
Malam itu, Anjani berdiam didepan komputer kesayangannya ditemani Sugar dan semangkuk Mie Instant yang hampir setiap hari disantapnya. Cukup sulit meretas aplikasi Ojek Online yang sudah dilengkapi Anti-Malware yang terkemuka. Anjani hanya ingin sedikit merubah tampilan dengan memasukan sedikit Malware ke aplikasi Fandi, guna memancingnya untuk berduaan dengan Rina.
Dalam kesibukannya, smartphone Anjani berbunyi pertanda terdapat pesan yang masuk. Ternyata dari Hendra yang ingin menanyakan prosesnya.
[Bagaimana selanjutnya, apakah kamu melakukan pekerjaanmu!] ✓
Sejenak Anjani mengirim bukti beberapa foto yang menggambarkan Rina sedang menaiki Ojek Online, tetapi yang sebenarnya adalah Fandi itu sendiri yang menyamar. Lalu sebuah video rekaman Ibunda Rina yang sedang dibius oleh Anjani tadi siang.
[Astaga, bagaimana caramu melakukan itu?]✓
Lalu Anjani membalas, [Hipnotis.]✓
Hendra menjawab lagi, [Hari ini, ia mencoba menelponku, namun tak kuhiraukan. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku tinggal menunggu waktu agar bisa mempermalukannya.]✓
[Baik, Mr. Broken Heart, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku]✓
Berakhirnya percakapan Anjani dengan Hendra, berakhirlah pula Malware buatan Anjani memasuki server Aplikasi Ojek Online yang cukup rumit. Anjani berhasil memberikan Voucher menginap di hotel berbintang untuk memastikan mereka berdua mau menginap disana. Setelah itu, Anjani membuka arsip data percakapan pribadi antara Fandi dan Rina. Yang benar saja, mereka berdua melakukan hal yang tak masuk akal. Mulai dari ChatSs3k, hingga bertukar foto vulgar. Semuanya tergambar jelas di layar komputer milik Anjani.
"Bagaimana menurutmu Sugar!?" Gumam Anjani.
Meooowwww! Jawab Sugar.
"Sepertinya Rina lebih tertarik dengan benda tumpul ini ketimbang tumpukan uang." Ujar Anjani seraya menatap batang kejantanan milik Fandi yang sudah mengeras. Dalam hatinya, apa menariknya benda seperti ini. Dalam kenyataannya, Anjani tetaplah makhluk biologis yang seharusnya tertarik dengan hal-hal seperti itu. Mungkin ia belum terbiasa saja dengan hal seperti itu.
Pagi itu, Anjani terbangun dengan terburu dan langsung membuka komputernya. Voucer diskon yang ia kirimkan ke Aplikasi Ojek Online Fandi telah direspon. Fandi melakukan klaim voucher diskon itu. "Hmn,,, umpanku berhasil." Gumam Anjani sembari menengok Sugar yang masih meringkuk di bantalnya.
"Aku harus segera memasang kamera pengintai." Ucap Anjani dalam hati.
Menyamar, adalah sesuatu yang disukai oleh Anjani. Terkadang ia cukup lihai dengan penyamarannya, bahkan terkadang ia juga tak sanggup menyembunyikan suaranya yang masih terdengar feminim. Anjani bergegas ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Tak lupa ia memasang Sport Bra untuk menutup Buah dadanya karena kali ini ia akan menyamar sebagai tukang reparasi AC yang dipesan oleh bos pemilik Hotel. Tak lupa ia membawa beberapa berkas dan tanda tangan 'aspal' milik bos hotel. Mobilnya ia parkir jauh-jauh agar tak ketahuan. Anjani mengenakan wearpack biru dengan topi untuk menutupi wajahnya, tak lupa ia mengenakan softlens agar ia dapat melihat tanpa kacamata.
"Permisi, servis ACPlus." Ucap Anjani ketika sudah berada di lobi.
"Oh, ya, ada apa pak?" Sang kasir menyapa. Ternyata Anjani sudah seperti pria tulen yang bekerja di sebuah perusahaan servis AC.
"Ini, saya dapat order untuk membersihkan kamar 315." Ujarnya seraya memberikan berkas.
