Hack Your Lover

Hack Your Lover
Patch 07 : Kasus Pertama 6


__ADS_3

Ting,,, tong,,, suara bel dari apartemen milik Anjani berbunyi.


"Hmn, pesananku sudah datang rasanya." Gumam Anjani sembari meletakan cup mie instan-nya. Perlahan Anjani mengintip dari sebuah lubang kecil di pintu apartemennya. Lalu seorang pria berjaket ojek online tengah berdiri membawa sebuah kotak.


"Dengan mbak Anjani," ucap pengemudi ojek online tersebut.


"Ya,,, pak."


"Ini pesanannya." Ucap pengemudi ojek online itu dengan sopan.


Lalu Anjani menyodorkan uang dan menerima paketnya. Setelah itu Anjani menutup kembali kamarnya. Dengan cekatan ia membuka kotak yang entah berisi apa—ternyata kotak itu berisi sebuah pakaian. Ya,,, pakaian seragam berwarna kuning kehijauan layaknya seragam dari Aparatur sipil negara. Sepertinya Anjani sudah merencanakan semuanya dengan matang. Lalu, Anjani menghamparkan seragamnya dan bersiap untuk mencobanya.


"Hmn,,, aku harus melakukannya sugar, menyamar dan mengorek keterangan dari kedua sisi, itu yang biasa dilakukan oleh seorang detektif." Ucap Anjani kepada kucing kesayangannya. Namun Sugar si kucing hanya dapat menjilati bulu-bulunya saja.


Anjani melucuti semua pakaiannya dan menyisakan pakaian dalamnya saja. Lalu Ia mencoba seragam dinas itu satu persatu. Pertama ia kelihatan lucu, namun ia harus memoles penampilannya lagi.


"Haaaahhhh!!! Memang susah menjadi seorang wanita. Aku harus bermake-up dan mengenakan high heels!" Gerutu Anjani mengomentari kodratnya.


Dalam sekejap Anjani memakai sepatu high heels yang dibelinya kemarin. Lalu satu lagi yang terlupa, "wanita dewasa tak mengenakan kacamata seperti ini." Kacamata minus milik Anjani memang tebal. Lalu ia memilih beberapa koleksi kacamatanya. Ia butuh sesuatu yang lebih elegan—dan Anjani selalu menyiapkan hal itu. Sebuah kacamata berwarna kuning emas dengan frame tipis membuatnya lebih terlihat seperti seorang wanita. "Bagaimana Sugar, apakah aku harus meminyaki rambutku?" Ucap Anjani—Sugar tetap asyik dengan bulu-bulunya. "Besok adalah hari penentuannya."


$$$$


Hari sudah menunjukan pukul 09:00 dan Anjani sudah berada di lokasi pengintaian. Menurut data yang diperolehnya, sang target akan pergi bekerja menggunakan ojek online sebentar lagi. Setelah mengintai cukup lama, akhirnya seorang ojek online tengah memasuki sebuah lorong ditempat dimana targetnya tinggal. Tak lama, sebuah motor keluar dari lorong dengan Rina berada di boncengan motor ojek online tersebut. Anjani tak begitu memperhatikan pergerakan mereka berdua, namun sebuah kejanggalan tentu terjadi.

__ADS_1


"Saatnya beraksi!" Gumam Anjani sembari meminum segelas air mineral yang sudah dibubuhi penawar dari Lil'perfumes. Hal itu ia lakukan agar ia tetap sadar ketika mencium aroma Lil'perfumes. Dengan penuh percaya diri, Anjani melangkah memasuki lorong tersebut. Sepatu high heels-nya berderup dan kecantikannya mengubah pandangan setiap orang. Bahkan, bapak-bapak sampai melongo melihat Anjani yang memasuki sebuah lorong sempit yang terkesan kumuh. Mereka pasti mengira Anjani adalah seorang calon anggota legislatif yang menginginkan suara ketika pemilu.


Lalu, seseorang menyapa Anjani. "Mau kemana mbak?"


"Oh, saya dari Dinas Kesehatan. Saya ingin kerumah ibu Sumirah. Dimana ya rumahnya?" Ucap Anjani basa-basi.


"Ooohhh,,, kirain mau ngasih bantuan dana sosial. Disebelah sana mbak, belok kiri rumah kedua sebelah kanan." Ucap seorang ibu-ibu yang ramah tersebut.


"Terimakasih Bu," ucap Anjani. Di persimpangan itu, Anjani melihat banyak pemuda yang masih dibawah umur sedang merokok dan berkumpul. Bahkan beberapa diantaranya mereka menggunakan lem untuk membuat dirinya teler. Anjani merasa risih karena mata-mata nakal mereka, namun ia tetap melenggang tanpa sedikitpun mendapat gangguan fisik dari berandalan tersebut.


"Permisi Bu," Anjani mengetuk pintu rumah target. Lalu ia disambut oleh seorang wanita setengah baya. Sejenak Anjani memperhatikan sosok wanita tersebut. Diketahui ia adalah ibunda dari Rina. Perawakan gemuk dengan raut wajah sudah dipenuhi keriput, rambutnya sudah beruban dan kelihatan ramah.


