
Setelah kehilangan Aldi, Hakim melanjutkan perjalanannya seorang diri dengan perasaan yang berat. Dia merasa ditinggalkan oleh teman terbaiknya, tetapi tekadnya untuk melawan kegelapan tidak pernah pudar. Namun, cobaan baru telah menanti di depan.
Saat Hakim mencapai sebuah desa, dia mendapati dirinya dikelilingi oleh pasukan tentara Bugis yang dipimpin oleh Kapten Kesatria Arjun, orang yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Dalam sekejap, Hakim terkepung oleh musuh.
"Jadi ini kau, Hakim. Kita telah lama menantimu," ujar Arjun dengan nada sombong.
Hakim menyadari bahwa situasinya sulit. Dia tidak ingin menyakiti manusia, tetapi dia juga tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan pertimbangan cepat, dia membuat keputusan untuk melarikan diri.
Dengan gerakan yang lincah, Hakim melompat ke udara dan melesat menjauh dari pasukan Bugis. Dia berlari dengan kecepatan yang luar biasa, melewati hutan dan lembah, mencari tempat persembunyian yang aman.
Pasukan Bugis segera mengejar dengan semangat. Mereka tahu bahwa Hakim adalah ancaman dan harus dihentikan. Pertempuran berlanjut dalam perburuan yang intens di tengah hutan yang lebat.
Namun, Hakim memiliki keunggulan dalam kecepatan dan keahliannya dalam bergerak di alam liar. Dia melompati pohon-pohon dan bebatuan, terus bergerak tanpa henti. Meskipun terkejar, dia dengan bijak menghindari serangan-serangan pasukan Bugis tanpa harus menyakiti mereka.
__ADS_1
Pengejaran berlanjut selama berhari-hari, dan Hakim terus berusaha menjauhkan diri dari pasukan Bugis. Dia menyadari bahwa dia mungkin tidak bisa melarikan diri selamanya, tetapi dia tidak ingin menyerah begitu saja.
Setelah beberapa waktu, Hakim melihat sebuah gua yang tersembunyi di tengah hutan. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam gua tersebut untuk bersembunyi dan mencari waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanannya.
Hakim melintasi pintu gua dan memasuki kedalamannya. Dia merasa aman di sana, setidaknya untuk sementara waktu. Dia duduk di dalam gua, menangis dalam kesedihan atas kehilangan Aldi dan dalam perjuangan yang terus berlanjut.
Namun, saat dia merenung, dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia segera berdiri tegak, siap untuk berhadapan dengan siapa pun yang datang.
Ternyata, yang datang adalah seorang wanita muda bersenjatakan busur dan panah. Dia mengenakan pakaian yang tampak seperti pakaian petualang dan memancarkan aura yang kuat dan percaya diri.
Wanita muda itu tersenyum. "Namaku Rena. Aku melihatmu dalam perburuan dengan pasukan Bugis. Aku tidak yakin apa yang terjadi, tetapi aku bisa merasakan kebaikan dalam dirimu."
Hakim merasa terkejut dan terharu oleh kata-kata Rena. Dia merasa ada seseorang yang bisa melihat melewati permukaannya dan mengenali kebaikan dalam dirinya.
__ADS_1
"Kau tahu, ada tempat yang aman di gua ini. Pasukan Bugis tidak tahu tentang tempat ini. Kau bisa bersembunyi di sini untuk sementara waktu," kata Rena dengan ramah.
Hakim merasa bersyukur atas pertolongan Rena. Dia merasa ada harapan baru dalam perjuangannya, dan dia merasa memiliki sekutu yang bisa diandalkan.
Namun, saat mereka berbicara, suara langkah kaki yang lebih besar terdengar mendekat. Pasukan Bugis telah menemukan gua tersebut, dan mereka berusaha masuk.
"Kau tidak bisa bersembunyi selamanya, Hakim!" teriak Arjun dari luar gua.
Hakim merasa panik, tetapi Rena dengan cepat bergerak. Dia mengarahkan panah-panahnya ke pintu gua dan dengan lihai menghalangi pasukan Bugis yang mencoba masuk.
"Kita harus keluar dari sini sebelum mereka berhasil masuk!" ucap Rena sambil memberikan tanda kepada Hakim.
Hakim dan Rena segera berlari ke dalam gua, mencari jalan keluar lain. Mereka mengikuti lorong-lorong yang tersembunyi dan akhirnya keluar dari gua melalui pintu belakang.
__ADS_1
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dengan pasukan Bugis tetap mengejar. Hakim merasa bersyukur karena telah bertemu dengan Rena, sekutu yang tangguh dan berani. Meskipun perjalanan mereka penuh dengan tantangan, dia merasa yakin bahwa mereka bisa menghadapinya bersama-sama.
Hakim dan Rena kemudian berusaha melarikan diri dari kejaran pasukan Bugis. Dengan tekad yang kuat dan bantuan dari sekutu baru, mereka bersiap untuk menghadapi segala rintangan yang ada di depan.