Hakim Chaos Struggle

Hakim Chaos Struggle
Bab 18 Pertempuran Tiga Arah


__ADS_3

Hakim dan Rena melarikan diri dengan cepat dari gua tersebut, tetapi mereka tahu bahwa pasukan Bugis tidak akan berhenti mengejar mereka. Mereka berlari melewati hutan yang lebat, berusaha mencari tempat persembunyian baru.


Namun, tiba-tiba, mereka berdua dihadang oleh pasukan lain yang muncul dari arah berlawanan. Pasukan tersebut mengenakan pakaian hitam dan memancarkan aura kegelapan yang kuat. Mereka adalah pasukan Darkness yang telah menguntit Hakim dan Rena.


"Pergilah!" kata Hakim kepada Rena dengan suara serak. "Aku akan menghadapi pasukan ini!"


Rena mengangguk dengan tekad. Dia tahu bahwa Hakim memiliki kekuatan yang luar biasa dan mungkin satu-satunya harapan mereka untuk mengalahkan pasukan Darkness ini.


Hakim mengeluarkan Pedang Saint-nya dan bersiap untuk bertarung. Pasukan Darkness mendekat dengan tatapan penuh kebencian dan niat jahat.


"Pertama-tama, aku harus menjaga Rena tetap aman," pikir Hakim sambil memusatkan perhatiannya pada pertarungan yang akan datang.


Pertempuran dimulai dengan serangan-serangan energi dari pasukan Darkness. Hakim menghindari serangan-serangan tersebut dengan gerakan yang cepat dan lincah, sementara dia juga berusaha melindungi Rena yang berdiri di belakangnya.


Dia melawan dengan gigih, menggunakan Pedang Saint-nya untuk menghalau setiap serangan yang datang. Dia menciptakan gelombang cahaya yang terang untuk membalas serangan-serangan energi pasukan Darkness, menciptakan pertempuran yang spektakuler di tengah hutan.


Namun, jumlah pasukan Darkness terus bertambah. Hakim merasa semakin terdesak dan kekuatannya mulai mereda karena pertarungan yang sengit ini.


Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar di langit. Mereka berdua melihat ke atas dan terkejut oleh pemandangan yang menakjubkan. Pasukan Bugis, yang masih mengejar mereka, telah tiba dan menghadapi pasukan Darkness dengan tekad yang kuat.


Pertempuran berubah menjadi pertempuran tiga arah yang epik. Pasukan Bugis, pasukan Darkness, dan Hakim dengan Rena semuanya terlibat dalam pertempuran sengit di tengah hutan.

__ADS_1


Hakim merasa bingung oleh kehadiran pasukan Bugis. Dia tahu bahwa mereka adalah musuh, tetapi saat ini mereka tampaknya lebih tertarik untuk menghadapi pasukan Darkness daripada mengejar Hakim.


Pertempuran berlangsung dengan keras dan sengit. Cahaya dan energi meletup-letup di udara, menciptakan pemandangan yang menakjubkan dan menyeramkan.


Hakim dan Rena berusaha tetap bertahan, terus melawan pasukan Darkness tanpa kenal lelah. Meskipun lelah dan terluka, mereka tidak pernah menyerah.


Akhirnya, setelah pertempuran yang panjang dan melelahkan, pasukan Darkness mundur. Pasukan Bugis berhasil mengusir mereka dan melindungi Hakim dan Rena.


Arjun, kapten kesatria pasukan Bugis, mendekati Hakim dengan pandangan tajam. "Kau mungkin tidak tahu mengapa kami membantu, tetapi saat ini musuh kita adalah yang sama. Ingatlah ini."


Hakim mengangguk dengan pengertian. Meskipun situasinya aneh, dia tahu bahwa mereka memiliki musuh yang lebih besar dalam kegelapan yang mengancam dunia.


Meskipun pasukan Bugis berhasil mengusir pasukan Darkness, situasinya tiba-tiba berubah menjadi lebih rumit. Pasukan Bugis yang semula tampak seperti sekutu tiba-tiba berbalik menyerang Hakim dan Rena.


Hakim dan Rena terkejut oleh perubahan ini. Mereka harus berhadapan dengan ancaman dari dua arah: pasukan Darkness yang mundur dan pasukan Bugis yang kini menjadi musuh.


Hakim segera bersiap untuk bertarung melawan pasukan Bugis. Dia mengeluarkan Pedang Saint-nya dan dengan tekad yang kuat, dia mempertahankan diri dan Rena dari serangan-serangan yang datang.


Rena juga tak mau kalah. Dengan keahlian memanahnya, dia berhasil menghalau beberapa serangan pasukan Bugis dengan panah-panah presisi yang mengenai sasaran.


"Pertarungan ini tidak masuk akal! Mengapa pasukan Bugis berbalik menyerang kita?" Rena berkata sambil melompat menghindari serangan.

__ADS_1


Hakim menghela nafas. "Aku tidak tahu, Rena. Kita harus tetap bertahan dan mencari cara keluar dari situasi ini."


Pertempuran berlangsung dengan sengit. Hakim dan Rena harus melawan dengan gigih, tetapi mereka tahu bahwa mereka harus melindungi diri mereka sendiri dan bertahan hidup.


Tiba-tiba, dari balik pohon-pohon di dekatnya, muncullah seorang pria tua yang mengenakan jubah dan memegang tongkat ajaib. Dia melambaikan tongkatnya dan menciptakan perisai cahaya yang melindungi Hakim dan Rena dari serangan pasukan Bugis.


"Pertempuran ini sudah cukup!" kata pria tua itu dengan suara tegas. "Kalian semua harus berhenti sekarang juga!"


Pertempuran berhenti sejenak. Pasukan Bugis tampak terpaku oleh kehadiran pria tua itu. Hakim dan Rena juga merasa bingung dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Pria tua itu mendekati Hakim dan Rena dengan langkah tenang. "Kalian adalah bagian dari pertempuran yang lebih besar, dan kalian perlu berhenti saling bertempur. Dunia sedang di ambang kehancuran, dan kita harus bersatu untuk menghadapinya."


Hakim memandang pria tua itu dengan hati-hati. Ada sesuatu yang aneh dan kuat dalam kehadirannya. Rena juga merasa bahwa pria tua itu bukanlah musuh.


"Apa maksudmu?" tanya Hakim dengan suara ragu.


Pria tua itu tersenyum. "Aku adalah seorang tukang sihir yang mengamati perjalananmu. Kalian berdua memiliki peran penting dalam menyelamatkan dunia dari ancaman yang lebih besar. Tapi kalian tidak akan berhasil jika terus bertengkar di antara diri sendiri."


Hakim merenung sejenak. Dia tahu bahwa pria tua itu mungkin benar. Meskipun situasinya rumit dan sulit dipahami, dia merasa bahwa dia harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria tua itu.


Pertempuran yang tiba-tiba berhenti dan kehadiran pria tua yang misterius. Hakim dan Rena harus memutuskan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya, dan apakah mereka akan mengikuti nasihat dari pria tua itu untuk berhenti bertempur dan bersatu menghadapi ancaman yang lebih besar.

__ADS_1


__ADS_2