"Sebentar ya," ucap sang kasir sembari mengangkat gagang telpon. Oh, tidak sepertinya kasir itu ingin menelpon bosnya.
Namun,
Bukan Anjani jika semua tak dipersiapkan dengan baik. Ia sudah meretas ponsel bos pemilik hotel, sehingga jika telpon di kasir itu menelpon, akan terhubung ke jaringan komputer Anjani yang sudah terhubung dengan mesin pengubah suara.
Dengan lancarnya, kasir berbicara dengan bos pemilik hotel yang sebenarnya adalah suara Artificial Inteligence dari komputer milik Anjani. Lalu sang Kasir menutup telepon dan tersenyum ke arah Anjani.
Anjani diantar petugas hotel untuk memasuki salah satu kamar hotel. Penampilannya yang seperti pria membuat siapa saja tak menyangka bahwa ia adalah seorang pria. Sebuah kasur springbed ukuran Kingsize dan sebuah televisi layar datar berukuran besar membuat dugaan tak pernah meleset.
__ADS_1
Petugas itu pergi setelah mengantar Anjani. Lalu ia memulai aksinya. Anjani memasang kamera tersembunyi dan sebuah inverter micro di sana. Lalu sebuah microphone yang disimpan di kolong ranjang. Tak membutuhkan waktu lama ketika ia membuka komputer Tab-nya untuk mencoba fungsi suara dan kamera. Semua berjalan lancar, Anjani berpura-pura merangkak keatas lalu membuka mesin Air Conditioner yang tak bermasalah sedikitpun. Lalu ia menunggu sejenak untuk melakukan peregangan.
[Semua sudah siap, Mr. Broken Heart]✓ Anjani mengirimkan pesan ke Hendra, klien pertamanya.
[Haa,,, kapan! Dimana! Bisakah Aku kesana sekarang]✓ Hendra tak sabar ingin menangkap basah pacar yang telah menyelingkuhinya selama ini.
[Besok, jam dua belas siang. Hotel Romanov Kamar nomor 315.]✓ Balas Anjani.
[Ok]✓ Ia menjawab.
Anjani tak menyangka bahwa Fandi dan Rina telah mengambil voucer menginap itu dengan cepat. Anjani terkekeh geli ketika ia meretas percakapan itu. Percakapan yang membuatnya ngilu seluruh badan. Bahkan Fandi sengaja membeli sepotong baju dinas malam dari pasar. Tentu saja harganya murah dan panas ketika dipakai. "Jangan lupa bawa K0ndom!" Celetuk Anjani membaca Chat itu.
Meooowww! Desis Sugar si kucing yang melompat ke pangkuan Anjani.
"Ini akan menjadi adegan yang seru Sugar!" Ucap Anjani seraya mengusap bulu-bulu halusnya. Eh, kucingnya.
Pagi itu, semua sudah siap. Anjani memulai misinya dengan memasuki kamar hotel yang sudah disewanya. Kebetulan, hotel dengan gedung pencakar tinggi itu bersebelahan. Tak lupa, ia menyiapkan teropong untuk menyaksikan adegan panas itu secara langsung. Namun jika mereka menutup jendela, Anjani dapat menontonnya dari Laptop yang terhubung dengan kamera.
Kemudian, tepat pukul 12 siang. Hendra menerjang memasuki hotel. Ia langsung menuju lift dan menaiki lantai ketiga. Jantungnya berdegub kencang ketika ia mencari nomor-nomor yang terpasang di kamar hotel tersebut. Lalu, ia mengetuknya. Baru satu ketukan, ia memegang handle pintu itu. Seketika kamar terbuka dengan sendirinya.
"Huaaahhhh,,," jerit Anjani terkejut ketika Hendra sudah berada diambang pintu. Anjani segera menarik jaketnya, karena saat itu ia hanya mengenakan Tanktopnya saja. "Oh, kamu. Kenapa kamu nggak ketuk dulu."
"Dimana dia!?" Ungkap Hendra kebingungan. Karena hanya ada Anjani disana. "Kau bohong padaku ya?"
Seketika Hendra terpaku ketika melihat Mira mengenakan lingerie berbahan satin yang cukup seksi. Belum lagi, Fandi keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk saja.