"Hmn, saya dari Dinas Kesehatan. Boleh minta waktunya sebentar." Ucap Anjani dengan bahasa formal agar penyamarannya terlihat sempurna.


"Oh, ya nak. Silahkan masuk." Ucap Bu Sumirah mempersilahkan Anjani untuk masuk kerumahnya. Dalam sekejap, Anjani menyemprotkan Lil"perfumes ke lengannya. Sekejap aroma bunga lavender tercium disegala penjuru ruangan. Ketika Anjani duduk di ruang tamu rumah Bu Sumirah. Ia melihat perubahan dalam diri Bu Sumirah.


Kelihatannya sudah mulai bereaksi, batin Anjani berkata. Tanpa menunggu terlalu lama—Anjani memulai aksinya, "apakah anda ibu dari Rina, Marina Kuswati?"


"Iya benar." Bu Sumirah menjawab dengan nada datar.


"Apakah anda tahu kehidupan Rina? Terutama dengan teman pria-nya?" Anjani langsung ke inti permasalahan, karena basa-basi memang tak memungkinkan di perkampungan sempit ini.


"Aku sudah memperingatkannya!" Perkataan Bu Sumirah membuat teka-teki cinta segitiga ini semakin seru. Anjani menjadi semakin tertantang dengan cerita selanjutnya.

__ADS_1


"Putriku hanya tertarik dengan Fandi, ia seorang ojek online. Namun sepertinya, Fandi enggan untuk menikahi putriku karena biaya. Sehingga,,," Perkataan Bu Sumirah terpotong.


"Sehingga apa Bu?" Anjani menegaskan. Anjani khawatir efek dari Lil'perfumes berhenti bekerja. Ia sudah diberi penjelasan oleh Erik bahwa efek Lil'perfumes berada di alam bawah sadar. Seperti layaknya seseorang yang sedang mengalami delusi, setelah ini terjadi target tak akan mengingat apa yang telah terjadi. Dan delusi itu hanya akan berhenti ketika target meminum penangkal dari Erik, atau menunggu satu jam agar efek ramuannya mereda.


"Putriku sering mempermainkan pria, ia sering gonta-ganti pasangan. Namun aku heran dengan Fandi, ia tetap setia pada putriku. Bahkan sesekali Fandi kemari, katanya ia barusaja mengantar Rina ketemu pacar barunya. Alangkah bodohnya Fandi itu? Atau putriku yang tak punya otak." Bu Sumirah menceritakan hal itu dengan tenang. Anjani semakin berpikir bahwa Hendra melakukan hal yang tepat karena telah menggunakan jasanya. Dengan begini posisi Hendra masih berada jauh di atas Rina—jika dilihat dari tingkat kesalahan.


"Oh, begitu, apakah ibu mengenal Hendra?"


"Ya, Rina mengatakan padaku bahwa ia sedang berpacaran dengan pria kaya raya. Bahkan Rina mendapatkan uang bulanan dari Hendra. Selebihnya aku tak mengetahuinya?" Kata Bu Sumirah.


"Apakah Hendra pernah kemari?"


"Pernah, tetapi ya,,, namanya orang kaya, pasti kelihatan risih jika memasuki tempat ini." Ucap Bu Sumirah. "Bahkan aku mendengar kalau kami disuruh pindah di rumahnya. Hendra punya satu rumah yang tidak dihuni dan kami disuruh pindah kesana."


"Apakah ibu mau pindah kesana?"


"Ya,,, tetapi setelah mereka berdua menikah. Kalau belum menikahkan? Kalau putus nanti kami diusir dari rumah itu."


Memang masuk diakal alasan Bu Sumirah. Hendra sudah berusaha menjadi baik di hadapan Rina dan keluarganya. Tetapi kenapa Rina melakukan hal memalukan tersebut. Mungkin Rina hanya ingin harta dari Hendra? Atau Rina dan Fandi sedang mengincar sesuatu dari Hendra. Hal tersebut membuat Anjani semakin tertantang untuk membongkar semuanya.


"Baik, satu hal lagi." Anjani ingin segera pergi dan menemukan petunjuk lain. "Jika ibu memilih? Setuju sama Hendra apa Fandi?"


"Yaah,,, susah sekali. Hendra kaya raya, tetapi ia kelihatan angkuh, kalau Fandi itu setia. Ibu tak bisa nentuin. Terserah Rina saja." Kata Bu Sumirah.

__ADS_1


Sejenak Anjani berpikir bahwa ada sedikit kejanggalan dalam kasus ini. Ia berpikir bahwa sang ibu tidak pernah memaksa sang anak untuk memilih Hendra atau Fandi sebagai calon pendamping Rina. Jika orang normal berpikir, sudah pasti Hendra jauh lebih unggul ketimbang Fandi. Tetapi kenapa Rina lebih menginginkan Fandi ketimbang Hendra. Di dalam mobilnya, Anjani membuka laptopnya.


"Mnnn,,, apakah itu yang namanya Cinta."


__ADS_2