Hack Your Lover

Hack Your Lover
Patch 05 : Kasus Pertama 4


__ADS_3

Dibagian tengah gedung, terdapat sebuah pintu elevator yang usang. Besi-besinya sudah berkarat dengan beberapa ekor tikus berlarian ketika Anjani mendekat. Debu-debu hasil korosi dinding dan beton tersebar tak beraturan. Namun di tempat ini, terdapat seorang genius yang dapat mengubah dunia. Jika saja, Erik menyiarkan penemuannya ke pemerintahan. Mungkin negeri ini tak akan dianggap bodoh oleh Negera asing. Angkatan perang akan maju dan dapat menginvasi musuh dengan mudah. Tapi benar menurut Erik, ia tak ingin menjadi pemicu perang dunia ketiga.


Anjani menekan kode di sebuah layar touchscreen yang menyala ketika Anjani mendekat. Kombinasi sembilan titik yang terhubung jika disentuh. Tentu saja Anjani sudah mendapatkan sandi itu dari Erik, berbentuk segiempat dengan dua segitiga yang saling bertumpuk. Anjani menarik menggabungkan keempat titik itu, lalu suara getaran terdengar dari elevator usang itu. Suaranya menggelegar sehingga hampir menggetar seluruh isi gedung.


Greeekkkkkk!!! Pintu elevator terbuka dan Anjani memasuki ruangan berpagar terali kawat yang sudah karatan itu. Baunya sungguh menyengat dan banyak kotoran tikus di dalamnya.


"Hueeksss!!! Bagaimana bisa dia hidup di tempat ini!" Gerutu Anjani yang geram dengan tempat persembunyian Erik. Anjani menekan hidungnya agar aroma kotoran itu tak tercium. Lalu, Elevator itu bukan bergerak ke atas, namun kebawah. Anjani terhuyung ketika elevator itu bergerak tak wajar. Seperti sebuah sontakkan yang membuat siapa saja terjatuh.


Hanya turun setingkat ke Basement. Anjani sudah disambut oleh seseorang berbadan gemuk dengan kacamata paling tebal yang pernah dipakai oleh manusia normal. Lalu jas putih dan kusut ala ilmuwan yang sedang bekerja di laboratoriumnya. Bawah tanah di gedung itu tak seburuk di atas. Tempatnya bersih dengan dinding berlapir keramik sehingga membuat udara tetap dingin. Pendingin udara selalu menyala karena ruang bawah tanah hampir tak mempunyai ventilasi. Di tengah ruangan terdapat meja-meja panjang yang membentang hampir memenuh seluruh ruangan. Sehingga susunan meja-meja panjang itu membentuk lorong-lorong yang sempit dan membutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi jika melewatinya. Di atas meja-meja itu terdapat tabung-tabung yang tersambung dengan pipa kaca yang sangat rentan. Dan hampir seluruh tabung reaksi itu mengeluarkan uap. Uapnya berwarna putih dengan intensitas yang tinggi. Cairan-cairan itu juga bermacam warna, ada yang biru, merah, dan sudah pasti yang berbahaya adalah warna hijau. Seperti itulah yang selalu diceritakan di film-film actions. Cairan hijau berarti racun atau cairan pelebur yang mematikan.


Erik sendiri bukanlah sosok yang digambarkan sebagai seorang ilmuwan. Ia masih muda seumuran Anjani. Tubuhnya gemuk dengan kacamata tebal. Rambutnya keriting tak beraturan, dan wajahnya diliputi jerawat. Ia tak begitu mementingkan penampilannya, namun otaknya sangat pintar. Ia mampu menghafal unsur radioisotop tanpa kertas coretan. Lalu menghitung titrasi pengendapan asam yang dapat meledak dan membakar tubuhnya.


"Hmn, kau datang disaat yang tepat. Aku ingin menunjukan temuanku padamu!" Ucapnya dengan penuh semangat.


"Dan aku harus menyetir ugal-ugalan untuk datang kemari." Gerutu Anjani yang merasa dipermainkan oleh Erik.


"Oh, itu. Aku mengkhawatirkan sesuatu." Kata Erik sembari melangkah melewati meja-meja yang dipenuhi peralatan kimia berbahaya itu. Erik melenggang dengan santai, namun berbeda dengan Anjani yang memiringkan tubuhnya. Ia takut menyenggol tabung-tabung kaca yang rapuh itu. "Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang menghubungiku. Ia mengaku sebagai Aji, kau tau Aji."


