra sudah kenal Rina sejak masih di semester awal kuliahnya. Bahkan hampir semua kebutuhan Rina, Hendra-lah yang menanggungnya. Bayaran kuliah, makan, biaya kos dan lain sebagainya. Ia berharap Rina menjadi seorang istri yang mampu mendampingi Hendra pada suatu saat nanti. Namun insting Hendra berkata lain. Ia mencium aroma selingkuh di tengah perjalanan cintanya yang membosankan itu. Hendra sempat berpikir, bahwa ia terlalu sibuk, namun kesibukan itu hanya untuk masa depannya, dan juga masa depan Rina sendiri. Banyak waktu yang ia habiskan untuk bekerja seharian penuh. Seiring dengan waktu, hubungan Hendra dan Rina merenggang. Lalu pada malam itu, Hendra mencoba sebuah aplikasi yang menjerumuskannya pada perjuangan psikologi yang hampir hancur. Sang Hacker berkata bahwa pacarnya telah selingkuh. Apalagi sampai menunjukan bagian tubuh yang seharusnya dipertontonkan. Hendra menerima sebuah pesan singkat di aplikasi WhatsApp messenger, lalu membuang smartphone ke kursi samping kemudi mobilnya.


"Bangsat, minuman macam apa itu!?" Umpatnya sembari menginjak pedal gas agar mobilnya melaju lebih kencang.


Mobil Hendra terparkir di tepi jalan lalu ia melangkah terburu-buru ke kedai kopi di sisi jalan. Dengan wajah serius ia membuka pintu Coffeshop.


Clingggggg,,, suara lonceng yang terpasang di belakang pintu berbunyi. Coffe shop itu terlihat lengang dengan pencahayaan yang temaram. Hendra memutar pandangannya menatap beberapa orang yang duduk sembari memegang gadgetnya masing-masing. Di bangku tengah terdapat dua orang gadis yang sedang berbincang seru, Hendra tak yakin bahwa kedua gadis muda itu seorang Hacker. Lalu ia menatap seorang pria berumur dengan kepala botak dibagian depan. Pria itu sedang sibuk dengan laptop di depannya, Hendra yakin bahwa orang itu yang meretas smartphonenya dan smartphone pacarnya. Ia ingin melangkah ke arah pria itu, namun sang Barista menawarkan sesuatu.


"Selamat datang, mau pesan apa? Kami punya Caramel Macchiato yang manis." Kata sang Barista menawarkan segelas minuman coffemix kepada Hendra.


"Ah, itu dia. Aku mau pesan itu!" Ucap Hendra karena ia seharusnya ingat dengan instruksi sang Hacker.


"Baik, ditunggu." Sang Barista dengan cekatan mengoplos seduhan kopi dengan gula Caramel dan dicampur dengan es sehingga menghasilkan aroma yang menenangkan.


"Silahkan, anda bisa duduk di kursi paling ujung. Karena sudah ada yang menunggu Anda disana." Ucap sang Barista.


Dengan cepat Hendra memutar kepalanya. Lalu ia melihat seseorang dengan tudung hoody tertutup sedang duduk meringkuk dengan smartphone dan earphone di tangan dan telinganya. Seseorang yang sedang mendengar musik sepertinya, karena kepalanya memanggil mengikuti irama.


Hendra melangkah mendekati seseorang yang duduk di ujung ruangan. Ruangan itu lebih terang ruangan yang lain karena terletak tepat disamping jendela kaca yang memperlihatkan perempatan jalan besar. Lalu, Hendra duduk tepat di hadapan Anjani dan meletakkan segelas Caramel Macchiato, sama halnya dengan Anjani.

__ADS_1


"Apakah kau orang itu?" Ucap Hendra membuka pembicaraan.


"Ya, tentu saja." Kata Anjani singkat saja.


"Terus, bagaimana selanjutnya?" Ucap Hendra dengan bisikan serius.


"50 juta, apakah kamu masih menyimpan nomor rekeningku." Kata Anjani langsung ke pokok permasalahan.


"Haaah!!! Apa kau mau memerasku!" Hendra terlihat sangat geram dengan perkataan Anjani. Namun ia tetap mengontrol emosinya agar tak terjadi keributan. Ia melonggarkan dasinya agar nafasnya tak begitu mencekat. Susah rasanya dikelabuhi oleh pacar dan sekarang ia berhadapan dengan seseorang yang ingin mengelabuhinya lagi.