"Dimana, dimana mereka!" Hendra ingin keluar dari kamar namun Anjani melarangnya.
"Tidak, kamu bisa bicara disini!" Anjani meminta Hendra duduk di depan Laptop dan memulai aksinya.
"Ok, the Hacking Begin." Anjani menekan tombol enter di laptopnya.
Lalu,
Seketika televisi di kamar Mira dan Fandi menyala dan menampilkan wajah Hendra disana.
"Kau bisa berbicara pada mereka!" Ungkap Anjani.
"Mira! Apa yang kau lakukan!" Seru Hendra, lalu menatap kembali ke arah Anjani, "apa mereka mendengarku!"
"Iya, microphonenya sudah terhubung."
Seketika Mira dan Fandi terkejut melihat televisi yang menampilkan Hendra sedang duduk disana.
"Tega-teganya kamu melakukan itu padaku!" Umpat Hendra yang sudah hancur.
__ADS_1
"Hendra, kamu!"
"Ya, aku mendengarmu. Selama ini aku diam saja dan menguntit perbuatan bejat kalian!"
"Sayang, bisa aku jelaskan!"
"Tidak perlu, aku bekerja siang malam untuk kehidupan kita di masa depan. Tapi kamu malah main gila dengannya!"
Mira menunduk lesu tak sanggup melihat televisi. Lalu, Fandi mencoba untuk keluar kamar. Namun Anjani sudah mengatur semuanya. Kunci hotel itu sudah diretas, sehingga mereka tidak bisa keluar begitu saja.
"Hei nggak usah diladeni. Ini jebakan!" Ungkap Fandi yang menelpon pegawai hotel dengan telpon disana. "Halo!"
"Ya Halo," Anjani mengangkat telponnya. "Bisakah kamu buka kamarnya, pintunya terkunci."
"Hihihi,,, "Anjani terkekeh. "Tunggu sampai Hendra selesei berbicara, baru pintu akan terbuka."
"Sial!" Umpat Fandi. Tak ada yang bisa mereka lakukan sekarang selain menatap Hendra yang geram di tv kamarnya.
"Mira! Bisakah kau jelaskan, apa kamu hanya mengincar uangku saja!"
Mira menatap layar televisi. "Uang! Bukankah kamu sibuk mencari uang. Aku memang butuh uang, tapi tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Selama ini aku selalu mengajakmu jalan, mengajak ketemuan. Tapi kamu selalu disibukan dengan uang. Kalau hanya uang, aku bisa mencarinya sendiri. Yang kubutuhkan hanya kamu di sisiku, tapi kau selalu mengelak dengan alasan sibuk mencari uang."
Seketika keadaan berbalik. "Ups," gumam Anjani mendengar pengakuan dari Mira.
"Tapi kehidupan harus ditopang dengan uang."
"Tapi tidak semua bisa dibeli dengan uang!" Ungkapan Mira seakan menjadikan Hendra cupu.
"Mulai sekarang, menikahlah dengan uangmu, dan jangan pernah mengganggu aku lagi!" Seketika, Mira mengambil vas bunga disamping tempat tidurnya dan melemparkannya ke televisi layar datar itu hingga layarnya pecah seribu.
Mendadak, layar dilaptop Anjani berubah menghitam seiring dengan isak tangis Hendra yang tak terbendung lagi. Hatinya hancur karena selama ini perjuangannya sia-sia. Wajahnya tertunduk dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
"Mnnn,,," Anjani ingin menenangkannya. Namun Hendra memberinya sebuah amplop sisa uang pembayarannya. Hendra tak mampu berkata lagi, hanya satu yang dia ucapkan. "Terima kasih." Lalu ia keluar dari kamar Anjani.
"Ceritanya sungguh seru, Sugar!" Ungkap Anjani ketika barusaja memasuki apartemennya. Meeoooowww,, jawab kucing itu.
"Tapi sayang, Hendra terlalu terburu-buru. Coba lebih lama lagi, kita bisa melihat adegan panas antara Mira dan Fandi."
Meooowww,,,
Lalu,,, smartphone Anjani berderit. "Lho, siapa ini yang menelpon."
"Hei, bisakah kau buka pintunya!"
"Oh, aku lupa. Maaf!"
__ADS_1