"Hmn,,," Gumam Anjani menjawab Erik. Ia masih sibuk berkonsentrasi agar tak menyenggol bahan-bahan kimia yang mampu meledakan gedung tersebut.


"Aku mengenal suaranya, namun yang datang bukanlah dirinya." Ungkap Erik sambil berhenti dan menghadap ke sebuah chemical set yang terletak di meja.

__ADS_1


"Apa kau terlalu sering membaca detektif Conan?" Tanya Anjani yang tak percaya dengan adegan komik itu.


"Jarang, tapi mungkin mereka membuat alat seperti yang dibuat oleh Profesor Agata." Kata Erik.


"Ah, sudahlah. Berhentilah berbicara soal komik. Mereka itu siapa!?" Anjani mengeluh karena Erik terus menerus berbicara.


"Sssshhhh! Jangan keras-keras, nanti ia terbangun." Ungkap Erik sembari mengacungkan jari telunjuk ke bibir tebalnya.


Anjani dengan enggan memeriksa ciptaan Erik yang terbaru. Ia selalu menciptakan benda yang aneh-aneh dan berguna. Walau berguna, tetapi sangat berbahaya.


"Apa itu?"


"Kita coba buka?" Erik ingin menunjukan sesuatu kepada Anjani.


"Eh, tunggu dulu." Anjani mundur selangkah dan bersiap untuk melarikan diri jika cairan itu meledak atau melelehkan tubuh Erik. Ia tak ingin mati mengenaskan di tempat seperti ini.


"Tak apa!" Erik meraih tutup tabung reaksi dan mereka berdua menunggu apa yang akan terjadi. Cairan berwarna putih itu bergerak keatas mengikuti alur tabung reaksi dan mengintip membentuk sebuah cekungan ombak. "Oh, luar biasa, dia hidup seperti manusia."


Lalu Erik mengulurkan tangannya ke arah cairan lendir itu.


"Erik, jangan!" Teriak Anjani memperingatkan, walau Erik seorang kimiawan yang Jenius. Namun tak mungkin ia menyentuh cairan kimia dengan tangan kosong. Peringatan Anjani sepertinya tak mempan untuk menutupi rasa penasaran Erik terhadap ciptaannya.

__ADS_1


Erik mengulurkan tangannya dan cairan lendir itu menyentuh tangan Erik. Awal mulanya cairan yang hidup itu malu-malu menyentuh Erik.


Lalu, , ,


"Wow, luar biasa." Ucap Erik karena cairan itu seakan melompat ke tangannya. Seperti layaknya seekor binatang peliharaan yang merindukan tuannya. Dengan penuh kelembutan, Erik membelai cairan itu.


Anjani hanya tertegun menatap penemuan Erik yang aneh. Pikiran Anjani memperlihatkan sistem senyawa yang aneh dan tak masuk akal. Cairan itu menentang hukum fisika mengenai hukum gravitasi. Jika cairan senyawa itu memiliki Massa, sudah tentu cairan senyawa itu memilik massa jenis. Massa jenis setiap benda tentulah berbeda. Walau benda itu lebih ringan dari debu sekalipun, benda tersebut tak akan luput dari hukum Gravitasi. Debu memang dapat terbang, tetapi hal itu dikarenakan tiupan angin. Jika tak ada angin, maka debu tersebut akan terjatuh ke bawah. Temuan Erik sungguh berbeda. Cairan itu menggelembung ditangan Erik membentuk sebuah gelembung air di ruang hampa udara. Tak ada setetes pun dari cairan itu yang terjatuh ke lantai.


"Lihat, dia hidup!" Gumam Erik terkagum, namun Anjani tetap ketakutan dengan cairan itu. "Hai Linda, itu Anjani temanku." Erik memperkenalkan Anjani kepada Linda. Namun apakah Linda mengerti dengan perkataan Erik.


Anjani masih terdiam, ia tak sanggup melakukan apapun. Di satu sisi, ia ingin menjauh. Namun disisi lain ia penasaran dengan cairan berwarna putih tersebut.


"Kau ingin memegangnya?" Ungkap Erik.


"Mnnn," Anjani menggumam.


"Tak apa, berikan tanganmu Anjani." Pinta Erik.


Anjani yang penasaran mulai mengulurkan tangannya.


Lalu, , ,

__ADS_1


__ADS_2