"Harga yang pantas untuk sebuah kebenaran, Mr. Broken Heart." Anjani berkata seraya melirik ke arah Hendra. Kacamatanya berkilau lalu memperlihatkan sepasang mata yang tajam dengan alis lurus dan melengkung di tepian.


"Tidak, itu terlalu mahal." Ujar Hendra menawar, ia merebahkan punggungnya di Sofa sembari mengusap rambutnya. Batinnya, apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tak menyangka pacarnya yang sudah ia pacar selama 4 tahun tega berbuat seperti itu.


"Hmn, baiklah. Keputusan ada ditanganmu. Aku seorang profesional, bahkan uang darimu nanti kugunakan untuk mengakomodasi investigasi ini. Aku akan setting semuanya secara nyata dan pada akhirnya engkau akan mengetahuinya sendiri." Ungkap Anjani meyakinkan Kliennya.


"Sekitar satu bulan." Ucap Anjani singkat.


"Lama sekali!!!" Lagi-lagi, Hendra menggerutu.


"Jika ingin cepat, engkau tinggal datang ke pacarmu, dan katakan putus dengannya, Mr. Broken Heart."


"Jangan panggil aku seperti itu!" Hendra merasa terhina. Namun ia tetap sabar, walau kini perasaannya terluka akibat pacarnya yang selingkuh. "Jika kukatakan sekarang, aku sangat rugi. Bayangkan, betapa besar pengorbananku padanya. Dan tega-teganya ia bermain di belakangku?"


Anjani menangkap sesuatu yang dikatakan Hendra. Ia adalah seorang yang perhitungan dalam bidang keuangan. Bisa dibilang, ia menjalin hubungan dengan Rina adalah sebuah investasi. Jika hal itu benar, maka Hendra adalah seorang pebisnis yang bodoh. Mendingan ia menyewa Pekerja **** Komersial ketimbang berpacaran dengan seseorang yang tak dapat dipercaya. "Itu urusan anda tuan. Namun semuanya akan kubantu jika persyaratan sudah kau penuhi. Kau seorang milyader. Uang 50 juta mungkin kecil untuk membuat seseorang merasa dipermalukan."

__ADS_1


"Haaaa,,, dipermalukan." Tanggap Hendra lebih serius dari sebelumnya.


"Ya, aku akan merencanakan suatu momen agar pacarmu malu dan merasa menyesal telah melakukan hal itu padamu." Kata Anjani sembari menyerutup Caramel Macchiato yang sudah terminum setengah.


"Semuanya, kau akan atur!" Ucap Hendra dengan penuh keseriusan.


"Ya, tentu saja. Bahkan nanti anda akan melihat keseharian dari mereka berdua. Lalu,,,"


"Baiklah, akan kupenuhi permintaanmu. Tapi aku minta pembayaran setengah dulu. Jika berhasil, aku akan membayar penuh." Hendra tetap menawar tarif dari Anjani walaupun ia sudah snagat tertarik.


"Mnnn, Bagaimana kalau tiga perempat? Aku butuh uang untuk mempersiapkan segalanya." Kata Anjani yang tak terpengaruh dengan tawaran Hendra.


"Baiklah, setuju." Hendra meraih ponselnya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Anjani. "Sudah kutransfer."


"Oke, senang bisa melayani anda, tuan pa,,, mnnn,,, muda." Anjani mengulurkan tangan tanda kerjasama mereka berjalan lancar.


"Kau tau pacarku. Namanya Mar..."


"Marina Kuswati, 27 tahun, bekerja di Galery Smartphone." Anjani menyela perkataan Hendra. Ya,,, Anjani sudah menyiapkan segalanya sebelum bertemu kliennya. "Ia pergi bekerja pukul 9 pagi dan pulang jam 9 malam. Waktu liburnya bervariasi tergantung dari jadwal dengan karyawan lain. Kalau tak salah, Minggu ini ia libur hari Selasa."


"Oh, kau tahu,,, semuanya." Ungkap Hendra terheran.


"Ya, aku seorang profesional." Ucap Anjani. "Kau pasti memperoleh hasil yang memuaskan."


"Baiklah, aku akan pergi."

__ADS_1


"Baik tuan, aku akan menghubungimu ketika semuanya siap."


__ADS_2