Hakim Chaos Struggle

Hakim Chaos Struggle
Bab 23 awal perjalanan


__ADS_3

Setelah selesai dengan pertarungan mereka Hakim dan Rena memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka, membawa keyakinan yang baru ditemukan dan kekuatan yang semakin matang.


Matahari bersinar terang di langit biru saat mereka tiba di sebuah desa yang seharusnya damai. Namun, pemandangan yang mereka saksikan ini berbanding sangat jauh dari harapan.


Desa yang seharusnya ramai dan penuh kehidupan sekarang terlihat seperti medan perang. Api membakar bangunan, asap hitam menebal di udara, dan jeritan keputusasaan terdengar di sekitar mereka. Desa ini telah jatuh ke tangan pasukan darkness, dan kehancuran ,teriakan serta derita mewarnai setiap sudutnya.


Hakim dan Rena menatap pemandangan yang menghancurkan hati. Mereka bisa merasakan kemarahan yang menggelora di dalam diri mereka, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka memiliki kekuatan untuk mengubah situasi ini. Dalam keadaan seperti ini, mereka memahami bahwa tidak ada pilihan selain melibatkan diri mereka secara langsung.


Dengan langkah mantap, Hakim dan Rena turun dari kuda mereka. Energi chaos dan energi Sains bersinar dalam sinar warna-warni yang memenuhi udara. Dengan pedang Sains yang tergantung di pinggang Hakim, mereka berdua siap menghadapi pasukan darkness yang sedang merajalela.

__ADS_1


Pertempuran yang meletus segera setelah mereka memasuki desa. Rena meluncur maju dengan kecepatan yang luar biasa, melepaskan serangan-serangan energi chaos yang merobek kegelapan. Hakim, di sampingnya, menggunakan pedang Sains dengan keahlian yang memukau, mengirimkan cahaya terang yang memotong motong kegelapan.


Pasukan darkness di kejutkan oleh kedatangan Hakim dan Rena. Mereka tidak berharap ada perlawanan sedemikian kuat. Pertarungan ini kemudian menjadi pertarungan yang nyata antara cahaya dan kegelapan. Energi-energi saling bertabrakan, menciptakan pancaran cahaya yang menari-nari di sekitar mereka.


Namun, kekuatan baru yang dimiliki Hakim dan Rena membuat pertarungan ini sangat tidak seimbang. Dengan energi chaos yang terkendali, mereka mampu mengatasi pasukan darkness dengan lebih mudah. Rena bergerak begitu lincah, menyerang dan menghindar dengan presisi yang menakjubkan. Hakim, dengan pedang Sains di tangannya, mampu membalikkan serangan-serangan musuh dengan begitu mudah.


Namun, meski kekuatan mereka begitu besar, mereka tidak bisa mencegah kehancuran yang sudah terjadi. Di tengah-tengah pertempuran, mereka menyaksikan rumah-rumah terbakar dan penduduk desa yang berjuang untuk bertahan. Walaupun mereka berdua berjuang sekuat tenaga, ternyata waktu telah berlalu terlalu lama.


Rena merasa air matanya menetes, merasa putus asa dan marah pada ketidakadilan ini. Hakim meraih tangannya dengan lembut, memberikan dukungan yang dibutuhkan. "Kita telah melakukan yang terbaik yang kita bisa, Rena. Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang, tapi kita bisa membuat perubahan."

__ADS_1


Rena menatap mata Hakim, merasa terinspirasi oleh kata-kata dan keberadaannya. Bersama-sama, mereka memutuskan untuk menghormati para penduduk desa ini dengan merestorasi desa dan menguburkan mereka dengan layak. Meskipun kehilangan besar, mereka berharap bahwa tindakan mereka dapat menjadi tanda kebangkitan dan harapan di tengah kegelapan.


Dengan hati yang berat, Hakim dan Rena memulai proses penguburan para penduduk desa yang telah kehilangan nyawa mereka dalam serangan pasukan darkness. Mereka mencari tempat yang tenang di ujung desa yang tidak terlalu terkena dampak kerusakan.


Mereka menggali kuburan dengan hati-hati, menempatkan jasad-jasad para korban dengan penuh penghormatan. Setiap gerakan mereka penuh dengan kesedihan dan rasa hormat terhadap kehidupan yang telah hilang. Meskipun mereka tidak mengenal para penduduk desa ini secara pribadi, mereka merasa bahwa ini adalah kewajiban untuk memberikan penghormatan terakhir.


Setelah semua korban dimakamkan dengan layak, Rena berdiri di depan makam-makam itu dengan kepala menunduk. Dia merasa terpukul oleh kenyataan bahwa kehancuran dan kekerasan dapat menyentuh tempat yang seharusnya aman dan damai. Namun, dia juga merasa tekad yang semakin kuat untuk melawan kegelapan dan kejahatan di dunia.


Hakim berjalan mendekati Rena dan meletakkan tangannya di pundaknya dengan lembut. "Mereka tidak akan terlupakan, Rena. Kita akan terus berjuang untuk mencegah hal seperti ini terjadi lagi."

__ADS_1


Rena mengangguk perlahan, mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Dia merasa didukung oleh keberadaan Hakim, dan bersama-sama mereka menghadapi perasaan sedih dan marah yang mendalam. Mereka tahu bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk melindungi orang-orang yang masih hidup dan mencegah tragedi semacam ini terulang.


Setelah selesai menguburkan para korban, Hakim dan Rena memutuskan untuk memulihkan desa sebisa mereka. Mereka membersihkan puing-puing dan membantu membangun kembali rumah-rumah yang hancur. Meskipun tidak mudah, mereka bekerja dengan semangat untuk mengembalikan kedamaian yang pernah ada di desa itu.


__ADS_2